The first 197 lines.
(Forensik Haus Darah Bermuka Dua Penulis: Zhou Xiao)
Forensik.
Mayat wanita.
Bubuk putih.
Ponsel.
Bukti.
Zhou Xiao.
Zhou Xiao.
Tunggu sebentar.
Sedang sibuk.
Ada apa dengan anak ini?
Saya sedang bertanya padamu
Kenapa kamu tidak menjawab?
Apa yang sedang kamu lakukan?
Sedang menulis sesuatu.
Bumbu bibimbap bawa tidak?
Bawa, bawa, bawa.
Bagaimana dengan Kale?
Bawa, bawa, bawa.
Bagaimana dengan ikan kaleng?
Semuanya bawa, semuanya bawa.
Kenapa hari ini begitu aneh?
Kemarin saat ditanyakan padamu, kamu bilang tidak bawa.
Hari ini kenapa membawa semuanya?
Kalau saya bilang tidak bawa,
bukankah kamu akan tetap memaksa?
Apa yang kamu katakan?
Tidak apa.
Saya bilang,
di dunia ini hanya Ibu yang terbaik.
Bagaimana dengan Ayah?
Anak yang memiliki Ayah seperti harta karun.
Uang jajan.
Cepat dihitung.
Uang tunai ya?
Ayah,
kamu kuno sekali.
Di jaman sekarang siapa yang masih menggunakan uang tunai?
Semuanya menggunakan transfer Wechat.
Bagaimana kamu berbicara dengan Ayahmu.
Untuk transfer Wechat mintalah pada Ibumu.
Lalu bagaimana dengan ini?
Masukkan ke dalam tas saya saja.
Baik.
Sepertinya ada sedikit masalah.
Apakah ada hasil eksperimen yang terakhir kali?
Ada di dalam komputer.
Saya periksa sebentar.
Jangan tiba-tiba melepas maskernya.
Saya sudah mengenalmu begitu lama,
tapi setiap kali masih tetap saja terkagum oleh ketampananmu.
Ibu saya yang tidak memperbolehkan saya mencari seorang pacar yang bergelut di bidang forensik.
"Forensik Haus Darah Bermuka Dua"
Korban meninggal bukan karena tenggelam.
Pembunuhnya ingin menyebabkan kebingungan,
membuat sebuah ilusi seolah dia terbawa arus air.
Tapi setelah dia melecehkan korban,
dia sudah ketahuan sebelum dia sempat memakaikan pakaian pada korban.
Jadi dia hanya bisa kabur dari tempat kejadian.
Orang yang terbawa arus air,
saat ditemukan pada dasarnya tidak memakai sehelai pakaian.
Kecepatan air menanggalkan pakaian
jauh lebih cepat daripada manusia yang melakukannya.
Benar kan?
Bukankah sangat konyol?
Semuanya omong kosong.
Kapan hari saya melihat penulis bilang lolos masuk
ke Jurusan Sastra Mandarin di kampus kita.
Shi Guoguo.
Kamu jangan terus-terusan menggunakan komputer di laboratorium
untuk melihat novel yang tidak mendidik seperti ini.
Kenapa tidak mendidik?
Profesor Hu juga mengikutinya bersama dengan saya.
Kebetulan, kamu perbarui sebentar.
Saya lihat apakah ada perbaruan atau tidak.
Halo.
Kamu tidak menjemput saya di bandara.
Sudah bagus saya bisa mengangkat teleponmu.
Masih mau saya menjemputmu?
Mana oleh-oleh saya? Apakah kamu membawanya?
Apakah kamu punya hati nurani?
Kamu juga tidak menanyakan bagaimana kompetisi saya.
Benar, benar, benar.
Bagaimana dengan kompetisi ABC mu itu?
Yang benar adalah Kompetisi Pemrograman Internasional ACM.
Kamu masih teman saya atau tidak?
Saya sudah bilang,
yang saya menangkan terlebih dahulu adalah
medali emas Olimpiade Informatika Remaja.
Kemudian direkrut oleh tim ACM dari
Universitas Nanfang untuk ikut dalam kompetisinya.
Saya sudah mengatakannya berkali-kali.
Bisakah lebih memperhatikan tentang kebanggaan saya?
Baik, baik, baik. Saya tahu, saya tahu.
Apakah kamu membawakan oleh-oleh untuk saya?
Apakah kamu sudah sampai di rumah?
