The first 200 lines.
Di satu sisi aku sedang mencoba menggambarkan
beberapa hal yang menyangkut gambaran besarnya.
Bagaimana mengutarakan ceritamu secara estetik.
Dan bahkan sebelum itu, jenis ceritamu, kau tahu?
Putar, kamera.
Aku berpikir tentang
bagaimana kita membuat semacam film dokumenter.
Dan kegelisahanku saat ini, menggiringku pada pertanyaan:
Apakah ini tentang diriku, atau apakah ini oleh diriku?
Dan kau bahkan tak melihatku sedang membuat drawing , 'kan?
Tidak. Kita hanya melihat setengah dari bagian atas kepalamu.
Jadi kau bisa berakting dengan matamu.
Ketika aku mendesain pengalaman dari penonton,
tentu saja aku ingin segera menemukan gambaran secepat mungkin.
Sebab kita tak ingin menyia-nyiakannya.
Dan jika itu tentang diriku,
itu sedikit, hanyalah upaya keras sejauh mana kau mampu membuatku menguak
dan sejauh mana aku mampu menguak hal-hal yang tak ingin aku kuak.
Tapi, pada akhirnya, ini bukan tentang diriku.
Menjadi seorang seniman.
Menjadi seorang seniman.
Aku hendak bilang bahwa yang terjadi antara jam 9 dan 6
adalah tentang kerja.
Sering kali aku bekerja sendirian.
Jadi aku duduk di sisi mejaku dan aku menggambar dan mendesain.
Jadi disitulah diriku,
dan itulah diriku dan peralatan gambarku dan komputerku dan mesin pembuat kopiku,
jadi itulah aku, aku, aku.
Aku ini tergila-gila dengan kontrol yang selalu suka duduk-duduk
dan muncul dengan formula sempurna untuk menciptakan karya seni.
Tapi bukan begitu caranya.
Ada realisasi sedikit yang menyakitkan,
sebab, pada akhirnya, ini hal yang benar-benar, mengarah ke derajat yang sangat tinggi,
menatap kertas kosong.
Dan aku harus mempercayai terjadinya semacam momen gila.
Aku akan bilang bahwa abstraksi barangkali, bagiku, adalah konsep seni paling penting.
Saat kau bilang, "Oh, aku hanya menggambar kotak sederhana,
sebab aku suka dengan hal-hal yang tidak berharga."
Tapi ini adalah ide, seperti, aku mulai dengan ribuan pemikiran yang berbeda-beda
dan lalu aku, satu per satu, membuang semuanya,
hingga, pada akhirnya, aku punya satu atau dua atau tiga
yang paling esensial dari seluruh pertanyaan itu.
Namun abstraksi, bagiku,
adalah ide menyingkirkan segala yang tidak esensial untuk membuat satu keputusan.
Di sini, ini disebut Bentuk yang Bagus atau Wujud yang Bagus .
Jadi aku mengambil bentuk setrika dan mulai mengotak-atiknya.
Laki-laki, perempuan,
kamar mandi, orang kuat, bangunan reaktor nuklir,
koboi dan indian,
segala jenis olah raga.
Jadi apa yang diajarkan para guru kepadamu?
Aku punya guru, yang sangat, sangat susah, Heinz Edelmann,
yang pernah mengerjakan Yellow Submarine, The Beatles' movie,
dan mengerjakan karya poster dan buku-buku yang hebat.
Desainer yang fantastis, tapi bisa dibilang dia tidak mengajar dengan cara memberi dukungan.
Sanjungan tertinggi yang bisa kau harapkan adalah,
"Oh, tak masalah dengan itu."
Itu seperti, "Ya!"
Saat aku besar di Jerman Baratdaya, aku selalu membuat drawing.
Segalanya selalu tentang berkarya dan proporsi yang benar.
Menggambar itu sangat dinamis.
Dan itulah tujuan akhirnya.
Untuk sampai ke sana, untuk ini, seperti, hiperrealis, lukisan yang hebat.
Dan dengan perasaan seperti itu aku kuliah di sekolah seni.
Tapi guru yang kuhadapi di sekolah seni itu, Tn. Edelmann,
dengan terang-terangan dia benar-benar tak suka dengan apa yang kulakukan.
Jadi aku menggambar ratusan sket hanya dia tas selembar kertas ukuran huruf,
dan setiap minggu, dia masuk dan melewatinya
dan pada dasarnya bilang, "Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak."
