The first 200 lines.
SERIAL ASLI DOKUMENTER NETFLIX
Saat aku berumur 18 tahun, sudah lama sekarang,
aku punya ide bahwa kau bisa menemukan kebebasan dengan membuat duniamu sendiri.
Bahwa kau harus mundur untuk bisa maju.
Anak kecil itu punya jawaban untuk segalanya.
Saat aku berumur 18 tahun, aku punya banyak sekali ide.
Aku hampir tak bisa tidur sama sekali.
Pada musim panas tahun 1992,
teman-temanku dan aku syuting film pada sebuah jalan di Singapura...
hal itu menjadi semacam legenda urban.
Film itu berjudul Shirkers,
sebuah kata yang artinya melarikan diri,
menghindari tanggung jawab,
meloloskan diri.
Aku yang menulis naskahnya dan memainkan tokoh wanita,
seorang pembunuh berumur 16 tahun bernama S.
Tak ada yang membuat film seperti itu di Singapura.
Jadi, kami pionirnya.
Film itu seperti kapsul waktu dari Singapura
baik itu nyata dan imajiner.
Saat itu, hal yang paling aku inginkan adalah membuat sebuah film.
Tapi aku tidak pernah bayangkan akan berakhir seperti ini.
Dua puluh lima tahun kemudian, aku berada dalam perjalanan mundur yang aneh,
mengulang masa lalu untuk mencari petunjuk.
Baik, aku mendengarkan rekaman yang kau rekam di kamarmu.
Aku menyukainya. Aku suka menjadi sahabatmu.
Kau sahabatku.
Aku suka mengetahui kau ada di sekitar.
Aku suka mengetahui kita terhubung,
kita bermitra dalam kejahatan.
Buatkan aku rekaman lain, aku mohon.
Aku merindukanmu.
Aku belajar berhenti memikirkan waktu itu,
berpura-pura tak pernah terjadi...
yang tentu saja tidak mungkin.
Shirkers menjadi rahasia sejarah
yang dibagikan oleh sekelompok kecil dari kami.
Dan itu akan menghantui kami
dan mengikat kami serta memisahkan kami.
SINGAPURA
- Kapan pun kau siap. - Sekarang.
JASMINE NG TEMAN MASA KANAK-KANAK
Jasmine dan aku adalah musuh sebelum kami menjadi teman.
Kau pikir aku musuh, tapi aku tak berpikir kau musuhku.
Ya.
Kami tetap menjadi musuh sampai berumur 14 tahun.
Saat kami tumbuh besar pada tahun 1980-an...
PENYEBARAN KESOPANAN... MULAI DENGAN SENYUM
...negara dan keluarga terus-menerus di wajahmu.
SATU ORANG SATU BANGSA SATU SINGAPURA
KEUNGGULAN DIAM SENYUM
Singapura begitu tegang
pemerintahnya bahkan melarang permen karet.
JIka orang Amerika percaya mereka istimewa,
aku beri tahu kau,
orang Singapura tahu kamilah yang luar biasa.
Sebuah pulau kecil pada tahun 1965,
Singapura menjadi salah satu negata paling kaya pada tahun 2000.
Saat Jasmine dan aku berumur 14 tahun,
kami menemukan film yang tidak biasa dan musik yang tidak populer.
Dan anehnya, kami menjadi sahabat.
Kami dari latar belakang berbeda...
AYAH JASMINE IBU JASMINE
...tapi bodoh seperti pencuri.
KITA HARUS JADI SAUDARA COEN AKU BERSUMPAH
Keluargaku begitu intens.
Pernikahan orangtuaku hancur bahkan sebelum aku lahir,
dengan begitu aku dibesarkan oleh kakek nenekku.
Ketika hujan di halaman depan kami tampak seperti susu cokelat.
Pada tahun 1981, kakekku bersikeras mengambil foto-foto ini...
karena rumah kesayangannya hendak diruntuhkan.
Pada 1985, rumah itu diganti oleh kondominium ini.
Tempat itu masih banjir, tetapi sudah tidak lagi susu cokelat.
Aku selalu berharap untuk bersinar.
Dan itu melelahkan.
Aku butuh jalan keluar.
Tentu saja, aku suka keluarga Jasmine.
Mereka hangat dan tidak menuntut
dan tidak peduli jika kami membuat kuil gila di kamar Jasmine.
Kami memiliki Dewa Teater...
dan Dewi Penulisan Naskah.
Kami muncul di sekolah berpakaian seperti perawat.
Dan aku menantang otoritas di komunitas film.
Hai Sandi: kami pasti akan mencoba membuat film seperti yang Anda minta.
Aku ingin sekali membuat film.
WAWANCARA DENGAN PENGGERTAK JALANAN
Aku memberikan wawancara khayalan sebagai pembuat film imajiner.
Hai, aku ingin berbagi filmku denganmu
Magic Fire Brain, yang sepenuhnya asli.
Ada banyak adegan keramaian.
Aku baca American Film dan Film Comment secara religius
Tapi tidak mungkin melihat film ini kecuali aku sangat kreatif.
Aku mendirikan sebuah sindikat perekaman video yang sembunyi-sembunyi
dengan sepupuku Vicki di Florida...
hanya agar aku bisa menonton Blue Velvet.
Jasmine dan aku melahap apa yang orang-orang di sekitar kami abaikan.
