The first 200 lines.
SEBUAH PRODUKSI TEATER KAIJYU
DIADAPTASI DARI NOVEL SHOHEI OOKA
SEBUAH FILM OLEH SHINYA TSUKAMOTO
FIRES ON THE PLAIN
Kau menderita tuberkulosis dan tak bisa mencari makanan.
Kau bisa menggali parit untuk berlindung?
Bisakah? Jawab aku!
Ya, Pak!
Kau tak bisa.
Pergilah!
Ke rumah sakit.
Pergi.
Jangan sia-siakan itu.
Apa?
Prajurit Tamura, Resimen Infantri Independen 14.
Pemimpin reguku mengirimku kemari.
Kau sakit?
Paru-paruku.
Itu bukan alasan datang kemari.
Kau punya makanan?
Ya, Pak.
Tamura.
Prajurit Tamura.
Kembalilah ke regumu.
Pak?
Kau dibebastugaskan. Pergilah.
Kenapa kau kembali?
Kau masih sakit.
Kembalilah jika sudah bisa membantu reguku.
Kau terlalu awal. Kau masih punya jatah makanan lima hari.
Apa masalahmu?
Itu bukan jatah makanan lima hari.
Kami sudah memakannya.
Orang-orang ini terluka. Kami tak punya waktu untukmu.
Kenapa kembali seperti yang dia suruh?
Jangan menyerah. Katakan, kau tak punya tempat lagi.
Jika ahli bedah itu tak mau menerimamu,
bunuh diri saja.
Gunakan granatmu.
Dengan begitu, kau melakukan kontribusi.
Pak, aku akan ke rumah sakit di lapangan
dan jika aku ditolak, aku akan bunuh diri.
Bagus. Semoga berhasil.
Ya, Pak.
Kau memberi jatah makananmu hingga habis.
Aku tak tahu mana yang lebih baik,
pergi atau tetap di sini.
Aku tak akan membunuhmu.
Tidak akan.
Berikan itu padaku.
Dan itu.
Akan kuambilkan ubi.
Kau lagi.
Kau tak mau menyerah.
Pindahkan mereka keluar.
Mereka tak bisa dirawat lagi.
Masak ini, agar aku bisa makan.
Jika kau beri aku setengah.
Aku tak bisa makan ini mentah.
Jadi, berikan setengah.
Lakukan sesuatu yang berguna, dasar payah.
Kau mau bertukar ubimu dengan rokok?
Kenapa tak memanjakan dirimu sebelum mati?
Hei, ayolah.
Hei.
Kau mau menukar ubimu?
Ayolah.
Tolong berikan ubimu.
Ini semua ubimu?
Simpan saja rokokmu.
Apa?
Aku tak merokok.
Sekarang, biarkan aku sendiri.
Baik!
Ini.
Masaklah.
Terima kasih.
Kau terlihat seperti desertir.
Kau penakut.
Serang!
Jangan biarkan musuh menguasai pulau!
Jangan menyerah...
Bagaimana kakimu?
Sakit.
Aku akan tetap di sini.
Jangan harap apa pun dariku.
Aku hanya kesepian.
Kau selalu menangis, dasar cengeng.
Aku...
lahir di luar nikah.
Kenapa kau bilang itu sekarang?
Kau terkejut?
Sama sekali tidak. Itu cukup terlihat.
Benarkah?
Payah kau.
Dengar aku.
Aku meninggalkan putraku.
Aku masih pelajar.
Saudaraku yang merawatnya.
Aku disuruh untuk menjauh.
Aku bertemu dengannya hanya saat aku dapat panggilan.
Saat itulah...
Putraku bilang, "Selamat tinggal, Ayah."
Kau pendosa, pria tua.
Karena itu aku siap mati di tempat buruk ini.
Berikan kembali!
Sekarang!
Ubi-ubi itu untuk pasien.
Bangun!
Aku punya ubi!
Hentikan, Pak!
Apa?
Kau bisa ambil punyaku. Biarkan punyanya.
Sikapmu kurang ajar.
Kau punya masalah?
Bangun, orang tua!
Perutku...
Api...
Aku perlu api.
Jika kubisa buat api...
Aku akan kembali.
Sial, tak ada apa-apa!
Benar, aku perlu api.
Ada korek di sini?
Aku perlu korek.
Aku tak akan membunuhmu.
Aku tak akan membunuhmu.
Aku tak akan membunuhmu!
Aku tak akan membunuhmu!
Aku tidak akan.
Aku tak akan membunuhmu.
Aku tak akan membunuhmu!
Aku tak akan membunuhmu!
Aku tak akan membunuhmu!
Aku tidak akan!
Terlalu banyak untuk dibawa.
Aku dari Resimen Infantri Independen 14, regu Murayama!
Regu Murayama? Bukankah mereka tewas?
Tewas?
Musuh menyerang saat aku di rumah sakit.
Kenapa di rumah sakit?
Paru-paruku.
Aku curiga ada orang asing di area itu.
Di mana kau saat itu?
Dan senapanmu?
Hilang saat di sungai.
Ubi itu cukup untuk membawa kita ke Palompon.
Ke Palompon?
Kau tak tahu?
Semua personil di Leyte diperintahkan ke Palompon.
Perwira pimpinan akhirnya menyadari buruknya situasi.
Semuanya mundur.
Mereka akan mengirim kita ke Cebu dengan kapal.
Jadi kau berkeliaran tanpa arah?
Kita akan kemasi ubi lalu pergi.
Sebaiknya kau kemasi makanan juga lalu pergi.
Jadi?
Kau terlalu sakit?
Kau bisa tetap di sini
dan tinggalkan istrimu di rumah.
Lalu, akan ada pria yang menghibur istrimu
dan dia akan menikahinya dengan bahagia.
Kau tak apa-apa?
Benda apa itu yang menonjol di tasmu?
- Garam, Pak. - Garam!
Bagus!
Biar kucicipi sedikit.
Di mana?
Di desa.
Ayo kita lihat ada apa lagi.
Para penduduk mengambil semuanya, lalu lari.
Aku melihat banyak prajurit Jepang tewas.
Satu penduduk lari saat melihatku.
Dia mungkin memberi tahu para pejuang gerilya.
Benar.
Kita harus bergerak.
Bagaimana denganmu?
Kau memberiku garam dan kau bisa ikut.
Kau terlihat buruk sekali.
Ayo, ikut kami.
Akan kuizinkan.
Beruntung, ya?
Apa itu?
Sinyal asap gerilya?
Sepertinya bukan.
Api unggun yang bagus.
Mereka pura-pura jadi penduduk.
Kurasa ini bukan saat untuk api unggun.
Ayo kita jalan.
Palompon.
Palompon.
Palompon.
Ada apa?
Tidak apa.
Kau ahli tentang itu.
Apa pekerjaanmu di tempat asal?
Aku penulis.
Aku membaca
dan menulis. Itu yang kusuka.
Kau yang cerdas di antara kita.
No comments yet. Be the first to leave one.