Release info

계약우정--How-to Buy a Friend E07-E08 200414-END NEXT
계약우정--How-to Buy a Friend E05-E06 200413 NEXT
계약우정--How-to Buy a Friend E03-E04 200407 NEXT
계약우정--How-to Buy a Friend E01-E02 200406 NEXT
A Commentary by anyhow

Tags

other
Published on: 2020-04-17
Downloads: 44
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Penerjemah: Patricia Seasony

Untuk mencegah penyebaran COVID-19

Selamat menonton ini di rumah!

Kenapa aku duduk di tempat ini?

Di mana letak kesalahan ini berawal?

Lihat. Pemenang legendaris pertarungan 10 lawan 1.

Dia mati heroik.

Kamu mengaku petarung hebat seperti Iron Man.

Lucu sekali.

Sebelum wajahmu semakin rusak...

- cepat berikan itu. - Jangan!

Jika tidak, temanmu akan mati.

Dia bukan temanku. Kami punya kontrak.

Heo Don Hyuk, aku seharusnya tidak terlibat denganmu.

Kamu membuatku kesal.

Ini tidak benar.

Situasi sialan,

tidak masuk akal, dan gila ini terjadi karena...

pasir basah...

mengingat jejak kaki seseorang.

Apa?

Benar. Aku tidak seharusnya menulis puisi itu.

Semuanya dimulai...

karena puisi sialan itu.

Ibu!

- Bu! - Ada apa?

- Kenapa tidak membangunkanku? - Apa?

Kamu sedang libur sekolah, 'kan.

Sekolah dimulai hari ini.

- Benar, ibu lupa. - Ibu sudah membayar SPP-ku?

Astaga, tidakkah Ibu keterlaluan?

Tingkatkan prestasimu!

Kamu terlalu tenang untuk siswa tingkat akhir.

Berhenti mengomelinya.

Sarapan dahulu, Nak.

Aku sudah terlambat.

Tidak apa-apa terlambat sedikit.

Lakukan secukupnya. Jadilah rata-rata.

Benar, secukupnya saja seperti ayahmu.

- Sama seperti dia. - Astaga.

Bagaimana bisa kamu selalu melihat ke atas?

Terkadang kamu perlu melihat ke bawah...

- seperti aliran air. - Aku pergi.

Menyarap dahulu.

Airnya meluber.

Astaga.

Sudah kubilang jangan menaruh itu di atas meja makan!

Tidak ada spasi untuk meletakkan sesuatu.

Aku harus membuangnya.

Ayahku bilang tidak perlu memiliki harapan terlalu tinggi.

Aku sadar itulah kebenarannya sejak awal.

Sejak saat itu, tujuanku adalah menjadi rata-rata.

Mungkin itu sebabnya.

Tinggiku, berat badanku, bahkan peringkatku...

hanya rata-rata untuk usia 18 tahun.

Itu Um Sae Yun.

Dia gadis tercantik di SMA Jaeil.

Dia bahkan peringkat teratas.

Aku bahkan tidak berani bertegur sapa dengannya.

Apa dia tahu...

orang sepertiku ada?

Hei, bung.

Lupakan ambisimu dan buang saja.

Biarkan hewan liar memakannya.

Wajahku terlalu umum.

Apa kamu membawanya?

- Tasmu bagus. - Apa ini?

Aku tidak terlalu tampak.

Setidaknya, aku tidak menjadi mangsa.

- Itu sebabnya panggilanku... - Hei, ninja!

Ninja.

Aku di mana-mana jadi sulit...

- menebak di mana aku. - Dasar psikopat!

- Aku Ninja. - Ninja!

Laki-laki dan perempuan beda kelas. Ini bukan kampus!

- Mereka seharusnya mencampurnya. - Apa pun itu, kamu akan didaur ulang.

Tentu. Aku unik, bukan?

- Berengsek. - Ninja! Ikuti aku.

(Apa yang Bisa Kamu Lakukan dengan Sebuah Puisi?)

Apa itu penyair?

Penyair melihat dunia dari sisi lain.

Dia memiliki sudut pandang berbeda.

Jika orang di dunia melihat lumpur...

dan mengatakan bau, kotor...

- dan mengerutkan kening... - Guru sastra,

Woo Tae Jung, alias "Woo Berludah."

Bunga kotor mekar dari lumpur kotor.

Bau!

Kotor dan jijik. Betapa menjijikannya!

Dia tergila-gila dengan puisi.

Dia terlalu bersemangat, apa pun topiknya.

Itu yang disebut penyair sejati.

Itu pendapatku. Siap untuk mengungkap kebenaran?

- Siap. - Mari kita mulai.

Kami sedang mencari seseorang untuk mewakili sekolah,

jadi kalian akan dihukum jika tidak melakukan yang terbaik.

Jika sudah selesai, boleh keluar.

("Aku mungkin lebih bodoh dari ikan yang terkurung di akuarium.")

Kamu sudah gila? Itu lirik lagu.

