The first 200 lines.
"Episode 75"
Bibi.
Da Ya, ada apa kemari pukul sebegini?
Bi, apa yang Bibi lakukan dengan pria ini?
Da Ya, beri salam kepadanya.
Dia pacar bibi,
Kang Soo Il.
Apa?
Apa Bibi bilang tadi?
Pacar Bibi?
Bibi sudah gila?
Apa?
Bibi tidak tahu dia siapa?
Bagaimana bisa Bibi berpacaran dengan Pak Kang? Yang benar saja!
Jang Da Ya!
Beraninya kamu bicara begitu padahal dia di sini.
Soo Il?
Ibu!
Maaf, Soo Il.
Aku akan memarahinya.
Tidak perlu.
Sampai beberapa saat lalu, aku bekerja di rumah Pimpinan.
Dia pasti terkejut melihat situasi tidak terduga ini.
Jangan terlalu keras kepadanya.
Terima kasih sudah pengertian.
Kamu sebaiknya masuk. Di luar dingin.
Hati-hati dalam perjalanan pulang.
Ibu!
Ibu!
Kenapa? Ada apa?
Ada apa denganmu pukul sebegini?
Ibu harus keluar dan melihatnya sendiri.
Bibi dan Pak Kang...
Ada apa dengan Hong Joo dan Pak Kang?
Di pintu depan,
mereka berpelukan dan semacamnya. Itu menjijikkan.
Apa?
Mereka berpelukan?
Ibu, Bibi pasti sudah gila.
Da Ya!
Kamu...
Beraninya kamu lancang di hadapan Pak Kang.
Kamu bicara dengan amat ceroboh.
Hong Joo.
Kamu sungguh memperkenalkan Pak Kang ke Da Ya
sebagai pacarmu?
Ya.
Kak.
Pak Kang adalah pacarku.
Apa?
Itukah alasanmu memeluknya dengan tidak tahu malu
di depan rumah?
Kenapa? Apa salahnya itu?
Dia mengantarkanku pulang.
Jadi, aku memeluknya untuk berterima kasih.
Bibi.
Pria itu dahulu sopir kami.
Dari semua pria, bagaimana bisa Bibi mengencaninya?
Dia pasti sengaja mendekati Bibi.
Bagaimana bisa Bibi termakan siasatnya?
Da Ya!
Bagaimana bisa kamu segila ini?
Serta apa pedulimu siapa yang bibi kencani?
Apa salahnya dengan Pak Kang?
Kamu...
Sampai sekarang, apa kamu berbohong kepada kakak
bahwa kalian hanya bekerja sukarela bersama?
Kamu sungguh gila.
Kamu sudah gila?
Aku tidak gila. Beginilah diriku.
Sebelum bilang apa-apa, urus Da Ya dahulu.
Apa katamu?
Walaupun dia dahulu sopir mertuamu,
walaupun begitulah dia dahulu,
dia tetap ayahnya Do Ran.
Bagaimana bisa kamu selancang itu?
Itu amat tidak sopan.
Bagaimana bisa kamu berperilaku amat tidak sopan?
Karena kamu,
bibi malu sampai tidak bisa menghadapinya.
Kak, bagaimana Kakak mendidik anak Kakak?
Aku tidak pernah melihat gadis selancang itu dalam hidupku.
Astaga.
Ibu, ada apa dengan Bibi?
Astaga.
Ini gila! Ini tidak bisa diterima.
Bagaimana bisa dia mengencani Pak Kang?
Astaga!
Yang benar saja!
Da Ya, ada apa?
Ada yang mau kamu katakan kepadaku?
Siapa
ayah Kakak sesungguhnya?
Da Ya, beraninya kamu bicara seperti itu kepada tetua?
Tetua?
Lantas, dia seharusnya bersikap seperti tetua.
Tahukah Kakak, dia melakukan apa dengan bibiku?
Dia pasti sengaja mendekati bibiku demi uang.
Dia tidak sepadan dengan bibiku.
Dia tidak bisa menyamai Bibi.
Da Ya, jaga mulutmu.
