Enemies from the Past

Enemies from the Past (전생에 웬수들)

Download Indonesian Subtitle

Release info

전생에 웬수들-Forever Enemies E 18 NEXT
A Commentary by SULTAN_KHILAF

Tags

other
Published on: 2017-12-21
Downloads: 12
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Episode 18"

Go Bong, bangun.

Ada apa? /- Ayo bangun.

Apa?

Bagaimana menurutmu? Apa kakak demam?

Kakak terserang flu?

Pergi. Jangan menularkannya kepadaku.

Aku bekerja dengan tubuhku. Tubuh ini asetku.

Sakit saja sendiri.

Astaga, dasar jahat.

Kamu tahu kenapa kakak terserang flu?

Ini. /- Apa ini?

Ini jus pir.

Ibu mendengar ada yang batuk semalaman.

Ibu. /- Go Bong batuk semalaman.

Bangunkan dan suruh dia minum ini.

Bagaimana denganku?

Memangnya kamu kenapa? /- Aku juga mau.

Astaga, jangan serakah.

Kamu tidak pernah flu. Kamu amat sehat.

Haruskah kamu meminum jus adikmu yang sedang sakit?

Berikan kepadanya sekarang.

Kakak membangunkanku.

Minumlah. Ibu membuatkan ini karena kamu flu.

Apa? Aku flu?

Go Woon bilang Kakak tidak bisa mendaftar.

Benar. Kutukanmu berhasil.

Aku tidak melakukan apa pun.

Kamu tidak ingat?

Katamu kamu akan mengutuk kakak agar tidak bisa mendaftar.

Jangan menyalahkanku.

Aku tidak percaya Kakak gagal karena itu.

Itu tidak ada hubungannya denganku.

Selain itu, Kakak berpikir akan menang?

Ya, kali ini kakak yakin.

Kakak yakin? Jika memang sehebat itu,

kenapa Kakak selalu gagal?

Kali ini pun Kakak pasti gagal.

Jika memang pantas menang, Kakak pasti sudah menang.

Seperti kata Ibu, sebaiknya Kakak menyerah saja.

Kakak tidak punya kesempatan.

Jika Kakak menang, aku akan memakan topiku.

Kamu yakin? Tunggu saja.

Kamu akan menyesal bilang begitu.

Celaka kamu.

Astaga. Kenapa bicara dengan adikmu seperti itu?

Kakak harus tegas jika ingin mendengar hal baik

dari berandal kurang ajar sepertimu.

Berandal kurang ajar?

Astaga, dia sombong sekali.

Go Woon, sudah siap berangkat sekolah?

Ya.

Ada apa?

Kakak merindukanmu semalaman.

Kamu tidak merindukan kakak?

Aku merindukan Kakak.

Lantas kenapa enggan menatap kakak?

Ibu marah kepada Kakak karena aku.

Itu sebabnya kamu tampak sedih?

Maafkan aku.

Aku ingin membuatkan teh yuja karena Kakak batuk.

Tapi tanganku licin dan stoplesnya jatuh,

lalu pecah.

Go Woon.

Dahulu kakak amat iri kepada San Deul.

Kenapa?

Karena dia tidak punya adik seperti Go Bong.

Itu masuk akal.

Tapi kakak berhenti iri sepuluh tahun lalu.

Kenapa?

Karena kakak punya adik laki-laki yang amat peduli kepada kakak.

Sungguh? /- Tentu saja.

Jadi, jangan merasa bersalah.

Dan jangan sampai kamu terluka.

Kakak tidak apa-apa jika dimarahi Ibu,

tapi kakak tidak tahan jika kamu terluka.

Baik, aku tidak akan terluka lagi.

Baiklah. Kamu manis sekali.

Hentikan. Tidak boleh seperti ini.

Aku sudah besar. Berhenti menepuk bokongku.

Baiklah. Ayo. /- Ayo.

Tampaknya Ibu senang.

Ya, ibu senang.

Saat melihat putra ibu hendak mengajar dan berpakaian rapi,

ibu amat senang.

Ibu mulai lagi.

Hampir lupa. Kemarin ibu berbaikan dengan Kak Yang Sook.

Syukurlah. Aku lega dia memaafkan Ibu.

Kami sudah melewati banyak hal bersama.

Itu apa?

Itu materi yang digunakan Go Ya untuk kontes resep itu.

Kenapa ditaruh di luar?

Dia sudah menyerah.

Dia telah berusaha keras mengejar impiannya. Apa yang terjadi?

Dia pasti lelah.

Selain itu, kali ini dia gagal mendaftar.

Bagaimana bisa gagal?

Formulir pendaftarannya tertukar dengan milik seorang pria.

Dia mempermainkan Go Ya tanpa mengembalikan formulirnya.

Jadi, Go Ya melewatkan tenggatnya.

Kasihan sekali Go Ya.

