The first 200 lines.
Wow Dimple!
Wow apa? Belahannya tak kelihatan sama sekali.
Harus menonjol agar terlihat belahannya.
Rawatlah buah lemon kalian, bisa saja lenyap.
Lihat, Preeti sudah disini, setidaknya kenakan blusmu.
Lagakmu seperti bos menyuruh di rumahku sendiri.
Pakai saja!
Aku siap, teman-teman!
Kau selalu buat kami terlambat.
Minggir, ponselku bunyi.
Sunny!
Kau pasti akan bilang "Aku cinta padamu" ratusan kali, jika kau melihatku hari ini.
Aku terlihat sangat seksi.
Puchki yang menunda kami!
Kau sudah tiba? Kami baru mau berangkat.
Ayo berangkat.
Sunny sudah lama menungguku, ingin bertemu.
Ayo! - Kau duluan.
Ibu, sampai nanti.
Ponsel sudah kamu bawa?
Aku telpon, Ibu..
Sudahlah, biar Ibu saja yang telpon.
Dengar! Boleh pergi ke acara Ladies Night ,
tapi langsung pulang sebelum jam 12 malam Kalau tidak, Ayah-mu takkan mau membukakan pintu.
Sampai jumpa! - Sampai jumpa!
- Sampai jumpa Bibi! - Dah, kalian!
Bantu aku, teman!
Ayo, cepat!
Hai, Sunny! - Cepat!
Bagus juga motormu, Sunny.
Pegang ini!
Kalau kau terbebas dari Dimple,
kami mau juga dong, ikut numpang.
Memangnya taksi, beri tumpangan semua orang?
Cari sendiri pengendara motormu!
Kalau Ibu-ku telpon, bilang saja aku sama Preeti,
jangan seperti yang terakhir kau bilang aku
tak enak badan, dan Ayah menyusulku dengan Ambulans.
Ya, Bu!
Tunggui aku di ruang perjamuan.
Jangan tegang! - Baik, sampai nanti.
Dah!
Dah!
Lepaskan helm-mu. - Sudahlah, kita terlambat.
Sampai ketemu, Sunny!
Ada apa di diskotek dan klub? Disco teh club-shub main ki kara.
Tak ada apa pun di Bar dan Pub. Bar ya pub-shub main ki kara.
Ada apa di diskotek dan klub? Disco teh club-shub main ki kara.
Tak ada apa pun di Bar dan Pub. Bar ya pub-shub main ki kara.
Kuingin ke suatu tempat. Addaa toh sada hai wahaan..
Disanalah setumpuk kegembiraanku berada. Hoga re hoga re jahaan, my jigar da tukda haye..
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Kaulah kasihku yang cantik menawan. You are my sona-sona mukhda haaye..
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Kafe dan Starbucks, itu membosankan. Cafe teh Starbuck main ki kara..
Limosin dan truk, itu tak asyik. Limo miley ya truck main ki kara oye.
Kafe dan Starbucks, itu membosankan. Cafe teh Starbuck main ki kara..
Limosin dan truk, itu tak asyik. Limo miley ya truck main ki kara oye.
Kuingin ke suatu tempat. Saanu teh jaana hai wahaan..
Disanalah kau akan berada. Hoga re hoga re jahaan..
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Kaulah kasihku yang rupawan. You are my sona-sona mukhda haaye..
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Tiap hari kurindu padamu. Miss kar da main tenu..
Tapi kau abaikan aku segala cara. Ditch kardi tu mainu..
Itu menyebalkan, Sayang. Khudgarji teri hai baby haan.
Tiap hari kurindu padamu. Miss kar da main tenu..
Tapi kau abaikan aku segala cara. Ditch kardi tu mainu..
Itu menyebalkan, Sayang. Khudgarji teri hai baby.
Kau buat rencana, lalu kau abaikan. Yun karke bahana aashiq ko latkaana.
Itu tak adil, sungguh tak adil. Not fair, not fair, hai ji..
Oh, lihatlah dirimu, begitu imut. Lagta hai cute tu bada..
Apalagi saat kau pusing tujuh keliling. Gaata hai jab dukhda.
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Kaulah kasihku yang rupawan. You are my sona-sona mukhda haaye..
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Oh, wajah Punjabi-mu yang manis dan seksi. Gore se chitte se Punjabi chehre pe..
Manisnya main mata dengan tatapan Gucci-mu. Gucci ka chasma tera.
Oh, wajah Punjabi-mu yang manis dan seksi. Gore se chitte se Punjabi chehre pe..
Manisnya main mata dengan tatapan Gucci-mu. Gucci ka chasma tera.
Seperti segelas besar Lassi dengan rasa.. Jaise ke lassi ke glass mein..
..se-sloki vodka, ayo minum, minum! Vodka shot shot shot shot tapaka.
Mendengar semua pujianmu.. Tarifein sunn ke teri..
Ego-ku terpacu deras. Munda yeh haaye bigda.
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Kaulah kasihku yang cantik menawan. You are my sona-sona mukhda haaye..
Setumpuk kegembiraanku. My jigar da tukda.
Halo, Paman! - Sudah kubilang berkali-kali padanya.
Paman, ini berat sekali.
Biar kubaringkan dia dulu,
kemudian Paman bisa memarahiku.
