The first 200 lines.
Tak perlu bawa bunga segala.
Tapi kau kan suka bunga.
- Seperti rumah ini. - Aku tahu.
Kita sudah dapatkan sutradaranya.
Lee Hye-soong yang akan jadi sutradaranya.
Benarkah? Baguslah.
Untuk aktor utamanya, bagaimana kalau Kang Joo-won?
Memang mahal tapi dia sedang ngetop sekarang.
Kenapa? Kau tak suka dia?
Kang Joo-won memang populer, dan juga tampan...
tapi sebaiknya yang berbadan tinggi.
- Tinggi? - Ya.
Jadi akan mudah dipasangkan dengan rekan aktrisnya.
Tinggi itu penting juga.
Setinggi siapa?...apa setinggi Lee Young-jae?
Bagaimana kalau Lee Young-jae saja?
Apa dia mau?
Ayo kita pergi makan.
Kau tak apa-apa sendirian dirumah sebesar itu?
Tak apa, aku sudah biasa.
- Luar biasa. - Tentu saja.
Hidup itu tidaklah mudah.
Rasanya enak, tak percuma bayar mahal.
Seperti sekarang ini, makan bersama, minum teh bersama...
...mengobrol dan tertawa bersama.
Bagaimana menurutmu?
Kalau seperti ini setiap hari?
Setiap hari?
Aku ingin sekali bertemu denganmu setiap hari.
Sebenarnya, aku mau melamarmu.
Aku...baru saja berpisah.
Aku belum bisa memutuskan...
Aku akan menunggumu.
Karena berita perceraiannya, popularitas Young-jae menurun dengan drastis.
Bahkan tak ada tawaran pekerjaan untuk dia.
Aku tak tahu harus bagaimana.
Lalu...
Bisa kau atur meeting dengannya?
Tapi dia tak di Seoul sekarang.
Dia tak di Korea?
Dia masih di Korea.
Tapi dia sedang tak ingin diganggu.
Aku ingin menawarkan kontrak kerja untuknya.
Jadi tolong beritahu dia.
Kita suruh saja Daewoo,
untuk memaksanya kembali kesini.
Memang harusnya begitu.
Anda memanggilku?
Masuklah.
Besok kau susul Young-jae.
Young-jae?
Bilang kalau aku ingin bertemu dengannya.
Tapi dia takkan mau.
- Dia pasti menolak. - Kalau begitu,
paksa saja dia kesini.
Sedang apa kau disini?
Kenapa kau jadi begini?
Kau beneran mau jadi biksu?
Ada berita apa? Sudah kubilang jangan kesini.
Aku tahu, tapi bos bilang ini penting sekali.
Sudah kubilang, aku tak mau kesana.
Kalau kau masih memaksaku, aku akan pergi ketempat lain.
Kalau sudah, pergilah.
Bukan begitu.
Kau tak mau tahu kabarnya Ji-eun?
Ji-eun sedang sakit sekarang.
Dimana? Parah?
Dia sakit...kepalanya pusing sekali...
Itu bukan urusanku lagi, kan?
Pergilah.
Kalau Ji-eun sakit, Min-hyuk tak berbuat apa-apa?
- Dia pasti mau bubur. - Bubur? Bubur apa?
- Itu karena Min-hyuk tak peduli. - Apa?
Dia terlalu melankolis.
Dia selalu melakukan semuanya, seperti pelayan saja...
Ji-eun pasti bosan karenanya.
Sekarang Ji-eun tak mau bertemu siapa-siapa.
Siapapun.
Karena itu kau harus ikut pulang denganku.
Ayo.
Hai, Ji-eun!
Kau lagi? Sudah kubilang jangan kesini.
Masuklah.
Sekarang Dong-wook sedang susah, jadi kita tak bisa beri uangnya padamu.
Dong-wook sudah lupa? Pura-pura lupa?
Bukannya begitu.
Tapi denagn kerjanya yang sekarang, uangnya cuma cukup untuk beli susu.
Jadi, bantulah kami.
Uang darimana?
Kau kan mau buat film, pasti banyak uangnya.
Skenario itu? Itu juga belum tentu jadi.
Walaupun begitu, kan masih ada Min-hyuk.
