The first 200 lines.
"Episode 2"
Apa yang terjadi?
Entahlah.
Dia dibawa ke UGD dan perutnya memerah.
Bibi masih gemetar. Bagaimana ini bisa terjadi?
Bibi mengejutkanku.
Aku tidak percaya Bibi bilang dia sudah meninggal.
Tadi terlihat seperti itu.
Bibi tidak bisa berpikir jernih saat meneleponmu.
Dasar tidak dewasa.
Apa dia harus berpura-pura seperti ini?
Berpura-pura?
Bibi ragu dia mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Hidup pasti sangat menyedihkan.
Bibi seperti tidak mengenal ayah kami sama sekali.
Dia akan minum lebih banyak jika benar-benar ingin mati.
Kita harus lebih tenang di saat seperti ini.
Cukup, Semuanya.
Bibi, kami hanya terkejut.
Kak Gwang Nam, hentikan.
Bibi tidak tahu kalian sekejam ini.
Bagaimana kalian bisa bilang begitu saat ayah kalian dilarikan
ke UGD karena overdosis?
Tidak ada yang menyuruhnya meminum pilnya.
Sulit dipercaya.
Kenapa dia merasa dijahati?
Kenapa tidak menceraikan Ibu saja?
Apa dia harus keras kepala mengenai masalah ini
saat tidak ada anak-anaknya yang menangisinya?
Ayah. Ayah, bangun.
Hentikan itu.
Sia-sia saja menjadi anak-anaknya.
Bibi rasa salah sudah meneleponmu.
Sebaiknya kalian pergi saja.
Ayo.
Jangan membohongi kami seperti ini.
Bibi tidak berbohong.
Saat itu, bibi pikir itu benar.
Omong-omong, siapa yang membelikan galbitang untuknya?
Dia tidak bisa memakannya.
Tidak setelah mengalami gangguan pencernaan waktu itu.
Bukan salah satu dari kami.
Kenapa?
"Pusat Penyaringan COVID-19"
Dia berpura-pura, bukan?
Tentu saja.
Kita harus menunjukkan kepadanya bahwa kita tidak terganggu.
Kita akan sepaham mengenai masalah ini.
Mengerti?
Kak Cheol Soo sudah sadar?
Kakak tahu sedang berada di mana?
Ya. Aku di rumah sakit.
Kenapa Kakak melakukan ini? Membuatku takut saja.
Kakak membuatku mencemaskan skenario terburuk.
Kenapa kamu menghidupkanku kembali? Kamu bisa saja pura-pura tidak tahu.
Lebih baik aku mati daripada dipermalukan seperti ini.
Jangan konyol.
Aku tahu hidup Kakak sekarang berantakan,
tapi Kakak salah.
Ketiga putri Kakak baru saja datang.
Mereka sangat mencemaskan Kakak.
Kakak harus hidup demi anak-anak.
Kamu tidak perlu berbohong untukku.
Aku menahannya meskipun ingin membentak mereka.
Mereka pikir aku berpura-pura.
Kini mereka makin membenciku.
Mereka hanya bicara begitu karena marah.
Kita mengatakan hal-hal yang tidak kita maksudkan saat marah, bukan?
Aku yakin mereka berlari kemari sambil bertepuk tangan,
berpikir bahwa aku sudah mati.
Bagaimana bisa bertepuk tangan sambil berlari?
Gadis-gadis itu bukan putriku.
Nanti didengar orang.
Mereka bahkan tidak tahu aku tidak bisa makan galbitang.
Karena gangguan pencernaan yang ditimbulkannya,
aku dibawa ke UGD, tapi tidak ada yang peduli.
Aku memaksakan diri minum pil karena tidak bisa tidur,
berharap itu akan membantu.
Jika itu membunuhku, biarlah.
Kak Cheol Soo...
Aku tidak punya penyesalan di dunia ini.
Tetap hidup itu lebih buruk.
Aku merasa dijahati
dan marah.
Setelah semua yang kulakukan untuk membangun kehidupan...
Aku tahu, Kak Cheol Soo. Aku tahu itu.
Aku tidak bisa membiarkan hidupku berakhir seperti ini.
Lihat saja nanti.
Aku akan menyeretnya bersamaku.
Ini salah. Salah.
Lain kali, beri tahu aku jika kamu ingin mati.
Aku bisa memberimu herbisida dan pestisida.
Kenapa repot-repot meminum obat tidur?
Kamu akan berakhir seperti Pak Hwang jika terus begini.
Apa kamu harus selalu membahasnya?
Kamu akan mati saat waktumu tiba,
jadi, jangan repot-repot
dan berjuanglah untuk bercerai sampai akhir.
Aku akan bersaksi untukmu.
Apa? Benarkah?
