The first 200 lines.
Lukisan Youngsik
luar biasa.
Seolah-olah mendiang ayahnya
menginspirasinya dari langit.
Sehebat itulah
lukisannya.
Jadi, kau ingat.
Jika kau menyimpannya, tolong kembalikan.
Di mana semua itu?
Youngsik, semua lukisan itu...
Semua lukisan itu.
Aku tidak bisa menyerahkannya.
Aku tak bisa membiarkanmu pergi ke Prancis
dan menjadi lebih terkenal daripada Sangjun.
Aku tidak bisa
kehilangan pelayan
yang bisa kuperintah dengan harga murah.
Aku benci lukisan-lukisan itu.
Ibu?
Aku tidak bisa membiarkanmu
menjadi sosok yang akan mengalahkan Sangjun.
Kau menumpang pada kami
dan untuk itu,
kau harus melayani kami dengan baik.
Aku ingin mencegahmu pergi ke Prancis
dan membiarkanmu membusuk
sebagai fotografer kelas teri
di studio foto kecil.
Itu sebabnya
aku membakar lukisan itu.
Ibu?
Nenek.
Aku benar untuk membalas dendam.
Dia pantas ditikam dari belakang.
Gilhyeon.
Gilhyeon!
Ibu?
Ibu? / - Nenek!
Gilhyeon. / - Ibu.
Gilhyeon! / - Ada apa?
Nenek!
Gilhyeon! / - Hati-hati.
Gilhyeon!
Nenek? / - Gilhyeon.
Astaga. / - Gilhyeon.
Gilhyeon! / - Nenek.
Nenek. / - Astaga.
Ibu, kumohon. / - Gilhyeon.
Gilhyeon! / - Nenek.
Sekarang kita impas.
Sangjun,
segera batalkan gugatannya
kecuali kau ingin dipermalukan lagi.
Youngsik.
Lukisanmu.
Ibumu merobeknya di luar studio seni
agar kami tidak bisa menyerahkannya.
Apa hanya itu...
Apa hanya itu yang bisa kau pikirkan, Sangjun?
Tapi...
Makanannya mungkin sudah dingin sekarang.
Aku akan kembali lain kali.
Ayo, Eunju.
Ibu. / - Ibu.
Ibu!
Ibu.
Sayang.
Eunju, aku senang sekali.
Aku merasa jauh lebih baik sekarang.
Kau lihat, bukan? Itulah Bibi yang sebenarnya.
Sayang, kumohon.
Ayah, maafkan aku.
Aku mengkhianati Bibi.
Aku mengkhianati Jang Seran!
Sayang.
Ibumu pernah datang ke studiomu?
Ya.
Apa dia punya alasan untuk merobek gambarmu?
Untuk apa?
Tapi itu yang dikatakan Sangjun.
Eunju.
Dia mencari nafkah lewat akting.
Berbohong adalah keahliannya.
Kalau begitu, cari ibumu.
Dan buktikan bahwa Sangjun berbohong.
Seharusnya kau melihat lukisannya.
Kau seharusnya melihat lukisan terbaikku.
Bibi mengambilnya
dan sengaja tidak menyerahkannya.
Sayang, kumohon. Bisakah kau tenang sekarang?
Eunju.
Jiwoo akan memahamiku, bukan?
Lagi pula, dia putraku.
Sayang, kurasa kita harus mencari
guru seni
yang dinikahi ibumu.
Aku yakin dia masih bekerja sebagai guru seni.
Begitu menemukannya,
kita bisa mengetahui keberadaan ibumu.
Apa? / - Hei, Jiwoo.
Kudengar kau akan makan malam keluarga.
Kau belum makan?
Belum. Aku ingin makan kari.
Boleh aku makan yang ada di kulkas?
Tentu. / - Terima kasih.
Aku akan menyiapkan meja untukmu.
Tidak apa. Aku bisa mengambilnya sendiri.
Begitu rupanya.
Kurasa terjadi sesuatu.
Kurasa begitu.
Aku yakin Bu Yoon akan datang
ke rumah kita lagi.
Haengbok saja sudah butuh perawatan tinggi.
Aku tidak mengalami kesulitan mobilitas.
Kenapa aku butuh perawatan tinggi?
Aku akan mengurus Bu Yoon jika dia datang lagi.
Jangan khawatir.
Kenapa kau tidak mengurus menantumu
dengan baik seperti itu?
Bagaimana caranya? Bahumu mau kupijat?
Ya.
Kalau begitu, duduklah. / - Benarkah?
Ya. Bukan masalah besar.
Ini. Ini dia.
Kau menyukainya? / - Sedikit lebih keras.
Tidak, di sini.
Di sini? / - Ya.
Aku bertanya apa yang kau lakukan.
Biasanya, orang menangis lebih keras
saat melihat foto mendiang tersenyum.
Jadi, tersenyumlah, Bu Oh,
si pasien sakit parah palsu.
Hei!
Singkirkan itu dari wajahku!
Sial. Hentikan!
Kau bahkan peduli dengan fotoku.
Aku sangat bersyukur.
Aku akan menemui fotografer
yang mengambil foto pernikahanku
dan mendapatkan foto yang bagus.
Dengan senyum yang cantik.
Semoga kau beristirahat dengan tenang.
Sorim, kau mau minum?
Kau punya yukgaejang?
Tidak ada karena dia masih hidup.
Maka, aku pesan yang sama. Tolong ambilkan air.
Baiklah.
Kau tampak merona.
Cushion berpendar lembap 23.
Ini sempurna untuk cahaya yang tampak sehat.
Mau kubelikan satu?
Aku menggunakan nomor 21.
Mau bersulang untuk kelahiran kembalimu?
Bukankah kebohonganmu kekanakan dan buruk?
Kebohongan apa yang kau bicarakan?
Aku masih sakit.
Aku kecewa dengan kecerobohanmu.
Maksudku, aktingmu lumayan,
tapi dokter itu palsu,
dan latarnya agak payah.
Karena bukan itu yang penting.
Jihye masih berpikir ibunya sakit parah.
Teganya kau melakukan itu.
Bayangkan betapa bahagianya dia
begitu dia tahu aku sudah sembuh.
Itu membuat semua rasa sakitnya sepadan.
Kalau begitu, aku harus jujur kepada Jihye
agar aku bisa membebaskannya dari rasa sakit.
Benar juga. Dan Pak Shin sudah tahu
bahwa itu bohong.
Dia akan memahamiku.
Memahami apa?
Bahwa aku mencintainya
dan ingin dia kembali sampai bertindak sejauh ini.
Dan aku menyesali masa lalu.
Dia akan memahami semuanya.
Kurasa justru sebaliknya.
Pernahkah kau mencintai seseorang
sampai melakukan hal konyol seperti ini?
Aku hanya ingin melindungi Pak Shin
dari orang-orang konyol sepertimu.
Dia mungkin agak kesal,
tapi begitu dia tahu aku tidak sakit parah,
dia akan senang.
Kuperingatkan kau.
Jangan macam-macam dengan Pak Shin.
Semua suami yang berselingkuh
pasti akan kembali kepada istri mereka.
Kau bukan istri setia. Kau hanya orang gila.
Kau muda dan cantik.
Orang tuamu sepertinya orang baik.
Kenapa kau menginginkan duda tua
dengan seorang putri?
Sebagai orang yang sudah hidup lebih lama,
aku kasihan kepadamu.
Mereka bilang setiap kata adalah benih.
Kau harus berhati-hati dengan keinginanmu.
Bagaimana
jika kau mati muda
selagi menjalani hidup yang bodoh?
No comments yet. Be the first to leave one.