The first 200 lines.
Jangan salah paham.
Hidupku luar biasa.
Aku mencintai pacarku.
Aku suka pekerjaanku.
Aku tak suka pekerjaanku, tapi aku suka prospeknya.
Pinjaman mahasiswa dan mobilku lunas.
Jadi, apa sebenarnya masalahku?
- Kau merasa ada yang kurang. - Aku…
- Dia hebat. - Teman-temanmu akan menikah.
- Ya. - Orang di sekitarmu mapan.
Ya. Saudariku sudah punya anak.
- Pekerjaanmu tak memuaskan. - Ya!
- Hidupmu tak berarti. - Tak sepenuhnya…
- Waktu berjalan. - Oke.
- Belum mepet, tapi hampir habis. - Kini mepet.
Tulis namamu.
Menarik.
Dan pikirkan pertanyaan saat kau mengocok kartu.
Pertanyaan?
Oke.
Apa Paul jodohku?
Tidak. Akankah aku merekam iklan seumur hidupku?
Tunggu. Apakah hidupku akan lurus-lurus saja mulai saat ini?
- Maaf. - Bisa kutangani.
Ya. Aduh.
Kenapa?
Ya.
Hidupmu tak cuma lurus!
Ini kartumu. Ini kartu kekasih.
Ini hubungan dan pilihan.
Kau akan ditarik ke segala arah.
Bisa beri tahu aku akan berakhir di mana?
Itu tergantung padamu.
Takdir itu mitos.
Aku melihat peluang dan tantangan.
Tapi kau harus memilih.
Jangan asal memilih karena konsekuensinya bertahan lama.
Apa itu terdengar buruk?
Kau mau dengar kabar baik atau kabar buruk?
Boleh dengar
keduanya?
Tidak.
Oke. Ya.
Pilih satu sebelum namamu hilang.
Oke. Api.
Aku mau tahu kabar baik, tapi kabar buruk lebih utama
karena bisa kuhindari, tapi kabar baik bisa kunantikan…
Pilih!
Kabar baik!
Oke.
Ini matahari.
Melambangkan kepolosan dan kebahagiaan. Mimpi masa kecil bisa menjadi kenyataan.
Aku ingin menjadi penyanyi.
Tidak, itu tak akan terwujud, jadi…
Siapa mereka?
Mereka ini yang akan melamarmu.
Itu kesatria pedang, penyihir, dan si bodoh.
Hanya ada Paul.
Tidak lagi.
- Tata ulang kursi dek. - Titanic.
- Awas ada… - Gunung es!
- Ya! Oke. - Ya!
Oke. Aku selalu mencoba mengajakmu ke…
- Taman Griffith! - Ya!
- Waktunya habis! - Bum!
Belnya tak kubunyikan.
Anggap saja kalian menang telak.
Satu ronde lagi dan semua untuk pemenang.
- Oke. - Tentu.
- Bawa sial. Hentikan. - Dasar…
- Kalian manis. - Kami tahu.
Paul.
Oke. Giliran siapa?
Florian.
- Gadis ningrat. - Putri.
- Bukan. - Ratu.
- Benar. Dari Mesir. - Cleopatra.
Tak boleh bilang "Mesir".
- Oke. - Aku mau tahu artinya.
Kau hebat, Sayang. Kau hebat.
Haruskah aku mengalah atau mengikuti naluri dan berusaha menang?
Inggris bahasa keduanya dan aku sayang saudariku.
- Bagus. - Oke.
Baiklah.
Kau agak tertinggal, tapi sudah bagus.
- Oke. Bel. - Ini pencapaian besar.
- Oke. - Ini dia.
Oke.
Mimpi burukmu.
Dikejar Taylor Swift dengan pemasak.
Bukan. Apa? Bukan.
Oke, hewan besar yang mengeluarkan telur raksasa…
Charlie Sheen.
- Bukan. - Mendekati?
Tidak sedikit pun. Apa maksudmu? Bukan, ini…
- Di antara kepala dan bahu? - "Kepala" dilarang.
Waktunya habis.
Kita menang?
- Kita menang! - Kita menang!
Burung unta.
Aku tahu.
- Ini pertama kalinya. - Benar.
Kalian berisik.
Hai, Sayang.
