The first 200 lines.
Dialog Bahasa Jepang berwarna biru Dialog Bahasa Korea berwarna kuning
Sedang apa kau? Potong kimchi itu.
Mereka kelaparan!
Makanan sudah siap!
Mari makan!
Waktunya makan!
Bagiku, kimchi mentah yang terenak.
Tangkai bawang putihnya masih terasa.
Apa perutmu pernah bertemu makanan yang tak ia sukai?
Sunja, apa kau baik-baik saja?
Ini.
Terima kasih.
Beri tahu Kyunghee aku akan mampir ke toko rental video.
Semoga hari Ibu baik.
Bekerja keraslah.
Semalam aku memimpikan kue beras.
Masa?
Sepiring penuh.
- Aku bahkan berbagi denganmu, Kak. - Apakah enak?
Kyunghee, bangun.
Kyunghee.
Kyung…
Kyung…
Sunja…
Perutku.
Apa aku makan kerang basi semalam?
Parah sekali.
Apa itu pertanda kau akan menstruasi?
Kau tak menstruasi bulan lalu.
Akan kurebus doraji untukmu.
BERDASARKAN BUKU KARANGAN MIN JIN LEE
Sampaikan permintaan maafku pada ibumu atas kenaikan harganya.
Saat Koh Hansu tidak ada, semuanya kacau.
Bukankah dia harusnya sudah kembali?
Kudengar dia hanya pergi selama seminggu.
Benar.
Tapi siapa yang tahu? Dia mungkin tak kembali.
Kenapa begitu?
Pria seperti Koh Hansu punya pilihan.
Menjadi makelar ikan di Busan bukan impian utamanya.
Aku gundah membayangkan kembali seperti dulu.
Dia memang keras, tapi bayarannya adil.
Itu menyenangkan walau hanya sementara, 'kan?
Lihatlah!
Mari beli! Harganya murah!
Siapa kira-kira itu?
Akan kulihat.
Bagaimana kalau di sini?
Dia akan bersama semua kenangan ini.
Bukankah terlalu kentara?
Nenek,
tak perlu resah soal ini.
Nisannya akan segera jadi.
Ya ampun!
Kau tak perlu jauh-jauh ke sini.
Kenapa berkata begitu?
Tentu aku harus datang
untuk melihat keadaanmu.
Ini Pendeta Rhee yang datang dari Korea.
Dia memimpin ibadah di gereja kami selama beberapa bulan.
Kami sungguh beruntung dia ada di sini.
Silakan duduk.
Kyunghee kita,
aku tak terlalu lama mengenalnya,
tapi aku tahu dia sangat spesial.
Dia senang membuat orang gembira, 'kan?
Andai kau melihatnya sebelum kanker menguras tenaganya.
Bahkan di usianya,
kau bakal jatuh cinta padanya.
Aku mengamati kepribadiannya dan aku tahu dia baik.
Itulah yang perlu kita lihat dari seseorang.
Kau pandai bicara.
Kau bisa menulis buku.
Bolehkah kupindahkan ini?
Ya, silakan.
Dia harus bersama orang yang dia cintai.
Itu jauh lebih baik.
Mau berdoa bersama?
Cepat.
Bapa di Surga,
kami berkumpul di sini hari ini
untuk mengenang anak-Mu yang telah kembali pada-Mu.
Terima kasih Engkau telah menerimanya kembali dalam kasih karunia-Mu.
Amin.
Sunja, cepat pulang. Badai akan datang.
Ini tugas terakhirku.
Tak ada yang tahu dampak badai seperti apa nanti.
Koh Hansu!
Kami mulai berpikir kau telah meninggalkan kami.
Kau membuat kami sangat khawatir!
Untuk menebus kepergianku.
Ini terlalu cantik untuk dibuka.
Kau harus belajar tak terlalu sentimental.
Aku tak tahu cara membaca waktu.
Nanti kuajari.
Otakmu pintar. Kau pasti cepat tanggap.
Aku…
Aku hamil.
Katakan sesuatu.
Apa kau yakin?
