The first 200 lines.
"(Iblis) menjawab, "Karena Engkau telah menghukum aku tersesat,
pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.
Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka
dari depan, dari belakang, dari kanan dan kiri mereka.
Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur."
"QS Al-Ar'af Ayat 16-17"
Masih dipakai?
Ini dikasih sama Eyang Uti...
waktu Ibu mau menikah dulu.
Padahal ini cincin kesayangan Eyang Uti.
Masa kesayangannya cincin?
Kayak aku.
Kesayanganku Ibu.
Jadi, kamu sayang sama Ibu?
Sayanglah, Bu. Masa tidak?
Nanti kalau kamu punya pacar, Ibu ditinggal.
Tidak.
Tidak ada yang niat berpacaran.
Aku mau di sini saja, menjaga Ibu.
Besok kerja lagi?
Tidak mau di sini saja, menemani Ibu?
Maunya begitu, Bu.
Sedang banyak pasien.
Tidak enak izin sama perawat senior kalau aku tidak masuk kerja.
Nanti ya, Bu, kalau aku libur.
Bu.
Ibu sedang tidak enak badan?
Tidak apa-apa.
Cerita sama Asha, Bu.
Ibu sedang tidak ingin sendiri.
Seperti ada sesuatu.
Tidak enak banget rasanya.
Tidak usah memikirkan yang tidak enak, Bu.
Asha.
Mbak.
Mbak Asha.
Mbak Asha.
- Iya? - Saya Rum.
Kita belum pernah ketemu, boleh bicara sebentar?
Boleh.
Bagaimana, Mbak?
Mbak Asha, ibunya Mbak menghampiri saya.
Ibu saya sudah tiada.
Saya sudah dua minggu lebih mencari alamat Mbak.
Nama ibu Mbak, Ratih, 'kan?
Saya juga mengerti Mbak tak bisa langsung percaya.
Tapi kalau Mbak mau datang ke tempat saya,
- saya bisa jelaskan semuanya. - Saya mau kerja.
Ibu Mbak cerita soal cincin.
Pemberian ibunya sebelum menikah dulu.
Mbak, ayo.
Ayo, Mbak.
Kalau lilinnya mati...
yang di badan ini sudah bukan saya.
Kalau cahaya di ruangan ini sudah tidak ada...
Mbak Asha bisa panggil nama ibunya.
Nanti dia yang jawab.
Percaya sama saya.
- Bu. - Asha.
Bu.
Dingin, Nak.
Di sini sempit.
Maafkan Asha, Bu.
Bu!
Sha, Pak Anton demamnya sudah membaik, tapi tangannya bengkak. Nanti dicek ya.
Kasihan Santi.
- Kenapa? - Diberhentikan dari tempat kerjanya.
Katanya karena sakit.
- Kerja di mana dia? - Itu, apa namanya?
Home care.
Dia mengurus pasien lansia.
Tapi, ya, itu.
Rumahnya agak seram.
- Agus. - Benar.
Aku yang sedang cerita.
- Tapi tidak mengerti, ya. - Tapi seru.
Memang gara-gara sakit jadi melihat yang aneh-aneh
- atau memang benar ada yang aneh. - Ya.
- Aneh bagaimana maksudnya? - Itu.
Rumahnya ada penunggunya.
Terus katanya pasiennya itu dulu pakai pesugihan.
- Omonganmu ngawur. - Kok aku ngawur?
Itu benar, Ani.
Santi.
Santi.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Gara-gara kamu, Gus.
- Aku tidak percaya. - Apa? Itu benar.
- Ceritanya begitu. - Jangan bohong, Gus.
Ram.
Bilang ke Asha, kamu 'kan dekat sama dia.
Kok dia berani-beraninya.
Ya, bagaimana?
Dia bilang kalau terlalu sering di rumah dia teringat ibunya terus.
- Padahal dia dekat banget sama ibunya. - Loh?
Ibunya meninggal kenapa?
- Katanya bunuh diri. - Hei, Ani.
