The first 200 lines.
Cinta adalah kekuatan terbesar.
Bagaikan napas.
Itu kekuatan besar yang membuat kita tetap hidup.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
Meski kita jauh dari orang yang kita cintai,
meski berada di belahan dunia lain,
cinta tak akan terbuang percuma,
karena cinta tak pernah sia-sia.
Karena saat kita mencintai, kita hidup.
Itu yang disiratkan sang penyair
di bagian terakhir puisi "Surgawi".
Seperti katanya,
cinta yang menggerakkan segalanya,
matahari, bintang…
Baik, Bennati. Itu cukup.
Kita bisa berhenti dengan Dante.
Apa yang lain juga puas?
Tak ada pertanyaan lagi.
Kau boleh pergi.
Terima kasih.
Bagaimana?
Lancar.
- Kau senang? - Ya.
Lega?
- Di mana Edo? - Di toilet.
Dia agak gugup.
Sofi, tenang, itu mudah.
Chiaravalle?
Aku akan memeriksanya.
Ya? Sampai nanti.
Sampai nanti.
- Edo? - Ya?
Kau sedang apa?
Tak sedang apa-apa.
Hanya ingin di sini sebentar.
Aku gugup.
Itu cepat. Tiba-tiba sudah selesai.
Bagaimana jika dia tanya soal integral?
Guru Matematikanya baik.
Kalau aku terdiam, dan gagal ujian?
Kalau gagal ujian, kau bisa bekerja.
Kau akan mengambil alih toko ayahmu, perutmu akan gendut,
dan di musim panas, kau akan merayu turis.
Sempurna.
Kau bicara dengan siapa?
- Siapa di sini? - Entahlah.
- Guru Matematikanya baik? - Ya.
Baiklah.
Edo?
Kau berikutnya.
Sebentar.
Terima kasih, Summy.
Terima kasih.
Suara harmonika
Bagaikan orkestra
Yang menggetarkan jiwa
Di antara…
Aku sangat mencintaimu.
Aku juga.
- Ayo. - Ayo.
Aku pamit.
Dah.
Jaga dirimu.
Kau juga…
Dario. Namaku Dario.
Maaf, Dario.
- Sampai jumpa. - Ya.
Kita lulus!
Tidak, lanjutkan.
Tenang saja.
Aku di sini sendiri. Aku cuma kebetulan lewat.
Bisa sudahi itu? Kalian selalu menempel.
Selesai sudah!
Dario!
- Hei, Kawan! - Apa kau gila?
Sakit, ya?
- Ada bir untukku? - Tentu.
Terima kasih banyak.
- Bagaimana? - Bagaimana?
- Bersulang? - Bersulang.
- Tentu. - Bersulang.
- Selesai sudah. - Tidak. Baru mulai.
- Benar. - Baru mulai!
Kita jadi ke pesta besok malam?
Tentu saja.
Sejak kapan kau suka pesta?
Sejak aku suka musim panas.
- Manisnya! - Menggemaskan.
Hatiku meleleh.
Ayo berenang?
- Berenang. - Berenang.
Berenang!
- Paris? - Ya.
Hebat! Paris itu kota cinta.
Aku sangat iri, sumpah.
- Aku tak sabar. - Fakultas yang sama?
Aku ambil bahasa, dia arsitektur.
Bagus. Aku tak pernah begitu.
- Apa? - Jatuh cinta seperti itu.
Berkata, "Dia orangnya. Aku akan bertahan dengannya."
- Apa aku sial? Ada yang salah? - Tidak.
Tak seperti itu dengan Edo. Butuh waktu lama.
Kami bersahabat, saling menunggu,
bertengkar, menjauh,
dan akhirnya sadar yang kami inginkan sama.
Itulah maksudku.
- Butuh waktu. - Ya.
- Summer. - Hai.
Agensi grup Prancis itu menelepon lagi.
Mereka tiba setengah jam lagi.
- Bisa kau urus mereka? - Tentu.
Terima kasih.
Ada kabar dari Ale?
Tidak. Kami tak bicara sejak musim dingin lalu.
Tak ada pesan teks sesekali? Tanya kabar?
Tidak.
Kau merindukannya?
Tidak. Tidak lagi.
Pada akhirnya, itu yang terbaik.
ENAM BELAS PUTARAN
Pertarungan antara dua pembalap terbaik musim ini,
Jacopo Sandri dari DeCara Racing,
dan Ale Alba dari Barcino Racing.
Dua mantan rekan satu tim saling berhadapan.
Lagi-lagi, Sandri unggul di musim ini.
Ale Alba mencoba segala cara, tetapi Jacopo Sandri kembali unggul!
Jacopo!
Luar biasa!
Jacopo, dari dahulu!
Bagus!
Hebat!
Maafkan aku, Miguel. Dia tak memberi celah.
Tak bisa kusalip.
Kupepet, tetapi tak bisa kusalip.
Tenanglah. Balapanmu bagus.
- Baik. - Dia mengalahkanmu, itu biasa.
Setidaknya kita lolos.
Baiklah.
Tenang saja.
Lola. Kenapa kau berusaha menyalip Jacopo?
Tidak. Kau lihat cara dia menikung?
- Selamat. - Jika tak mengebut, aku keluar.
Dengar. Kau sangat impulsif, Lola.
Tahan posisimu dan tunggu Ale.
Tidak, tetapi, Miguel…
Lola menungguku. Aku yang gagal menyalip.
Dengar, ini sangat sederhana, Lola.
Jika kau tak membantu Ale menang, berarti kau tak melakukan tugasmu.
Kita bicarakan pekan depan. Ya?
Baik.
Sekarang,
nikmati akhir pekan kalian, bersantai…
Kejuaraan masih panjang.
Jernihkan pikiran.
Jernihkan pikiran.
Dan cepatlah. Kita dijemput 30 menit lagi.
Untuk pulang.
- Senang? - Ya.
Terima kasih, Miguel.
Terima kasih, Michele.
Terima kasih, Miguel.
Terima kasih, Michele.
Kubawa ini untuk merayakan.
Sungguh?
- Sudah beri tahu mereka? - Belum.
Beri tahu apa?
- Hai, Jelek. - Hai, Jelek.
Apa kabar?
Baik. Kau?
Baik.
Isa, kulihat penontonmu sudah 10.000.
Kau lihat, Sayang? Bagus, 'kan?
Lagu-lagumu enak didengar.
Terima kasih.
Namun, aku ingin dengar berita kalian karena Summy tak pernah cerita.
Kalian mau katakan apa?
Tak ada, cuma… kami sudah putuskan.
Kami sudah memilih universitas.
Bagus! Yang mana?
- Boleh? - Silakan.
Paris.
- Paris. - Paris.
Paris.
Paris.
- Ale. Bukan salahku kau tak menang. - Aku tahu.
- Itu bukan salahku. - Lola!
Aku tahu. Itu bukan salahmu.
Aku suka di tim ini, aku sangat senang di sini.
Aku senang menjadi pembantumu.
- Sungguh. - Lola, kau pembalap hebat.
Lalu, kenapa dia perlakukan aku begitu?
Aku sungguh tak mengerti, Ale!
Lola, tenang. Lola.
- Apa? - Tenanglah.
Ya. Bernapaslah.
- Bernapas. - Bagus.
Baiklah.
Jernikan pikiran.
Ya?
Baiklah.
No comments yet. Be the first to leave one.