Sunja.
Lahirkanlah putraku.
Mustahil kau tahu ini anak lelaki.
Aku tahu.
Aku yakin.
Kau akan kecewa jika ini anak perempuan.
Tapi kau harus tetap menyayanginya.
Jika anak perempuan, akan kubelikan dia baju cantik.
Dan semoga dia sepintar ibunya.
Kapan kau akan menemui ibuku?
Dia pasti akan terkejut.
Tapi jika kita menikah secepatnya, dia akan tenang.
Kenapa kau tiba-tiba membahas pernikahan?
Kukira kau tahu ini apa.
Tahu?
Apa maksudnya?
Aku tak bisa menikahimu.
Aku punya keluarga.
Di Osaka, aku punya istri
dan tiga putri.
Itu bukan pernikahan karena cinta,
tapi perjodohan semata.
Perjodohan semata?
Hanya untuk alasan bisnis. Tidak saling cinta.
Kau dan ibumu
dan anak kita tak akan kekurangan apa pun.
Akan kubelikan rumah terbesar di Yeongdo.
Bagaimana kalau rumah Jiyun?
Mereka tak sanggup lagi menempatinya.
Kau akan belajar membaca
dan mengetahui waktu.
Kita akan punya anak lagi dan hidup makmur.
Punya banyak putri.
Kau juga tahu
kondisi dunia saat ini.
Anak-anak yang tidur
tak pernah bangun.
Para gadis menjual diri demi semangkuk mi.
Orang tua pergi diam-diam untuk mati
supaya anak-anak mereka punya makanan yang cukup.
Sunja.
Pernikahan hanyalah pengaturan.
Kau akan tahu alasan dari ucapanku.
Apa maksudmu?
Bagi orang seperti kita,
itu cara untuk bertahan hidup.
Sunja.
Jadi…
apa ini rencanamu sejak awal?
Untuk memaksaku menikahimu
karena orang lain tak akan mau?
Lagi pula,
siapa yang mau menikahi putri orang cacat…
Jangan mengatai ayahku.
Anakku bisa mewarisi kelainan ayahmu.
Aku punya hak, 'kan?
Jadi, katakan, siapa yang mengutuk siapa?
Sunja.
Kembali.
Kembali sekarang!
Apa kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja.
Bisakah kalian tunjukkan arah
rumah pondokan yang dikelola janda pria cacat itu?
Itu perjalanan 40 menit.
Aku sanggup.
Ibu.
Nenek.
Tak apa-apa berkabung sebentar.
Kau kira ini akan membuat nenek hancur?
Ini hanya barang.
Bahkan rumah ini. Atap, tembok,
tak ada artinya.
Tokoh terkenal yang terlibat di kejahatan terorganisasi
mewariskan kekayaan kepada cucunya setelah meninggal.
Kini Mamoru Yoshii juga diterpa rumor korupsi
serta perdagangan saham ilegal.
Nenek sulit menjalankan peran ibu pada masa itu.
Bekerja 14 jam dalam sehari selama seminggu penuh.
Tanpa bibimu, entah bagaimana nasib kita.
Jangan terlalu keras pada diri sendiri.
Sudah waktunya Nenek merawat diri.
Bicaramu seolah-olah hidup nenek saat ini berat.
Sudah. Kembalilah kerja.
Apa gunanya menyenangkan hati wanita tua?
Nenek tak perlu mencemaskan itu.
Mereka paham situasinya.
Lagi pula, kami tak bisa apa-apa.
Si pemilik tanah itu menolak kami lagi.
Apa?
Semua uang itu?
Bayangkan semua hal yang bisa dia berikan kepada anak-anaknya.
Itu bukannya uang haram.
Ada apa dengannya?
Lantas, apa artinya ini bagimu?
Kurasa aku akan dapat dampak negatif nanti.
Aku harus kerja keras untuk kembali sukses.
Aku punya pilihan apa?
Bagaimanapun juga, kesepakatan itu gagal.
Andai nenek paham
No comments yet. Be the first to leave one.