The first 200 lines.
Pertama kali aku nonton film di Cinematheque Francaise...
Aku pikir, "Cuma orang Prancis...
Cuma orang Prancis yg meletakkan bioskop di dalam istana. "
Filmnya Sam Fuller's Shock Corridor.
Gambarnya sangat kuat, seperti dihipnotis.
Waktu itu umurku 20 tahun. Akhir tahun '60an...
Aku pergi ke Paris setahun untuk belajar bahasa Prancis.
Tapi di sini lah aku dapat pelajaran yg sebenarnya.
Aku jadi anggota sejenis perkumpulan free masonry di jaman itu..
free masonry buat penggila film...
Kami menyebutnya "film buffs. "
Aku termasuk yg gak pernah puas...
Termasuk org yg duduk paling dekat dg layar.
Kenapa kami duduk sangat dekat?
Mungkin karena kami ingin menonton yg paling awal...
Ketika filmnya masih baru, masih segar...
Sebelum sang film melewati banyak baris gawang di belakang kami...
Sebelum diberikan dari bangku ke bangku, penonton ke penonton..
Sampe usang, bekas, ukuran perangko...
Sampe kembali ke ruang sang tukang projektor.
Dokter, Aku tidak gila! Aku berasal dari kertas! Aku pohon!
Mungkin, juga, layar adalah memang layar.
Yang menutupi kita... dari dunia.
Tapi ada suatu sore di musim semi 1968...
Ketika dunia akhirnya menerobos layar.
Pion dari koalisi samar...
Perhatian yg meragukan...
Mentri Malraux memaksa...
Henri Langlois keluar dari Cinematheque Prancis.
...jika memberi kami gambaran secara bebas dan adil...
tentang budaya film Prancis.
Sekarang, untuk alasan birokrasi, musuh dari budaya...
Telah merampas kemerdekaan benteng ini.
Lawan mereka!
- Kemerdekaan tidak diberikan! - Tapi direbut!
Semua yg suka film...
- Di Prancis... - Dan luar negri.
...menyertai kalian.
Dan juga menyertai Henry Langlois!
Henri Langlois lah yg membuat the Cinematheque...
Dan itu karena dia suka mempertunjukkan film...
Daripada film2 itu busuk di gudang...
Mempertunjukkan semua jenis film... bagus, jelek, lama, baru...
bisu, Barat, thriller...
Semua pembuat film aliran New Wave datang ke sini untuk belajar..
Di sini lah bioskop modern lahir.
Apa yg ada di belakangnya?
Polisi!
Langlois telah dirampok oleh pemerintah...
Dan semua film buff (penggemar film) di Paris protes.
Ini adalah revolusi budaya kita.
Permisi.
Bisa tolong ambil ini?
Nempel di bibirku euy.
Tolong ambil rokokku. Nempel.
Iya, iya...
tentu.
Sorry.
- Kamu orang mana, Inggris? - Bukan. Amerika.
Rokoknya taruh aja.
- Siapa namamu? - Matthew.
Kamu sering di sini kan? Tapi gak pernah ngobrol.
Kami penasaran kenapa kamu selalu sendiri.
Aku gak kenal siapa siapa.
Kenapa tanganmu dirantai?
Nggak.
- Kamu bersih parah. - Apa?
Untuk ukuran penggemar film.
- Kenal Jacques? - Jacques?
"Kalo kotoran bisa berak, nah itu ntar baunya kayak Jacques. "
Kakakku lagi ngobrol sama dia.
Ntar pas dia balik, baunya pasti kayak Jacques.
Kayak bau babi.
- Bahasa inggrismu bagus banget. - Apa?
- Bahasa Inggrismu bagus banget - Ibuku orang Inggris
- Itu Theo. Nanti waktu aku kenalin, kamu ngendus ya.
Truffaut, Godard, Charbol, Rivette...
dan Renoir,Jean Rouch, Rohmerare di sini.
Signoret, Jean Marais trus sapa lagi ya
Marcel Carne juga
Ngapain Carne di sini?
Kita harus ngapain? Di sini ato pergi?
Aku gak tau.
Theo, ini Matthew.
- Kamu bener. Dia orang Amerika - Hi.
Aku sering liat kamu. Kamu selalu nonton filmnya Nicholas Rays kan ya.
Iya. Aku suka banget filmnya.
- Yang mana? They Live By Night? - Mm-mm. Aku lebih suka...
Johnny Guitar sama Rebel Without a Cause.
- Kamu tau Godard bilang apa tentang dia? - Nggak. Apa?
"Nicholas Ray adalah bioskop. "
- Kamu kenapa? - Aku?
Ayo, sini!
Fascists!
- Brengsek! - Bangsat!
Itu lah ceritanya gimana aku ketemu Theo dan Isabelle.
Aku bisa dengar detak jantungku.
Aku gak tau apakah karena aku sedang dikejar polisi...
Atau karena aku sudah jatuh cinta dg teman baruku.
Kami jalan sambil ngobrol, ngobrol terus...
