The first 200 lines.
The Judge from Hell
KARAKTER, TEMPAT, ORGANISASI, DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF.
AKTOR ANAK DAN HEWAN DIREKAM DALAM SITUASI AMAN.
- Apa yang terjadi? - Hei.
Jika bunuh diri, mungkin karena dia menculik Hakim Kang. Jika itu pembunuhan…
GARIS POLISI
Siapa pelakunya?
Seseorang yang ingin Jeong Seonho mati.
Bukankah itu sudah jelas?
Tubuhnya dimutilasi hingga mustahil diidentifikasi visual.
Mari kita tunggu hasil otopsinya.
- Kami temukan ini di dekat TKP. - Ya.
"Ayah dan kakakku membunuhku."
EPISODE 12
Aku…
tak membunuh adikku.
Lalu kenapa adikmu
meninggalkan catatan seperti ini?
Aku juga penasaran.
Pada hari ketika adikmu tewas,
apa yang sedang kau lakukan?
Aku sedang di rumah.
Semua kamera pengawas di rumahmu rusak,
jadi, kami tak bisa memastikannya.
Pada hari Hakim Kang ditawan di rumahku,
seluruh kamera pengawas dihancurkan pagi harinya.
Mungkin adikku pelakunya.
Itu sebabnya kau ingin membunuh adikmu?
Karena dia selalu membuat masalah?
Untuk apa kulakukan itu?
Tak ada gunanya membunuh dia sendiri.
Aku yang membunuhnya.
Aku salah membesarkan dan mengarahkan putra bungsuku.
Aku tak peduli ucapan orang lain,
tapi dia berharga bagiku.
Apa dia begitu berharga bagimu
hingga kau menyiapkan pemakamannya bahkan sebelum hasil tes DNA keluar?
Dia sudah tiada.
Apa mereka akan tertipu?
Tentu saja.
Benar, Justitia?
Wah, biru!
Cantik sekali.
Jangan membuatnya kusut.
Pada hari Hakim Kang ditawan,
Jeong Taegyu menemui anggota dewan di lapangan golf.
Dia orang yang mengusulkan undang-undang pembangunan ulang Hwangcheon.
- Ayo. - Baik.
- Itu tampak mencurigakan. - Ya.
Kapan kita akan dapat hasil tes DNA-nya?
Dalam tiga hari.
Itu tepat di hari pemakaman.
Aku yakin ada yang mencurigakan di sini.
Kenapa kau diam saja dari tadi?
Apa ada yang mengganggumu?
Aku memikirkan sesuatu.
Kita masih punya waktu sebelum pemakaman. Mari tunggu saja hasil tesnya.
Awasi Jaegeol dan Taegyu.
- Baik. - Baik.
FOTO-FOTO TKP JEONG SEONHO
Haruskah aku menyampaikan…
belasungkawa?
Kurang ajar kau!
Dia tamu kita.
Terima kasih sudah datang.
Selamat. Duri di keluargamu sudah pergi.
Hei!
Tak perlu berpura-pura di depanku.
Aku tahu
kau sama sekali tidak sedih.
Besok tubuhnya dipindahkan, ya?
Semangat.
Jalang gila.
Sungguh menarik.
Kenapa kau berakhir begini?
Kenapa kau harus pergi sebelum ayahmu?
Mayat di dalam mobil itu bukan Jeong Seonho.
Apa? Apa maksudmu?
Itu hasil tes dari BFN.
Lalu mayat siapa yang di dalam mobil?
DNA-nya cocok dengan buronan yang menghilang sepuluh tahun lalu.
Apa?
Itu tidak masuk akal.
Bukankah artinya Jeong Seonho masih hidup?
Jeong Seonho terakhir kali terlihat di motel di Gangwon-do.
Dia masuk ke mobil tak terdaftar di sana sebelum menghilang.
- Aku akan kembali ke Gangwon-do. - Baiklah.
Tidak perlu begitu.
Aku…
akan menyerahkan diri.
Seonho!
Pak.
Kami dapat kabar Seonho muncul di kantor polisi.
- Dia masih hidup? - Ya.
4 HARI YANG LALU
NARATAMA KANG BITNA
- Halo. - Kau datang.
- Ya. - Halo.
Hei.
Di mana Hakim Kang?
Kami datang karena mendengar dia akan pulang hari ini,
tapi dia tak ada di sini.
