The first 143 lines.
Sejak aku kecil,
aku sudah paham bahwa aku tak diterima di dunia ini.
Meski diriku begini, selagi aku terlahir di dunia ini,
menurutku masih ada sedikit momen ketika aku bisa berguna untuk orang lain.
Sakit.
Hei! Tolong hentikan!
Ayolah, cuma minum teh, kok.
Bukankah aku sudah menolak berkali-kali?
Biarkan aku pergi!
Jangan bilang begitu.
Tidak apa-apa. Kami takkan aneh-aneh.
- Hei! - Ayolah!
Sebentar saja, kok.
Tidak! Lepaskan aku!
Ma-Maaf.
Ayo senang-senang bareng.
Maaf!
Hah?
Apa maumu?
Apa ada urusan dengan kami?
Hah?
Ti-Tidak.
Maaf, menurutku gadis itu tidak suka dengan ajakan kalian.
Apa?
Justru kami yang tidak suka dengan tatapan matamu itu!
Jangan main-main dengan kami, Gendut!
Rasakan!
Hei, ini gawat!
Ayo cabut!
Kamu baik-baik saja?
Berpeganglah di bahuku.
Tidak usah.
Sungguh...
A-Aku baik-baik saja...
Kita harus bersikap baik kepada orang yang butuh bantuan.
Bersikap baik?
Benar.
Terkadang, kita butuh keberanian untuk melakukannya.
Aku tahu kalau tampang buruk ini mengganggu orang-orang di sekitarku.
Dasar gendut!
Jorok banget!
Tidak hanya orang-orang di sekolah saja,
bahkan orang tuaku sendiri...
Jangan campur pakaianmu di sini!
Jangan buat aku mengulangi kata-kataku!
Adik-adikku yang beda setahun dariku tak mau menganggapku sebagai manusia
karena mereka terlihat elok.
Makan, tuh!
Saat aku SMP,
perlakuan orang-orang terhadapku semakin buruk.
Di antara hari-hari sulit itu,
hanya kakekku saja yang mau menyayangiku.
Yuya.
Jangan sampai menyerah sesulit apa pun keadaannya.
Dengar.
Di saat-saat yang sulit, jika kita masih baik ke orang lain,
maka kebahagiaan akan datang sendiri.
Jangan terburu-buru
dan hadapi dirimu sendiri secara perlahan-lahan.
Kakek...
Lalu, aku mewarisi rumah beserta harta milik kakekku,
dan kakekku meninggal.
Orang tuaku berusaha merebutnya,
tapi mereka menyerah karena kakekku sudah mengaturnya dengan begitu rinci.
Karena itu, orang tuaku menelantarkanku begitu saja,
membiarkanku tinggal di sini sendirian,
dan aku terpaksa bekerja paruh waktu tiap hari.
Kenapa kamu main ngacir saja?
Meski kamu sudah lulus SMP,
kamu akan tetap menjadi samsak tinjuku seumur hidup.
Ma-Maaf.
Aku harus bergegas kerja—
Aku harus antar koran.
Antar koran?
Dasar gendut hina!
Kamu kebanyakan tingkah!
Telat banget! Jam berapa ini?
Aku sudah menyuruh orang lain!
Maaf.
Tidak usah datang lagi besok.
Selamat menikmati.
Apa maksudnya?
Apa maksudnya lulus?
Mulai sekarang, tak ada satu pun yang berubah.
Aku harus bagaimana?
Apa ini?
Kenapa ada ruangan seperti ini?
Kakek memang sering bepergian keliling dunia
dan selalu membawa benda-benda aneh saat pulang.
Semuanya disimpan di ruang rahasia ini, ya?
Pintu apa ini?
Aduh.
Apa ini?
Dunia lain?
Tidak mungkin.
Ini memang ruangan yang tadi.
Pintu apa ini?
Apa ini skill Penilaian?
Mungkin aku periksa gelarnya juga.
Muncul macam-macam!
Fungsi menu?
Konversi Uang?
Apanya yang bisa dijadikan uang?
Selain itu, ada Transfer dan Batas Akses.
Ini lebih canggih dari yang kuduga.
Apa hanya aku yang bisa menggunakan pintu dunia lain ini?
Aku belum paham soal Konversi Uang ini,
tapi ini mirip video gim saja.
Mungkin ada status kemampuan juga.
Semua angkanya cuma satu.
Namun, setidaknya aku bisa mengalokasikan poin ke tiap kemampuan
dan itu malah bagus untukku.
Jika Item Box itu kuanggap seperti fitur gim,
aku bisa memahaminya.
Ini benar-benar di dunia lain.
Beda banget dengan Bumi.
Tidak bisa kubaca.
Apa ini bahasa dunia lain?
Skill yang praktis.
Singkatnya, pemilik tempat ini akan segera meninggal,
jadi kalau ada orang yang menemukan tempat ini,
dia berhak memiliki tempat ini, beserta semua benda di dalamnya.
Aku menjadi pemilik tempat ini, ya?
Kepemilikannya juga akan diperbarui dengan kekuatan sihir secara otomatis,
sehingga orang lain tak bisa masuk sembarangan.
Sampai bisa sihir segala.
Mahardika ini siapa, sih?
Sang Mahardika pernah tinggal di sini
Pedang ini bagus sekali.
Ternyata sangar banget.
Apa semua ini masih termasuk bagian dari rumahku?
Baiklah, aku takkan basa-basi lagi!
Skill?
Aku jadi berasa angkuh sebagai pemula.
Namun, mungkin efek Pelintas Dunia inilah yang membuatku bisa dapat skill begitu cepat.
Aku sudah menyentuh semua senjata, tapi...
Semuanya sangar.
Bukankah ini tak masuk akal?
Apa maksudnya Seni Bela Diri Sejati ini?
Padahal aku tidak bisa apa-apa!
Namun, statusku berubah terlepas dari kehendakku sendiri,
segunung skill senjata yang kudapat langsung hilang,
dan berubah menjadi skill Seni Bela Diri Sejati.
No comments yet. Be the first to leave one.