Isang Gabi

Isang Gabi

Download Indonesian Subtitle

Release info

Isang Gabi 2024 WEBRip id
A Commentary by Kudalumping
Durasi: 01:30:51

Tags

webdl
Published on: 2024-08-15
Downloads: 156
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Ini tagihanmu, Pak.

Tadi di sini. Di mana dompetku?

Kami pernah mendengar sebelumnya, Pak.

Sumpah! Dompetku pasti tertinggal di taksi.

Kau bisa ikut denganku ke rumahku, jika kau mau.

Aku tidak bisa, Pak. Hanya ada kami berdua pelayan malam ini.

Bayar saja. Kau memesan cukup banyak.

Siapa bilang aku tidak mau bayar? Biar aku bicara dengan manajer.

Aku akan pergi ambil uangnya. Aku akan kembali.

Dia tidak akan mengizinkannya.

- Berapa tagihannya? - Ini, Nona.

Aku akan membayarkannya.

Punyaku juga sudah kubayar. Terima kasih.

Terima kasih.

Namaku Dindo.

Terima kasih.

Tapi tolong… jangan beri tip padanya.

Aku sering memberi tip.

Meskipun ada biaya layanan. Mereka tidak sering mendapatkan apa yang jadi haknya.

Ayahku seorang pelayan.

- Kembalianmu, Nona. - Simpan saja.

Terima kasih, Nona.

Ini kebiasaanmu?

Membantu orang asing?

Bagaimana jika mereka penipu? Atau pecandu narkoba?

- Kau tidak terlihat seperti pecandu. - Terima kasih.

Selain itu, kecanduan bukanlah pilihan. Itu penyakit.

Mereka tidak bisa mengendalikannya.

Itu kan pilihan mereka saat mencobanya.

Saat kecanduan, kenapa pilihannya hilang.

Bahkan saat mereka merugikan orang lain?

Itu sebabnya kita harus membantu mereka mendapatkan rehabilitasi.

Jika aku seorang pecandu, aku mau berteman denganmu.

Kau tahu kenapa? Aku mau berteman padamu.

Karena aku selalu mencari uang untukmu untuk beli narkoba.

Aku mau jadi penguntitmu.

Itulah risiko yang harus kuambil.

Masalahku adalah aku gampang merasa kasihan.

Misalnya, jika seorang gadis penjual bunga mendekati kita…

Belilah, Nona. Biar aku bisa pulang.

Adikku sakit. Dia belum makan.

Oke, tunggu.

Aku bisa membeli makan untuk adikku.

Terimalah. Kembaliannya juga.

Bunganya Nona! Biar aku bisa pulang melihat adikku yang sakit.

Dia belum makan.

Lihat?

Itu sebabnya semua bisnisku gagal.

Aku memberi diskon sebelum ada yang memintanya.

Dan aku orang yang paling mudah meminjamkan uang.

Di mana kau parkir? Biar kuantar kau ke mobilmu.

Aku belum mau pulang. Aku mau jalan-jalan.

Oke.

Kau tinggal di sekitar sini?

Di New Manila, agak jauh dari sini.

Aku sudah punya suami.

Belum punya anak. Kau?

Aku?

Tidak punya apa-apa.

Tidak punya apa-apa?

Tidak punya istri. Tidak punya anak. Tidak punya apa-apa.

Tidak punya istri. Tidak punya anak.

Tidak punya pekerjaan juga?

Punya. Aku mengajar di Universitas Politeknik.

Kupikir penampilanmu menunjukkan bahwa kau seorang profesor.

Tidak!

Kau mengajar apa?

Ada yang masih membaca hari ini?

Mahasiswaku harus wajib membaca. Atau mereka tidak akan mendapatkan ijazahnya.

Itu trauma kuliahku.

Profesorku memaksa kami menghafal

dua bab pertama Florante Laura.

Dikiranya aku peduli itu.

Menurutmu adakah orang yang peduli pada Florante atau Laura?

"Di dalam atau di luar negeri, negaraku yang patah hati tunduk pada pengkhianatan."

Hanya dengan kalimat itu saja,

penulisnya menangkap esensi tragedi bangsa kita dulu dan sekarang.

Lihat saja sekitarmu.

Tunggu, biar kucatat.

Ini bukan ceramah!

Aku tidak suka memberi ceramah.

Di universitas kami, saat tidak ada ruang kelas,

kami mengadakan kelas di lorong.

Aku bukan seorang pembaca, aku seorang penonton.

Dua film dalam semalam bisa kutonton.

Seringkali, aku benci bagian akhir, jadi aku memikirkan akhir alternatif.

Bagaimana jika berakhir seperti ini?

Bagaimana jika mereka berakhir bersama?

Bagaimana jika salah satu dari mereka mati?

Benar?

Aku juga suka memperhatikan orang.

Dan bertanya-tanya apa masalahnya.

