The first 200 lines.
Pagi, teman-teman.
Selamat pagi, Natsume.
Enggak terasa sudah mau ujian, ya.
Terus Harutora sendiri bagaimana?
Cara menggunakan roh pelayan tipe latihan...
Semalam hafalan terus?
Gara-gara kursus Natsume aku jadi kurang tidur.
Sudah kubilang kalau kau tidak boleh gagal, 'kan?
Terus kita teruskan ulasan akhirnya setelah ini.
Kepalaku mau dimasuki apa lagi?
Hoo?
Berarti dijamin sukses, nih?
Yah, bagaimana ya...
Po-Pokoknya kalau Tuan butuh "bantuan", langsung panggil saya saja...
Wah, benar juga!
Tapi, itu namanya...
Kalau ketahuan langsung dapat E lho.
Begotora! Nama Tsuchimikado kita mau kautaruh di mana?!
Bercanda, kok!
Daripada memikirkan hal yang enggak jelas, mendingan belajar sana!
Iya, iya, iya.
Serius sedikit dong, Begotora!
Berani panggil tuanku "Bego"?! Kurang ajar!
Jangan teledor mengerjakannya!
Iya, Suhu.
Touji? Ada apa?
Enggak.
Hanya tidak menyangka kalau kita sudah satu semester di sini.
Salurkan lembar jawab kalian ke meja depan kalian.
Eng, Harutora?
Gagal total.
Jangan putus asa! Masih ada latih tanding setelah ini!
Sekarang!
Poin!
Hore!
Hebat banget, Harutora!
Padahal cuma enam bulan, tapi kemampuanmu sudah meningkat pesat!
Yang barusan itu menakjubkan, Tuan Harutora!
Penempatan posisimu juga pas, Kon!
Wa-Waduh, saya masih belum siap menerima pujian Anda!
Seharusnya Kokufuu dan Hakuou itu ditandingkan sepasang, lho.
Tuan Harutora, lebih baik jangan dengarkan lolongan anjing pecundang di sebelah sana.
Aku dengar tahu!
Wah? Situ ngomong apaan?
Dengan begini kesalahanku di ujian tulis akan tertutupi 'kan, Natsume?
Bodoh!
Mana bisa kau lulus padahal masih mengandalkan tongkat untuk mengubah tenaga dalam?
Peralatan sihir tidak boleh dibawa saat ujian tahu.
Aku tahu kok!
Natsume, padahal waktu Harutora menang tadi, kau kegirangan 'kan?
A-Apa-apaan sih?!
A-Aku bukannya mau...
Pokoknya, Harutora.
Giatkan dirimu buat ujian praktek besok dengan latihan kontrol tenaga dalam di asrama.
Melatih apanya?
Ya 'kan, Touji—
Lho, eh?
Kalau kau mencari Touji...
Pemurnian keanehan ilmu gaib?
Benar, itulah ujian yang akan dilakukan bagi siswa kelas 1.
Kami akan membuat keanehan buatan supaya bisa kalian murnikan.
Kenapa Anda memberi tahu saya?
Soalnya dalam ujian kali ini, kamu punya "hambatan" tersendiri.
Karena kamu adalah korban keanehan ilmu gaib dua tahun yang lalu dan masih dalam tahap penyembuhan.
Kami sudah berbicara soal "efek sisa" pada doktermu, yakni ayah Harutora.
Lho, kamu belum tahu?
Dia itu juga lulusan sini, lho.
Oh, pantas Anda menaruh perhatian pada saya.
Wah, apa kamu tersinggung?
Ketika diingatkan kalau saya adalah korban bencana itu,
tanpa sadar saya agak terganggu.
Padahal kukira saya sudah terbiasa.
Terima kasih atas kebaikanmu.
Aku cuma menyiapkan pion.
Tapi sayang.
Padahal kau berharap untuk mati, 'kan?
Namun festival ini masih belum berakhir.
Kalau begitu, saya pergi dulu, Pertapa Douma.
Perhatikan aku, Ketua Dairenji!
Hah? Apa aku enggak salah dengar?
Kau enggak akan kubiarkan tidur malam ini.
Sang Raja Biduk...
Aduh...
Wahai rajaku, kumohon...
Pemuda itu...
Kenapa kau selalu menghabiskan uang rakyat di tempat seperti ini?
Jangan bicara cerita lama di hadapan politikus.
Aku sedang pakai uangku sendiri, nih.
Bagaimana? Kabar Miyo sehat-sehat saja?
Bu Kepsek? Seperti biasa, aku masih diperbudak.
Dia itu luarnya kalem, padahal dalamnya sadis.
Sudahlah, Departemen Penyelidikan Ilmu Gaib sendiri juga belum memiliki reputasi yang baik.
Masa bodoh dengan reputasi kalau bekerja di tempat begini.
Terus, kenapa kau memanggilku?
Sejak aku mengundurkan diri, seharusnya kita tidak ada urusan lagi, Pak Amami.
Lelucon macam apa itu.
Memangnya hubungan kita hanya ditentukan dengan secarik kertas?
Ya sudah.
Terus, dia siapa?
Atsune Hirata, harapan terbaru kami.
Saat ini dialah yang memimpin penyelidikan terhadap sindikat Soukakukai.
Soukakukai, literalnya Sindikat dua tanduk. Tapi bisa juga diartikan Iblis/Oni karena juga sesama makhluk yang punya dua tanduk, dengan kata lain "kejahatan".
Dengan kata lain, penerusmu.