Kamu dengarkan dengan baik, saya ada di mana.
Halo.
Halo.
Siapa suruh kamu mengagetkan orang?
Mana oleh-olehnya?
Yang benar saja, Cai Yasi.
Kamu begitu pelit ya.
Kamu pergi ke luar negeri tidak membawakan saya oleh-oleh.
Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin?
Mana mungkin saya tidak membawakan kamu oleh-oleh.
Saya membawakanmu makanan ringan yang
paling disukai oleh orang Rusia.
Benar kah? Berikan pada saya.
Permen internasional.
Saya mau bermusuhan denganmu.
Kalau tidak suka, juga jangan dibuang.
Kamu sendiri yang tidak menangkapnya.
Ada seorang netizen yang memuji saya.
Kamu bacakan perkataan aslinya untuk saya.
Netizen.
Guo Guoshi.
Karya penulisnya konyol sekali.
Selain...
Selain apa?
Selain
tidak masuk akal dan omong kosong.
Kamu optimis juga, hanya mendengar apa yang mau kamu dengar.
Apakah kamu masih belum mau pulang?
Bisakah kamu tidak menetap di kamar saya terus-menerus?
Kamu pikir saya mau berada di sini?
Saya tidak bawa kunci, di rumah tidak ada orang.
Untung saja Ibumu membiarkan saya tinggal.
Jadi,
besok saat Ayahmu mengantarmu ke sekolah,
bisakah sekalian membawa saya?
Boleh.
Tidak masalah.
Apa hubungan kita?
Apakah mungkin tidak membawamu?
Besok pagi pukul delapan
kumpul di luar rumah saya.
Profesor Hu.
Xiao Zhou.
Kamu di mana?
Profesor Hu, saya menjemput mahasiswa baru di stasiun kereta.
Kamu hebat juga.
Perubahannya cukup banyak.
Sekarang sudah suka berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.
Sepertinya saya memaksamu untuk berpartisipasi
dalam kompetisi Asosiasi Mahasiswa adalah hal yang benar.
Ini bukankah karena Anda
mengancam saya kalau saya tidak menjadi ketua Asosiasi Mahasiswa,
maka Anda tidak akan membiarkan saya menjadi asisten Anda?
Kita yang bergelut di bidang ini
memang tampak misterius di mata dunia luar.
Ada prasangka.
Kalau kamu terus begitu dingin dan menyendiri,
tidak menjadi lebih ceria,
orang lain akan berpikir ada masalah dengan karaktermu.
Saya melakukan ini untuk kebaikanmu juga.
Artinya saya sangat menghargaimu.
Profesor, sebenarnya kenapa Anda mencari saya?
Saya baru saja menerima konsultasi kasus.
Datanya sudah dikirim ke emailmu.
Setelah kamu selesai membacanya,
beri saya sebuah laporan analisisnya.
Baik.
Tuliskan dengan rinci.
Saya paling tidak suka menulis laporan.
Mengerti, sampai jumpa.
Fanzhou.
Siswa yang mendaftar untuk dijemput sudah sampai semua.
Hanya kurang satu dari Jurusan Sastra Mandarin, namanya Zhou Xiao.
Ditelepon pun juga tidak di angkat.
Atau kamu hubungi dia di grup QQ saja.
Kamu bawa semua orang kembali ke sekolah dulu saja.
Saya coba menghubungi mahasiswa baru ini.
Baik.
Baik.
Kalau begitu sudah merepotkanmu.
Kenapa ada dua nomor yang tidak dikenal?
Halo.
Saya Zhao Fanzhou dari Asosiasi Mahasiswa Universitas Nanfang,
yang bertugas menjemput kamu kembali ke sekolah.
Permisi, kamu ada dimana sekarang?
Halo.
Saya sekarang...
Bagaimana ini? Saya sepertinya sudah kebablasan.
Turun.
Beli tiket kembali.
Baik.
Teman, itu saya.
Kamu tidak perlu telepon lagi.
Jika menelepon lagi, ponsel saya akan kehabisan baterai.
Oh ya, saya kasih tahu kamu,
Tadi kamu baru saja menutup video QQ,
saya langsung ingin menggunakan ponsel untuk memesan tiket.
Tapi kamu tebak apa yang terjadi?
Ponselnya mati.
Jadi, saya ingin melihat dompet.
Tapi akhirnya di dalam dompetnya hanya beberapa uang saja.
No comments yet. Be the first to leave one.