The first 200 lines.
Gawat...
Aku tidak tahan lagi.
Gawat...
Tahun 2008.
Tanggal 28 Februari tahun kabisat.
Apartemen Showa,
di pintu masuk apartemen 201.
Dengan tekad menyembunyikan kejadian di Kyoto dari kekasihnya,
pria itu membuka pintu.
Aku pulang!
Selamat datang!
-Sudah kutunggu. -Yui menyapanya
-Aku beli Gyoza Ojun. -dengan penuh harap.
Terima kasih!
Bagaimana syutingnya?
Yah…
Sangat…
Menyenangkan.
Syukurlah.
Lalu?
Bagaimana ciumannya?
Yah…
Sebenarnya…
Luar biasa.
Apa?
Bukan begitu.
Aku terlibat secara emosional dengan lawan mainku.
Lantas, aku…
jadi jatuh hati padanya.
Apa?
Apa?
Apa? Tunggu, apa-apaan ini?
Itu...
Aku jadi merinding. Tidak bisa kupercaya.
Rasanya aku jadi benci Pak Matsuo! Mati saja kau!
Bukan begitu...
Bacalah kelanjutannya.
Ada alasannya.
Tentu saja ini ada alasannya.
Katamu ada hal penting yang ingin disampaikan, 'kan?
Jangan-jangan itu…
Lamaran?
Tentu saja lamaran kejutan.
Baca saja kelanjutannya.
Pertama, semuanya dimulai dari…
Bulan depan, kau harus ke Kyoto selama dua minggu.
Film romantis samurai pengembara!
Jangan-jangan...
Menjadi Suke-san atau Kaku-san?
Jangan sembarangan.
Kau bukan Hachibei! Hanya peran rakyat jelata.
Namun…
Kali ini ada adegan percintaan.
Kau harus berciuman.
Benarkah?
KYOTO
Begitulah.
Aku meninggalkan Yui yang menunggu dilamar di Tokyo
dan pergi ke Kyoto sendirian.
Maaf menunggu. Osachi sudah datang.
-Selamat pagi! -Selamat pagi!
-Selamat pagi! -Mohon bantuannya.
-Selamat pagi. -Lawan mainku aktris yang kukagumi,
-Mohon bantuannya. -Apalagi…
-Mohon bantuannya. -Aku juga.
Ini adegan ciuman perdanaku,
jadi aku sangat gugup.
-Sedikit lagi siap. -Baik!
Kita mulai syuting!
-Baik. -Siap.
Baik, kamera.
Adegan keempat!
Siap… Mulai!
Osachi...
Suamiku...
Cut!
Tubuhmu terlalu ke belakang!
Jangan begitu!
-Buka matamu! -Maaf.
Osachi...
Suamiku...
Bibirmu terlalu maju!
Matamu hanya putihnya saja!
Kau terlalu gemetar!
-Keringatmu terlalu banyak. -Maaf.
-Sekali lagi. -Tolong serius!
-Maaf! -Berikutnya.
Rambut palsu panas, 'kan?
Aku sungguh minta maaf.
-Tidak apa-apa. -Baik.
Anggap saja aku pacarmu.
Apa?
Suamiku...
Osachi...
Baiklah...
Siap… Mulai!
Osachi...
Suamiku...
Cut! Bagus.
Itu lumayan!
Ini kisah seorang pria tersesat
yang berulang kali menemukan jalannya.
Meski drama ini berdasar kisah nyata,
nama orang dan kelompok yang terlibat
kebanyakan sudah diubah.
Malamnya, setelah bebas dari ketegangan,
aku diundang makan oleh sang aktris.
Tiap kali aku mendekat, tubuhmu makin ke belakang!
Itu lucu sekali.
Benar, 'kan? Dia manis, 'kan?
Kurasa begitu.
Karena didekati wajah wanita secantik ini,
rasanya aku bisa lakukan gerakan Ina Bauer!
Benar juga!
Aku sudah dengar.
Katanya mungkin kau akan menikah.
Aku iri!
Kau sudah dengar, ya?
Sebenarnya, sepulang dari sini,
aku ingin melamarnya.
Namun, aku belum dapat kata-kata yang tepat.
Kalau pasanganku Osachi, pasti langsung terpikir olehku.
Hei!
Dasar jahat!
Aku tidak jahat.
Aku yakin dia sedang menangis sekarang.
TOKYO
NONA YUI HIGA
REGISTRASI KELUARGA KANTOR WILAYAH SHIBUYA
Apa?
Ini rahasia.
Sebelum meninggalkan Tokyo,
aku menyiapkan kejutan besar!
Aku ingin mendaftarkan pernikahan.
Dua salin cukup?
Satu saja.
Lebih baik ada dua salin kalau sampai salah mengisi.
Begitu, ya.
Terima kasih.
SATORU MATSUDO
Pasti dia menangis waktu membuka amplopnya.
Kalau aku pasti sudah mati.
Mati mendadak!
REGISTRASI PERNIKAHAN
Hebat...
Di kota, kantor pemerintahan merekomendasikan untuk menikah, ya?
Kenapa mereka bisa tahu?
Menakutkan.
REGISTRASI PERNIKAHAN
SUAMI, SATORU MATSUDO
Sehari setelah aku pulang ke Tokyo
adalah tanggal 29 Februari tahun kabisat,
hari yang baik.
Saat itu, mari kita mendaftarkan pernikahan.
Begitu, ya...
Aku jadi iri.
Dia pasti bahagia
diberi kejutan seperti itu.
Benar, 'kan?
Apa?
Sudah sampai.
Terima kasih banyak. Besok kita pergi pukul 08.00.
-Baik. Selamat istirahat. -Selamat istirahat.
Ini kamarku.
Kamarku di sampingmu.
Kalau begitu, sampai besok.
Selamat tidur.
"Suamiku".
Selamat tidur...
Osachi.
YUI HIGA YUI MATSUDO
Dasar berengsek!
Osachi...
Osachi...
Osachi...
Apa dia sedang mandi?
ISTRI, YUI HIGA
Setelah itu, syuting pun berlanjut…
Suamiku!
-Dan perasaanku pada Sachi makin besar. -Jangan tinggalkan aku...
Suamiku!
Osachi...
Osachi!
Cut!
Osachi... Osachi!
Kau tidak boleh menangis, Bodoh!
Bicara juga tidak boleh!
Kau sedang sekarat!
Maaf.
Osachi sudah selesai!
Terima kasih banyak!
Terima kasih atas semuanya!
-Pak Sutradara! -Kau hebat.
Terima kasih. Semoga bisa bekerja sama lagi.
Terima kasih banyak!
Bersiap untuk adegan berikutnya!
Kembali bekerja.
Suamiku...
Osachi...
Terima kasih banyak.
No comments yet. Be the first to leave one.