"Oh, yang satu ini bagus!"
Sebab inilah yang kita lakukan di sekolah.
Ambillah topik, misalnya hidung merah seorang badut,
dan lalu remaslah hidung itu.
Pokoknya lakukan beberapa variasi.
Akhirnya, aku menyadari bahwa ini bukan tentang sesuatu yang sangat sederhana
seperti sebuah kotak hitam atau, seperti, satu garis.
Tapi setiap ide memerlukan informasi yang sangat spesifik.
Kadang kala butuh banyak: banyak detail, banyak realisme.
Kadang ini benar-benar hanya sebuah garis. Satu piksel.
Tapi setiap ide punya satu momen dalam suatu skala.
Jadi, misalkan kau ingin mengilustrasikan ide sebuah jantung sebagai simbol cinta.
Saat kau mengilustrasikannya, sebagai hanya, seperti, sebuah kotak merah,
Yang itu adalah abstraksi paling umum dari sebuah hati,
tak seorang pun tahu apa yang kau bicarakan, jadi itu benar-benar menjadi flat.
Ketika kau menggambarkannya secara realistik
dan menggambar jantung yang sebenarnya terbuat dari daging dan darah dan berdenyut,
hal itu begitu menjijikkan
itu adalah hal yang paling dihindari orang yang ingin bicara tentang cinta.
Dan diantara bentuk abstrak kotak merah
dan bentuk nyatanya, semacam jantung hasil penjagalan,
ada bentuk grafis yang terlihat seperti itu, dan terlihat seperti itu,
Dan itu hal yang tepat untuk mentransportasikan ide simbol cinta.
Sampul-sampul New Yorker adalah ilustrasi yang sangat penting, aku pikir.
Sekali kau melihat sampul The New Yorker ,
kau melihat sejarah, kau melihat sang seniman,
kau melihat, yang paling penting, aku rasa, pengaruh kebudayaan.
Ini adalah... Pertama kalinya.
Tanggal berapa?
9 Juli 2001, di hari aku menikah.
Yang membuatnya sangat fantastis.
Yang aku suka adalah apa yang mereka tata di majalah ini.
Tak ada headline.
Bahkan tak ada berita.
Ini terbitan 4 Juli 2001. Ini tentang perisai misil.
Para jendral Dr. Strangelovia yang memulai Perang Dunia Ke-3.
Tak ada berita soal ide ini di dalam majalah itu.
Nyaris seperti panggung yang kosong dan gambar ini dipajang satu minggu.
Sampul yang ke dua sebenarnya seperti... ini.
Dan, pada derajat yang aneh, ini barangkali jadi yang paling menarik,
sebab sampul pertama The New Yorker adalah karya Eustace Tilley,
tokoh New York yang dandy dengan topi tinggi.
Dan kita bilang, "Mari kita buat ikon dari sebuah ikon."
Membuat kupu-kupu hanya dengan persegi biru, jelas tak masuk akal
kecuali kau tahu aslinya.
Aku telah membuat 22, kupikir.
Masalahnya, aku bahkan tak pernah berpikir 22.
Kau pikir dengan membuat dua atau tiga,
segalanya tiba-tiba menjadi, seperti, "Oh, itu hanya pekerjaaan yang sama."
Salah, dikarenakan itu sangat menyenangkan, tapi itu bukan berarti menjadi hal yang gampang.
Jadi ceritakan tentang sampul New Yorker yang sedang kau kerjakan.
Aku sedang mengerjakan sampul 'virtual reality' ini,
yang... ini lebih tepat disebut 'augmented reality' (kenyataan yang ditambah-tambahi).
Jadi idenya adalah majalah yang terbuka, di bagian depan dan belakang,
sekarang aku mendekatinya dengan telepon atau tabletku
dan seluruh animasi tiga dimensioanalnya muncul.
Dan kau seperti berteriak, "Tak mungkin!"
Ada banyak jenis tingkatan metafora dan gambar yang harus digarap.
Dan 3-D dan 2-D dan maju dan mundur, dan ini semacam layaknya fisik dan...
Dan aku juga tahu hal itu tak bisa kurencanakan.
Aku tak bisa hanya punya satu ide yang bisa memecahkan semua persoalan.
