The first 200 lines.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu, Charlie.
Aku mencintaimu.
Apa kau takut?
Aku juga takut.
Charlie, Charlie, Charlie, aku mencintaimu, Charlie.
Charlie, aku mencintaimu.
Aku mencintaimu, Charlie.
Charlie, gadisku, pemotretannya gila,
Tapi aku akhirnya sudah di pesawat.
Aku akan segelas minuman saat pulang. Atau 17 gelas.
Sial. Kami berangkat.
Selamat hari jadi, sayang.
Aku mencintaimu. Sampai nanti malam.
Astaga.
Simone?
Sayang?
Apa kau bunga liar? Pergilah ke kamar...
Hei, Barker. Ibumu akan segera pulang.
Hei, ini Simone.
Dan kau tampaknya orang yang masih tinggalkan pesan suara.
Agak aneh. Tak ada lagi yang melakukan itu.
Sangat retro.
Hei, ini aku.
Aku tak sabar hingga kau pulang. Kau bisa merasakan itu?
Maaf, aku hanya ingin pastikan kau sudah di jalan.
Aku pikir mendengarmu pulang, dan aku jadi sangat bersemangat.
Aku melacak penerbanganmu,
Dan itu keterangannya kau sampai tepat waktu.
Aku harap Philadelphia bagus, juga pemotretannya.
Mungkin aku bisa ikut di yang berikutnya.
Aku mengusahakan airbrush -ku selama kau pergi.
Jadi...
Selamat hari jadi, sayang.
Sampai nanti. Oke, dah.
Ya Tuhan. Barker! Astaga...
Simone, bisa kau...
Untuk sesi foto.
Maksudku, ayolah, benar? Ini bagus.
Ini sangat bagus. Lihatlah, ini sangat mengerikan.
Bisa kau bayangkan berada di sini saat gelap?
Itu akan membuatku sangat ketakutan.
Aku tak sabar. Aku sangat bersemangat.
Gadis...
Pergilah ke bar, dan buat keputusan buruk bersamaku,
Sekarang "jugaw".
Sekarang juga. Lakukan sekarang.
Sekarang juga, oke?
Kau tahu? Persetan ini. Aku akan meneleponmu.
- Halo? - Halo. Hei!
Bar Trap. Aku traktir putaran pertama.
Cepat kemari.
- Kau yakin ini putaran pertama? - Terserah. Putaran pertamamu.
Jangan menghakimiku.
Takkan pernah.
- Tapi aku tak bisa malam ini. - Kenapa?
Aku menunggu Simone.
- Malam ini adalah... - Astaga!
Kenapa aku tak terkejut?
Ya. Itu benar. Ini karena kau menunggu dia,
Seolah itu pekerjaan tetapmu.
Hanya itu yang kau lakukan belakangan ini.
Ayolah. Kau dulu seru.
Ingat? Seru.
Halo?
Ya, aku masih di sini.
Maaf.
Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu,
Tapi bisa dibilang, kau tahu jika aku benar.
Yang kau lakukan adalah menangis dan mengeluh tentang jalang itu.
Jangan panggil dia begitu.
Aku bisa panggil dia apapun yang aku mau.
Aku kenal dia lebih lama. Ingat?
Thea, malam ini adalah hari jadi kami, oke?
- Dan kau akan tahu jika mendengarku. - Hei, aku...
Aku tak mau dengar hal negatif tentang wanita yang aku cinta.
Aku rasa itu bukan permintaan yang berat, bukan?
Oke. Baiklah.
Jadi, di mana wanita yang kau cintai itu sekarang?
Dia dalam perjalanan pulang.
Ada pemotretan yang tak bisa dia lewatkan,
Dan itu kesempatan bagus. Jadi dia melakukannya,
Dan dia dalam perjalanan pulang sekarang.
Ya, lihat? Itu tepatnya yang aku bicarakan.
Dia tak pernah di rumah.
- Pesan dari Ibu: Hai, Charlene. - Dia selalu di suatu tempat.
Kau selalu sendiri.
Dan, tunggu, kenapa dia tak mengajakmu ikut pemotretan ini?
Jika itu memang kesempatan bagus,
Kenapa dia menyewa juru tata rias wajah...
- ...dari Pittsburgh? - Philadelphia.
Terserahlah. Intinya itu tak seharusnya.
Dengar, aku tahu jika aku yang kenalkan kalian,
Dan jujur, aku menyalahkan diriku setiap harinya untuk itu.
- Thea, hentikanlah. - Aku... Bung, seperti...
- Aku senang kau bahagia. - Ya Tuhan, Ibu, serius?
Kau menjadi kupu-kupu kecil dan merentangkan sayapmu.
Aku hanya berharap kau tak pindah tinggal dengan jalang itu.
