The first 200 lines.
Aku sudah berusaha mencari waktu yang tepat.
Karena ini hari yang menyenangkan,
aku mengumpulkan keberanian.
Ini indah.
Cincin ini menandakan
keberadaanku untukmu.
Mari kita menikah.
Ini aku melamarmu.
Aku merindukanmu, Sayang.
Kau sedang apa dengan semua lilin menyala ini?
Kau kekanak-kanakan sekali.
Oh Heeeun.
Berani sekali kau datang ke sini.
Ini persis seperti ruang belajar kita
saat kita baru menikah.
Siapa kau?
Aku tunangannya.
Dia pasti sudah melamarmu.
Maaf mengganggu.
Pergi sekarang juga.
Ayah.
Aku yang mengundangnya ke sini.
Jangan perlakukan dia seperti tamu tak diundang.
Apa dia wanita yang dikencani ayahmu?
Atau dia
diundang kemari
agar ayahmu bisa latihan melamar?
Pergi sebelum kulaporkan atas masuk tanpa izin.
Aku lebih suka kau menjaga ucapanmu denganku.
Kami saling mencintai.
Kau ibu Jihye
dan menjadi ibunya memang posisimu.
Kau berani dan menurutku itu memesona.
Aku melihat diriku di dalam dirimu.
Bu Oh, ini peringatan terakhirku.
Ayah!
Baiklah, Sayang.
Sampai jumpa.
Maaf atas ketidaknyamanannya.
Astaga.
Astaga.
Tidak mungkin.
Itu jauh lebih murah dari cincinku dulu.
Heeeun!
Maaf soal itu.
Jantungku berdebar memikirkan mantan suamiku
masih belum bisa melupakanku.
Aku tidak bisa angkat kaki, tapi aku akan keluar.
Aku kesepian di kamar hotel, udaranya kering.
Aku datang karena ingin tinggal bersama putriku.
Kuharap kau mengerti, Sayang.
Kau bukan orang yang bisa diajak bicara.
Ayah!
Seumur hidup aku merindukan Ibu.
Meskipun aku ingin bertemu dengannya,
aku tidak bisa mengatakan apa pun
karena aku mengkhawatirkan reaksi Ayah.
Aku senang akhirnya dia ada dalam hidupku lagi.
Kita bertiga akan lebih bahagia sebagai keluarga.
Jihye, anak dan orang tua harus menghargai.
Jika kau bersikap seperti ini,
pilihannya hanya mengabaikan keinginanmu.
Nona Sorim.
Kau tahu betapa aku menyukaimu.
Ayo kembali seperti saat pertama kita bertemu.
Mari berhenti saling menyakiti!
Jihye, jangan.
Kau tahu betapa ayahmu menyayangimu.
Aku yakin dia akan menerima permintaanmu.
Maaf, Nona Sorim.
Dia bahkan tidak layak dihadapi.
Kita harus pergi.
Maafkan aku.
Tidak perlu.
Aku merasa kasihan, itu saja.
Kasihan kau berakhir dengan orang seperti dia.
Aku juga tahu
betapa sulitnya bagimu
membesarkan putrimu sendirian.
Kenapa kau mengasihaniku,
padahal jalanku membawaku kepadamu?
Aku sungguh minta maaf atas kejadian hari ini.
Pantas Profesor Jang masih minta maaf soal ini.
Apa Hyeonjeong memberitahumu?
Ya.
Sepertinya Jihye ingin bersama ibunya.
Saat mereka menghabiskan waktu bersama,
dia akan menyadari ibunya tidak mencintainya.
Tetap saja,
aku khawatir itu akan menghancurkan hati Jihye.
Bertahanlah.
Tentu saja.
Kau melatihku cara mengencangkan otot inti.
Jangan pulang malam ini.
Tetaplah bersamaku.
Tidak.
Kau kuantar pulang dan aku pergi ke kantor.
Apa itu Jihye?
Bukan, ini dari nomor tidak dikenal.
Mungkinkah mantan istrimu mampir ke kantor?
Aku meragukannya.
Tunggu.
Seseorang mengirimiku pesan.
Sorim meninggalkan ponselnya di rumahku.
Kau bersamanya?
Tunggu.
Aku senang kalian masih bersama.
Aku tidak tahu aku meninggalkannya.
Di mana Sangjun?
Dia kelelahan.
Taeju,
bisakah kami bermalam di sini?
Apa?
Tapi...
Apa ada masalah?
Tidak, kami hanya tidak ingin berpisah malam ini.
Mau kukosongkan kamar tamu untukmu?
Tidak, ruang tamu saja.
Kita akan bermalam di sini bersama.
Maaf soal ini.
Tolong jangan minta maaf.
Apa aku membangunkanmu?
Apa?
Tidak, aku haus.
Sangjun, tunggu.
Sorim dan CEO Shin ada di ruang tamu.
Apa?
Bukankah mereka sudah pergi?
Apa itu mimpiku?
Tidak, mereka kembali.
Kenapa?
Entahlah.
Mereka ingin tidur di ruang tamu kita malam ini.
Mungkinkah terjadi sesuatu?
Entahlah.
Mereka kembali
untuk mengambil ponsel yang ditinggalkan Sorim.
Tapi kurasa terjadi sesuatu.
Kenapa lagi mereka ingin menginap di sini?
CEO Shin sepertinya pria yang baik,
tapi aku tidak setuju dia memiliki putri.
Aku setuju,
tapi aku juga putri tiri ayahku, ingat?
Maaf soal itu. Bukan itu maksudku.
Apa putrinya menentang hubungan mereka?
Apa dia masih pelajar?
Tidak, dia salah satu rekan kerja Sorim.
Begitu rupanya.
Apa dia sudah menikah?
Tidak. / - Apa dia berkencan?
Kudengar mereka baru saja putus.
Aku harus menginterogasi Sorim.
Kau bersikap seperti anak sulung lagi.
Biarkan adikmu mengurus hidupnya sendiri.
Aku mencemaskannya.
Omong-omong,
kenapa kau tidak menawarkan kamar tamu kita?
Mereka bilang belum sampai tahap itu.
Baiklah.
Hei, Sangjun.
Hei. / - Diam.
Aku akan memasak sarapan untuk mereka.
Untuk apa?
Aku menikahi putri sulung.
Aku harus melakukan tugasku.
Biarkan mereka tidur dengan tenang.
Tunggu.
Jihye. / - Ya, Ibu?
Kemarilah.
Biarkan aku memelukmu.
Maafkan aku.
Ibu menangis?
Aku sudah
banyak berbuat salah kepadamu dan ayahmu.
Maafkan aku.
Ibu.
Aku masih muda dan belum dewasa
sampai menyakiti ayahmu.
Sekarang aku ingin dimaafkan
dan hidup bahagia.
Mari kita lakukan itu.
Jangan menangis.
Kau harus menjadi
putri yang baik bagi ayahmu.
Pasti. Jangan menangis, Ibu.
Maafkan aku.
Ayo tidur.
Aku akan tidur di kamar tamu sebelah.
Ibu tidur di sini.
Tidurlah di sini bersamaku.
Akan menjadi sempit. Ibu yakin?
Ya.
Baiklah.
Ayo tidur.
Obat apa itu?
Ini untuk membantuku mencerna.
Sepertinya bukan obat itu.
Ada apa dengan Ibu?
Jantungku sakit.
Ayo tidur.
No comments yet. Be the first to leave one.