The first 200 lines.
TN. E. DICKINSON
Matahari
Ada apa, Sayang?
Aku tak bisa menulis.
Astaga. Tak kukira akan mendengarkanmu mengatakan itu.
Sejak aku memberinya salah satu puisiku.
Berikan kepada siapa?
Tn. Bowles.
Dua pekan lalu, aku menyerahkan.
Astaga, itu kata yang buruk.
"Menyerahkan". Seperti dia mengendalikanku.
Seperti dia majikanku.
Beberapa orang senang hal macam itu.
Lupakan. Kenapa tak bisa tulis?
Karena apa gunanya menulis puisi lain jika dia tolak yang ini?
Bagaimana kau tahu dia akan menolaknya?
Aku tak tahu.
Aku tak tahu apa pun.
Aku tak tahu kapan aku akan tahu.
Astaga, hidupku benar-benar mandek.
Ini kesalahan besar?
Aku yakin dia cuma belum membacanya.
Dia orang sibuk. Dia akan baca nanti.
Ya, pada saat itu, aku sudah mengerut dan mati.
Emily?
Emily, ada apa?
Aku bisa mendengar rintihanmu dari atas.
Aku kosong.
Kering. Hampa.
Sekam tak berguna.
Dia sedang mandek menulis.
Aster mengikuti lembut Matahari
Maggie, sudah beri tahu kakakmu kita perlu toilet luar?
Belum, Bu.
Lalu, bagaimana bisa ada lubang ini?
Kurasa ini hasil karya tamu muda kita.
Kulihat mereka berdua kemarin bermain dekat gudang peralatan.
Para gadis tak mungkin menggali lubang ini. Ini terlalu besar.
Kurasa kau tak tahu kemampuan gadis muda.
Mereka tak bisa tinggal di rumah kita lagi.
Para gadis Newman tak menggali lubang ini.
Adik dan iparmu pasti benar-benar memanjakan mereka.
Mereka dari Brooklyn.
Itu bukan alasan.
Aku merasa seperti anak kucing itu,
terperangkap di lubang dalam tanpa jalan keluar.
Kenapa kau tak tulis pantun jenaka?
Edward, kita perlu bicara.
Nanti. Aku mau amati burung.
Ini tak bisa menunggu.
Kuberi tahu, anak-anak itu kelewatan.
Mereka bakar rumah jika boleh.
Maka jangan bolehkan.
Sekarang, ada burung punggung kuning yang butuh perhatianku.
Aku butuh perhatianmu.
Boleh aku ikut mengamati burung?
Aku perlu tenangkan pikiran.
Itu ide bagus.
Kupikir dokter memintamu hindari matahari.
Tidak, dokter itu bodoh.
Ayo. Kita jalan.
Kakakku bisa mengeluarkan kucingnya.
Hewan malang. Siapa namanya?
Kurasa itu Drummydoodles.
Aduh. Dia suka menggigit.
Apa kau pikir orang tuaku tahu kau selalu di kamarku?
Entah. Haruskah kita cemas? Mungkin kita harus berhenti?
- Tidak. Ini seru. - Tidak?
- Aku suka langgar peraturan. - Baik.
- Ini belum tegak. - Ya.
Beri sedikit waktu.
- Ini... Baiklah. - Baik.
- Ini tak bergerak. - Ya.
Mungkin karena seharusnya kita tak begini.
Apa maksudmu? Kau tidak menikmatinya?
Tidak, aku menikmati. Aku terlalu menikmatinya.
Seharusnya tidak begini. Ini sungguh tidak pantas.
- Ya. - Tidak.
Aku berusaha mengikuti etiket.
Melakukan dengan cara sopan.
Tetapi setiap kali kucoba mencium tanganmu,
kau mendorongku ke ranjang.
Entahlah. Sejujurnya, aku mulai merasa dimanfaatkan.
- Apa? - Ya.
Aku benci saat wanita membuatku merasa begini.
Seperti mereka hanya menginginkan tubuhku.
Wanita apa?
Tunggu.
Apa kau membicarakan Lola?
Astaga.
Mendengar namanya saja mengingatkan aku dengan bau cat minyak sirkus,
letupan cemeti kudanya, dan dorongan nakal dari...
- Dari apa? - Dari tarian laba-labanya.
Tarian laba-laba?
Dia bahkan bukan penari terlatih. Dia bahkan tak punya keahlian.