Apa perkataanku tidak jelas? Aku tak mau mendengar ini.
Aku hanya bilang. Berhati-hatilah.
Aku tahu permasalahan yang dia berikan kepada orang.
Ya, begitulah Simone.
Reputasi dia mendahuluinya.
aku bahkan tak harus sebutkan namanya,
Dan orang sudah tahu siapa yang aku bicarakan. Ya.
Kau tahu siapa yang aku bicarakan.
Davey, kau jelas tahu siapa yang aku bicarakan.
Dia sangat kejam.
Ya, aku tahu. Kau sudah beritahu aku 20 kali.
Oke.
Maaf.
Gencatan senjata.
Aku tak berusaha menyinggung perasaanmu. Aku hanya...
Aku mendukungmu. Aku selalu mendukungmu.
Dan aku rasa memberitahumu yang sebenarnya,
Dan memintamu agar siap,
- Tak menjadikanku teman yang buruk. - Simone dan aku baik saja.
Dia dalam perjalanan pulang, dan sekarang ibuku...
Charlie, jangan lakukan ini.
Jangan marah dan menutup teleponnya.
Ayolah. Jangan menjadi orang menyebalkan.
Dengar, kita bicara besok, oke?
Selamat bersenang-senang.
Baiklah, jalang. Dah.
Dah.
Sial.
Hai, Ibu.
Ibu... Aku tak bisa dengar...
Ya, aku tak bisa... Aku tak bisa mendengarmu.
Ya, Ibu, klik di...
Ya Tuhan.
Ya, Ibu.
Ke bawah.
- Sebelah kiri... - Sudah.
- Kau bisa dengar Ibu sekarang? - Ya, aku bisa mendengarmu.
- Hai, Char. - Hai.
Ibu tak pernah gunakan ini, tapi...
Ibu pikir itu akan bagus untuk bisa saling melihat.
Ini sudah lama.
Ya. Hai.
Jadi, bagaimana semuanya?
Pasti banyak gangguan di sana.
Apa kau masih melakukan proyek make-up?
Ya.
Aku bekerja sebagai make-up artis profesional,
Dan semua berjalan sangat baik, sebenarnya.
Charlene, Ibu tak bermaksud apa-apa.
- Tidak, tak apa. - Maksud Ibu... Bukan, bukan...
Kau selalu mahir melakukan itu.
Ibu senang orang menghargai apa yang kau bisa lakukan.
Dan kau melakukan apa yang kau suka.
Terima kasih.
Ibu ingat saat kau kecil,
Kau sering pakaikan make-up...
...di setiap boneka orang atau hewan...
...yang kami berikan padamu. Kau ingat itu?
Ibu akan masuk ke kamarmu,
Lalu semuanya akan penuh dengan coretan spidol,
Celak mata biru,
Pipi merah merona, dan lipstik merah.
Kau memiliki boneka paling menawan.
Ya, aku rasa itu benar.
Aku lupa soal itu hingga sekarang.
Ya.
Aku... Senang melihatmu.
Senang melihatmu juga, Charlene.
Ibu suka warna lipstikmu. Apa itu?
Bukan.
Aku meminum anggur merah. Itu hanya sisa noda.
Kau terlihat sangat cantik.
Hei, Ibu, aku di tengah sesuatu.
Kau bilang ada keadaan darurat?
Semuanya baik.
Ibu hanya ingin melihatmu secara langsung, karena...
Karena nenekmu meninggal semalam, dan...
- Ya Tuhan. - Ibu berpikir untuk memberitahumu.
Aku turut prihatin, Ibu.
Ya. Tak apa. Ini sudah takdirnya.
Dia sudah siap untuk kembali kepada Tuhan.
Ibu senang kau tak terluka lagi. Hanya...
Kau tahu, itu cukup buruk di akhir.
Astaga, seandainya aku bisa bicara dengannya.
Ya, kami bisa saja menghubungimu, tapi...
Charlene, Ibu ingin kau tahu, dia sangat menyayangimu.
Itu benar.
Kapan pemakamannya?
Kami hanya akan adakan upacara kecil-kecilan.
Jadi tak perlu terbang kembali.
- Jangan khawatir soal itu. - Bukan, maksudku,
- Aku ingin berada di sana. - Tidak, tidak, tidak, tak apa.
Kau tidak harus.
Tapi ada yang ingin Ibu minta darimu.
Bisa kau kirim balik kalung pemberiannya kepadamu?
Ibu ingin mengubur itu dengan dia.
Itu kesukaannya.
- Kalung apa? - Kalung salib, ingat?
Salib emas pemberiannya kepadamu.
Kau membawanya saat pindah.
Ya. Aku rasa menyimpannya di suatu tempat.
Kau rasa? Kau tak hilangkan itu, 'kan?
No comments yet. Be the first to leave one.