Maaf, Sayang. Kemarilah.
Kau harus tidur lagi. Besok sekolah.
Sekolah mulai siang besok, ingat?
Sial. Aku ada rapat besok pagi.
Hei, aku akan mengantar Luisa jika boleh makan bronis terakhir.
Setuju.
Sampai jumpa besok pagi.
- Florian, ini menyenangkan. - Makasih sudah membiarkan kami menang.
Hei, aku tak tahu apa maksudmu.
Tentu tidak.
- Aku sangat menyayangimu. - Aku juga.
Senang bertemu lagi.
Mau menginap?
Aku tak bisa. Aku ada sidang besok. Aku harus bergadang lagi.
Tidak bisa bilang,
"Yang Mulia, pria ini delapan tahun menyelingkuhi klienku.
Klienku berhak mengambil semuanya dan pria ini tak mendapat apa pun."
Wow. Aku bekerja terlalu keras.
Memang benar.
Ya, sudah datang!
Ini darimu?
- Apa ini? - Kau harus membukanya.
Baterai.
- Hari Detektor Asap. Besok! - Apakah jumlahnya pas?
- Ada satu di lemari linen. - Aku berutang padamu.
Kau mau pergi ke Le Comptoir besok malam?
Kau tak akan bisa memesan tempat.
Untungnya sudah kupesan.
Baiklah.
- Ya? - Ya.
Kau setuju?
Aku setuju.
Selamat malam.
Selamat malam.
- Aku pergi sebelum berubah pikiran. - Ya.
Baiklah.
Jangan sampai jatuh.
- Aku tak apa. - Oke.
Tiap tahun, pada hari yang sama,
kami memasang baterai baru ke semua detektor asap,
dan ini harinya.
Jadi, tak perlu mencemaskan kebakaran?
Tidak juga.
Astaga.
Jack?
Siapa Jack?
Cinta yang hilang.
Kami rekan lab kimia dulu.
Dia alasanku jadi vegetarian.
Terakhir kali, kami menangis di bandara.
Dia pergi ke Guatemala untuk menyelamatkan dunia,
dan aku pergi ke NYU.
Kami terlalu muda dulu.
Aku mau masuk denganmu.
Usiaku delapan tahun. Mereka akan mengejekku.
Aku harus menyapa. Gandeng aku.
Lihat Luisa si bayi kecil.
Kau memakai popok kotor, Bayi?
- Ternyata ya. - Diam!
Luisa buang air besar!
- Astaga. - Pecundang!
- Sudah kubilang! - Jangan biarkan perundung menang.
Apa yang harus kulakukan?
Aku bukan orang tuamu. Tunggu, Jack datang.
Ada lipstik di gigiku? Lupakan.
Maaf aku mempermalukanmu. Kau keponakan favoritku di seluruh dunia.
Aku keponakanmu satu-satunya. Apa nasihatmu?
Anak seperti itu melakukan ini karena dia bisa lolos.
Seseorang harus melawannya, dan kenapa bukan kau?
Praktikkan pelajaran karatemu. Kau paham maksudku?
- Sungguh? - Ya.
Hei. Ayolah.
- Astaga. - Bubar.
- Kau tak apa? - Mundur, ya?
- Ya. - Cami.
Apa? Wow. Lihat dirimu.
- Tetap di sini. - Jack, aku…
Sulit kupercaya itu kau. Ini gila.
Kau sudah melihatnya, jadi kau masuk denganku.
Dia bilang kau cinta yang hilang. Tak bilang kenapa.
Anak tak bisa dibawa pergi.
Boleh pergi?
- Tidak, Dylan. Kita harus bicara. - Dia yang mulai.
- Siapa namamu? - Luisa.
- Hai. Pak Menna. - Senang bertemu.
Dia bukan anakku.
Dia anak saudariku.
Loncengnya bunyi.
Kalian tahu kalian melanggar kebijakan sekolah.
Semua ini salahku. Aku menyuruh Luisa melawan.
Dan melawan itu penting.
Tapi dengan kekerasan? Ayolah.
- Tidak. - Tidak.
Ini rencananya.
Mulai besok, kalian bertugas bersih-bersih selama dua minggu untuk program sarapan.
Aku tak suka bangun pagi.
No comments yet. Be the first to leave one.