Release info

번외수사 Team Bulldog:Off-Duty Investigation E11 200627 1080p WEB-DL H264 AAC-iQIYI
A Commentary by RuoXi
Ep. 11

Tags

Web-DL
web-dl
web
WEB-DL
1080
Published on: 2020-06-29
Downloads: 34
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 194 lines.

[ Acara ini mengandung iklan secara tersurat dan tersirat. ]

[ Semua karakter, lokasi, organisasi, dan kejadian ]

[ Pada kasus itu, sudah 22 orang dibunuh sejak tahun 2000. ]

[ Menurutmu kenapa dia biarkan Son Ji-young hidup? ]

- Pak Ham Deok-su? - Ya.

Kau pernah melihat mereka?

Tidak.

Pernahkah kau melihat para wanita ini?

Entahlah.

Ini foto dari TKP.

Dia terpotret di antara kerumunan bersama pejalan kaki lain.

- menurutmu gadis itu aman? - Apa?

Dia bisa saja beruntung sekali,

tapi belum tentu akan beruntung lagi.

Kau mengaku belum pernah melihat Na Jeong-min.

Lalu apa ini?

Gadis ini, ya?

Tak seperti penampilannya, dia sembrono merawat sepatunya.

Dasar gila...

Kau pembunuh berantai dengan pisau silet!

- Lepaskan. - Ikut aku.

Ikut aku ke kantor polisi dan mengakulah!

- Sini kau! - Lepaskan!

Wajar detektif keliru saat berusaha menangkap pelaku.

Teganya mereka menskors detektif baru

[ Akan kumaksimalkan kerjaku sebagai polisi bodoh. ]

Pak Detektif, lama tidak bertemu.

Sudah sepuluh tahun.

Sudah 10 tahun?

Ini baru sepuluh tahun. Renungkan orang-orang yang meninggal.

Duduk saja di situ dan jangan macam-macam.

Jangan ke mana-mana.

Maaf.

Terjadi kasus baru lagi setelah sepuluh tahun berlalu.

Kesaksian Son Ji-young penting untuk menangkap pelakunya.

Apakah orang ini?

Keluar. Keluar!

- Keluar! - Ji-young, tenang. Ji-young.

Ibu!

- Ibu. - Tenang saja.

Bagaimanapun juga, akan kutangkap pelakunya.

Kita tangkap dan bagi gambarnya jadi 60 gambar per detik,

perjelas gambarnya, lalu kita satukan kembali.

Sepertinya kita bisa tahu wajahnya.

Ji-young.

Ji-young.

Tidurlah. Ayolah.

Aku menemukannya.

Ibu?

Ibu.

Apa maksudmu kau tak punya komplotan?

Maksudmu pembunuh Park Jae-min

dua orang?

Jadi, mereka berkomplot?

Aku malas makan jjamppong.

Sepertinya dia tak suka jjamppong.

- Ya. - Astaga.

- Dapat. - Apa?

- 14J 9113. - 14...

Dan di sini.

Apa?

Ini

Ham Deok-su.

Ya, Detektif Choi.

Apa?

Permisi.

- Ada apa? - Mundur.

Hei, minggir.

Sial.

Apa dia...

Ya. Dia Son Ji-young.

Satu-satunya korban selamat

dari kasus Pisau Silet.

Dia dibunuh sepuluh tahun usai dilepaskan pelakunya?

Tepat di depan kantor kita?

Dia tak dibunuh di sini.

Son Ji-young tinggal di Jangyeon-gu.

Pelaku sengaja membuang jasadnya di sini.

Sengaja?

- Benar. Kenapa? - Karena aku menyelidiki kasusnya.

Ini mungkin peringatan untukku.

- Dia pasti ibunya. - Berhenti, Bu.

Ada apa ini?

- Astaga. - Kejinya.

Lepaskan aku.

Putriku.

Bu, tolong tenanglah.

- Tenang, Bu. - Putriku!

- Tenang... - Tidak!

Tidak. Bangun, Ji-young.

Ji-young, bangunlah...

Tidak! Bangunlah!

Bangunlah. Ji-young!

