The first 162 lines.
Aku merasa ada jarak antara aku dan Reina Aharen...
yang duduk di sebelahku.
Anak-anak, selamat atas diterimanya kalian di sekolah ini.
Saya Miyahira, wali kelas kalian.
Ibu mengajar pelajaran olahraga.
Mohon kerja samanya.
Kalau begitu, mari kita berkenalan dulu.
Namaku Raido.
Salam kenal.
Saking gugupnya, suaraku jadi tertahan.
Aku akan berubah di sekolah ini.
Tampang tidak ramahku ini ditakuti
sehingga zaman SMP-ku tak berjalan mulus.
- Selanjutnya. - Aku tidak mau begitu lagi.
Untuk itu, sebagai langkah pertama...
akan kusapa orang di sebelahku.
Pertama, aku harus tahu namanya dari sesi perkenalan.
Aku melewatkan sesi perkenalannya?
Baiklah.
Aharen, selamat pagi.
Aku duduk di sebelahmu. Salam kenal.
Dia... mengabaikanku?
Oh, ya.
Dia takut dengan wajahku.
Bukankah aku sudah berlatih?
Senyum, senyum.
Senyum.
Sip.
Aharen, cuacanya bagus, ya.
Enggak mempan juga?
Aku tak boleh menyerah!
Langkah pertama ini...
akan menentukan kehidupan SMA-ku yang spektakuler!
Di sini, halaman sekolahnya luas, ya.
Katanya roti di sini enak, lo.
Bingung harus pilih ekskul apa, ya.
Kenapa dia enggak menjawab satu pun?
Enggak boleh putus asa.
Aku tidak peduli lagi dengan debutku di SMA.
Aku sudah puas asal dia merespons sekali saja.
Ujung-ujungnya, gagal semua.
Pulang, ah.
Dah, Aharen.
Sampai jumpa besok.
Ah!
Perasaanku saja?
Sudah kuduga, ada jarak di antara kami.
Dia terlihat sangat jauh.
Padahal kami sebelahan.
Tubuhnya Aharen juga mungil, sih.
Aku jadi sulit memperkirakan jarak di antara kami.
Apa dia membenciku?
Penghapusmu jatuh, nih.
Sudah kuduga, tak ada jawaban lagi.
Pelajarannya cukup untuk hari ini.
- Jangan lupa kerjakan PR kalian. - Pelajaran selanjutnya itu...
A-Ada apa?
Ada perlu denganku?
Apa kamu bilang sesua—
Dia bilang sesuatu.
Padahal sedekat ini, tapi suaranya tak terdengar!
Jangan-jangan...
dia juga membalas perkataanku waktu itu?
Tapi, ini terlalu dekat, 'kan?
Eh? Kamu lupa bawa buku paket?
Rumus yang mewakili jumlah monomial disebut polinomial.
Lalu, setiap monomialnya disebut suku polinomial.
Apa yang dia pikirkan?
Rumus integral adalah...
- Ya, sudah, lah. - kombinasi monomial dan polinomial.
Wajah maupun tangannya mungil banget.
Kayak boneka.
Makanya, ini terlalu dekat.
Kenapa? Masih ada perlu?
Dia ingin makan bekal bersama, ya.
Lalu, dia dekat amat.
Apa bekalnya enggak kebesaran?
Eh?
Bekalmu terlihat enak, ya.
Dia mau menyuapiku?
Enggak usah.
Baiklah.
Akan kumakan. Hentikan.
Dia makan semuanya.
Kecil-kecil porsi makannya besar.
Dia juga ingin pulang bareng.
Hm?
Ini tempat yang ingin kamu kunjungi?
Foto stiker?
Selanjutnya apa?
Karaoke?
Mikrofon tak bisa menangkap suaranya.
Kenapa dia tiba-tiba jadi sok akrab begini?
Aharen, selamat pagi.
Kalau aku yang menyapa, dia mengabaikanku.
Jarak dengannya sangat sulit diperkirakan.
Kemarin cuma kebetulan dia lagi ingin main saja?
Enggak masalah, sih.
Kami hanya kembali ke hubungan kami yang biasanya.
Lalu...
Kamu lupa bawa buku paket, 'kan? Mau lihat bareng?
Tapi, nanti aku merepotkanmu lagi.
Aku enggak keberatan, kok.
Aku...
Hm?
Dari dulu, aku tidak bisa memperkirakan jarak...
saat berinteraksi dengan orang lain.
Saat kupikir kami sudah cukup dekat,
aku langsung sok akrab dengan mereka.
Lalu, mereka jadi enggak suka dan menjauhiku.
Aku bertekad enggak bakal melakukannya lagi saat SMA.
Aku sudah berhati-hati,
tapi kemarin kamu, Raido...
mengambil penghapusku yang terjatuh dan mengajakku bicara.
Aku jadi sangat senang.
Tapi begitu pulang, aku tersadar kalau aku melakukan hal yang sama lagi.
Maafkan aku.
Aku takkan mengganggu—
Aku enggak terganggu, kok.
Kalau cuma sedikit, aku enggak keberatan.
Terima kasih...
Baiklah, tolong lepaskan aku.
Pe-Pelajarannya mau mulai.
Iya.
Baik, halaman selanjutnya.
- Zaman tanpa catatan tertulis... - Dia makin lengket, ya.
disebut zaman prasejarah, kebalikan dari zaman sejarah.
Aharen.
Benar-benar orang yang sulit diperkirakan.
Dalam banyak arti.
Eh?
Aharen?
Ada apa? Kok tiba-tiba.
"Aku memanggilmu berkali-kali, tapi kamu enggak sadar"?
Maaf.
Eh? Apa katamu?
Karena suaranya kecil, aku sering tidak bisa mendengarnya.
Enggak praktis, ya.
Apa ada suatu cara?
Memahami ucapan melalui gerakan bibir.
Kalau aku menguasainya,
kami akan bisa berkomunikasi tanpa memedulikan volume suara.
Maka dari itu...
Wahai adikku, jadilah kelinci percobaanku.
Eh? Merepotkan saja.
Ya, sudah, aku mulai.
Kakak bodoh.
Makam kakek?
Cumi, gurita, tentakel. Orang tidak ramah.
Pergi ke danau Hamana? Kerja 6 hari tanpa libur?
Pagi.
Oleh karena itu,
aku berhasil menguasai teknik membaca gerak bibir, lo.
Coba bicara, deh.
Oke.
Bibirnya hampir enggak bergerak sama sekali.
Apa ada cara lain?
Ah!
Ini dia!
Kalau mau bicara, tulislah di secarik kertas, dan lemparkan padaku.
Oke.
Mantap. Lanjutkan, Aharen.
No comments yet. Be the first to leave one.