Akhirnya kita berjumpa, Pak Ootomo.
Aku sudah mendengar beberapa rumor tentang Anda.
Pasti rumor yang jelek-jelek, ya?
Daizen Amami, Sang Kipas Dewa: Salah satu dari Dua Belas Jenderal Suci.
Sementara Anda, Jin Ootomo Sang Bayangan adalah mantan kepercayaan Jenderal Suci, Pak Amami.
Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu Anda.
Ah! Aku tidak tahu darimana dia bisa tahu.
Tidak usah khawatir, mulutnya nanti kukunci.
Saya permisi duduk.
Akhirnya bisa makan!
Kasihan sekali, ya, Tuan Harutora.
Saatnya makan!
Bukannya sebelum mengisi perut, kau harus mengisi kepalamu dulu?
Gi-Gila bener!
Berani sekali kau mengganggu waktu luang tuanku ini!
Walau itu Nona Natsume, tetap enggak ada toleransi!
Tuannya Harutora itu aku.
Tapi aku sudah bilang kalau jangan ganggu tuanku.
Semuanya sedang serius belajar!
Aku sendiri masih—
Makanya aku juga sama!
Enggak! Masalahku jauh lebih penting darimu!
Enggak-enggak, kasihan tuanku!
Pentingan masalahku!
Pentingan tuanku!
Touji?
Serangan teroris yang didalangi Divisi Perdukunan,
yang terjadi dua tahun yang lalu, yaitu Pemurnian Akbar, yang dilancarkan Soukakukai.
Dalang utama, Shidou Dairenji, meninggal di tangan "karya"-nya sendiri, dan Divisi Perdukunan dibubarkan.
Meski begitu, keberadaan Soukakukai masih menggeliat hingga kini.
Tak kusangka mereka memanfaatkan keanehan ilmu gaib sebagai aksi terorisme.
Ah, aku yakin Pak Ootomo sendiri pasti sudah menyadarinya.
Bisa berhenti panggil aku "Pak"?
Kenapa tidak panggil jomblo sekalian.
Tidak usah pakai hormat segala, sekarang aku cuma guru biasa.
Karena itulah kami mengundangmu.
Karena ada Tsuchimikado di perguruan tempatmu mengajar.
Oh? Rupanya kau mau mengajar karena ada sesuatu hal.
Aku kan harus membereskan kekacauan yang kaubuat enam bulan yang lalu.
Yang itu, ya? Miyo juga menyalahkanku soal itu.
Aku tidak mau melakukan pekerjaan seperti itu lagi.
Kami sedang kekurangan orang.
Orang seperti Kogure saja sampai harus menanggung tugas sana-sini.
Itu bukan masalahku.
Kejam sekali kau mengatakan begitu pada mantan rekanmu.
Berkat kerjanya kita tidak perlu banyak memakai "cermin."
Kalau aku tidak salah, putra Bu Kepsek juga kepala di Departemen Pengusir Arwah, bukan?
Mereka masih belum menjinakkan bocah itu?
Lehernya sudah dirantai dan raganya juga sudah dikerangkeng.
Tapi percuma kalau taringnya belum dicabut.
Terus buat apa memanggilku kemari?
Kenapa harus basa-basi?
Soukakukai mulai menunjukkan geliatnya.
Bos besarnya sudah datang.
Bos besar? Jangan-jangan...
Benar, "D" yang itu.
Sepertinya dia mulai beraksi dengan beberapa anggota sindikat tersebut.
Salah satunya adalah mantan Dukun di Divisi Perdukunan:
Chihiro Mutobe.
Tangan kanan Shidou Dairenji.
Bintangmu sangat sulit dibaca.
Mungkin karena efek sisa yang kauterima.
Akan ada banyak kekacauan yang menantimu di masa depan.
Karena aku tidak bisa langsung membantumu,
akan kuajari caranya mengatasi semua itu sendiri.
Dengan itu, kau bisa menjalani hidup sesuai yang kausukai.
Sayangnya, saya masih tidak punya bayangan seperti apa hidup yang kusukai.
Mungkin kalau sekarang.
Menggunakan kelebihanmu tidak selalu menjadi jalan terbaik.
Kelebihanku, ya?
Oi!
Kau, ya?
Bos preman sedang galau nih?
Malam begini enaknya ngudut, sayang enggak ada duit buat beli.
Berisik, gue bukan Prasst.
Nih, lagi enggak bisa tidur?
Kau sendiri?
Sudah selesai dengan kursusnya Natsume?
Y-Yah begitulah...
Tidak kusangka kita akan langsung memurnikan kekacauan ilmu gaib besok.
Enggak usah sok asyik begitu, cuma buatan kok.
Kalau satu kelas bekerja sama, kita pasti bisa mengatasinya.
Kudengar Natsume cuma mengamati.
Enaknya.
Dewan guru memutuskan dia tidak perlu mengikuti ujian ini, 'kan?
Perguruan ini mengambil keputusan dengan kemampuan muridnya.
Karena itu, murid biasa seperti kita harus bekerja keras.
Tempat ini memang beda dengan sekolah udik kita.
Iya.
Kalau keadaanmu sendiri bagaimana?
Masih biasa saja kok.
Bukan nilai maksudku.
Kondisiku karena efek sisa, ya?
Ya.
Kan sudah kubilang masih seperti biasa.
Masih belum ada keluhan.
Malah aku yang sekarang bisa memfokuskan aura gaib.
No comments yet. Be the first to leave one.