Apa lagi pilihanku?
Aku akan mengompol jika harus
jika itu yang dibutuhkan untuk membantumu.
Kamu tidak secerdas dugaanku.
Orang harus makan dan tidur nyenyak agar bisa bertarung.
Bagaimana kamu bisa menyerang musuhmu
jika kamu hanyalah cangkang kosong?
Tunggu. Kamu sudah mencuci pakaian?
Apa lagi pilihanku?
Kamu sulit dipercaya.
Cheol Soo, kendalikan dirimu
dan ikut aku untuk menjalani suntik Botoks.
Bagaimana menurutmu?
Bukankah aku akan terlihat setidaknya 10 tahun lebih muda?
Mari hasilkan cukup uang untuk pengangkatan wajah.
Lakukan itu sendiri.
- Astaga. - Cheol Soo.
Bagaimana prostatmu?
Menua merusak tubuh seseorang.
Sekarang berbeda setiap tahun.
Saat menua tua, kamu tampak berbeda setiap hari.
Pada akhirnya, energimu tidak akan bertahan sehari pun.
Sekarang pergilah.
Berjanjilah kamu tidak akan melakukan hal seperti ini lagi.
Kenapa aku harus melakukan lagi sesuatu yang sudah kucoba?
Sekarang pergilah.
Aku akan bertahan sebisa mungkin.
Aku membawa Cheol Soo pulang setelah dia dikeluarkan.
Terima kasih.
Sebenarnya aku datang untuk mengatakan sesuatu,
tapi entah apa aku harus mengatakannya.
Kembalilah saat kamu sudah tahu.
Ini tentang Maeng Ja.
- Ada apa dengannya? - Begitu kukatakan yang kutahu,
dia tidak akan pernah menang di pengadilan.
Aku sudah memperingatkannya soal ini,
tapi dia tidak akan menganggapku serius.
Kamu juga tahu soal itu?
Kalau begitu, selesaikan diam-diam.
Jika tidak, aku akan bersaksi atas nama Cheol Soo.
Kuharap kamu mau, Bu Adik Ipar.
Aku bukan adik iparmu juga.
Lalu aku harus memanggilmu apa?
Kamu juga tidak mengizinkanku memanggil namamu.
Berhenti menggangguku dan pergilah.
Jangan terlalu emosional.
Itu hanya akan memperburuk dirimu.
Pergilah jika kamu hanya akan beromong kosong.
Pergi.
Apa...
- Pergi! - Baiklah, aku pergi.
"Tolong pakai masker sebelum masuk"
Permisi. Anda punya masker?
Tidak.
- Anda punya masker? - Maaf, tapi tidak.
Kakak di mana?
Pergi melihat bunga?
Kakak sudah gila?
Padahal sedang ada jaga jarak?
Orang seperti Kakak yang membuat orang seperti kami menderita.
Kakak egois seperti biasanya.
Anak-anak memberi tahu Kakak tentang Kak Cheol Soo, bukan?
Dia seharusnya mati saja?
Aku tahu Kakak ini kakakku, tapi aku tidak bisa memihak lagi.
Kakak benar-benar gila.
Dengan pria yang jauh lebih muda?
Bagaimana jika anak-anak tahu?
Tidak peduli?
Apa Kakak ini ibu mereka?
Teruskan dan akan kuberi tahu keponakanku semuanya!
Aku mengerti, Bibi.
Bibi Bong Ja memanggil kita. Ada yang ingin dia katakan.
Apa lagi sekarang?
Minta ibumu membatalkan gugatan ini.
Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang.
Kamu tidak mengkhawatirkan ayahmu setelah kejadian baru-baru ini?
Ibu berhak menemukan kebahagiaan.
Dia sudah harus menderita selama 40 tahun.
Menyenangkan kamu ingin ibumu bahagia,
tapi yang kamu tahu bukan seluruh kebenarannya.
Bibi, hentikan.
Ini sebabnya Ibu berpikir Bibi menyukai Ayah.
Apa?
Apa?
Itu yang selalu dikatakan Ibu.
Dia bilang kalian berdua suka puisi dan buku.
Dan Bibi kuno.
Bibi bahkan tahu dia tidak makan galbitang.
Bahkan jika itu yang dia katakan,
kenapa kamu berkata begitu?
Bibi tahu ibu kalian bodoh,
tapi kalian berpendidikan.
Bibi, maafkan aku.
Bibi tidak percaya bibi mendengar itu dari kalian.
Rasanya mengerikan.
Jadi, jangan ikut campur.
Aku tahu Bibi sudah bersikap baik kepada kami,
tapi Bibi hanya pihak ketiga dalam hal ini.
Pihak ketiga?
Bibi, maksudnya...
No comments yet. Be the first to leave one.