Benar. Ani benar.
- Benar, 'kan? - Iya.
Aku juga dengarnya begitu.
Sepengetahuanku...
ibunya Asha itu...
sudah lama depresi.
Aku dengar ibunya Asha meninggal di sore hari.
Saat Asha pas baru selesai kerja di sini.
Padahal kalau Asha pulang lebih cepat,
- dia bisa cegah ibunya, 'kan? - Iya.
- Iya. - Iya.
Malam itu Asha lagi sama aku.
Ram.
- Kamu! - Kamu!
- Tuh. - Busuk.
Sudah. Ayo pulang.
- Aku benar. - Sudahlah. Ayo.
- Sembarangan. - Ini mau ke mana?
- Balik. - Balik.
Beresin.
Teman-teman.
Asha.
Kapan kamu mulai bekerja home care?
Rencananya besok.
Sudah sempat mengobrol sama Santi?
Belum.
Kalau kamu mau...
aku bisa antar kamu ke tempatnya.
Tidak usah, Ram.
Asha.
Maaf malam itu aku malah mengajak kamu...
Itu bukan salah kamu.
Semoga pekerjaan itu membuat kamu lebih tenang.
- Pak Elham? - Ya.
Saya Asha, yang semalam menghubungi Bapak.
Ya, ayo masuk.
Ayo.
Setahun belakangan, dia mulai susah bicara.
Sempat dibawa ke dokter...
tapi dia tidak mau.
Malah mengamuk.
Akhirnya dirawat di rumah saja.
Kondisinya begini.
Di ranjang terus.
Sebelumnya ada dokter keluarga?
Dokter keluarga sudah pada tidak ada.
Sudah meninggal.
- Yah, kamu sebisa mungkin urus dia, ya? - Baik, Pak.
Kamu tidak apa-apa ditinggal sendiri?
Tidak apa-apa, Pak.
Kalau kamu mau izin,
kamu bilang, ya, jangan seperti yang sebelumnya.
Iya, Pak.
Oh ya, di rumah ini juga ada istri saya.
Namanya Mia.
Ni.
Kenapa?
- Santi tidak pernah masuk lagi, ya? - Iya, ya.
Aku juga sudah lama tidak melihatnya.
- Di mana dia? - Tidak tahu.
- Ega. Ada kabar dari Santi? - Ya?
Tidak ada.
Tapi katanya dia sakit semenjak keluar dari tempat kerjanya.
- Sakit? - Iya.
Sakit apa?
Kurang tahu.
Tapi itu 'kan sudah lama.
Dua minggu lalu aku cerita lewat pesan masih dibalas.
Tapi belakangan ini kalau aku kirim pesan tidak terkirim.
Rumahnya di mana?
Kurang tahu.
Ega. Tahu alamat Santi?
Kayaknya rumahnya tidak jauh dari sini.
Dia memang asli orang sini.
Kalau ada yang sakit, bilang ya, Pak.
Oke.
Satu, dua, tiga.
Dibersihkan ya, Pak.
Pak, saya bantu makan malam, ya.
Makan, ya, Pak.
Jangan gitu dong, Pak.
Bapak kalau tidak makan, tidak ada makanan yang masuk,
nanti susah sembuhnya.
Jangan diulang lagi, ya, Pak.
Halo?
Asha.
Iya?
Kasihan kenapa?
Keluarganya yang mengurus dia hanya tinggal satu.
Dia punya anak perempuan, tapi foto dewasanya tidak pernah ada.
Mungkin meninggal waktu masih kecil.
Istrinya juga sudah tidak ada.
Yah, setidaknya sekarang dia punya kamu untuk merawat dia.
Iya.
Sebentar.
Sebentar, ya.
Rama, sudah ya. Pak Ismail-nya bangun. Dah.
Ini loh.
Ayo, pulang.
- Apa? - Ayo pulang.
- Yah, kasihan. - Masa sih pulang.
Permisi.
No comments yet. Be the first to leave one.