The first 200 lines.
Ada masa ketika langit dan Bumi bersama sebagai kesatuan.
Dua matahari dan dua bulan menghiasi langit.
Satu matahari jatuh dan menjadi Bintang Utara.
Satu bulan jatuh dan menjadi tujuh bintang dari Bintang Biduk.
Bintang-bintang kecil menjadi bintang pujangga
dan bintang besar adalah bintang para raja.
Bintang terbesar dari semuanya turun ke bumi sebagai Kaisar Jinheung.
Dia mengubah negara kecil dan lemah seperti Silla, jadi kerajaan besar.
Kalian dari Baekje?
Benar! Kami datang untuk membalaskan dendam Raja Sung!
Tangkap dia!
Yang Mulia!
Yang Mulia, maafkan kelalaianku.
Tidak.
Aku seharusnya mengindahkan saranmu.
Yang Mulia seharusnya tidak berkuda sendirian di daerah perbatasan.
Aku mohon berhentilah berkeliling dan kembali ke istana!
Tidak!
Tapi Yang Mulia...
Aku harus membawa Baek Jeong, pewarisku, ke puncak Gunung Bukhan
untuk melihat seluruh wilayah Silla.
Hanya Silla yang kamu lihat di bawah sana.
Lebih dari itu,
Silla memanjang ke Maeunryung dan Jalur Hwangchoryung di utara
dan ke Benteng Danghang di barat.
Ini berkat kalian semua.
Kalian telah memulai era baru untuk Silla.
Eul Jae.
Aku memujimu atas pemerintahan yang bijak.
Rahmat Yang Mulia melingkupi kami.
Dan Noribu, Se Jong,
kalian memberiku bimbingan dan telah memimpin prajurit kita.
Aku memuji kesetiaanmu!
Rahmat Yang Mulia melingkupi kami. - Rahmat Yang Mulia melingkupi kami.
Dan Mi Shil!
Ya, Yang Mulia!
Kamu telah memimpin Hwarang sebagai Wonhwa mereka
dan telah melatih bakat baru.
Seol Won!
Siap, Yang Mulia. - Dan Mun No!
Guru Besar Mun No sudah pergi ke Gunung Tengah
untuk melakukan ritual langit.
Mi Shil, Seol Won, Mun No, aku memuji jasamu pada negara ini.
Rahmat Yang Mulia melingkupi kami! - Rahmat Yang Mulia melingkupi kami!
Mulai hari ini, Silla adalah milik kalian.
Dengan kalian di sisiku,
aku bisa meraih impian yang terasa mustahil.
Rahmat Yang Mulia melingkupi kami!
Baek Jeong.
Kamu harus mewarisi takhta dan bermimpi lebih besar.
Kamu paham?
Baik, Yang Mulia.
Baiklah.
Selama orang-orang di sini ada di sisimu, kamu akan meraihnya.
Jika bukan berkat Yang Mulia,
kita tidak bisa memimpikan hari seperti ini.
Apa menurutmu begitu?
Tentu.
Dan bagaimana menurutmu aku bisa meraih semua itu?
Mana mungkin aku berani menilai aturan Yang Mulia?
Yang Mulia tidak apa-apa?
Aku tidak apa-apa.
Apa yang terjadi?
Akan kuperiksa, Yang Mulia.
Bukan apa-apa, Yang Mulia.
Saat masih muda, aku pernah membunuh harimau.
Semua orang tahu itu.
Aku membunuhnya dengan belati ini.
Kamu juga tahu itu?
Dengan belati kecil ini?
Aku tidak bisa menggores harimau dengan ini, apalagi membunuhnya.
Lalu?
Harimau itu menelan lenganku.
Jika aku mencoba melepaskan diri, lenganku bisa tercabik.
Tapi aku malah mendorong lenganku ke dalam mulut harimau.
Apa?
Dan kemudian kugorok tenggorokan harimau itu dengan belati ini.
Yang Mulia bisa membuat pertimbangan dalam situasi itu?
Aku hanya merasa marah.
Harimau itu sudah membunuh temanku.
Dan kemudian aku takut tidak ada yang memercayaiku
jadi, kukatakan bahwa aku memakai pedang untuk membunuhnya.
Yang menarik adalah menjadi raja itu
seperti membiarkan harimau menggigit salah satu lenganmu.
Terkadang harimau itu mungkin seperti Baekje.
Terkadang harimau itu mungkin seperti Goguryeo.
Dan terkadang, mungkin kaum bangsawan.
Aku mengingat peristiwa itu dalam setiap masa sulit.
Yang Mulia berani dan gagah.
Pasti itu alasannya Yang Mulia menjadi penguasa di zaman ini.
Jika hanya karena berani dan gagah, para jenderalku pun bisa melebihiku.
Kalau begitu,
mungkinkah karena Yang Mulia memiliki pertimbangan yang tepat?
Aku banyak membuat kesalahan dalam pertimbangan.