Padahal kami sudah susah payah bertahan!

Kami susah payah melaluinya!

Kami sudah susah payah bertahan!

Andai kau tak mencarinya lagi,

putriku tidak akan mati!

Maaf. Ini di luar dugaanku. Maafkan aku.

- Tenang, Bu. - Kembalikan putriku.

- Bu, tenanglah. - Putriku!

Kembalikan putriku!

- Bu, tenanglah. - Astaga!

Putriku!

- Putriku! Kembalikan dia! - Bu, kumohon.

Astaga, putriku!

Permisi.

Aku yakin itu dia.

Siapa?

Sudah masukkan mobil yang terekam kamera ke daftar pencarian barang?

Sudah.

Sistem pencari menemukan mobilnya.

Baru saja beranjak dari Persimpangan Pyeongji

ke Sinwoo-dong.

- Ayo. - Baiklah.

Belok kiri di sana.

- Belok kanan. - "Kanan"?

Ya.

Berhenti 200 meter di depan.

Seharusnya di sekitar sini.

Lihat! Ham Deok-su!

Apa?

Gawat.

Celaka.

Celaka...

Celaka.

- Sial. Ham Deok-su sialan! - Sakit!

Sakit!

Noda darah di kantung plastiknya milik dua orang.

Satu milik Son Ji-young, si korban.

Satu lagi, yang ini.

"Park Jae-min"?

Itu darah Jae-min?

Benarkah pelakunya Pembunuh Berantai Pisau Silet?

Kalian mau apa?

Sudah tertarik untuk diwawancarai?

Kau serius melakukan ini

hanya demi rating?

Lebih baik dari aksi gilamu demi membunuh orang.

Kau harus menepati janjimu.

Aku menepati janjiku dan meralat pernyataan kami.

Jadi, beri tahu aku identitas pembunuh Park Jae-min.

Sutradara Kang.

Jika dia enggan kooperatif,

patahkan saja salah satu bahunya.

Jangan, siksaan lain saja.

Cungkil kedua matanya.

- Apa? - Astaga.

Pembunuh Berantai, barusan kau merinding, ya?

Kau takut, ya?

Omong kosong.

Aku tak akan buka mulut meski disiksa.

Biasanya yang bilang begitu akan mengompol dalam 10 menit.

Jangan, jangan di sini.

Kalau begitu, aku akan membeli popok dewasa.

Apa sepuluh popok cukup? Ukuran XL...

Tidak jadi. Ukuran kecil saja.

Ayolah. Kekerasan bukan solusi.

Mari tenang dan bersikap rasional.

Bebaskan aku dahulu.

Astaga, ada barang bukti bisa bicara.

Jangan bercanda, Sutradara Kang.

Akulah yang butuh popok dewasa.

Sesuatu yang bau dan besar akan keluar.

Jangan di sini!

Kalau begitu, bantu aku.

- Aku sungguh harus buang air. - Bantu apa?

- Aku disuruh membantumu... - Tunggu sebentar.

Hei, ada apa?

Apa? Kau serius?

Menurut berita,

terjadi kasus Pembunuhan Pisau Silet lagi.

Padahal sudah sepuluh tahun tidak terjadi.

Sutradara Kang.

Sepertinya dia tetap tak akan buka mulut.

Kita serahkan saja pada polisi.

Meski dia bocorkan identitasnya,

kita tak punya bukti.

Apalagi, ini penahanan yang melanggar hukum.

Aku bicara begini bukan karena ingin ke toilet.

Kalau begitu, haruskah kita menelepon Detektif Jin?

Jangan.

Lebih baik usahaku sia-sia

daripada kuserahkan ke polisi payah.

Lalu apa rencanamu?

Begini saja.

- Hei, cepat laporkan. - Baiklah.

Kami bersemangat dan gigih.

Dengan ilmu forensik canggih yang menyaingi negara maju,

kami tuntaskan dua kasus terbesar.

Kami menangkap Pembunuh Berantai Pisau Silet

dan Pembunuh Ruang Tertutup

dalam satu hari. Itu kemenangan bagi kami.

Karena bukti konklusif sudah di tangan,

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left