Hei, sudah kubilang jangan bicarakan itu.
Kau sudah lupakan Young-jae, kan. Tunggu apalagi?
Apa?
Kenapa bicarakan dia lagi?
Siapa yang memikirkannya?
Kau tak tahu? Dia pergi entah kemana sekarang.
Apa?
Ini sebenarnya rahasia.
Bahkan saat neneknya sakit, dia juga tak datang.
Nenek sakit?
Mereka begitu karena Young-jae menghilang.
Nenek.
Maaf.
Aku benar-benar minta maaf.
Nenek harus sembuh.
Ini semua salahku.
Nek, bangunlah.
Aku memang salah.
Halo?
Nenek sudah sembuh?
- Sudah sembuh? - Sembuh?
Menurutmu bagaimana?
Maaf.
Karenamu, hubungan Young-jae dan Ayahnya makin renggang.
Ini semua memang salahku.
Kenapa baru sekarang menangis? Hentikan.
Aku tak bisa menahannya...
Maafkan aku, Nek.
Bu, sudahlah.
Baiklah.
Kau sudah menyadari kesalahanmu?
Ya.
Perbaiki lagi hubungan Young-jae dan Ayahnya,
baru kau kumaafkan.
Pergilah.
Permisi...halo
Oh, Ji-eun. Halo.
Suruh dia minta maaf pada Ayahnya.
Kau bisa katakan itu padanya, kan?
Apa dia mau mendengarku?
Kenapa tidak kau saja yang bilang?
Temui dia dan katakan langsung padanya.
Aku tak bisa menemui dia lagi.
Kenapa?
Hmm...
Semua yang terjadi pada Young-jae itu salahku.
Salahmu? Jangan bilang begitu.
Tidak, aku memang salah.
Debu...
Mana cincinmu...
Kenapa rumah jadi kotor sekali? Cepat bersihkan.
Debunya...
Kapan kau datang?
Barusan.
Katanya sakit, kenapa kau segar begini?
Makanya aku kesini untuk mengajakmu olahraga pagi.
- Kau benar-benar keras kepala. - Apa itu penting sekarang?
Kemana saja kau selama ini?
Aku di kuil.
Belajar, dan banyak bermeditasi...
Aku merasa tenang disana.
Aku kelihatan berbeda, kan?
Kata mereka Nenek sakit, kau tak menjenguknya?
Dia tidak sakit. Dia hanya mau aku pulang ke rumah.
Jadi kau akan terus begitu dengan Ayahmu?
Jangan begitu, minta maaflah padanya.
- Itu urusanku. - Lalu kenapa kau kesini?
Kenapa aku kesini?
Ini kan rumahku.
Apa katamu?
Mulai sekarang aku tinggal disini lagi.
Buka pintunya!
Kau kenapa? Bukalah!
Tak mau juga?
- Apa yang kau lakukan? - Ini karma karena mengusirku dulu.
Kalau mengetuk lagi, awas kau!
Astaga.
Sial!
Dimana kau?
Kalau kau tak pergi juga, awas kau.
Kalau mau pergi,
kenapa tidak dari dulu saja?
setidaknya kau ucapkan selamat tinggal.
Selalu saja begini.
Bangun, Young-jae! Bangunlah!
Kau mau apalagi?
Kenapa kau bisa masuk?
Lewat dapur, lewat jendelanya. Kenapa?
Diluar dingin dan banyak nyamuk, aku tak bisa tidur disana.
Kamar ini lebih nyaman.
Tapi kamarku tak berubah sedikitpun.
Kenapa melihatku begitu? Kau mau apa?
Ada apa? Ji-eun! Kau kenapa?
Aku minta maaf, jadi berhentilah.
Cuma karena itu,
kau menangis begini?
Aku menangis bukan karena itu.
Lalu kenapa?
Aku...
kupikir kau pergi begitu saja.
- Apa? Aku tak dengar? - Oke!
- Kau boleh tidur sekarang. - Kenapa harus teriak?
Menakutiku saja.
Maaf, aku tak bilang-bilang masuk kerumah.
Sampai aku temukan rumah baru, aku ingin tinggal disini.
Boleh, kan?
Tidak.
Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.