Orang kolot tidak tahu Beenzino.

Aku akan menyelesaikan ini dan pergi makan siang.

Kamu harus selesaikan ini dengan cepat juga.

Menu siang ini babi tumis pedas dan tonkatsu.

Kalau begitu aku akan menulis lirik E Sens.

Pilihan yang bagus.

Siapa itu yang cekikikan?

Kamu sudah selesai? Biar kulihat.

"Aku mungkin lebih bodoh dari ikan..."

"yang terkurung di akuarium."

Kamu menulis tentangmu, Kyung Pyo. Pengakuan menarik.

Bapak suka kejujuranmu. Lulus.

Apa yang dia lihat?

- Apa rumor itu benar? - Rumor apa?

Kamu tahu Seo Jung, senior yang bunuh diri tahun lalu.

Dia jatuh di taman bunga di sana dan tewas.

Siapa?

Di hari saat kamu kecelakaan.

Sekolah gempar.

Kamu mungkin tidak ingat karena kecelakaan itu.

Banyak rumor mengatakan dia kencan kilat...

sebelum dia tewas.

- Foto aneh juga tersebar. - Tidak mungkin.

Aku tidak paham. Mengakhiri hidup hanya karena peringkat?

Aku tidak akan pernah menyerahkan hidupku untuk itu.

Tertekan karena peringkat? Itu yang dikatakan polisi.

Polisi tidak dapat menemukan ponselnya.

Menurutmu kenapa?

Dia pasti sudah menyembunyikan atau menyingkirkannya sebelum mati.

Untuk apa dia sembunyikan itu?

Rumor mengatakan Sae Yun dan Seo Jung...

seperti pasangan.

- Mereka mungkin pernah berciuman... - Tidak masuk akal.

Kenapa dia mengencani gadis? Seperti yang kamu tahu...

- Sae Yun... - Kenapa beremosi?

Hei, Chan Hong.

Apa? Kenapa? Apa aku salah?

- Kita bisa kehabisan roti piza. - Hei!

Meskipun dia cantik, dia tidak akan pernah berkencan dengan pria.

- Apa itu masuk akal? - Jadi, mereka saling menyukai?

Benar. Tapi ketika Seo Jung punya pacar, mereka retak.

- Ada apa, Mi Ra? - Heh, Raja Psikopat!

Apa kamu mesum? Kenapa memandangku seperti itu?

Aku tidak memandangimu, dan aku bukan pria mesum.

Berhenti memandangi kami. Itu membuatku merinding.

- Dasar mesum. - Dah!

Lihat? Dia marah karena kita melirik pasangannya.

- Mereka berdua mencurigakan. - Ninja.

Ninja!

Oh, Ninja.

- Hei, Ninja di sini. - Kamu di sini?

- Ya. Kenapa? - Pak Woo memanggilmu.

- Apa? Kenapa? - Lalu aku? Apa aku juga?

- Tidak, hanya Chan Hong. - Ya!

- Rap Beenzino yang terbaik. - Kacau.

E Sens ketahuan sedangkan Beenzino tidak.

E Sens?

Pak. Aku minta maaf...

Kali ini kamu.

Kamu akan menjadi perwakilan sekolah.

Lihat karyamu.

Kalimatnya, judulnya.

Jika kamu bisa menulis sebagus ini di kontes...

kamu akan menang.

Mari kita coba.

- Ini bagus untuk kualifikasimu melanjutkan kuliah. - Pak Woo,

- itu bukan... - Semuanya, tolong fokus.

Kurasa kita akan dengar berita baik dari kontes menulis tahun ini.

Kita menemukan penyair hebat.

Ini, bacakan.

Pak Woo.

Jangan malu. Kamu bertalenta. Bacakan dengan percaya diri.

Beri tepuk tangan.

Apa aku benar-benar harus membacakan ini?

Biar Bapak yang bacakan.

Judul.

"Racun" oleh Park Chan Hong.

"Kenangan tertutupi debu..."

"setelah sekian lama waktu berlalu."

"Racun yang meracuniku selama ini."

"Memantik hasratku untuk bebas..."

"tumbuh kian besar."

"Belakangan ini, separuh..."

"jiwaku..."

"Separuh jiwaku mati."

Apa dia menangis?

Maaf. Biar kulanjutkan.

"Semua yang terlihat di depanku..."

Bagus, Ninja.

Akhirnya dia menunjukkan dirinya. Jreng!

Bagaimana ini? Aku tidak pernah menulis puisi.

Aku akan pergi dan mengaku saja.

Hei!

Jika kamu mengatakan kebenarannya,

kamu mungkin akan menginjak neraka.

Dan aku akan terseret. Kita berdua bisa ketahuan.

Dasar pengkhianat. Aku bisa gila.

Puisi bukan hal besar.

Tuliskan keinginan dan alasanmu. Itu saja.

Masukkan pikiran alam bawah sadarmu ke otakmu.

- Dan tulis dengan baik. - Aku benar-benar...

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left