The first 188 lines.
Ya. Jadi, itu kabar baik.
Nilainya luar biasa dan dia hebat di kelas.
Dia mengajukan pertanyaan yang bagus, dan dia punya pendapatnya sendiri.
Aku yakin semakin dia dewasa,
dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan dalam hidupnya.
Benar.
Maaf?
Tidak, terima kasih. Itu benar-benar manis.
Aku serius.
Aku tahu kau serius.
- Baiklah. Apa ada pertanyaan... - Aku hanya...
Hanya saja, dulu seperti dia.
- Benar. - Ya.
Astaga. Aku selalu mendapat nilai A ketika aku berusia 11 tahun.
- Bagus. - Astaga.
Dan kelas lima? Aku yang terbaik dalam matematika.
- Aku mendapat nilai 100. - Itu luar biasa.
Itu tak terlalu penting, tapi saat itu rasanya menyenangkan.
Dan semua orang mengatakan hal yang sama padaku, kau tahu?
"Dia sangat pintar. Dia bisa melakukan apa saja selama dia mau."
Tapi di mana aku sekarang?
Apa kau harus menjawab itu?
- Tidak. - Tidak apa-apa. Silakan saja.
Aku harus pergi. Kau bisa tangani itu.
- Dan terima kasih. Tidak apa-apa. - Benar-benar tak apa-apa. Kita bisa...
Tidak apa-apa. Terima kasih banyak atas waktumu.
Baiklah. Terima kasih.
- Selamat tinggal. - Sampai jumpa.
Yo. Bisa kau bicara dengan ayahmu?
- Dia meneleponmu? - Dia meneleponku.
- Sudah kubilang jangan beri nomormu. - Sepuluh tahun yang lalu?
- Kau ingin aku melakukan apa? - Jangan angkat teleponnya.
- Dia tak berhenti menelepon. - Matikan ponselmu.
Aku punya anak. Aku tak bisa mematikan ponselku.
- Dia akan berhenti pada akhirnya? - Tolong angkat teleponnya.
- Aku tak bisa. Jangan lakukan itu. - Aku akan mengangkat teleponnya.
Yo, Artie. Hai. Bagaimana kabarmu?
Halo? Victor?
Hai, Ayah.
Josh, Astaga. Syukurlah.
Kau tak bisa menelepon Victor tengah malam.
Aku mengalami serangan jantung. Kau dengar aku?
Kumohon. Aku takut.
Kau terdengar baik-baik saja.
- Aku harus ke rumah sakit. - Kalau begitu, pergilah ke rumah sakit.
- Aku tak punya mobil. - Kau punya terakhir kali aku melihatmu.
Ya. Sudah berapa lama itu?
Jika kau benar-benar mengalami serangan jantung, telepon 911.
Mereka tak akan sampai di sini tepat waktu.
Astaga, kau pikir aku berbohong? Aku tak berbohong.
Aku tak bisa merasakan lengan kiriku sejak pukul 19.30.
Saat itulah aku meneleponmu, tapi kau tak mengangkatnya.
Dan itu semakin buruk.
Aku mengalami nyeri di dadaku. Aku tak bisa bernapas.
Aku merasa pusing. Astaga. Aku merasa pusing sekarang.
Aku berputar-putar.
Astaga. Aku berputar-putar.
Astaga.
- Masuk ke belakang. - Apa?
Sekarang sedang pandemi. Kau bahkan tak memakai masker.
- Masuk ke belakang. - Baiklah.
- Itu tempat yang bagus. - Bisa kau mengemudi saja?
Kau membuat kartu kredit atas namaku.
Apa?
Aku bilang kau membuat kartu kredit atas namaku.
- Aku tak tahu apa maksudmu. - Aku ditelepon agen penagihan.
Itu hanya penipuan.
Ada tagihan di Chez Jay's di Santa Monica.
- Banyak orang pergi ke Jay's. - Aku tak pergi ke sana, kau yang ke sana.
Lalu? Mereka tahu di mana ayahmu suka makan.
Itu tak sulit untuk diketahui.
Aku bisa memberitahumu di mana ayah orang itu suka makan.
Beri aku waktu sampai besok. Aku bisa memberimu informasi itu.
Kau tak memberi tahu mereka nomor jaminan sosialmu, 'kan?
RUMAH SAKIT EAST HOLLYWOOD AMBULANS
Baiklah, selamat malam.
Apa? Kau hanya akan menurunkanku seperti sopir taksi?
Ya, kau butuh tumpangan.
- Ya. - Jadi, pergilah.
Kau tak ikut denganku?
Tidak. Aku tak akan ikut denganmu ke rumah sakit.
Apa kau tahu apa yang sedang terjadi?
Baiklah. Jika kau tak mau pergi, aku tak akan pergi.
- Kau harus pergi. - Kenapa? Tak ada gunanya.
- Tentu berguna jika kau serangan jantung. - Belum tentu.
Baiklah. Jadi kau tak sungguh-sungguh mengalami serangan jantung.
Oh, tidak. Tadi aku berpikir begitu. Sekarang, tidak lagi.
Apa itu hal buruk? Apa kau lebih suka aku mati sekarang?
Aku punya gejala yang mengganggu. Syukurnya, gejala itu sudah mereda.
Jadi, ayo kita minum.
- Keluar. - Ayolah.
- Kau mau ke mana? - Aku akan pulang ke rumah.
- Lalu kau mau apa di sana? - Tidur. Sekarang sudah pukul 02.00.
Kalau kau pulang sekarang, kau tetap tak bisa tidur.
Ayolah. Satu gelas.
- Bar ditutup. - Aku tahu tempat yang bisa kita kunjungi.
