The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"It's My Life"
Apa katamu?
Yeon Sil ada di rumah sakit?
Apakah bayinya baik-baik saja? Dia sedang hamil!
Tidak terjadi apa-apa, bukan?
Di rumah sakit mana?
Kamu baik-baik saja, Yeon Sil?
Bagian mana yang sakit?
Aku harus bagaimana, Man Seok?
Penyelamatku...
Aku harus bagaimana?
Ada apa dengan Penyelamat?
Tidak mungkin.
Tidak terjadi apa-apa, bukan?
Aku kehilangan Penyelamat.
Dia meninggal sebelum datang ke dunia ini.
Astaga.
Bagaimana mungkin ini terjadi?
Aku turut menyesal, Presdir Han.
Kakak!
Kakak baik-baik saja?
Bagaimana dengan bayinya? Bayinya baik-baik saja?
Kakak kehilangan Penyelamat.
Katanya, kamu diinterogasi di kantor polisi.
Bagaimana hasilnya?
Saat aku diinterogasi,
amplop berisi uang itu ditemukan di lantai kafe.
Aku tidak bersalah, tapi dia menuduhku.
Bedebah!
Aku baik kepadamu selama ini.
- Kenapa kamu tega, Bedebah? - Astaga.
Aku baik sekali kepadamu.
Hentikan.
- Semua ini salahku. Hentikan. - Astaga.
Istrimu melukai wajahnya,
lalu aku kehilangan akal sehatku.
Ini sama sekali bukan salah Nam Jin.
Ini salahku.
Aku sungguh minta maaf.
Bisakah kamu menyelesaikan masalah ini dengan permintaan maaf?
Dia mengandung anak pertama pada usia 40 tahun.
Dia sangat bahagia.
Kalian berdua pembunuh. Pembunuh!
Aku sungguh tidak tahu.
Aku melakukan itu karena benar-benar tidak tahu.
Aku tidak akan menjambaknya jika aku tahu dia hamil.
Aku serius.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu
atas perbuatanmu kepada Penyelamat. Mengerti?
Penyelamat...
Pulanglah bersama ibumu
dan jangan pernah menunjukkan wajahmu kepadaku lagi.
- Presdir Han. - Keluar.
Kubilang keluar!
Keluar!
- Keluar. - Maafkan aku.
So Jeong.
Aku datang bersama So Jeong karena dia ingin melihat Si Woo bekerja.
Semoga kami tidak mengganggu kalian.
Kami hampir selesai.
Tidak apa-apa, bukan?
Tentu saja. Kami senang dengan kedatanganmu.
Aku bahkan lebih senang karena bahan renunganku ada di sini.
Karena tunanganmu di sini,
kantor ini terlihat lebih cerah daripada biasanya.
Dia menyilaukan.
Itu pasti hanya bualan, tapi aku tersanjung.
Kamu Pak Jo, bukan?
Aku merasa terhormat karena kamu mengingatku.
Aku harus membaca satu dokumen lagi. Bisakah kamu menungguku?
Ayo kita makan sesuatu yang lezat setelah aku selesai.
Jangan pikirkan aku. Teruskan saja pekerjaanmu.
Mari duduk.
Jin Ah, bisa ambilkan minuman untuk kami?
Tentu, Bu Choi.
Anda ingin minum apa?
Aku ingin minum teh hijau. Bagaimana denganmu, So Jeong?
Aku mau yang sama.
- Maaf merepotkanmu. - Tidak sama sekali.
Pak Jo, Mal Juseong tidak ada dalam proyeksi penjualan.
Mal Juseong?
Bukankah kita membuka toko di sana pada semester kedua tahun depan?
Itu dipindahkan ke semester pertama tahun depan.
Toko di Mal Juseong akan menjadi lokasi penjualan terbesar kita.
- Tolong buat lagi laporannya. - Baik, Pak Choi.
Aku akan pergi sekarang.
Kalian akan pergi ke tempat yang bagus?
Ayo kita bertukar informasi soal tempat yang bagus.
Kami hanya akan mengobrol sambil makan malam dan minum teh.
Itulah yang biasa dilakukan orang-orang, bukan?
Tidak penting apa yang kita lakukan.
Yang penting adalah bersama siapa.
Ayo pergi.
Kalian bisa pergi setelah dia menghabiskan tehnya.
Kamu sangat ingin berduaan dengannya?
Kuberi waktu tiga menit. Harus habis dalam tiga menit.
Ya. Terima kasih banyak.
Kalau begitu, aku akan datang ke sekolahmu dengan sampelnya. Ya.
Akan kujelaskan lebih detail di kantor kami pukul 14.00 besok.
- Bagus. Kita berhasil. - Kita berhasil!
- Kalian berhasil? - Tentu saja.
