The first 200 lines.
TRUE TO LOVE
TRUE TO LOVE
TOKOH, ACARA, LOKASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI HANYA FIKSI
Dia membawa cincin di sakunya...
Yu-ri.
...dan aku siap mengatakan ya.
Ya!
Akhir bahagia kami makin dekat.
EP 02 AKHIR MENYEDIHKAN
- Di sini? - Ya.
Aku membuat reservasi. Aku ingin membawamu ke sini.
Aku hebat, bukan?
Ya! Aku akan makan makanan enak, berkat si manisku.
Tunggu sebentar.
Selamat malam.
Halo.
Biar kutunjukkan mejamu setelah konfirmasi.
Reservasinya atas nama siapa?
Apa?
Reservasimu atas nama siapa, Pak?
Itu...
Atas nama siapa?
Si Manis?
Si Cantik?
Si Imut?
Tidak ada dalam daftar?
Tidak, Pak.
Halo.
Apa? Keputusan akhirnya sudah dibuat?
Aku tak percaya apa yang baru saja kudengar.
Jadi, kau sendiri pergi ke mal dan membeli ini?
Dia tetap mencampakkanmu?
Itu sebabnya kau seperti ini?
Astaga!
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Ini alasannya aku tidak punya kehidupan cinta.
Aku bangga pada diriku.
Aku memang hebat.
Apa kau yakin?
Apa yang kau lakukan setiap sore?
Aku berkencan. Aku tidak berkomitmen pada satu hubungan.
Membawanya makan malam saat dia mau, menemaninya di hari yang berat,
ulang tahun dan Natal bersama.
Aku tidak menemui wanita lain.
Aku selalu memberinya kabar ketika dia bertanya.
Orang gila mana yang begitu demi wanita yang tak disukainya?
Apa harus kukatakan?
Bagaimana lagi dia akan tahu? "Aku tak akan membiarkanmu sengsara."
"Aku selalu mencintaimu."
Ada sebabnya kata-kata itu diucapkan.
Mengatakan hal-hal baik,
dan berpura-pura memercayainya, itulah pacaran.
Aku mencintaimu.
Ini bukan apa-apa. Aku bisa terus mengatakannya.
Selebritas mengatakannya kepada siapa pun.
Baik, jika sulit mengatakan, "Aku mencintaimu,"
katakan saja dalam bahasa Inggris, "I love you."
Tapi jangan mengatakan, "Ayo menikah."
Di sisi itu, kau pintar.
Omong-omong, Yu-ri memang bertekad.
Tidak mudah bagi wanita untuk berpaling dari cincin ini.
Lalu warna min ini.
Katanya, hanya melihat warna min ini
meningkatkan detak jantung wanita sebesar 22 persen.
Itu sains.
Aku bahkan tak bisa menunjukkannya.
Seharusnya tunjukkan, itu bisa mengubah keadaan.
Dasar bodoh.
Dia bilang pacaran denganku selalu sulit.
Lalu aku itu apa? Aku yang membeli cincin ini apa?
Beberapa hari lalu, dia baik-baik saja, lalu...
Dia benar-benar mempermainkan hatiku.
Terserah, jika dia melihat ini, itu akan berbeda.
Kau seharusnya tunjukkan dan bilang, "Aku mencintaimu."
"Menikahlah denganku saja."
"Kau satu-satunya untukku."
"Beri aku satu kesempatan saja." Tapi kau tak melakukannya, Bodoh.
Deborah.
Deborah kenapa?
Ini semua salahnya.
Apa?
Aku tidak akan bekerja dengan Deborah.
Kenapa kau tiba-tiba begitu?
Kau setuju, jadi, aku sudah menjadwalkan rapat.
Aku tak peduli. Aku tak mau lagi!
Aku sudah berusaha sangat keras bersabar denganmu.
Sekarang kau merengek karena dicampakkan.
Kenapa tiba-tiba? Ada apa?
Karena hubunganmu gagal, kau benci pasangan lain?
Apa semua romansa jadi omong kosong?
Kau wakil presdir.
Kenapa kau begitu egois?
Benar, aku egois.
Yu-ri mengatakan itu juga.