Jang Da Ya, kamu bilang apa ke Do Ran?
Kakak kira Pak Kang bisa menyamai Bibi?
Bagaimana bisa Pak Kang menginginkan bibiku?
Adiknya menempeli kakakku.
Kenapa dia melakukan ini kepada keluargaku?
Jang Da Ya!
Ada apa denganmu?
- Yi Ryook, bawa dia masuk. - Ayo masuk, Da Ya.
Lepaskan aku.
Aku belum selesai.
Jika Ayah Kakak
punya nurani, camkan kata-kataku dan suruh dia
menjaga jarak dari bibiku, paham?
Jang Da Ya!
Kenapa kamu ikut campur masalah mereka?
Kenapa kamu bersikap seperti itu kepada Kak Do Ran? Kemari.
Karena Pak Kang ayahnya.
Aku harus bilang begini ke siapa lagi?
Dia pasti sengaja mendekati Bibi Hong Joo
karena uang.
Dia sengaja menggodanya!
- Bagaimana bisa aku diam saja? - Jang Da Ya!
Kamu kira tidak masalah bicara seenakmu?
Astaga. Ada apa ini?
Kenapa kalian berteriak-teriak?
Ibu, aku amat kesal.
- Ibu. - Astaga, Da Ya.
Ada apa? Kenapa kamu berteriak kepadanya?
Ada apa ini?
Setelah mendengarmu,
Da Ya keterlaluan kali ini.
Nenek.
Kenapa kamu mencampuri urusan tetua?
Serta jika bermasalah dengan urusan itu,
kamu seharusnya bicara dengan bibimu.
Kenapa kamu mengeluh ke Do Ran?
Nenek, itu hanya tidak masuk akal bagiku.
Bukankah aneh?
Adiknya menikahi kakakku.
Pak Kang mengencani bibiku.
Tidak mungkin ini tidak disengaja.
Tidak bisa seperti ini.
Aku kesal sekali.
Nenek paham.
Walaupun itu benar,
seharusnya mereka yang mengurusnya.
Itu bukan urusanmu.
Selain itu, itu urusan Hong Joo.
Kamu tidak terlibat langsung.
Kenapa kamu mencampuri urusannya?
Kamu harus meminta maaf ke Do Ran.
Nenek.
Dia benar. Ayah pun berpikir
kamu keterlaluan kali ini.
Nenek, Ayah.
Itu terlalu berat.
Kenapa kalian membelanya?
Bagaimana bisa kalian tidak memahamiku?
Astaga.
Dia kekanak-kanakan sekali.
Maaf.
Aku akan naik juga.
Hibur dia dan suruh dia bersikap dengan baik.
Ya, Ayah.
Da Ya agak keterlaluan,
tapi jika memikirkan perasaannya, dia pasti kesal.
Bahkan kakaknya yang dibesarkan dengan baik menikahi
seseorang dari keluarga seperti itu.
Kini bibinya satu-satunya
mengencani sopir kita dahulu.
Ibu memahaminya.
Ibu.
Sayang, kamu konyol.
Kenapa? Ada apa?
Apa aku salah bicara?
Kami akan naik. Ayo, Do Ran.
Tunggu, Dae Ryook.
Ibu.
Kamu baru saja memanggil ibu?
Kenapa? Jika mau bilang sesuatu, katakan saja.
Ayahku
pergi ke panti asuhan gereja setiap Minggu.
Dia bekerja sukarela dan memberi roti ke anak-anak.
Dia menemui Hong Joo di sana.
Mereka menjadi teman baik.
Aku menyadari orang-orang bisa berteman
terlepas dari usia atau status mereka.
Ayahku mungkin tidak kaya,
tapi itu tidak bisa menjadi alasan
untuk mengkritisi hubungan ayahku dengan bibinya Da Ya.
Tolong jangan bicara seperti itu
soal ayahku, Bu.
Do Ran, ayo naik.
Kami permisi.
Astaga.
Astaga, apa itu tadi?
Aku tidak percaya ini.
Sayang.
Dia berani melawan kita,
No comments yet. Be the first to leave one.