Penjualan pertama akhirnya sukses.
Tiap kelas terdiri dari 800 murid.
Termasuk tambahannya, kita akan memasok 2.500 barang.
Maksudmu, seragam sekolah, baju olahraga, dan baju santai?
Tentu saja. Kepala sekolah dan asosiasi wali murid
memutuskannya dengan suara bulat.
Aku sudah memasok baju olahraganya.
Mengenai seragam sekolah, mereka masih menunggu konsultasi.
Ini kelihatannya menjanjikan.
Kalian tahu aku banyak berkontribusi, bukan?
Tentu saja. Setelah kita mengirimkan dokumen resmi
tepat setelah kontes, kita mendapatkan umpan balik.
Kita punya kabar baik di sini,
tapi desainernya pulang lebih awal karena tidak enak badan
dan ketua tim sedang pergi meminta maaf atas perbuatannya.
Astaga, itu membuatku sangat khawatir.
Apa kesalahan Pak Ahn?
Sebenarnya, dia tidak bersalah. Ibunya yang melakukannya.
Apa? Ibunya Pak Ahn?
Kamu tidak perlu tahu detailnya.
Ayo kita pergi sekarang.
- Baiklah. - Baiklah.
- Astaga. Kamu rupanya, Nam Jin. - Apa yang terjadi?
Itu...
Amplop uang itu ada di lantai.
Di lantai bagian mana?
Sebelah sana.
Tidak bisa kupercaya.
Mungkinkah kamu salah?
Bukankah kamu menaruh amplopnya di bawah mesin gesek kartu kredit?
Benar.
Bagaimana kamu tahu?
Karena aku melihatnya.
Jika tidak sengaja menjatuhkannya, seharusnya ada di sekitar situ.
Kamu benar.
Tapi kamu menemukan amplop di tempat Ko Seon Gyu
berdiri bersama polisi.
Dia akan tetap bekerja di sini?
Aku tidak kehilangan apa pun
dan dia kompeten.
Kamu harus berhati-hati.
Kamu harus menjaga uang yang ada di sini.
Jangan menaruh uang sembarangan.
Pasang CCTV di kafe ini,
terutama ke arah kasir dengan jelas.
Caramu mengkhawatirkanku
mengingatkan pada masa lalu.
Kamu selalu melindungiku.
Omong-omong, apa yang terjadi kepada wanita itu?
Dia kehilangan bayinya.
Ayah.
Hei. Bagaimana kamu tahu?
Nam Jin bedebah itu memberitahumu?
Ya. Dia berada di luar sekarang.
Dia ingin masuk bersamaku, tapi aku melarangnya.
Kurasa Ayah dan Bu Ko hanya akan marah
jika bertemu dengannya.
Dia pasti mengira ayah akan memaafkannya jika datang bersamamu.
Tapi tidak mungkin.
Kamu tahu bagaimana dia menangis?
Dia tidak bisa berhenti menangis dan tidak mau minum
sampai dia kelelahan dan baru saja tertidur.
Ayah...
Ayah tidak akan pernah menemuinya lagi.
Ayah muak dengan semua anggota keluarga
pemilik Grup Hyunkang.
Aku juga sedih karena dia kehilangan bayinya.
Tapi Nam Jin dan ibunya
tidak sengaja melakukannya.
Itu kecelakaan.
Terus terang, adik ipar Ayah pernah mencuri.
Jadi, wajar saja jika Nam Jin salah memahami situasinya.
Jika kamu ingin mengatakan itu, pergi saja.
Kamu tahu sifat ayah, bukan?
Jika sudah bilang, ayah pasti melakukannya.
Ayah bisa saja menjebloskan bedebah itu dan ibunya ke penjara.
Ayah, sudahlah.
Carilah pabrik lain untuk kontes berikutnya.
Aku membuatkan pakaian untuk kontes pertama hanya untukmu.
Aku tahu Ayah kecewa.
Tapi apakah bayi yang dia kandung satu-satunya anak Ayah?
Kenapa ini memengaruhi pekerjaan?
Ayah membesarkanmu sampai sekarang, dan kamu bisa mengurus dirimu.
Tapi ayah bahkan tidak bisa menggendong bayi itu.
Dia sangat penasaran bagaimana rupa Penyelamat
sampai tidak bisa tidur saat malam.
Kamu sebaiknya pergi.
Nanti dia bangun.
Penyelamat, jangan pergi.
Bayiku.
Jangan pergi.
Aku akan kembali nanti.
Baiklah. Jenguklah dia lebih sering.
Ini. Pak Ahn memintaku memberikan ini kepada Ayah.
Ayah tidak membutuhkannya.
Uang tidak bisa menghidupkan kembali Penyelamat.
No comments yet. Be the first to leave one.