Kalau begitu
apa Yang Mulia percaya itu semua kehendak Langit?
Apa ada raja yang tidak diberkati oleh Langit?
Kalau begitu,
apa karena Yang Mulia rajin dan bersemangat?
Bukan itu!
Lalu?
Manusia.
Saat pertama menghadapi harimau, aku sendirian.
Tapi sejak hari itu, aku memiliki orang yang memercayaiku.
Jadi, saat aku menghadapi ancaman berikutnya,
ratusan sekutu menghadapi harimau bersamaku.
Dan saat hadapi harimau berikutnya, makin banyak orang yang bergabung.
Jadi, pada akhirnya, aku punya orang yang berani,
orang yang beruntung, dan orang dengan pertimbangan tepat.
Mereka semua bergabung denganku untuk melawan harimauku.
Bukan Langit yang menunjuk pemimpin negeri.
Tapi manusia.
Manusia yang memenangkan hati manusia lain akan mendapatkan dunia
dan menjadi penguasa zaman.
Yang Mulia mengajariku pelajaran penting lainnya.
Yang Mulia.
Yang Mulia!
Jangan bilang begitu, Yang Mulia!
Wasiat terakhir Yang Mulia? Yang Mulia harus bertahan hidup!
Hidupku sudah hampir berakhir.
Yang Mulia.
Catat perkataanku.
Pewaris takhtaku
adalah cucuku, Baek Jeong.
Dengan ini kutunjuk Eul Jae sebagai perdana menteri.
Dan sesuai dengan hukum,
Pangeran Geum Ryun
dan Penjaga Segel Mi Shil
akan dilepaskan dari posisi mereka.
Dan bersamaku, harus mengabdikan hidup untuk melayani Buddha.
Kamu tidak senang?
Begitukah?
Aku tidak berpikir begitu.
Jika Yang Mulia hendak meninggalkan dunia,
bagaimana bisa aku terus hidup dalam kemewahan dunia ini?
Kalau begitu, apa kamu akan menuruti perkataanku?
Akan kuabdikan diri pada Buddha dan menjalani sisa hidupku
untuk berdoa demi kedamaian dan kemakmuran Yang Mulia di akhirat.
Yang Mulia.
Kasim!
Yang Mulia!
Yang Mulia memanggilku?
Panggillah Eul Jae dan Pangeran Baek Jeong!
Baiklah,
Yang Mulia. - Tidak ada waktu lagi.
Baiklah, Yang Mulia.
Yang Mulia, Hwarang Seol Won ingin bertemu.
Izinkan dia masuk.
Baik, Yang Mulia.
Hwarang Seol Won telah dipanggil oleh Yang Mulia
dan hadir di depan Yang Mulia.
Aku telah memberikan wasiat terakhir kepada Penjaga Segel Mi Shil.
Yang Mulia, bagaimana mungkin?
Wasiat terakhir?
Itu tidak masuk akal!
Sebagai kepala pengawalku,
kamu dan Mun No
selalu berada di sisiku.
Jadi, kamu juga pasti mengetahui
alasanku tiba-tiba meninggalkan kuil dan kembali ke istana.
Yang Mulia.
Aku punya
perintah rahasia untukmu.
Mendekatlah.
Seol Won, terimalah titah kerajaan ini.
Hwarang Seol Won menerima titah kerajaan Yang Mulia.
Bacalah.
Yang Mulia, perintah apa ini?
Penjaga Segel
Mi Shil
tidak akan memegang teguh wasiat terakhirku.
Selama aku hidup,
Mi Shil adalah harta berharga bagi Silla.
Tapi setelah aku tiada,
Mi Shil akan menjadi dalang pengkhianatan.
Yang Mulia...
Bunuhlah Mi Shil!
Akankah kamu melakukannya?
Aku, Seol Won, akan korbankan nyawa demi jalankan perintah Yang Mulia.
Yang Mulia!
Tabib kerajaan sudah datang!
Aku tidak butuh dia! Tinggalkan aku!
Di mana Pangeran Baek Jeong?
Dia akan tiba. Pangeran akan segera tiba!
Segera bawa dia kepadaku!
Tapi Yang Mulia! Pertama, kesehatan Yang Mulia...
Tinggalkan aku sekarang! Bawa Baek Jeong kepadaku!
Baik, Yang Mulia.
Yang Mulia telah melihat segalanya.
Dialah raja terhebat yang pernah Silla miliki.
Dia tidak akan menjadi raja tanpa insting seperti ini.
Bagaimana langkahmu selanjutnya?
Apa yang harus ditakuti?
Silakan duduk.
Jika kamu begitu menderita,
mungkin kamu harus membunuhku, musuh Silla,
demi menjunjung harapan Yang Mulia.
Mi Shil! Bagaimana bisa kamu mengatakan itu meski bercanda?
Lalu, apa yang akan kamu lakukan?
Aku, Seol Won, telah berjanji menyerahkan diriku empat tahun lalu.
No comments yet. Be the first to leave one.