Seperti aku?

Setiap orang punya masalah.

Apa masalahmu?

Kau punya penyakit tic, kau tahu itu?

Apa?

Maaf.

Mengapa minta maaf?

Oke. Bagaimana jika begini?

Hanya satu malam ini, kita saling menceritakan semuanya.

Semua harus jujur.

Jangan ada kebohongan.

Ceritakan masalahmu,

Aku akan memberitahumu masalahku.

Apa aku terlihat punya bermasalah? Selain uang, maksudku.

Setiap orang punya masalah, ingat?

Oke. Kau ada benarnya.

Kau duluan.

Aku yang punya ide. Jadi kau duluan.

Tunggu.

Tidak apa-apa. Aku mau beli dua.

Baiklah. Aku tidak punya dompet.

Terima kasih.

Terima kasih.

Ini malam terakhirku.

Kau mau meninggalkan negara ini?

Berhenti dari pekerjaanmu?

Kau mau menikah?

Aku akan menyerahkan diri.

Besok.

Pada polisi.

Mengapa? Apa kejahatanmu?

Aku tidak ingin keluar dari penjara selama bertahun-tahun.

Jadi ini adalah malam kebebasanku yang terakhir.

Apa yang kau lakukan?

Beli balonnya, Nona?

- Terima kasih. - Terima kasih.

Aku punya impian tinggal di luar negeri. Mengajar.

Sebenarnya, aku baru saja diterima di sebuah universitas di Kanada.

Aku mengirimkan tiga lamaran, hanya untuk memastikan.

Dua lainnya di New York dan Australia.

Apa maksudmu?

Kau tidak perlu menyerahkan diri.

Lagipula mereka akan menangkapku.

Pergilah ke Kanada.

Sebelum mereka menangkapmu.

Aku ingin ditangkap. Ini tidak mudah.

Kita punya kendali atas berbagai hal kan?

Orang-orang di sini.

Ada orang di sini yang punya kendali atas kehidupan orang lain?

Kuliah nomor dua.

Itu benar, kan?

Ini takdir?

Atau tangan Tuhan? Intervensi Tuhan?

Mungkin semuanya suatu kebetulan.

Kau bisa memilih berhenti mengunyah permen karet jika kau mau.

Oke. Kau benar.

Namun permen karet itu tidak punya kendali.

Kau suka permen karet?

Terkadang aku merasa seperti itu.

Saat aku masih kecil,

Aku memimpikan menikah dengan pria kaya.

Orang tuaku melahirkanku di usia lanjut.

Aku melihat mereka bekerja siang dan malam, agar aku bisa menyelesaikan pendidikan.

Aku ingin memberi mereka kehidupan yang lebih baik, jadi aku berusaha…

Begitu aku lulus,

Aku menikah dengan orang terkaya di antara semua pelamarku.

Kau anak yang baik.

Mereka meninggal lima tahun kemudian.

Ibuku menginginkan

ayunan besar di taman kami.

Tapi tempatnya kecil. Itu bukan sebuah taman.

Jadi aku membelikan mereka rumah baru.

Tidak besar, tapi dilengkapi dengan taman yang besar.

Lalu aku membuat ayunan, yang besar.

Ibuku suka duduk di sana saat dia masih hidup.

Setelah itu, ayahku mengikutinya.

Setidaknya mereka meninggal tanpa mengkhawatirkanku.

Mereka dulu khawatir dengan apa yang akan terjadi padaku jika mereka mati.

Tapi aku sudah menyelesaikannya.

Aku menikah demi uang.

Dia tampan.

Populer di kalangan wanita.

Dan benar-benar kaya.

Beruntungnya aku, kan?

Dia memberiku modal untuk memulai bisnis.

Namun semuanya gagal.

Aku bahkan mendirikan toko feng shui meskipun aku tidak mempercayainya.

Tapi itu tidak bertahan lama.

Lihat? Kau tidak bisa mengendalikannya.

Kubilang pada suamiku untuk berhenti berinvestasi padaku.

Tapi dia tidak mau berhenti.

Kukira ada orang yang memang buruk dalam berbisnis.

Dia senang melihatku sibuk dengan sesuatu yang baru.

Lagipula, kami tidak punya anak.

Itu pilihanku.

Aku tidak mau anak-anakku mewarisi depresiku.

Itu tidak adil untuk mereka.

Suamimu tidak keberatan?

Dengan depresiku?

Tidak memilih punya anak.

Dia juga tidak mau punya anak.

Mertuakulah yang kecewa.

Tidak ada orang yang akan mewarisi kekayaannya.

Setidaknya kau dan suamimu sepakat dengan itu.

Dia meninggal.

Mayatnya dikremasi kemarin.

Maafkan aku.

Mengapa kau minta maaf? Itu bukan salahmu.

Isang Gabi subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Isang Gabi

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left