The first 200 lines.
Hye-jin.
Ya?
Saat aku kembali ke Gongjin, bisakah kita bertemu?
Bertemu?
Tentu saja bisa.
Kuharap kau bisa.
Ada yang ingin kukatakan kepadamu.
Apa?
Lampu jalannya sudah diperbaiki.
Hye-jin, kau masih di sana?
Ya, Seong-hyeon.
Kabari saja jika kau kembali.
Aku akan mentraktir makan.
Baiklah. Sampai jumpa lagi.
Baik. Hati-hati di jalan.
- Baik. - Dah.
Siapa kau?
Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?
Di rumah ini ada sistem keamanan otomatis. Sebentar lagi polisi datang.
Kau pikir aku kemari tanpa rencana?
Aku memasangnya kemarin.
- Sedang apa kau dengan ponselmu? - Apa?
Lapor polisi?
Sekarang tak akan ada yang bisa menolongmu.
Apa?
Jangan bersuara.
Ini malam yang indah untuk menangkap orang mesum. Benar, 'kan?
Bu Dokter. Kau tidak apa-apa?
- Dia menyakitimu? - Tidak.
- Kau tidak terluka? - Aku takut sekali.
Ya, ini Abnaru-gil nomor 14, Gongjin-dong.
Hye-jin!
Kepala Hong!
Kepala Hong!
Astaga.
- Apa yang terjadi? - Dia orang mesum.
Dia harus dijebloskan ke penjara.
Hampir saja.
- Dia harus dipenjara. - Awas kepalamu.
- Kau percaya ini? - Apa-apaan?
INSTALASI GAWAT DARURAT
EPISODE 10
Tak ada kerusakan saraf, jadi, cukup dengan jahitan.
Harap tunggu, kami akan kembali.
Terima kasih, Dokter.
Syukurlah.
Apakah sakit?
Tentu saja. Goresan kertas saja sakit,
apalagi pisau sebesar ini. Sekitar 30 cm, 'kan?
Jangan berlebihan.
Itu pisau kecil, tak sampai 15 cm.
Kupikir kau masih terguncang,
ternyata kau memang dokter. Kau tenang sekali.
Kau memar. Dia menyakitimu?
Bukan masalah besar.
Mana mungkin? Kau terluka. Lihat!
Apakah parah? Apakah sakit?
Kenapa kau tak bilang Dokter saat dia di sini?
Lukamu lebih parah.
Bu Dokter.
Kau menangis?
Astaga, kau membuatku takut.
Siapa yang menerjang seseorang
yang sedang memegang pisau?
Aku…
Aku hanya tak ingin kau terluka.
Yang benar saja.
Seong-hyeon?
Sutradara Ji.
Hye-jin, kau baik-baik saja?
Bagaimana kau tahu aku di sini?
Itu…
Aku ingin mengambil sesuatu
dan melihat mobil polisi, serta orang-orang berkerumun.
Aku bergegas kemari begitu mendengar kabar soal kalian.
- Begitu. - Ya.
Kepala Hong, cederamu parah?
Tidak, hanya tergores.
Kau tampak lebih terguncang daripada kami. Kau baik-baik saja?
Tidak, aku… Aku baik-baik saja.
Aku sangat cemas,
syukurlah tak ada yang terluka parah.
Itu…
Omong-omong,
tabletku tertinggal…
Aku harus berangkat lagi ke Seoul untuk mengurus syuting.
Syukurlah kalian tidak apa-apa. Aku permisi.
Selarut ini?
Ya, kau pasti masih terguncang, jaga dirimu.
Kepala Hong, terima kasih telah menolong Hye-jin. Sungguh.
Sama-sama.
Aku pergi.
Ya. Seong-hyeon…
Kami akan menjahit lukanya. Selain wali, silakan keluar.
Cepat dapatkan perawatan.
Baik.
Kau menerjang ke depan pisau, tapi takut jarum suntik?
Orang yang pernah terbakar sup panas pasti takut melihatnya.
Terima kasih.
Tiba-tiba sekali.
Sepertinya aku
belum berterima kasih secara resmi.