- Bisa ceritakan lagi soal tarian... - Baik, dengar.
Aku cuma berpikir kita bergerak terlalu cepat.
Bukan karena ini aku kembali ke sini. Ini New England, bukan Barat Liar.
Aku tak bisa...
Aku tak bisa jatuh cinta dengan gadis seperti Lola lagi.
Aku sudah tak sanggup lagi.
Itu sebabnya aku kemari untukmu, Lavinia.
Agar kau jadi ibu dari anak-anakku.
Kita bahkan belum tunangan.
Sial.
Aku punya ide.
Lihat ke atas.
Vermilion flycatcher.
Blue jay. Di sini.
Lihat di sana. Itu dia.
Ya.
Jadi, ini membantu?
Membantu apa?
Apa kau merasa lebih baik?
Tidak.
Aku masih merasa amat buruk.
Karena visi matamu lagi?
Ya, visi kreatifku.
Tak bisa tulis apa-apa.
Kupikir puisinya terus-menerus datang.
Ya. Sekarang sudah berhenti.
Andai ada yang bisa kubantu, tetapi...
aku tak pernah punya visi sepertimu.
Tadi ada burung cardinal.
Itu burung yang menarik.
Di mana? Yang mana?
Lihat, di sini. Kakakmu.
Yang lucu dari kulit pohon adalah...
Hei. Ayah.
Biar kuperkenalkan.
Siapa ini?
Ayah, ini adalah tamu istimewa dari Asosiasi Pohon Hias Amherst.
Tn. Frederick Law Olmsted.
Olmsted.
Ayah, ini orang yang merancang
taman besar di tengah New York City.
Tn. Olmsted, taman itu sepertinya menakjubkan. Akan kau beri nama apa?
Aku berpikir "Central Park".
Sempurna. Itu sempurna.
Itu bagus. Itu tidak luar biasa.
Tebak apa lagi yang dia rancang?
Apa?
Alun-alun Amherst.
Menakjubkan.
Kau bercanda.
Bercanda?
Tidak, Tuan. Tidak. Aku harus melakukan yang sebaliknya.
Aku harus serius.
Lihat ini. Ini adalah prosesnya.
Aku datang ke suatu tempat dan aku mendengarkan.
Aku tak bicara kepada tempatnya.
Tempatnya yang bicara kepadaku.
Apa kata tempatnya?
Aku belum dengar. Aku belum sempat.
Ya.
Kami sudah berdiri di tempat ini selama sejam.
Apa artinya sejam?
Dalam bentangan semesta, sejam tak ada artinya.
Tidak, kita harus membuang semua jam.
Alam punya waktunya sendiri.
Sekarang, aku harus berkeliling.
Dia salah satu orang paling menarik yang pernah kutemui.
Genius kreatif. Pencapaian besar untuk Asosiasi Pohon Hias.
Aku akan ikuti dia.
Hei, tunggu. Emily, kau mau apa?
Kurasa pria ini bisa membantuku.
Kupikir aku membantumu!
Tn. Olmsted.
Aku tak berguna sebagai ayah.
Ayah, jangan katakan itu.
Kau membesarkan tiga anak, dan kami semua tumbuh dengan baik.
Yang benar saja.
Kalian tak terlalu sukses.
Kini kita punya dua anak baru untuk dirawat.
Maksudmu para remaja itu.
Ya.
Anak-anak Newman.
Mereka nakal, dan ibumu tidak senang.
Aku punya ide.
Apa?
Aku akan adopsi mereka.
Apa tadi?
Aku mau mengadopsi mereka.
Aku menaruh simpati kepada mereka, dan rumah kami luas.
Kami punya kamar anak-anak di atas.
Rumah itu kadang terasa sepi.
Kau yakin soal ini?
Itu yang setidaknya bisa kulakukan.
Maksudku, warisan mereka pada dasarnya yang membayar rumah kami.
Benar, dan itu akan amat melegakan ibumu.
Itu yang paling kusuka. Aku akan ambil mereka.
Baiklah. Masalah selesai.
Hore.
Kini tinggal memberi tahu Sue.
Bagiku, membuat taman seperti membuat lukisan, drama, atau puisi.
Puisi? Sungguh?
Itu sama sekali tak ada bedanya.
Aku seorang seniman. Seorang komponis.
Hanya saja kanvasku adalah tanah, dan baitku terbuat dari bahan alami.
Batu ini, misalnya...
No comments yet. Be the first to leave one.