Pukul 22.00 malam ini di kafe depan vila.
Aku cemas kau tiba-tiba menghilang.
Duduklah agar kita bisa bicara.
Aku berencana menanganinya sendiri,
tapi kurasa lebih baik jika aku memberitahumu lebih awal.
Soal apa?
Kini Jeong Seonho ada di Gangwon-do.
Dia punya bukti tentang pembunuhan berantai J.
Aku resepsionis. Bisa buka pintunya sebentar?
Ada polisi yang menelepon.
Seharusnya kau mati saja saat itu.
Kita akan gunakan Jeong Seonho untuk menangkap J.
Ini dia!
Semoga berhasil, Justitia!
Hei.
Aku akan bereskan ini dahulu.
Cepatlah.
Ayo.
Kapak milik siapa itu?
Kenapa kau ingin tahu?
Milik kakak atau ayahmu?
Entahlah. Aku tak bisa bicara.
Kenapa? Kau takut?
Karena mungkin kau akan mati di rubanah seperti ibumu?
Diam kau.
Kenapa kau kabur sambil membawa kapak yang bukan milikmu?
Kau pasti ingin menelepon ke rumahmu.
"Aku punya bukti pembunuhan berantai.
"Jadi, bantu aku melarikan diri."
Benar, bukan?
Bawa itu ke kantor polisi dan serahkan dirimu.
Lalu beri tahu mereka siapa J, entah itu ayah atau kakakmu.
Kenapa aku harus melakukan itu?
Bukankah kau ingin balas dendam pada pembunuh ibumu?
Biar kubantu.
Aku tak percaya denganmu.
Sebaiknya kau percaya.
Karena kakak dan ayahmu akan membunuhmu.
Baiklah. Ayo kita bertaruh.
Bukankah seharusnya kita ambil kapaknya?
Tidak. Dia harus menyerahkan diri
agar kita bisa menjadikannya saksi.
Tapi apa dia akan melakukannya?
Kita akan segera tahu.
Telepon saja rumahmu sesuai rencana.
Jika ayah dan kakakmu membantumu,
aku akan pergi.
Tapi jika aku benar, kau harus bekerja sama denganku.
Bagaimana?
Halo?
Taegyu. Ini aku.
Bantu aku.
Di mana kau? Kukirim orang sekarang.
Kau tak akan melaporkanku, 'kan?
Tidak akan. Jangan khawatir.
Baiklah. Aku mengerti.
Seharusnya dulu kita bunuh dia bersama ibunya.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
PENGINAPAN PHOENIX
Kita mau ke mana?
Hentikan mobilnya. Berhenti!
Apa-apaan ini?
Siapa kalian? Minggir!
- Kami adalah… - Siapa?
Iblis.
- Bebaskan mereka setelah beberapa hari. - Baik!
- Sebanyak apa ingatan yang harus dihapus? - Secukupnya.
Baik.
Rupanya aku menang.
Kau sungguh akan membalas dendam pada pembunuh ibuku?
Tentu saja.
Apa yang kau lakukan?
Aku teringat perlakuanmu padaku di rubanah.
Menyebalkan.
Kita akhiri saja pertikaian di antara kita.
Apa yang harus kulakukan?
The Judge from Hell
Dari mana kau mendapatkannya?
Dia pendosa yang mati sepuluh tahun lalu. Demi penghilangan bukti yang sempurna,
kami sering diminta menyatakan mayat pendosa sebagai orang hilang.
Teknologi pengawetan khusus kami menjaga tubuh tetap segar seolah mayat
- baru mati kemarin… - Catatannya.
Sudah kutulis sesuai perintahmu.
AYAH DAN KAKAKKU MEMBUNUHKU
Tapi kenapa kita melakukan ini?
Untuk mengecoh ayah dan kakakmu, serta mengulur waktu.
Jadi, kau bisa hidup dan menyerahkan diri.
Bereskan TKP hingga tuntas.
- Baik! - Baik!
Lindungi dia hingga menyerahkan diri.
Jangan khawatir.
Dan kau. Jangan pukul dia.
Akan kuusahakan.
Sebelah sini.
- Kau memanggil polisi? - Aku tak datang sebagai polisi.
Namun, sebagai anggota keluarga korban yang menunggumu menyerahkan diri.
Aku…
akan menyerahkan diri.
No comments yet. Be the first to leave one.