Kau tahu aku tak minum lagi, kan? Sejak aku berusia 13 tahun.
Apa kau tak ingat itu?
Baiklah. Ayo kita minum kopi.
- Semuanya tutup, Ayah. - Kalau begitu, kita ke McDonald's.
Aku tak akan masuk ke McDonald's!
Bisa kau ambil satu? Aku membelikannya untukmu.
Tidak, terima kasih.
Baiklah. Aku akan minum salah satunya
kalau-kalau kau berubah pikiran.
- Aku tak akan berubah pikiran. - Baiklah.
Sial. Sepertinya aku sudah meminum keduanya.
- Aku tak peduli. - Baiklah.
Jadi, bagaimana kabarmu?
Aku baik-baik saja. Apa kabar?
Bagaimana kau ingin aku menjawabnya?
Apa kau benar-benar ingin tahu, apa kau hanya basa-basi?
- Apa kesibukanmu? - Kenapa kau ingin tahu?
Karena aku benar-benar ingin tahu bagaimana keadaanmu.
Kau mungkin tak ingin tahu. Aku sudah tua, aku membosankan.
Kau masih muda. Kaulah yang seharusnya punya banyak kesibukan.
Maaf aku mengecewakanmu.
- Ayolah. Kau tak pernah... - Apa yang kau inginkan?
Aku tak ingin apa pun. Aku hanya ingin tahu tentangmu.
Aku ingin mendengar tentang hidupmu. Apa yang ada di pikiranmu.
Kau tahu, kau adalah anakku. Aku ingin tahu segalanya.
Ayolah. Aku akan mendengarkan. Apa yang kau lakukan hari ini?
Kau memanggang roti seperti orang lain?
Aku terus mendengar orang-orang memanggang roti selama pandemi ini.
Semua orang ingin ragi dan tak ada yang bisa mendapatkannya.
Kau punya ragi?
Tidak. Hanya bekerja.
- Kau tampil? Seperti di Skype atau... - Aku tak tampil. Aku bekerja.
Aku tahu itu sulit jika kau melakukannya untuk mencari nafkah.
Aku seorang guru.
Baiklah. Guru apa? Les privat?
Aku mengajar kelas lima. Sekolah Dasar Van Nuys West.
Tunggu, kau mengajar di sekolah?
Ya. Sekarang aku mengajar lewat Zoom, tapi ya.
- Bukankah kau butuh kredensial? - Aku mendapat gelar mengajar.
Astaga.
Dan bagaimana semuanya?
Aku menyukainya.
Itu bagus. Jujur, aku sangat bangga padamu.
Kau membuatku senang. Ini hari terindah dalam tahun ini.
Kau menemukan sesuatu yang kau suka lakukan dan kau melakukannya.
Ada apa lagi? Kau mengajar. Kau membantu anak-anak.
Berada di sampingmu saja membuatku merasa seperti orang baik.
Aku ingin memberi tahu semua orang yang kukenal bahwa putraku adalah seorang guru.
Baiklah.
Bagaimanapun juga, menurutku apa yang kau lakukan hebat.
- Sungguh. - Baiklah, terima kasih.
Jadi, apa yang kau lakukan?
Aku? Kau tahu.
Aku banyak membaca, sebenarnya.
Kau tahu, mematikan TV, membuka buku.
- Pernah membaca Crime and Punishment? - Tidak.
Itu luar biasa. Sangat Rusia.
Tentang pria yang membunuh wanita tua,
tapi bukan demi uang atau apa pun.
Dia tak punya alasan untuk membunuhnya.
Tapi masalahnya, kau mengerti kenapa dia melakukannya.
Dia kehilangan akal sehatnya, tapi kau memahaminya
- karena tak ada yang dia ajak bicara... - Apa yang kita lakukan?
Aku sedang berbicara. Kita bisa berbicara lagi.
- Tapi kita tak membicarakan apa pun. - Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan?
Kau tahu apa? Kenapa kita tak...
- Aku akan pulang saja. - Bagaimana kabar Beth?
- Bagaimana anak-anak? - Mereka baik.
- Aku tak sering melihat mereka. - Lebih sering daripada aku.
Aku bahkan belum bertemu yang bungsu. Sara, itu namanya, kan?
- Ya. - Aku yakin aku tak perlu memberitahumu.
Aku sangat menderita
karena aku tak diizinkan untuk melihat cucuku.
Kau tahu alasannya? Karena jujur saja, aku bingung.
Maksudku, adikmu selalu bereaksi berlebihan
tapi ini lain dari yang lain.
Aku datang terlambat beberapa kali ke taman bermain dan tiba-tiba...
Bukan karena kau terlambat. Kau mabuk. Dan kau menjatuhkan David.
- Aku tak mabuk pada hari itu. - Aku ada di sana.
- Aku tahu kau pernah melihatku mabuk. - Kau 100% mabuk hari itu.
- Kau tak mendengarkan. - Apa yang tak aku dengarkan?
Aku mencoba menyelamatkan seorang anak agar tak jatuh.
Aku tak tahu apa kau ingat, karena kau jelas telah memilih
untuk mengarang cerita tentang kekacauan yang kubuat.
Tapi ada seorang anak yang memanjat entah apa itu namanya,
orang tuanya tak ada di mana-mana. Mungkin sedang bermain ponsel.
Dan hanya akulah yang ada di situ. Lalu anak itu jatuh.
Dan aku berhasil menangkapnya dengan satu tanganku.
Jika aku tak melakukan itu, leher anak itu mungkin akan patah.
Dan ya, aku memang harus melepaskan tanganku dari David.
Dan ya, dia jatuh ke tanah, telentang.
Tak luka sama sekali, hanya membuatnya takut.
No comments yet. Be the first to leave one.