The first 200 lines.
Pegang! Jangan sampai lepas!
Pegang!
Baca! Saya tahu kamu bisa baca ini.
Baca!
Sayang, tenang, ya.
- Sebentar lagi semuanya selesai. - Ibu!
Sayang!
Polisi!
Buka pintunya! Sekarang!
Kamu baca terus saja ini!
Ini harus dibuka sekarang.
Baca!
Tulisannya akan muncul, kan?
Mulai!
Baca!
Cepat!
Mereka yang berdiam...
di alam gaib.
- Ayah! - Lanjut baca!
- Ayah, cepat! - Lanjut.
Sambutlah kami...
Jangan berani ucapkan kata-kata itu!
Baca!
Ibu!
Polisi! Angkat tangan!
Sudah!
Linda.
Jangan terlalu capai, ya?
Sampai jam berapa kamu semalam?
Biasa, Bu Siska, jam 9 malam.
Memang itulah jam kerjaku.
Semester depan, kalau nilaimu belum ada perubahan, Ibu harus lapor ke Pak Danang.
- Ini, Pak. - Nanti kamu lembur.
Hannah izin.
Matikan ponsel.
Dilarang main ponsel di tempat kerja.
Kamu selalu pakai ponsel!
Ada apa, Ayah?
Ya?
Saya sampai malam.
Ayah jangan sampai kecapaian.
Jangan lupa minum obat.
Baik.
Sampai jumpa.
Linda.
Bilang hai.
Kau sedang apa?
Membuat live stream.
Banyak sekali yang suka.
Sudah kubilang wajahmu itu populer.
Aduh!
Berengsek! Aku tak terima.
Lihat!
Ira, anak kelas 11, adik kelas kita, pengikutnya lebih banyak dariku.
Sudah kubilang, Jess.
Kalian mau kalah dengan adik kelas?
Kita harus lebih viral.
Kau sudah bilang begitu sejak sebulan yang lalu.
- Buat video di gedung itu, kan? - Benar.
Kita buat live stream di sana, lalu jadikan viral.
Masa cuma swafoto saja? Coba bayangkan.
Sponsornya pasti banyak sekali.
Semua menghasilkan uang!
Tidak semudah itu.
Kau beruntung, tak perlu kerja seperti ini.
Apa kubilang? Kau tak mau kubantu.
Kau juga tak mau kupinjamkan uang.
Aku akan merasa tak enak.
Maaf, tadi ini jatuh.
Terima kasih, Kak.
Kau Linda, 'kan? Anak kelas 11?
Hei!
- Kak Erik, 'kan? - Panggil Erik saja.
Berapa lama bekerja di sini?
- Sebulan. - Begitu.
Kenapa, Kak? Erik?
Biasanya minuman ini ditaruh di sini, bukan di sini.
Maaf, Kak.
Aku minta maaf.
Santai saja.
Maaf sekali. Aku tak sengaja. Maaf, ya.
Aku tak seharusnya ganggu orang yang bekerja.
Ya sudah, biar aku bayar yang ini.
Kak?
Tak apa-apa. Daripada kau dimarahin manajer.
- Tetapi... - Satu lagi, jangan panggil "Kak".
- Tetapi itu bukan salah... - Tak apa, santai saja.
Apa-apaan?
Ini live! Ayo masuk!
Ini yang katanya gedung berhantu?
Keren sekali.
- Ayo kita naik. - Sabar. Tunggu aku.
Hei, akhirnya...
Keren sekali.
- Hei, kabur! - Seram, ya?
Mereka masuk ke dalam?
Jelas tidak.
Mereka bodoh, tak naik.
Kita akan lakukan berbeda.
Kita masuk, naik ke sana, lakukan live stream...
Itu pasti akan menyeramkan.
Pasti banyak yang menonton live, itu menambah pengikut.
Begitu!
Masih bahas rencanamu, Ben?
Setidaknya dapat satu orang.
- Hei, Erik! - Apa?
- Kenapa ganti baju? - Tadi terciprat.
Hei, Rik!
Ini Jumat kliwon.
Aku sudah ajak yang lain.
Kita live stream di gedung itu. Bagaimana? Kau mau?
Kau serius?
Aku juga ajak yang lain, seperti Alex. Ayo ikut!
Hei, kalian tahu siapa aku, 'kan?
Macam-macam. Berikan ponselmu.
Gigit ini!
Aku yakin Erik akan ikut kita.
Tetapi kalau Alex, lihat saja sendiri, dia bisa gila.
- Sudah. - Tunggu, Erik.
Biar kuambil dahulu.
Mereka junior. Ayolah, jangan terlalu emosional.
Kau berani melihatku.
- Jangan coba melihat-lihat! - Tenanglah.
Kau yakin Linda mau ikut?
Jess...
Linda kenal penjaga gedung itu.
Coba sogok atau beri dia jaminan supaya dia pasti ikut.
Kurasa orang akan suka yang seram.
Gedungnya juga legenda.
Cukup sering dibahas orang.
Kemarin aku dapat berita soal gedung itu.
- Ada? - Ya.
Ada anak diculik di lantai enam.
Polisi menyelamatkannya.
Ada baku tembak dan akhirnya anak itu selamat.
Tetapi aku tak tahu ini benar atau tidak.
Posting tahun 2008.
Kini gedungnya kosong.
Wah, ini pasti bakal seru! Ayo kita jalan!
- Oke? - Serius kita jalan?
Sial!
- Kau lakukan! - Pasti!
Ikut apa?
Rencana ke gedung itu.
- Yang itu? - Ya.
Aku pasti ikut! Ayo!
Lin, pikirkan dahulu ucapanku.
Mudah saja...
Kau kenal penjaga di situ, jadi...
Kami butuh bantuanmu.
Jadi aku harus berhenti kerja?
Aku bisa tamat.
Kau bisa minta izin.
Ben...
Pak Eep sudah bilang,
aku salah sekali lagi, tak akan bisa bekerja di sini.
Aku butuh pekerjaan ini.
Aku harus bagaimana?
Sekali saja, Lin.
Kau bisa minta digantikan.
Aku bisa tidak kuliah lagi.
Aku bantu.
Linda, 'kan?
Tenang saja.
Giwang ini cukup mahal.
Ini jaminanku.
Sisanya kukirimkan sepulang nanti, jadi kau tak perlu di sini lagi.
- Terima kasih, Pak. - Sama-sama.
Hati-hati, ya?
Kami sedang di apartemen blok D.
Lihat di belakangku.
Ada kawat berduri sepanjang jalan.
Seram tempatnya, aku takut.
Alex konyol.
Ini Ibu Dian...
Kenapa sibuk sekali?
Kenapa gedungnya kosong?
Pasti ada alasannya.
Seram sekali.
Begitulah.
Kita langsung masuk saja?
Hei, Rik...
ayo ikut.
Rik.
Kutunggu di sini saja.
Kita hanya iseng di sini.
Mari bersenang-senang sebentar,
sesudahnya pulang. Ya?
- Ayo cepat, Erik! - Ya!
- Erik, ayo. - Ayo.
Alex...
Beni...
Dian...
Kalian di mana?
Erik, ada apa ini?
Kenapa kita hanya berdua?
Baik, kami sudah di atas.
Lantai paling atas.
Gedungnya sudah sangat tua.
Di sini juga gelap.
No comments yet. Be the first to leave one.