Kurasa ia baru bisa jawab pertanyaan Paman esok pagi.
Kau siapa?
Sunny.
Pacarnya.
Aku pelatih kebugaran di Powerhouse Gym . Cabang GK.
Kami bertemu di sana.
Lebih baik langsung ke lantai atas?
Bibi.
Kau seorang binaragawan, bukan?
Jadi sang Binaragawan, kini coba katakan. Apa yang telah kau perbuat pada putriku?
Kalau aku telah berbuat sesuatu, tak mungkin aku kembalikan dia dalam keadaan selamat.
Di sini, bisa-bisa aku dibunuh dan dipanggang dalam oven.
Aku sangat menghormati Anda, Pak.
Dimple banyak bercerita tentang Anda.
Lelaki mandiri...
Mengawali dari sebuah bengkel...
...dan membangun sebegitu besar kerajaan properti, itu bukan main.
Aku hendak menemui Anda sendiri, tapi bukan begini.
Bersama dengan sebuah presentasi tentang rencana jaringan Gimnasium ke seantero India.
Namun bukan saat ini, Anda pasti lelah.
Nanti akan kubuat janji pertemuan dengan Anda.
Aku pacar putri Anda.
Aku takkan berbuat macam-macam padanya.
Percayalah padaku.
Mobil sebaiknya kuparkir ke dalam?
Bagaimana kau pulang?
Bus, kendaraan, aku akan naik apa saja. Motorku ada di pusat kebugaran.
Bawa saja mobilnya dan kembali esok pagi...
..tapi jangan ada goresan apa pun di mobil.
Aku takkan membuatnya tergores.
Entah itu, mobil ataupun putri Anda.
Selamat malam Pak, Bibi...
Selamat malam, Nak.
Sampai kusikat 4 kali agar bau vodkanya hilang.
Bagaimana kalau Ayah memergokiku? Dan kau?
Memberontak tampaknya berkesan baik,
tapi juga membuatku mirip orang bodoh.
Kau tak bisa mencegah, waktu kutenggak se-sloki?
Ada apa? Kenapa kita berhenti?
Aku mesti turun?
Kau mau apa, Sunny?
Kau mau kemana Sunny?
Dasar pembunuh!
Membunuh orangtuaku!
Kau akan membusuk di rumah ini!
Kenapa kau lempar batu?
Brengsek, kau pecahkan semua kaca jendela!
Tutup mulutmu, sundal!
Netarpal! Netarpal! - Siap, Rawat!
Tangkap dia! Jangan sampai lepas!
Lari, Sunny! Kabur!
Nyalakan motornya.
Jalan, ayo jalan. Kebut!
Berhenti! Mau kabur kemana?
Maaf.
Sunny, ceritakan seluruhnya padaku.
Bobotmu pasti berkurang 3 kg, Kau layak mendapat coklat.
Aku pergi saja.
Dengar dulu!
Kau sendiri punya banyak masalah.
Untuk apa mau dengar masalahku pula?
Kau panggil aku pacar!
Kau pun tak bisa berbagi masalah dengan pacarmu?
Rumah tadi milikku.
Rumahmu?
Kakekku yang membangunnya.
Ayahku lahir di sana...
Saat kakekku dipindah, ia sewakan rumah itu.
Dan ketika ia kembali, ibu yang tadi..
Bajingan itu tak mau meninggalkan rumah itu.
Kakekku memperkarakan kasus itu.
Berjuang demi kasus itu, ia yang pertama meninggal.
Kemudian ayah, lalu ibuku.
Berikut dengan seluruh saldo tabungan di bank.
Setelah 3 kematian, Pengadilan memutuskan mendukung para penyewa itu.
Atas dasar UU Pengaturan Sewa tahun 1947.
Kini mereka cuma membayar sewa Rs. 1.500 untuk rumah sebesar itu.
ementara kubayar pajak bangunan, Rs. 60 ribu per tahun.
Bila tak kubayar, ada surat perintah untuk menahanku.
Maaf, aku tak bermaksud mengeluh.
Kepedihanmu, kepedihanku juga.
Tidak, kau lebih manis bila tertawa.
Jangan libatkan diri dalam air mataku.
Kita semua akan tertawa bersama
dan membuat bajingan itu menangis.
Caranya?
Selamat malam, Bu Dimple.
Papa, tolong aku, ada krisis besar.
Dimple? Pak Kamal ada disini.
Paman, tolong kau bisa keluar dulu?
Pak Chaddha, omong kosong apa ini?
2 menit saja, tolong.
Enak saja, omong kosong! Aku Dimple Chaddha.
Toko ini dinamai aku.
Kuminta dengan sopan agar kau tunggu diluar.
Begitu selesai, silakan teruskan pertemuanmu.
Paham? Senang? Keluar!
Ayah, bantu kami.
Kami? Maksudnya?
Aku dan Sunny. Kami.
Mengembalikan rumah vila Sunny.
Sunny punya rumah vila?
Ya, di Jalan Barakhamba.
Sunny punya rumah vila di Jalan Barakhamba?
Where do you think you are entering?
Apa-apaan kalian masuk?
Usir keluar!
Rasakan ini, hancurkan, ayo!
Paman, aku bisa melihat ke dalam?
No comments yet. Be the first to leave one.