Kami mulai menulis untuk BigO.
Majalah bawah tanah Singapura, ketika kami berumur 14 tahun.
BigO dijalankan oleh Philip Cheah, dalam semua kemuliaan wajah pokernya,
dan dia akan membuat kami merekam Patti Smith and The Velvet Underground
dan menyuruh kami kerjakan kuis sebelum izinkan kami bergabung dengan klubnya.
Di Singapura, ada penyensoran ketat di seluruh musik dan film.
PHILIP CHEAH EDITOR, MAJALAH BIGO
Masih banyak album klasik hebat masih dilarang.
Kami melihat revolusi yang terjadi di Inggris dan di AS,
dan kami penasaran apakah itu bisa terjadi di sini.
Kami membuat kolase rumit untuk BigO,
yang mereka semua benci.
Kupikir kami terlalu punk untuk mereka.
Lagipula mereka klub anak laki-laki yang lemah.
Jadi selalu saja kami...
melawan dunia.
Pencapaian terhebat kami menerbitkan majalah sendiri, The Exploding Cat...
pada mesin fotokopi di Perpustakaan Nasional.
Expoloding Cat adalah usaha kami untuk mengkatalogkan semua yang buat kami marah,
yang membuat kami tertawa.
WANITA TERPERANGKAP DI JAMBAN
AKU MERASA ANEH SEKALI KEPALAKU MULAI BERPUTAR
Kucing itu menjadi miliknya sendiri.
Kami menerima surat dari New York, London...
Paris, Jerusalem,
bahkan penjara dari tiga penjara di negara berbeda.
Di atas semua itu...
itu adalah sebuah katalog kami.
Aku,
temanku,
pulau kecil kami di tengah-tengah dunia.
memetakan takdir kami sendiri...
pada tahun 1989.
Cerita selanjutnya adalah bab 39.
Tunggu, satu hal lagi.
Pada saat itu, aku terobsesi dengan The Catcher in the Rye...
dan ide Salinger menyelamatkan anak-anak.
Jadi aku melatih sepupu bayiku untuk tidak pernah tumbuh dewasa,
...orang-orang bicara.
Katakan sesuatu.
Aku mau mewarnai.
Atau jika mereka harus dewasa, tumbuhlah berbeda.
AKU BENCI KELUARGAKU
Histeris lebih unggul daripada biasa.
Aku benci kau.
Bahkan depresi lebih unggul daripada biasa.
Kau bukan anjing yang baik.
Kau bodoh.
Dahulu kala pada awal 1991, kami mengambil kelas pembuatan film...
PUSAT PENYUSUNAN SENI
...mungkin kelas pembuatan film pertama yang ada di sini.
Di kelas ini dan ruang kelas yang bersebelahan juga.
Jadi ada banyak sekali kita, kau, aku,
berbagai macam orang aneh?
Guru kami adalah Georges Cardona, seorang pria yang tidak tergantikan.
Aku pikir kau harus membuat film tentang seorang pria
yang menguasai visibilitas Singapura.
Dia memproyeksikan dirinya sendiri menjadi pembuat film Amerika,
dan ada untuk mengajari kami yang mudah dipengaruhi usia 18, 19 tahun
soal produksi film di Singapura.
Kami bertemu Soohie di kelas.
SOPHIE SIDDIQUE HARVEY SESAMA SISWA FILM
Dia begitu baik dan stabil dan dapat dipercaya.
Aku tak yakin dia akan menjadi teman baik.
Georges mengajak kami bertiga,
Sophie, Jasmine, dan aku ke dalam lingkaran dalamnya.
Cicilia memutar video bordil.
Kesanku pada Georges...
pertama adalah matanya, sangat metalik.
Hampir seperti es, biru es.
Bicaranya pelan sekali, tenang, nadanya terukur.
Dan aku baru ingat, bahkan di titik tersebut,
disonansi semacam ini, kau tahu,
matanya tampak sangat dingin
tapi sikapnya tampak begitu hangat.
Dan dia punya kemampuan
bahwa ketika dia berbicara denganmu
kau merasa dirimu adalah fokus jiwanya.
Georges tidak seperti orang dewasa lainnya yang kutahu di Singapura.
Dia suka hanya duduk dan melihat cahaya berganti.
Dia membawa kami syuting film festival Hindu yang penuh warna
yang keluargaku anggap mengerikan.
Dia bicarakan film seperti aku mau bicarakan film.
Dia suka French New Wave.
Dan segera, begitu juga aku.
Saat kelas film selesai jam sembilan atau sepuluh malam...
kami berkeliling pulau bersama Georges.
Kami membuat mereka terlambat, meski kami tahu dia punya istri dan bayi
yang menunggunya di rumah.
Dan aku menggonggong.
Kau bisa dengar suara jangkriknya?
Kami pergi mencari ide-ide.
Kami pergi mencari anjing liar.
Kau sedang merekam?
Ya.
Sandi, aku tidak tahu kau melakukan ini.
Hentikan! Aku sedang tidak senang malam ini.
Lagu temanya bagus.
Cepat.
Kita bicara terlalu keras.
Dan kami memperburuk suasana dan mereka telah membersihkan area.
Dia teman pertamaku yang merupakan pria dewasa.
Dia memilih kami.
Tapi dia biarkan kami merasa seperti kami yang memilihnya.
No comments yet. Be the first to leave one.