The first 200 lines.
Maaf aku selalu membahas soal ayahku,
tapi aku tidak punya siapa pun untuk mendampingiku di pernikahan.
Ibuku satu-satunya yang dituakan di acara itu.
Jadi, kupikir, kamu mau melihat ini?
Ini dia!
Kamu bilang aku bisa melakukan apa pun di pernikahan kita,
jadi, aku terpikirkan sebuah ide.
Lihatlah.
Kita akan masuk bersama sambil bergandengan seperti ini.
Kita undang saja teman-teman dekat dan anggota keluarga,
lalu membuat acara sesederhana mungkin.
Kamu cantik sekali!
Kamu tampan!
Profesor Jang Eun Taek akan memberi pidato.
Ingatlah selalu bahwa
kebahagiaan kita datang dari pasangan.
Ingatlah semua kenangan yang membahagiakan
dan mengenang semua itu adalah arti dari pernikahan.
Namun, kebahagiaan bukanlah hal yang spesial.
Saat kita marah, kita bisa marah,
dan saat ingin menangis, menangislah.
Saat kita bahagia, kita boleh tersenyum.
Inilah yang terpenting.
Saat kita bertengkar, berbaikanlah,
saat pasanganmu menangis, usaplah air matanya.
Serta, ingatlah selalu untuk tersenyum bersama.
Itulah kebahagiaan.
Bisakah kalian berjanji untuk selalu hidup berbahagia
dan tidak akan melupakan kebahagiaan itu?
- Aku berjanji. - Aku berjanji.
- Apa ini? - Ini foto pernikahan kita.
Setelah upacara pernikahan, kita bisa berfoto begini di pantai.
Ini ide bagus.
- Sungguh? - Ya.
Aku pasti bisa mengingat ini seumur hidupku.
Mempelai pria bisa memeluk mempelai wanita lebih mesra?
Bersiaplah.
Baik, aku akan memeluknya dari belakang.
- Bagus. - Hentikan!
Bagus, aku suka ekspresi kalian.
Dekatkan kening kalian. Bagus.
Baiklah, terus lihat ke sini.
Suara mereka tidak akan masuk ke foto ini.
Jadi, tidak usah khawatir. Ayo, senyumlah.
Berilah ekspresi penuh cinta.
Bagus, sempurna sekali.
- Aku benci kamu! - Meski mereka putus,
- kalian akan menikah. - Setelah sesi foto ini selesai,
- Senyum. - akan kuhajar pasangan itu.
- Sungguh? - Ya. Janji.
- Lihat ini. - Jika mau mati, mati saja sendiri!
- Dasar berengsek! - Ada pasir di mataku.
- Sungguh? Kamu baik-baik saja? - Ada pasir di mataku.
Tunggu! Tahan!
Seperti ini?
Ibu, kenapa aku tidak ada di video itu?
Itu karena kamu belum lahir.
Ada bibi di sana. Kamu lihat?
Do Hun, wanita yang berdiri di sana itu aku.
Kamu sudah ingat?
Bagaimana dia bisa mengingatmu?
Kamu terjebak di bandara karena operasi plastik,
dan ibumu pun awalnya tidak mengenalimu.
Mana mungkin itu kamu?
Tidak ada satu pun yang bisa mengenalimu.
Astaga, tiba-tiba aku mulai membenci keluarga ini.
Kecuali kamu, Ah Ram.
Dua kali.
Benar, bukan? Kamu menikah dua kali.
Ya, benar.
Tunggu. Kenapa hanya itu yang kamu ingat?
Maaf.
Kenapa kamu memarahi suamiku?
Bibi sedang kesal?
Sama sekali tidak. Maaf, ya.
Bibi tidak kesal sama sekali.
Siapa yang bisa kesal di depanmu, Ah Ram?
Bagaimana kabar Kyung Hun belakangan ini?
- Kabar apanya? - Aku hanya ingin tahu
keadaannya.
Ya, dia baik-baik saja.
Dia banyak pekerjaan belakangan ini, jadi, sepertinya sangat sibuk.
- Sungguh? - Kamu memutuskan untuk bahagia.
Mulai sekarang, pikirkan saja dirimu sendiri.
Kamu harus merawat Do Hun dan Ah Ram sekaligus.
Kamu harus menjadi tulang punggung keluargamu, dasar bodoh.
Terima kasih sudah mau datang.
Apa kamu harus berterima kasih karena temanmu ini datang?
Omong-omong, rumah ini bagus.
Kudengar Do Hun membuat sendiri rumah ini.
