The first 200 lines.
"Aku mencintaimu seperti indahnya mawar merah"
Astaga!
Astaga. Bu Ha.
Bu Ha!
Kak Sun Ja, apa-apaan itu tadi?
Astaga.
Hei!
"Episode 11"
Bu...
Singkirkan itu dari ibu!
Aku tidak tahan lagi. Wanita itu sudah keterlaluan!
Tidak akan kubiarkan dia...
Bu! Tahanlah.
Bu Park sudah meminta maaf.
Dia juga terkejut.
Lepaskan. Lepaskan ibu!
Bu, bisa lupakan saja, tidak?
Bu.
Aku bisa hidup tanpa Ibu.
Tapi aku tidak bisa hidup tanpa ibu mertuaku.
Apa?
Aku lelah menyiapkan Da Bin untuk pergi ke TK.
Aku benci rumahku berantakan
dan tidak tahan memakai baju lecek.
Yang paling penting, aku mau makan sosis.
Aku mau makan sosis buatannya!
Kamu serius?
Ya.
Sosis buatannya itu yang terbaik.
Mungkin dia memasukkan obat atau semacamnya ke sosisnya.
Rasanya luar biasa.
Jadi, tolong tahan rasa marah Ibu demi aku.
Omong-omong, bau apa ini?
Bukankah ini...
Bukankah ini bau kain lap?
Mustahil.
Tunggu. Apa wanita itu
menyiram kita dengan air kotor?
- Tidak akan kubiarkan dia! - Bukan itu!
Bu, aku yakin dia tidak sengaja.
Apa maksud Ibu? Aku tidak mencium apa-apa.
Apa maksudmu? Baunya menjijikkan.
Bu, aku tidak mencium apa pun.
Apa yang kamu...
Yang benar saja!
Bu, maaf.
Kupikir ini deodoran.
Kamu bercanda, ya?
Pikirmu ibu ini lalat atau nyamuk?
- Tidak, bukan begitu. - Beraninya kamu
menyemprotkan insektisida pada ibu?
"Terima kasih, Bu Park Aku menyayangi Ibu"
- Sebenarnya, - Astaga.
Da Bin mewarnai
- kesepuluh jariku. - Sungguh?
Tapi istriku komplain itu memalukan.
Jadi, kuhapus semuanya.
Tapi kubiarkan dua jari tetap begitu.
Aku suka.
Selucu apa pun Da Bin, bisa-bisanya kamu
tetap membiarkan itu...
Bukankah dia menggemaskan?
Dia cucuku satu-satunya.
Dia kesayanganku.
Tentu saja. Sudah pasti begitu.
Tapi...
Kamu lihat...
Pipinya itu
seperti bakpao putih gendut.
Saat kamu melihatnya,
- pipinya itu halus sekali. - Benarkah?
Jika menatapnya dari dekat,
dia beraroma seperti kukis.
Bu Park, menurutmu kenapa anak-anak
beraroma seperti kukis?
Karena mereka menumpahkan makanan mereka di mana-mana.
Saat kuberikan dia kukis,
dia menjatuhkan remahan kukisnya di mana-mana.
Aku paham. Semua anak kecil seperti itu.
Tapi itulah pesona mereka.
Benar. Aku setuju. Dia menggemaskan.
- Benar, bukan? - Ya.
Ayah...
Kalian sudah ganti baju?
Ya.
Mi Ok, baju itu cocok denganmu.
Kamu benar-benar mirip seperti pekerja paruh waktu.
- Apa katamu? - Ayah, sudah cukup.
Bu.
Anda masih memerlukan dokumen standar untuk transfer.
Untuk membuktikan hubungan Anda dengan pemegang rekening,
kami butuh transkrip resmi
- atau kartu keluarga... - Hei.
Kenapa kalian butuh itu?
Kamu tidak tahu Lee Yoon Hee?
Dia itu putriku.
Berapa kali harus kukatakan?
Putriku tidak bisa kemari karena dia bekerja.
Jadi, aku datang menggantikannya!
Aku sudah bertransaksi di bank ini bertahun-tahun.
Akan kututup rekeningku di bank ini.