Aku jahat, pengecut, dan berengsek yang egois.
Itu sebabnya aku tak mau. Aku sungguh tak mau.
Hei, jangan pergi dahulu. Tunggu!
Apa kau mabuk? Hei!
Hei!
Ramyeon sudah siap.
Kau lembur kemarin. Apa kau juga bekerja hari ini?
Ayo makan.
Balkonku?
Baik.
Apa semua ini?
Kenapa dia begini?
Sayang.
Aku mencintaimu.
Menikahlah denganku. Mari habiskan sisa hidup kita bersama.
Jin-woo.
Jadi, kenapa kau tidak melamarku saat dahulu?
Kau menanyakan itu tiba-tiba.
Bukankah aku sudah melamarmu?
Apa itu benar?
Bukankah aku memintamu untuk menikah denganku?
Lalu bagaimana kita menikah?
Bagaimana aku tahu?
Benar, kau yang memintaku menikah denganmu.
Benar.
Kenapa kau tidak melamarku lebih dahulu?
Kenapa?
Entahlah.
Saat itu, aku tak terlalu memikirkan soal menikah.
Lalu kenapa kau bilang "ya" saat aku melamarmu?
Entahlah. Hanya saja...
Kau tahu aku selalu bilang "ya".
Ya.
Jadi, begitu.
Jadi, begitu cara kita menikah.
Empat tahun menikah, dan aku tidak tahu sampai sekarang.
Apa aku melakukan kesalahan lagi?
Kau sungguh bertanya?
Dia membeli cincin.
Ju-wan membeli sebuah cincin dan pergi.
JU-WAN
Halo.
Kau sudah bangun?
Ya, aku bangun lebih awal pagi ini.
Kau ada siaran hari ini, 'kan?
Ya.
Kau mau bertemu setelah itu?
Hari ini?
Ada apa tiba-tiba?
Entahlah, tiba-tiba aku ingin melihatmu.
Aku penasaran kenapa kau tiba-tiba ingin melihatku.
Sampai nanti.
Baik, sampai nanti.
Sampai jumpa.
Yeon Bo-mi.
Kau ambil gaunku. Ada di mana?
Gaun apa?
"Gaun apa?" Gaun yang kau curi dariku.
Beraninya kau? Label harganya masih menempel.
Apa maksudmu? Aku tidak mengambilnya.
Aku akan menghajarmu. Di mana itu? Cepat kembalikan.
Aku tidak tahu. Cari lagi lebih teliti.
Aku sudah mencarinya ke mana-mana.
Kau sungguh tidak tahu?
Gaun dengan kancing seperti ini.
Terlihat seperti ini, feminin.
Gaun sweter ungu.
Yang itu?
Aku pernah memakainya sekali.
Tapi itu...
Astaga.
Astaga. Bo-mi!
Itu terkena sesuatu. Setelah dicuci, itu jadi seperti ini.
Mungkin karena kainnya.
Kau tak boleh mencucinya basah. Ini harus dicuci kering.
Apa kau tahu berapa harganya?
Bagaimana aku bisa tahu? Berhenti berteriak.
Bagaimana kau bisa tahu?
Aku sudah kesal karena kau mencuri pakaianku.
Apa kau gila?
Kenapa kau berteriak?
Astaga.
Jaga ucapanmu, aku kakakmu.
Apa katamu?
Apa? Kau akan memukulku?
Pukul aku!
Apa kau sudah gila?
Ya, aku gila.
Apa berbagi pakaian itu masalah?
Tapi kau pelit!
Pelit? Kau akan bicara kepadaku seperti itu?
Ini hari besarku.
Apa hanya itu yang kau punya? Kau bisa pakai yang lain.
Warna itu tidak cocok dengan kulitmu.
Lihat. Ini tidak sesuai dengan warna kulitmu.
Lalu yang mana?
Setelan yang kau beli di toko itu.
Atau gaun tweed merah muda yang kau beli awal tahun ini.
Itu tampak berkelas dan cantik padamu.
Kau juga punya yang itu!
Yang mana?
Yang kita beli bersama di mal.
Yang mana?
Cantik sekali.
Sungguh?
Lihat.
No comments yet. Be the first to leave one.