The first 200 lines.
Ada masalah?
EPISODE 14
Sudah lama tak bertemu.
Terima kasih.
Kau mau ke mana kemarin?
Rumah. Habis dari toko buku.
Golf di hari Sabtu bagus?
Ya.
Perkataanmu hari itu, bukan lelucon, 'kan?
- Tentu. - Sedikit tak terduga.
Bisa belikan aku latte ? Jika tak ada urusan lain.
Kau tahu Kafe Deung?
Kopi enak diminum kapan pun.
Aku sudah ketagihan.
Orang yang bekerja di penyiaran, rata-rata begitu.
Menurutmu, kenapa aku bercerai?
Kau tak mungkin menjawabnya.
Kebanyakan orang bercerai karena perbedaan sifat.
Itu alasan klise para pesohor.
Aku dicampakkan oleh suamiku.
Suamiku berpaling pada wanita lain. Bukankah itu dicampakkan?
Suamimu yang ingin bercerai?
Tidak. Dia minta aku untuk tutup mata dan memaafkannya.
Namun, tak bisa.
Keputusanku salah?
Waktu yang akan menjawab mana keputusan yang benar.
Adakalanya bersabar membuahkan hasil yang baik,
adakalanya lebih baik tak bersabar.
Hari itu kau tampak baik-baik saja.
Di lapangan golf.
Kau berbicara dengan sangat santai.
Mungkin karena bukan aku yang menyebabkannya.
Bisa lebih marah dan sengsara karena bukan yang menyebabkannya.
- Bukan keputusan yang mudah. - Tentu saja.
Kenapa kebanyakan pria begitu?
Apa tak bisa setia dan menepati janji?
Apa begitu sulit?
Aku juga tak tahu.
Aku pun tak bisa mengerti orang yang suka melanggar janji.
Bagaimana dengan teman-temanmu yang sudah menikah?
Sepertiga sudah bercerai.
- Alasannya? - Beberapa karena perbedaan sifat.
Meski harus dengar dari kedua pihak,
ada yang terpaksa bercerai karena pasangannya keterlaluan.
Alasannya beragam.
Ada alasan untuk segalanya.
Ada yang berganti pasangan?
- Ada dua. - Mereka hidup harmonis?
Yang satu hidup harmonis.
Dan yang lain baru yakin setelah menikah empat kali.
- Empat kali? - Ya.
Bagaimana bisa empat kali…
Menikah sekali saja tak mudah.
Kurasa perceraian pertama sulit, tapi yang berikutnya mudah.
Apa kau iri sebagai pria?
Aku sama sekali tak iri.
Hidup harus dibuat sederhana karena dunia ini sudah cukup rumit.
Bagaimana dengan Ji-a?
Astaga. Kau mengingat namanya?
Pikirmu aku terkena demensia sampai tak ingat nama?
Aku yang mengurusnya.
Aku belum memutuskan karena anak.
Kau tak akan mengerti karena belum menikah.
Kepercayaan sangat penting bagi pasangan suami dan istri.
Kepercayaan penting dalam segala hubungan.
Bagaimana rencanamu ke depan?
- Lupakan saja. - Mau pulang sekarang?
Ya.
Kau masak sendiri?
Hampir tak pernah.
Biasanya pesan atau makan dulu sebelum pulang.
Kau suka semua makanan kecuali kaviar, ya?
Ya. Bagaimana ibumu disemayamkan?
- Ibuku? - Sudah dikubur?
Ya. Di sebelah ayahku.
Bagaimana denganmu?
Hal yang paling kusesali
adalah mengikuti permintaan ibuku, mengkremasi dan menebar abunya di air
saat dia meninggal.
Seharusnya tak begitu.
Karena dikremasi? Atau karena abunya ditebar di air?
Keduanya.
Meski dikremasi, seharusnya dikubur di tanah atau disemayamkan di rumah abu.
Apa ibumu tak muncul di mimpimu?
- Tidak. - Itu artinya dia pergi dengan tenang.
Ibuku muncul di mimpiku sesekali dan bilang bahwa dia kedinginan.
Astaga.
Namun, abu sudah ditebar.
Benar juga.
- Lalu peringatan kematiannya? - Kuadakan yang sederhana tiap tahun.
Kurasa peran orang tua adalah pengorbanan dan peran anak adalah penyesalan.
Ada banyak yang kusesali.
Aku pun begitu.
Kau pasti anak berbakti.
Biasanya anak perempuan berlaku baik kepada ibunya.
Ya. Ceritanya agak panjang.
