The first 200 lines.
[ Akhir-akhir ini, di Seoul dan Provinsi Gyeonggi, ]
[ sejumlah wanita berikut mobil mereka menghilang di titik buta. ]
- Baik. - Baiklah.
Aku belum bisa pulang.
Aku kelelahan.
Tidur saja di mobilmu.
Masuklah.
Tolong antar dia pulang.
Sampai jumpa.
Tolong jangan sakiti aku.
Tolong lepaskan aku.
Keluargaku sangat menyayangiku.
Aku juga sudah menyerahkan
kartu kredit dan PIN rekening bankku.
Aku korban terbaik yang pernah kau temui.
Jadi, kumohon...
Bisa tolong bebaskan aku?
Ya?
Kumohon.
Kau sutradara di OCM.
Direktur macam apa
yang saldo rekeningnya minus dan kartu kreditnya mencapai limit?
Ditambah lagi,
- uang tunaimu cuma tiga dolar. - Itu karena aku sering dituntut
saat menggarap acara yang membahas isu hangat.
Uangku habis untuk ongkos perkara.
Setelan ini pun kupinjam untuk wawancara.
Tak boleh sampai kotor.
Astaga, kau mengejutkan sekali.
Kenapa kau membawa barang sebanyak ini?
Mau pindahan?
Kalau tak punya uang, kenapa kau naik mobil mahal?
Itu bukan mobilku. Itu mobil bersama.
Tahu artinya, 'kan?
Ada tulisannya di dalam mobil.
Berengsek! Itu mobil bersama!
Maaf, Pak. Aku tak melihat dalamnya.
Kenapa menyewa mobil mahal jika kau tak punya uang?
Sudah selesai, belum?
Hampir selesai, Pak.
Kalian takkan menguburku, 'kan?
Cuacanya sedang dingin.
Kau cepat tanggap rupanya. Mungkin karena kau sutradara.
Mayoritas wanita yang kami culik sudah kami jual.
Kenapa aku tak dijual juga?
Wanita yang tak sesuai harapan
akan dijual organnya.
- Tapi kau... - Jangan, dengar.
Meski kelihatannya tidak, kondisi hati dan ginjalku bagus.
Aku memang sakit perlemakan hati ringan,
tapi organ selain itu sehat.
Tapi kau sutradara
di stasiun penyiaran.
Kami malas mengurusi buntutnya.
Kenapa hanya aku yang dikubur?
Ini tak adil!
Pak. Maksudku, Tuan.
Aku bersumpah akan menutup mulut.
- Aku tak mau mati. Lepaskan aku. - Semuanya.
- Siap. - Jangan sampai setelannya kotor.
Kubur yang rapi.
Jangan. Jangan mendekat!
Astaga, jangan! Pak!
Jangan, kumohon! Pak!
Hei! Lepaskan aku!
Lepaskan! Aku tak mau dikubur!
Lepaskan aku! Ayolah!
Setelannya tak boleh kotor!
Lepaskan aku!
Lepaskan!
Sakit!
- Kubur dia. - Baik.
Kenapa dia?
Tangisannya mirip kuda.
- Kau melawak sebelum mati? - Di mana dia?
Mirip sekali dengan kuda.
- Kubur dia. - Hei.
Jangan! Hentikan!
Maaf, Sutradara Kang.
Astaga.
Hentikan. Kau mengotori jaketku.
Astaga.
Ada apa? Kenapa kau tertangkap?
Sudah kubilang, 'kan? Pemrofilanku benar.
- Apa? - Pelakunya pasti geng.
Jika mereka mengincar uang,
mustahil mereka mencuri mobil korban.
Jadi, aku tahu dalangnya pasti sindikat besar.
- Sungguh? - Hei, siapa kau?
Kau polisi? Atau babi?
Asal tahu saja, hewan yang paling kubenci
adalah babi.
Lalu kau siapa? Suaminya?
- Enak saja. - Enak saja.
Kalian tampak akrab.
- Kalian saling kenal? - Ada apa?
Kenapa berisik sekali?
Siapa orang itu?
Baik, ini kesepakatannya.
Mari berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Jika kalian melepaskan kami,
aku bersumpah kami akan merahasiakan ini.
Bagaimana?
Apa maksudmu? Itu bukan kesepakatan.
Kesepakatan itu saat kau memberi dan menerima...
Ada apa di pergelangannya?
Pak, di usia Anda, tak pantas menelepon iseng begini.
Kurang ajar sekali dia.
Memalukan sekali.
Hei!
Astaga, kubur mereka berdua.
- Sakit. - Apa-apaan kau?
Cepat kubur mereka!
- Jangan mengotori bajuku! - Kenapa kau lamban sekali?
Kerahkan tenaga.
Astaga, tempatnya jauh sekali.
- Siapa dia? - Kenapa kau mendirikan bengkel
di tempat terpencil? Sulit sekali kemari.
Siapa kau?
Kau serius melakukannya di usiamu?
Kau menculik orang dan mencuri mobil. Menyedihkan.
Siapa kau?
Menurutmu siapa? Aku polisi.
Tugasku menangkap penjahat seperti kalian.
Tak seperti kalian, pekerjaanku ditanggung asuransi.
Kalian pasti iri, 'kan?
- Kubur dia juga. - Baik.
Kubur mereka semua!
Banyaknya.
Ayo! Lawan aku!
Berengsek!
Hei!
Kemarilah!
Astaga.
Lepaskan aku!
Kenapa kau selalu terlambat?
Maaf. Aku harus menutup toko.
Padahal dekat, tapi aku kehabisan napas.
Hei, Tangan Kosong, Peralatan. Cepat bereskan.
Baik.
Berengsek!
Siapa itu?
Apa-apaan ini? Kau wanita?
Jika meremehkanku karena aku wanita,
kau akan menyesal.
Kukira kita akan mati.
Bisa-bisanya kau tertangkap.
Di sebelah kananmu.
Hentikan!
Lemparkan.
Mereka banyak sekali.
Ke mana semua anak buahku?
- Ayo lewat pintu itu. - Baiklah.
Kalian mau ke mana?
Aku mulai lelah.
Ikut saja denganku.
Sial. Hei, lakukan sesuatu.
Ayo.
Sial...
Hei.
Hei, berapa yang kau mau?
Akan kubayar mahal.
Maaf, tapi aku sudah cukup kaya.
Kita permudah saja.
Kau sudah tak bisa lari.
Sial... Yang benar saja.
Berengsek.
- Ada apa? - Punggungku...
Ada... Ada batu di tanah.
- Batu... Astaga! - Kau berpura-pura?
Punggungku.
Tolong pelan-pelan. Kumohon.
Astaga.
Ayo, minggir.
Lepaskan aku!
Aku tak mau pergi.
Kau menghajar mereka semua sendirian?
Tidak... Itu spontan saja.
Hei, kau tak perlu tahu.
Ayo.
Punggungku sakit.
Astaga.
Terus jalan, Berengsek.
Kapan kau akan sadar?
Lepaskan aku.
Hei! Coba berpikir cepat.
Ini.
Berisik sekali!
Hei, tangkap.
Untuk apa kau berdiri?
Di sini ramai sekali,
akhirnya kita baru terasa bekerja.
Bukankah lega
bisa menuntaskan kasus besar ini?
Serius?
Bisa-bisanya kau berkata begitu
setelah mematahkan punggung tersangka utama?
Kau tak kasihan kepadaku dan kolegamu?
Untuk apa?
Sudah kubereskan kasus besar ini tanpa bantuan.
No comments yet. Be the first to leave one.