The first 156 lines.
Sebelumnya di
Space Brothers
Mutta sang kakak terkena sial.
Karena berhasil melewati dua rintangan sekaligus, langkahnya ke bulan semakin dekat.
Sementara itu, Hibito sang adik menjadi moonwalker Jepang pertama, tapi dia mengalami kecelakaan dan hampir mati.
Setelah kembali ke bumi, dia menyadari kalau kecelakaan itu membuatnya trauma.
Karena dia tak bisa ikut dalam kegiatan luar pesawat, dia dilarang ikut misi bulan.
Hibito merahasiakan hal ini dari kakaknya dan pergi ke Rusia yang dingin untuk menyembuhkan diri.
Hitung 5!
4!
3!
2!
1!
Vertical climb roll.
Let's go!
Aku harus pergi ke bulan.
Untuk mengungkapkan semangatku,
kulakukan trik sulap vertical climb roll kepada Pimpinan Butler.
Nah! Ayo sekali lagi!
Heart Mark.
Let's go!
Saat Serika salah membaca tanda hatiku yang malah menjadi Barutan Seijin...
Sudah berakhir.
Tak bisa lagi.
Kondisi Bibi Sharon terus saja memburuk.
Ya, matahari di sini hanya muncul enam hari dalam setahun.
Sisanya mendung terus.
Bohong!
Tak bohong, kok.
Dari Oktober sampai April musim salju.
Di Rusia 'kan hanya ada dua musim.
Coba tebak musim apa saja?
Eh? Apa, apa? Kasih tahu!
Ibu sih tak mau menebak.
Musim salju yang dingin dan yang tidak.
Eh?
Sekarang yang mana?
Mmm, tak tahu.
Mungkin ini musim salju yang tak dingin.
Tapi tetap dingin.
Ada apa, Olga?
Tidak, bukan apa-apa.
Hei, jangan latihan di tengah jalan.
Kenapa begitu?
Aku juga tak tahu.
Pengin saja.
Lamunan yang memberiku karangan bunga
membuatku goyah dalam kesedihan yang dalam
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
Ku berdiri di puncak dunia yang baru
Apakah ku bisa menangkap apa saja yang jatuh dari keajaiban yang baru ini?
Semuanya belum sampai di sini lagi
Hari-hari yang kuhabiskan untuk tumbuh jauh darimu
Masih panjang jalan yang harus ditempuh sebelum tidur dalam damai
Bisa kulihat sinar harapan yang redup itu
bercampur dalam darahmu di suatu hari dan belum melepasmu
Hanya itu
Tubuhku tumbuh semakin cepat hari ke hari
Hatiku pun menumpahkan air mata karena tak kuat menahannya
Tapi ku kehilangan sesuatu saat dewasa
Tidurku yang tak lama
Bisa kulihat sinar harapan yang redup itu
bercampur dalam darahmu, jadi takkan pernah kubiarkan kau pergi
Hanya itu
Tubuhku berdiri di puncak pentas yang takkan lari meski terguyur hujan
Membuatku langsung berlari, jadi selamat tinggal
Tidurku di tengah malam
#76 Olga
#76 Olga
Hoi, Hibichov.
Bagaimana? Kau sudah terbiasa berada di Rusia empat hari ini?
Tentu saja.
Tak ada yang berubah.
Makanya izinkan aku mulai latihannya.
Menganggur seminggu itu bikin bosan saja.
Sepertinya kau ini belum terbiasa, ya?
Orang Rusia pasti bicaranya begini!
Hah?
Ayo coba tanya balik padaku.
Repot amat.
Bagaimana, Ivan? Kau sudah biasa di Rusia?
Hmm, aku tak tahu.
Sekarang aku sedang mabuk.
Kau mengerti, Hibichov?
Kau harus tunggu tiga hari lagi.
Main ganti nama saja.
Ayo, Ivan.
Waktunya simulasi Soyuz.
Ya.
Oh, ya, Hibichov. Kau harus ikut.
Kukenalkan pada keluargaku.
Ini, vodkanya.
Bir juga ada, kok.
Ini istriku, Emilia.
Dulu dia itu cantik.
Sekarang lebih cantik.
Yang ini adikku, Mikhail.
Hai!
Situ siapa, ya? Saya tak kenal.
Hei, hei. Aku Vladimir, temanmu.
Ya sudah, minum vodkanya, Hibichov.
Teguk!
Tidak, aku minum bir saja.
Apa kaubilang?
Biar tetap sehat!
Bir sih sama saja dengan jus!
Kau ini suka sekali dengan miras, ya?
Pantas saja, ada rumor yang bilang di modul ISS Rusia ada mirasnya.
Itu bukan rumor, tapi benar.
Kita butuh miras untuk menjaga kesehatan.
Aku pulang.
Ah, selamat datang.
Sepertinya sudah pulang.
Siapa?
Putriku.
Beri dia salam, Olga.
Ini teman astronaut Ayah, Hibichov Nanba.
Hibito yang benar!
Hibi...
Selamat siang.
Selamat siang.
Cantik sekali, ya?
Tak menyangka dia itu putrimu.
Dua puluhan?
Enak saja.
Dia itu baru lima belas.
Lima belas?
Lima belas seperti itu?
Kelihatan tu—
A-Agak dewasa, ya?
Dia mau seperti orang dewasa, makanya dandan begitu.
Gila.
Gila! Dia Hibbit.
Yang asli!
Tak pernah kusangka Mr. Hibbit akan datang ke rumah kami.
Gila.
Jadi waktu aku lihat orang berambut mirip Hibbit itu, ternyata bukan penggemarnya.
Kedua kalinya aku melihatmu setelah pulang, aku menyadarinya.
Aku melihat ketakutan dan kegelisahan di matamu.
Kau takkan bisa sembuh kalau wajahmu masam begitu.
Itu bukan wajah astronaut, tahu.
Kamar putraku kosong.
Sekarang, menginap saja.
Wajah masam, ya?
Kau belum bilang "Yeee" dari tadi.
Mau kapan?
Sebentar lagi?
Memangnya aku lagi mau bilang "Yeee" di matamu?
Tapi, dari mana kau tahu hal itu?
Kartun Jepang yang disiarkan di sini.
Bukan berarti aku tertarik dengan acara anak-anak.
Hanya karena ada karakter yang namanya Hibi siapa itu.
Mr. Hibbit, 'kan?
Hibi siapa itu selalu punya semangat yang besar.
Tapi kau ini berbeda, ya?
No comments yet. Be the first to leave one.