Sesama anak tak berbakti, mari minum miras kapan-kapan.
Baik.
NYONYA HONG
NYONYA HONG
Aku jawab dulu.
Baik.
Kenapa baru pulang selarut ini?
Ada rapat.
Ada rapat seharian?
Aku berolahraga juga.
Ibu. Coba angkat tanganmu seperti ini.
Angkatlah.
Benar-benar konyol.
Apa kau mempermainkanku?
Ayo ikut berlatih tinju denganku.
Ini olahraga yang bagus.
Kau saja.
Mandi, lalu bantu aku siapkan makan malam.
Baik.
Apa pembantu tak datang?
- Kudengar ada pembantu harian. - Buang-buang uang.
Ada dua orang wanita di sini. Untuk apa pembantu?
Tentu. Ibu benar.
Apa dia bodoh?
Tak ada gunanya Pi-young pintar.
Dia malah berikan kamarnya kepada orang bodoh.
- Apa dia tak di rumah? - Kau tak meneleponnya?
Tak ada waktu menelepon hari ini.
Mungkin mandi. Coba telepon.
Kau tak tahu sandinya?
Halo?
Kau tak di rumah?
Ya. Aku mau membeli kkwabaegi .
Kkwabaegi ?
Ya. Tiba-tiba ingin makan kkwabaegi
Di mana? Apa jauh?
Ada di belakang Sauna Gangnam. Aku sedang jalan ke sana.
Baiklah. Aku ke sana.
Kau mau ke sini?
Kau di rumahku?
Pasti ingin makan yang aneh-aneh saat sedang hamil.
Aku ingat kau ingin makan pangsit burung pegar
saat sedang mengandung Sa-hyeon.
Bukan Sa-hyeon, tapi anak sulung kita.
Begitu?
Aku tak bisa pergi memburunya karena akan membawa sial.
Aku sangat kesulitan mencari daging burung pegar.
Kau ingat semua kejadian di masa lalu.
Kenapa? Kau sedang kesal? Kenapa wajahmu begitu?
Pasti ada banyak yang ingin dia makan, tapi aku tak bisa membelikannya.
Kami sudah bilang untuk katakan segalanya.
Masalahnya rumah kita tak dekat.
Dia bahkan pergi beli sendiri sekarang.
Kau bisa memperhatikannya mulai sekarang.
Benar, yang lebih penting adalah hatimu.
Daripada melakukannya karena terpaksa,
lebih baik melakukannya dengan senang hati.
Apa itu? Ku…
- Kualitas. - Ya.
Kualitas yang terpenting.
Kenapa sudah menyiapkan nasi?
Kita harus makan malam.
Apa yang kau pelajari dari ibumu? Kepala keluarga belum pulang.
Yu-sin pulang telat.
- Dia bilang begitu? - Ya.
Kenapa tak bilang jika sudah tahu?
Makan malam tim tak begitu penting.
Maka, aku tak perlu membuat lauk.
Bukankah itu untuk kita? Apa kita tak akan makan?
Kau sungguh menyebalkan.
Apa kita makan sebanyak ini?
Nenekku bilang bahwa hantu yang mati setelah makan lahap akan terlihat berbeda.
Apa-apaan kau?
- Aku? - Padahal dari awal sampai akhir…
Kau melihat dengan jelas aku menyiapkan lauk sejak tadi.
Kupikir Ibu sudah tahu.
HARUSKAH AKU MEMUKULNYA
SAMPAI PIPIH SEPERTI CUMI-CUMI?
Ibu makan sebanyak ini, 'kan?
Masuklah!
Ada di sebelah sana.
- Silakan masuk. - Harum sekali.
Luar biasa.
Ayah suka makanan seperti ini?
Ayah pun sama sepertimu.
Ini kkwabaegi dan ini corn dog pedas.
Ada donat kesukaanmu juga.
- Ibu suka donat? - Ya.
Donat isi kacang merah.
Donat keju juga enak.
- Bungkus semuanya yang banyak. - Baik.
Mereka pakai tepung ketan.
- Tepung ketan? - Ya.
Makan dulu satu.
Ibu tergiur melihatmu makan.
Enak?
- Akhirnya kesampaian. - Tak ada restoran enak di sekitar sini?
Harus dimakan sebelum dingin.
Ini pesanannya.
Terima kasih.
Satu bossam satu dan tiga makguksu . Satu pedas.
Kita makan berdua.
- Baik. - Ayo dimakan.
Makanan utama urusan nanti.
No comments yet. Be the first to leave one.