Aku harus memulainya dari satu titik, dan bilang "Oke, apakah ini lumayan kuat
atau lumayan fleksibel untuk hanya menuju tahap selanjutnya?"
Jadi majalah itu, secara teori, dibuka seperti ini.
Namun aku tak memandang majalah seperti itu,
kupikir tak ada yang memandang majalah seperti itu.
Jadi aku pikir, ketika aku memegang majalah, aku memandangnya seperti ini,
jadi, benar-benar memandangnya sebagai dunia luar-dalam.
Dan aku sedang berpikir,
"Apa... Terlihat seperti apa luar/dalam majalah New York itu?"
Aku menyadari bahwa di subway...
aku menghadap jendela, aku melihat orang-orang duduk di sana
dan seluruh subway menjadi...
Yah, itulah ide dari sebuah majalah
sebagai alat yang digunakan orang untuk melewatinya.
Kau bisa menyaksikannya dari dalam atau pun dari luar.
Ini adalah taksi kota New York, yang sedang istirahat,
yang bisa kau lihat...
Bahwa dia sedang istirahat di sini.
Ini... Ayo buat dia sibuk.
Yang ini sibuk.
Ini terlihat lebih baik, walau, semuanya berwarna hitam dan kuning.
Warna-warna kesukaanku.
Ini adalah tanda yang terbatas dengan Lego,
keterbatasan...
resolusi yang sangat rendah...
Hampir mirip sebuah drawing piksel tiga-dimensi...
yang begitu kusenangi.
Mengapa kau begitu menyukai kerja di New York?
Yah, hal itu dimulai dari koneksiku.
Itu adalah kota pertama yang aku datangi sendiri...
dan kupikir hanya ada satu kota selama hidupmu yang kau datangi sendiri...
dan kau merasa memilikinya.
Tak ada Paman, tak ada orang tua yang memberi jalan.
Itu seperti tempat tinggalku.
Aku pindah ke New York tahun '97.
Yang membuatku terkejut, ketika aku pergi ke sana dan memperlihatkan bukuku,
Aku menyadari bahwa 99% masyarakat memahami karyaku.
Pergi dari pedesaan yang berjarak ribuan mil,
dan setiap orang mendapati segalanya benar-benar menakjubkan.
Dengan cara yang sangat aneh, aku merasa seperti berada di rumah
dengan menceburkan diri ke dalam budaya Amerika sebagai seorang bocah.
Dari musik, ke seni, Magnum P.I.
Kapal feri Staten Island.
Jika kau pernah naik kapal feri Staten Island , kau akan mengerti.
Ini adalah esensi dari semacam momen pertama seorang turis.
Bagiku, gaya ini berdasarkan atas kebudayaan, dalam berbagi pengalaman.
Ini lebih menarik ketimbang muncul dengan cara bicara visionaristik
dimana orang kemudian harus menerjemahkannya.
Salah satu yang ada di Starbucks, dan aku senang duduk di dekat jendela,
dan di situlah selama ini tempatku duduk-duduk
saat pertama kali aku datang ke New York.
Aku selalu merasa seperti, "Disitulah aku ingin duduk-duduk dan melihat-lihat."
Dan aku telah, beberapa kali, mencoba berkarya dari sana,
sebab begitulah aku melihat diriku sendiri, kau tahu,
seperti seorang seniman sedang bersentuhan dengan sebuah kota...
Dan lalu kita seperti bertukar emosi,
Orang-orang berlalu lalang...
Sama sekali tak berhasil.
Dampaknya pada pekerjaan adalah nihil.
Ini bahkan sebenarnya membingungkan, dan aku tak bisa benar-benar fokus saat aku duduk di sana.
Inilah momen ketika aku menyadari
semacam, seperti, kenyataan hidupku dan kehidupan berkaryaku, mereka benar-benar tak bisa campur.
Aku mengerti apa yang kau katakan.
Aku hanya mencoba semacam memecahkannya dari sudut pandang seorang pendongeng visual.
Maksudku, aku kira, cara aku melihat beberapa hal seperti ini,
hampir seperti montase yang sangat cepat jepretan-jepretan dari dekat ini,
kau tahu, dilakukan dengan sangat cepat.
Pokoknya...
Melewati hari, itu ritual, seperti menggosok gigi.
Maksudku, lagi-lagi kita mencoba...
No comments yet. Be the first to leave one.