Dia pasti amat kecewa.

Siapa pria itu?

Bedebah macam apa yang mengambil formulir Go Ya

dan mempermainkannya?

Kakak tidak akan lari? /- Kakak suka berjalan.

Hentikan.

Hei, hentikan.

Ini menyenangkan untukmu?

Kamu terhibur setelah mempermainkan hidupku?

Mempermainkan hidupmu? /- Aku tidak tahu.

Kamu tahu apa yang kukorbankan demi leluconmu ini?

Impianku.

Impianku terus menjauh,

tapi tanpa itu, aku tidak bisa hidup.

Itu sebabnya aku mempertahankannya.

Apa yang kamu pikirkan?

Wanita itu.

Hei, kamu menyukainya?

Jangan konyol.

Kamu bilang ingin menemuinya.

Karena aku ingin meluruskan kesalahpahaman.

Tindakanku jahat.

Sebaiknya kamu melupakannya.

Aku tidak ingin diingat sebagai orang jahat.

Jarimu bahkan patah karena dia.

Lebih tepatnya, jariku patah demi dia.

Astaga, jariku sakit lagi.

Itu gawat. Biar kakak lihat.

Jangan berlebihan.

Jangan menyakiti dirimu.

Baik fisik maupun mental.

Setelah mendengar kamu bermimpi buruk lagi,

kakak amat cemas.

Aku baik-baik saja. Pikirkan saja diri Kakak sendiri.

Kenapa Kakak masih mencari cincin itu?

Lupakan saja.

Omong-omong, kakak memikirkan perasaan Paman Jae Woong.

Dia minum banyak tadi malam.

Aku harus mampir ke rumah sakit nanti.

Aku akan memeriksa keadaannya.

Baiklah.

Omong-omong,

aku bicara dengan pria itu lewat telepon kemarin.

Siapa? /- Pria yang tinggal bersama Bibi.

Apa?

Dia bilang apa?

Apa yang bisa dia katakan kepadamu?

Dia tidak bicara banyak.

Dia mau aku memanggilnya "Paman". Menjijikkan sekali.

Setelah menghancurkan keluarga, seharusnya dia hidup dengan tenang.

Untuk apa dia bersikap seperti seorang paman?

Bagaimana dia bisa bicara denganmu lewat telepon?

Dia yang menjawab saat aku menghubungi Bibi Na Ra.

Kamu...

Kamu...

Selama ini kamu berkomunikasi dengan Bibi Na Ra rupanya.

Ya.

Ibu tahu?

Tidak, kurasa aku tidak perlu memberitahunya.

Syukurlah. Lebih baik Ibu tidak tahu.

Pastikan dia tidak akan pernah tahu.

Ibu hanya memercayai kita berdua di dunia ini.

Dia benar-benar putus hubungan dengan adiknya,

tapi selama ini kamu berhubungan dengannya?

Ibu akan kecewa bukan karena kamu berkomunikasi

dengan Bibi Na Ra, tapi karena kamu mengkhianatinya.

Tapi aku tidak bisa putus hubungan dengan Bibi Na Ra.

Kakak tahu.

Kakak tahu betapa eratnya hubungan kalian.

Saat Ibu depresi setelah melahirkanmu,

Bibi Na Ra merawatmu seperti putranya sendiri.

Dia sudah seperti seorang ibu bagimu

dan kamu tidak bisa putus hubungan dengannya.

Itu sebabnya kakak tidak bisa bilang apa-apa

meski kamu tetap berkomunikasi dengannya.

Tapi kakak mohon,

jangan sampai Ibu tahu.

Tentu saja. Kakak tidak mau bertemu dengannya?

Kakak akan menemuinya setelah Ibu memaafkannya.

Baiklah. Bibi juga amat merindukan Kakak.

Boleh kusampaikan salam Kakak? /- Ya.

Dia bahagia?

Ya, kurasa begitu.

Syukurlah dia bahagia.

Tunggu.

Pria yang hidup bersamanya. Dahulu dia belum berkeluarga, bukan?

Tidak. Bibi tidak akan merusak keluarga orang lain.

Dia tidak sejahat itu. /- Kakak juga bersyukur soal itu.

Bagaimana jika dia juga sudah berkeluarga?

Itu kemungkinan terburuk.

Aku setuju. Ayo.

Aku akan mengantar Kakak pulang.

Tidak usah. Arah kita berbeda. Kakak akan naik bus.

Sebaiknya Kakak membeli mobil. Bukankah lebih memudahkan?

Kamu tahu, menurut statistik

yang dirilis OECD pada tahun 2016,

Korea adalah negara yang akan menghadapi

kenaikan tajam pada angka kematian karena polusi udara di tahun 2060.

Terutama debu halus. Kurang dari 10 mikrometer, masuk ke paru-parumu.

Enemies from the Past subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Enemies from the Past

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left