Tentu saja kami kenal Anda.
Aku sangat ingin menolong Anda.
Tapi jika manajer keuangan tahu
dokumennya menghilang, kami akan terkena masalah.
Belakangan ini, peraturannya makin ketat.
Aku tidak bisa apa-apa.
Kalau begitu,
kamu mau aku kembali kemari dan membawa dokumennya?
Aku tidak punya waktu ke Pusat Layanan Masyarakat.
Astaga!
Permisi, Bu.
Sekali sepekan, cabang kami tutup lebih lama.
Biar putri Anda saja yang datang saat itu.
Bisakah dia kemari? Tidak merepotkan?
Benarkah?
Lantas, bilang saja dari tadi.
Kamu malah mempermainkanku.
Sampai jumpa lagi.
Astaga.
Aku harus menerima panggilan ini.
Apa? Paman yakin?
Ya, paman yakin.
Suamimu dan mertuamu ada di sini.
- Dalam rangka apa? - Entahlah.
Paman. Mereka sedang apa?
- Semuanya lancar? - Ya.
Mereka sangat bersenang-senang.
Benar juga. Pak Jung membawakan bunga
untuk ibumu.
Apa?
- Bunga? - Ya.
Bunga mawar merah.
Paman rasa dia bawa 100 tangkai.
100 tangkai mawar?
"Terima kasih, Bu Park Aku menyayangi Ibu"
Ini tidak seberapa.
Tapi inilah wujud perasaan kami.
Apa ini?
Selama ini ada jarak di antara kita.
Meski rumah kita saling berdekatan,
kami tidak pernah mengunjungimu.
Kami bahkan menyerahkan Da Bin kepadamu.
Tapi kami tidak pernah berterima kasih.
Terima kasih banyak, Ibu.
Tolong terima permohonan maaf kami.
Tidak perlu begitu, Pak Jung.
Entah bagaimana, kamu yang mengurus Da Bin.
Kami pun mengira Mi Sun akan merasa tenang jika begitu.
Jadi, kami hanya diam dan tidak melakukan apa pun.
Tapi kami pun menyadari
tidak pernah melakukan apa-apa sebagai kakek neneknya Da Bin.
Kami sungguh minta maaf.
Tolong jangan merasa begitu.
Intinya, kami amat minta maaf.
Mulai sekarang, jika ada yang membebanimu
atau kamu ada kegiatan lain,
jangan ragu hubungi kami.
Kami akan segera datang
dan membantumu.
Kamu baik sekali sudah berkata begitu.
Da Bin itu cucuku, sudah jelas aku harus mengurusnya.
Terima kasih.
Kamu tidak perlu membawakan ini.
Tapi bunga ini sangat cantik.
Baguslah kamu menyukainya.
Bunga ini
tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerja kerasmu.
Kami tidak tahu bagaimana menunjukkan rasa syukur kami.
Kami ingin menyiapkan hadiah untukmu,
tapi tidak ada yang terpikirkan. Lalu tiba-tiba saja,
bunga mawar terlintas di pikiranku.
Ya.
Ini indah dan elegan.
Kualitas keindahannya...
Maksudku, kehormatan mereka persis sekali sepertimu.
Lelucon itu lucu sekali.
Tidak, aku tidak bercanda sama sekali.
Aku sungguh-sungguh.
Astaga.
Benar juga. Sudah hampir waktu makan malam.
Aku harus menyajikan makan malam untuk kalian.
Tidak.
Tidak usah. Kami sudah mau pulang.
Tidak. Itu namanya tidak sopan.
Tunggulah sebentar.
Akan kuambilkan sup tulang sapi panas.
- Sebentar saja. - Silakan.
Apa...
Ya. Silakan.
Aku ingin menikmati sup tulang sapi lezatmu.
Aku pulang, Woo Jin. Kamu mau kopi?
Woo Jin.
Kamu sedang apa?
Lihatlah ini.
Aku menemukan ini di bawah meja lantai satu.
Tunggu, ini jejak kaki Dol Dam.
"Kang Mi Hye"?
"Kang Mi Hye".
"Twenty is Winter"?
No comments yet. Be the first to leave one.