Tapi sudah secara tidak resmi.
Lihat kemari. Sejak tadi, caramu memandangmu…
sudah menyiratkan rasa terima kasih.
Cara memandangku biasa saja.
Kini bagaimana?
Apa maksudmu?
Malam ini. Kini rumahmu adalah TKP.
Benar.
Selamat datang, ini… Ini bukan kali pertama kau kemari.
Sudah tiga kali.
Tiga itu angka keberuntungan.
Samseon jjajangmyeon ,
adu suit tiga kali,
dan putri ketiga selalu yang paling cantik.
Apa?
Ini lebih baik daripada di rumah sendirian.
Nona Pyo sedang ke Seoul, 'kan?
Ya.
Anggaplah rumah sendiri, panggil aku jika butuh sesuatu.
Aku perlu baju ganti.
Benar.
Haruskah aku ke rumahmu dan mengemas barang?
Atau kau mau memakai bajuku?
Apakah pas?
- Apa terlalu kecil? - Mungkin terlalu besar.
Sudah?
Baju ini terlalu longgar.
Tidak, sangat pas padamu.
Bahumu lebar.
Apa maksudmu? Baju ini terlalu besar.
Bahumu yang kecil. Pas apanya?
Kau selalu menimpali.
Minumlah ini.
Apa ini?
Teh kamomil. Sangat baik untuk relaksasi dan tidur nyenyak.
Minumlah selagi hangat.
Semoga enak.
- Apa ini? - Pakailah ini.
Agar kau tidak sakit pada malam seperti ini.
Ototmu pasti masih tegang.
Untuk apa aku memakai selimut pada musim panas?
Tidak usah.
Kau pasti keram. Seharusnya kau mendengarkanku.
Kemari. Sakit sakit?
Apa yang kau lakukan?
Bukankah kau sudah cuci kaki?
Tentu saja.
Kalau begitu, diamlah.
Keramnya akan makin parah jika didiamkan.
Daripada diam saja, lebih baik kau mengeong.
Meong…
Jilat hidungmu juga.
Sudahlah, hentikan. Aku sudah tidak apa-apa.
Sungguh? Kau yakin?
Ya.
Baiklah.
Piring itu untuk apa? Peringatan kematian seseorang?
Kakekku.
Kapan?
Besok. Tunggu.
Ini sudah lewat tengah malam, jadi, hari ini.
Kau banyak ingat tentang kakekmu?
Tidak, aku tidak ingat banyak.
Aku ingin mengingat semua tentangnya,
tapi kenangannya memudar.
Suaranya, tatapannya, tangannya…
Telapak tangannya kasar.
Dahulu dia seorang pelaut, lalu membuka toko minyak
setelah orang tuaku meninggal, jadi, dia seperti itu.
Namun, tangannya besar dan sangat hangat.
Dia membesarkanku dengan tangan itu.
Kau pasti suka mencari masalah saat remaja.
Kau terlihat sangat bandel di foto.
Benar. Aku cari gara-gara dengan semua orang.
Saat para nenek menjemur cumi-cumi, aku diam-diam memakannya.
Aku juga bermain sepak bola seharian sampai leherku terbakar matahari.
- Sepak bola? - Ya, aku suka sepak bola.
Sama sepertimu, aku juga punya sepatu kesayangan.
Sepatu bola berwarna biru.
Begitu rupanya.
Kau masih suka sepak bola?
Tidak, aku tak bermain ataupun menontonnya lagi.
Kenapa?
Karena sepak bola…
Bukan, karena diriku…
kakekku meninggal.
Dia terkena serangan jantung.
Tapi dia tak segera dapat pertolongan.
Andai saja aku tak pergi…
menonton pertandingan Piala Dunia.
Jangan bilang menurutmu kakekmu tak akan meninggal
andai kau tetap di rumah.
Percuma berandai-andai seperti itu.
Ada banyak variabel di dunia ini
dan kita tak bisa mengontrol semua itu.
Jadi, itu bukan salahmu.
Selama ini, kau berpikir begitu?
Kakekmu pasti marah di alam kuburnya.
No comments yet. Be the first to leave one.