The first 200 lines.
Diterjemahkan Oleh tsubasaraa IDFL™ Subs Crew
DramaFever
Aku apakan kimchi ini?
[Senin, November 16, 2015 Malam Pembukaan]
Kau belum menjawab aku belum.
Kau menyukaiku, 'kan?
Baiklah, akan kujawab. Jawabanku yang kau inginkan, 'kan?
Perasaanku padamu, aku...
merasa takut padamu. Kau puas?
- Tidak. - Kenapa? Kenapa tidak?
Itu bukan jawaban dari pertanyaanku.
Aku bertanya "A" dan kau malah menjawab "B".
Aku merasa takut padamu. Kau pikir kau tak menakutkan?
Kau tak suka saling tos, kau menganggapnya menjijikkan.
Kau menatapku dengan tatapan mematikan.
Dan kau bilang, Seok Jun memperlakukanku seperti anjing.
Kau juga suka seenaknya menyuruhku.
Dan kau menerobos ke asramaku saat aku tak memakai celana.
Dan membawakanku setoples kimchi.
Dan kau bertanya apa aku menyukaimu? Kau mau aku jawab apa?
Coba pikir, dengan sikapmu itu, apa aku bisa menyukaimu?
Coba pikir, apa kau bisa seenaknya bersikap seperti itu padaku?
Jadi, siapa yang tidak takut dengan sikapmu itu?
Jadi...
Kau...
mempunyai perasaan yang sama denganku, 'kan?
Iyakan?
Wah! Kau memang aneh.
Kau tahu berapa umurku, 'kan?
Pergilah bercermin.
Lihatlah dirimu.
Dan lihat KTP-mu. Berapa usiamu sekarang?
Setelah itu, lupakan semua yang sudah kau katakan tadi.
Carilah seseorang yang cocok denganmu.
Tanyakan pada orang itu, apakah dia menyukaimu dan pacaranlah atau apalah itu.
Jika memang ada, kenapa aku harus bertanya padamu?
Sejaka kapan kau... Kenapa harus aku orangnya?
Lupakan saja. Tak usah katakan apa-apa lagi.
Oke, aku akan berpura-pura hal ini tak pernah terjadi.
Aku duluan.
Sejak kau meneleponku dulu...
Aku takut.
Sebuah cinta tanpa rasa takut.
Sebuah perang tanpa korban.
Langit malam yang terang benderang.
Semua hal itu tak pernah ada.
Saat seseorang jatuh cinta,
akan ada saat kau tak akan bisa menahan rasa sukamu.
Saat cinta pertamamu pergi,
kau harus mengikhlaskannya.
Tapi, seperti anak-anak yang menangis melihat dinasaurus.
Padahal mereka sangat menyukai mainan dinasaurus.
Ini juga sama saja dengan rasa takut yang tak bisa kita hindari.
Meskipun kau menangis, kau akan tetap mencintainya.
Rasa takut yang terus menghantuimu.
Itulah yang dinamakan cinta.
Sebuah cinta tanpa luka...
hanyalah cinta dinegeri dongeng.
Ya, ini Ayah!
Hari ini kau ulang tahun. Kau sudah makan sup rumput laut?
Seoul sedang diselimuti salju. Bagaimana di sana?
Astaga. Kau tak lupa pakai jaket, 'kan?
Jadi, bagaimana kabar ibumu?
Oh, begitu.
Kalau Ahjussi itu...
Oh, iya! Bersenang-senanglah. Oke.
Ayah hanya...
sangat merindukanmu.
Kau pasti tak merindukan ayahmu, ya?
Betul, pasti begitu kan, ya?
Yah~ baguslah. Baguslah, baguslah.
Baguslah.
Baguslah.
Ada yang bilang, jika kau terluka, maka itu bukanlah sebuah Cinta.
Putus cinta memang akan sangat menyakitkan.
Tapi, lagu ini akan mengobati lukamu.
Aku akan menghilang dalam kedalaman sebuah cinta.
Saat putus cinta begitu menyakitkan, aku akan tertawa.
Aku akhiri acara malam ini dengan lagu, "Afternoon Scenery" oleh Hei.
Semoga hari kalian bahagia. Aku PD Yoon Ji Won.
Oh, kau sudah bekerja keras sepanjang malam.
Dinginnya.
Haeng Ah.
Maaf.
Jangan pergi, oke?
Maaf.
Selama ini aku tak pernah mengangkat orang seberat truk.
Benar-benar berat.
Bagaimana bisa dia mengangkatku selama ini?
Ayo keluar.
Jangan pergi.
Aku keluar dulu, ya!
Aku tak akan pulang sampai pagi.
Saat kita mengetahui kebenaran yang tak bisa kita terima.
Tutuplah mata kita.
Dalam kegelapan, berharaplah kebenaran itu akan menghilang.