Tentang politik, tentang film...
Dan kenapa orang Prancis gak pernah berhasil bikin band musik...
- Aku lapar. - Aku lupa rotinya.
Aku gak pengen malam itu berakhir.
- Merci. - Kamu gak bawa apapun ya?
Nggak. Aku gak lapar. Makan ini.
Gpp. Jangan kuatir.
- Nggak. Aku gak lapar. - Udah cuil. Sekarang ambil.
Kamu baik sekali, tapi makasih.../ Astaghfirullah, kalo dikasih tu mbok ya diterima.
Makasih.
- Theo, kamu gak ngasih buat Matthew? - Ini cukup kok.
- Aku kasih dia sepertiga punyaku - Okay.
- Beneran, aku gak ke sini buat minta roti mu
Dia gak mau. / Dia mau! Tapi dia terlalu sopan buat bilang kalo di mau.
- Iya kan, Matthew? - Kamu baik sekali.
- Kamu dari daerah mana? - San Diego.
Kalo kalian dari mana? Kalian lahir di Paris?
Aku masuk ke dunia ini lewat the Champs Elysees, 1959.
Paving di Champs-Elysees.
Tau nggak kata pertamaku?
Nggak. Apa?
"New York Herald Tribune!"
New York Herald Tribune!
- New York Herald Tribune! - New York Herald Tribune!
Maukah kamu ke Rome dengan ku?
Sini! Sini! Sini!
Nggak, sana!
- Met malem, Matthew! - Malem.
"Ibuku sayang...
"Aku punya kabar bagus kali ini.
Aku baru aja ketemu teman Prancis pertamaku. "
- Hello. - Matthew?
Ini siapa?
- Jangan curiga gitu. Ini aku. - Theo?
- Jangan bilang aku bangunin kamu ya. - Nggak, aku...
Aku udah bangun bertahun-tahun./Suaramu gak nunjukin kalo kamu udah lama bangun
Ya emang suaraku kalo pagi kayak gini.
Sorry. Aku harus telpon kamu pagi-pagi karena aku ada kuliah jam 9:00.
- Iya. - Mau makan malem bareng besok?
Um, maksudmu makan malam beneran di restoran bagus?
Nggak. ngaak di restoran. Di sini, di rumah.
Yeah... Tentu, pasti enak.
Iya? Okay, besok...
Theo, tutup telponnya. Udah jam 9:00.
Iya, iya. Besok ketemu di Le Raspail dulu jam 6:00 ya?
Kamu tau tempatnya?
- Boulevard Saint-Germain? - Jam 6:00 ya.
Hey!
Lantai tiga!
Di sini kan masih muat.
Aku sama Teo punya penyakit menular! - Apa?
- Penyakit kami menular! - Menular?
Pasti kami duluan.
- Tempatnya cantik. - Menurutmu gitu ya?
Good luck.
Sore, Mama.
Kamu ngapain di sini?
- Kami di sini buat makan malam. - Apa?
Sama Matthew.
- Isabelle gak bilang ya? - Matthew yg mana?
Matthew yg ini.
Dia teman baru kami. Matthew, ini ibuku.
- Hi. - Senang bertemu dg mu, Matthew.
- Saya juga. - Oh, kamu orang Amerika ya?
- Iya. Saya dari California. - Oh.
Matthew tinggal di Hotel pelajar Malebranche yg menjijikkan...
- jadi kami ajak dia makan malam di sini. - Oh.
Kenapa?
Aku bisa bilang apa, Isabelle? Aku cuma masak buat dua orang...
Tapi sekarang ada lima orang.
Theo belum bilang ya Ma?
Nggak. Kamu juga gak bilang.
Otakmu dari kentang ya?
Kamu harusnya bilang ke Mama!
Gila lu!
Bitch, sapi, jalang...
Oh, Tuhan! Pake saringan lah kalo ngomong!
Maapin kelakuan anak2ku ya, Matthew.
Nggak. Saya yg harusnya minta maaf.
Tolong jangan pusing karena saya.
Kamu baik sekali, kamu gak salah sama sekali.
Sini.
Okay. Aku pengen kamu buat kesan pertama yg bagus ke Papa.
Papa, ini aku.
Kami mau makan.
Cinematheque gimana?
Tutup sampai ada pengumuman lagi.
Papa, kita punya tamu.
- Ini Matthew. - Oh.
- Pak. - Matthew.
Matthew makan malam bareng kita malam ini.
Matthew, inspirasi seperti bayi.
Inpirasi tidak milih jam yg tepat untuk masuk ke dunia.
Tak ada pertimbangan bagi puisi jelek. Aku tau.
Tapi ketika inspirasi datang...
Ketika inspirasi berkenan untuk datang, kamu akan tau...
Anak muda, aku ngomong sama kamu. Aku bayangin kamu lagi nyimak.
Aku tadi nyimak. Aku... Aku minta maaf.
Apa?
Gpp. Aku hanya, um...
No comments yet. Be the first to leave one.