Tapi bukankah dia memberimu
semua uang dan asetnya kepadamu saat kalian bercerai?
Lantas, apa dia menyembunyikan beberapa hartanya darimu?
Kamu pikir dia seperti kamu?
Tapi coba pikirkan.
Dia bertahun-tahun tidak bekerja. Bagaimana dia mampu tinggal di sini?
Hampir lupa. Rumah perawatan tempat dia dirawat.
Kamu tahu mahalnya tempat itu?
Dengan hitungan kasarku saja, aku tahu biayanya pasti tinggi.
Dia menang lotre atau apa?
Ibu!
Ayah bilang ingin berlari bersamaku.
- Sungguh? - Ya.
Ah Ram, pasti kamu senang sekali!
Apa kamu akan baik-baik saja?
Aku sudah jauh membaik, berkat Su Cheol.
- Kamu sangat suka berlari? - Ya.
Suka, ya? Kamu mau terus berlari, ya?
Ya.
"Hari Olahraga TK Bandi"
- Ayo! - Semangat Tim Biru!
- Ayo, Tim Biru! - Ayo, Tim Biru!
- Kalahkan mereka! - Ayo, Tim Biru!
- Lihat! - Ayo, Tim Biru!
- Ayo, Tim Biru! - Ayo, Tim Biru!
Balap lari akan segera dimulai.
Semua, bersiaplah.
- Ayo! - Ayo, terus!
Ah Ram!
"Tim Biru"
Ayah!
Ayo, Ayah!
- Kita menang! - Bagus!
Bagus sekali.
Ayo hampiri ayah.
Minumlah.
Jangan risaukan kejadian tadi.
Ah Ram baik-baik saja.
Tadi hanya kesalahan yang lucu.
Saat kuliah, aku tidak lulus ujian
karena tidak menemukan ruang kelasnya.
- Kamu ingat? - Aku ingat hari itu.
Kamu menangis dan terlihat begitu cantik.
Sungguh?
Sekarang bagaimana?
Sekarang
kamu lebih cantik.
Kamu juga masih keren.
Hari ini, kamu seorang ayah yang keren.
Ah Ram, bersenang-senanglah dengan ayahmu.
Baik!
Sampai nanti.
Sampai nanti.
Sampai jumpa, Ibu!
Memori yang paling terbaru
dan orang-orang yang dia rasa paling jauh akan terlupakan.
Contohnya, orang-orang yang baru dia kenal.
Mungkin dia juga tidak mengenali pengasuhnya.
Jika Anda
juga panik saat hal ini terjadi,
maka, secara otomatis, dia akan mengalami stres.
Hal yang terpenting adalah
sikap penerimaan Anda terhadap kondisinya.
Jelaskan situasinya dengan tenang kepadanya
dan jelaskan siapa orang itu.
Itu akan membuat dirinya tenang dan tidak stres.
Lantas, apa Do Hun...
Ini hanya proses kemunduran alami
yang biasa terjadi pada pasien Alzheimer.
Aku tidak yakin seefektif apa pengobatan medis pada kasus ini,
tapi memori Pak Kwon
akan terus mundur ke masa lalunya.
Hilang ingatannya akan terus memburuk.
Hingga akhirnya, dia akan melupakan Anda
bahkan dirinya sendiri.
Ini.
Jangan, biarkan saja.
Dia harus melakukan semuanya sendiri.
Bagaimana dengan Ayah? Di mana punya Ayah?
Ayah
tidak punya.
Jadi, aku bersepeda sendirian?
Nanti, jika ayah sudah punya topi ini...
- Maksud Ayah, helm? - Ya, helm.
Nanti ayah akan ikut denganmu jika sudah beli helm.
- Baiklah. - Bagus.
Kalau begitu, kita mulai bersepeda, ya?
- Ya! - Bagus!
Masuk dan istirahatlah.
Kami akan bersepeda di dekat rumah.
Ayo.
Kita mau ke mana, ya? Ke sana?
Bibi akan mendorongmu dari belakang.
Ayo!
Ini dia!
Ah Ram, kamu bisa terkena karang gigi.
Sikatlah gigimu.
Sudah.
- Belum. - Sudah.
Aku sudah menyikat gigiku.
Perlihatkan gigimu.
- Ini! - Buka mulutmu.
Tidak, kamu harus menyikat gigimu lagi.
Tidak mau. Aku sudah sikat gigi.
Ayah mengompol.
Ibu!
Aku mau pulang.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa, Ah Ram. Berhentilah menangis.
Ah Ram, kamu mau pulang?
No comments yet. Be the first to leave one.