Menghilanglah, menghilanglah.
Bawalah kebenaran itu ke dalam dunia mimpi.
Joon Su!
Selama malam, bu.
Joon Su pasti mengantar pesanan, ya?
Tidak. Aku juga tak tahu dia ke mana saja seharin ini.
Dia selalu saja keluar pagi-pagi dan pulang larut malam.
Dia mungkin sedang sibuk di kantor.
Mungkin saja.
Aku pesan menu yang biasa. Setengah-setengah.
Itu kau, 'kan? CP?
Oh kau? Dokter obat herbal? Senang bisa berjumpa denganmu lagi.
Ya, kenapa kau ke sini sendirian?
Dan kenapa tidak pesan ayam?
Dan kau sendiri, dok?
- Duduklah, duduk! - Ya, oke.
Aku memintamu ke klinik kami. Kenapa tak pernah datang?
Aku spesialis masalah pencernaan.
Kau punya kartu namaku, 'kan?
Kenapa kita tak minum saja dulu?
Ya, baiklah!
Oh, aku sudah berhenti minum.
Kenapa kau berhenti minum?
Karena kisah sedihku dengan seorang wanita.
Maaf.
Aku tak bisa menepati janjiku.
Aku tak akan melarikan diri.
- Benarkah? - Tidak akan lagi.
Sekarang, aku...
Aku menyukaimu juga.
Sekarang...
Aku harus membuka mata dan sadar.
Kemarin hanyalah sebuah mimpi yang bodoh.
Aku memelukmu.
Syukurlah. Itu hanya mimpi.
Jika aku bisa berbicara denganmu sekarang...
Jika semua ini...
hanyalah mimpi.
Tidurmu nyenyak?
Kau sendiri? Kapan kau pulang?
Aku pulang tadi subuh.
Kau mau makan sup?
Alkohol memang minuman yang aneh.
Hati kita yang meminta kita untuk minum, tapi kenapa badan kita yang sakit.
Hati kita yang bermasalah, tapi kenapa liver kita yang sakit.
Orang-orang selalu berkata, "Ingat livermu".
Kau baik-baik saja?
Aku hanya minum 3 botol kemarin.
Sebotol coke dan dua cider.
Baguslah.
- Sekarang, aku... - Aku...
Ya sudah. Katakanlah.
Kau saja.
Tidak, nanti saja. Aku harus memikirkannya lagi.
Kau mau bilang apa?
Maaf. Tapi, apa aku bisa kerja pada pagi hari saja?
Aku bahkan bisa bertugas sendiri untuk sementara ini.
Tapi, kenapa memangnya?
Aku harus terus menemani ibuku.
Ibu mengidap...
Mengidap apa?
Alzheimer.
Hei, kau masih mabuk, ya!
Orang tua seperti dia sudah wajar jadi pelupa.
Kenapa kau bicara ngelantur begitu?
Bagaimana mungkin dia mengidap Alzheimer?
Apa omong kosong macam apa itu? Kau tahu apa?!
Kenapa kau suka sekali bercanda saat makan begini, sih?
Dasar gila! Kau pikir bisa bicara seenaknya begitu.
Kenapa ibu? Dia salah apa padamu?
Kenapa kau bisa sekejam ini?
Katakan. Siapa yang bilang?
Siapa nama dokter bodoh yang mengatakan itu?
Kau tak pergi bekerja? Mobimu sudah tak ada di taman.
Aku pulang lagi.
Keluarlah. Dan ayo makan.
Nanti saja.
Kau pasti sudah makan dengan Ji Hoon.
Cepatlah. Aku lapar.
Aku yang akan membukanya.
- Biar aku saja. - Tidak, aku saja.
Baiklah. Kau saja.
Jangan melakukan hal-hal seperti ini lagi.
"Hal-hal seperti ini" apanya?
Kau tahu apa yang aku maksud.
Ya, aku tahu.
Aku tahu apa yang kau pikirkan juga.
Tapi, jangan melarangku.
- Kenapa? - Kau sungguh tak tahu?
Kau bersikap seperti itu waktu kita masih pacaran.
Dan sekarang, kita sudah putus.
Aku bisa membuka tutup nasi ini sendiri.
Aku juga bisa mengambil lauk sendiri tanpa kau ambilkan.
Kita masih bisa seperti dulu. Makan sambil tetap bercanda.
Kita bisa.
Kenapa harus begitu?
Karena keadaan yang memaksa kita.
Banyak yang menderita karena kita.
Jadi, hanya kita yang boleh menderita?
Kenapa hanya kita yang menanggungnya?
Bagaimana dengan hati kita? Apa hati kita tak terhitung?
Hati apanya? Apanya yang penting dari itu?
Kita bisa tetap hidup, 'kan?
Kenapa kau tak menganggapnya penting?
No comments yet. Be the first to leave one.