The first 200 lines.
-Kau di nomor berapa sekarang? -Tujuh.
Bagus. Tujuh itu bagus.
Pergi ke pesta mencemaskan di angka sembilan.
Ini tujuh yang cukup kuat.
Itu masih bagus.
Selesai bernapas?
-Ya. -Bagus.
Pergi setelah setengah jam jika kau mau.
Ya. Terima kasih, Ayah.
Modal recehan jadi jutawan! Visi Misi Foya Foya, cuma di RECEH88
Dampak Punya Anak Ketiga?
-Ibu? -Aku baru akan bersiap.
Bisa bantu aku dengan PR sejarahku?
Ya, kecuali itu tentang sejarah karakter Brookside dari 1992 ke 1997,
kurasa aku tidak bisa, Sayang.
Ini soal Perang Falklands.
Kubilang aku sedang bersiap,
bisakah beri aku waktu sebentar?
Ambilkan ponselku dari tas, Ava.
Mantan pacarku adalah bagian dari gugus tugas.
Katering, di bawah dek, tapi dia pasti dengar banyak soal itu.
Terima kasih, Nenek.
Kau sungguh perlu beri tahu Paul.
Paul.
-Paul. -Lepaskan.
Menurut atau tidak ada es krim sampai kau usia 15 tahun.
Sebenarnya, itu agak keras.
Paul, aku perlu beri tahu hal penting.
Aku hamil.
-Kenapa wajahmu begitu? -Wajah apa?
Seperti inilah wajahku. Wajah seperti apa seharusnya?
Entahlah, senang? Netral?
Apapun selain seringai masam yang mengerikan itu.
Tidak, ini wajah terkejut. Itu saja. Kukira kita sudah setuju.
Setuju apa? Apa yang kita setujui?
Tidak punya satu lagi.
Maaf ini kabar yang mengecewakan. Aku akan aborsi, ya?
-Berapa nomor Vera Drake? -Maaf.
Maaf... aku hanya memprosesnya.
Luke hampir membuatku gila, bukan? Dia masih.
Aku menyayangimu, Bung, kau tahu itu.
Ada bayi dalam diriku.
Kau tahu seperti apa
kau bersikap seolah ini kabar buruk? Tidak. Astaga.
-Ally. -Tidak.
Sayang.
Kuharap kau tahu kau yang bayar.
-Apa ini rumah Leo? -Ya, benar.
Rumahnya bagus.
Agak megah.
Orang tuanya kerja apa?
Ibunya guru, ayahnya seniman pot.
Seniman pot?
Ya. Dia membuat pot. Tanah liat.
Seperti yang Ibu sukai, cokelat dan bengkok.
Dia dulu kerja di bank.
Ya. Aku paham.
Aku tidak iri, itu rumah yang bagus, itu saja. Seniman pot?
Aku akan menunggu panggilanmu jika perlu aku jemput.
Akan kucoba sampai akhir, dan ayah Leo akan mengantarku.
Baiklah. Aku akan tunggu suara helikopter.
Bagaimana, Bung? Mau coba?
Luke. Jadilah diri sendiri.
Jika perlu, kau bisa ke taman dan ambil napas.
-Baik. Sampai nanti. -Ya.
Kasihan.
Kau mau piza apa?
Peperoni pedas, Sayang.
Pilihan piza yang sama sejak 1989. Bagaimana denganmu?
Aku pesan dulu. Aku mau segala macam toping.
Piza jazz. "Ini lebih, itu tidak." Mereka akan benci.
Mau pesan minuman?
Aku segelas Peroni.
Air soda, terima kasih.
Jadi, kau hamil.
Apa?
Tidak pernah makan keluar tanpa kau minum anggur
kecuali kau hamil atau menyusui.
-Sungguh? -Itu tidak pernah terjadi.
Lalu aku juga menyadari beberapa petunjuk.
Emosimu tak menentu, sebagai permulaan.
Ini kencan pertama kita sejak berbulan-bulan.
-Ya. -Dan waktunya?
Tiga jam sebelum Ibu habiskan tiga botol,
dan tertidur dan pintu yang digembok,
ini tenggat waktu yang sulit.
Ya, Sayang. Bayi.
Maksudku, bayi. Itu hal besar.
Aku tahu. Dan aku tahu kita harus membahasnya,
tapi sebelum itu, jika memungkinkan,
aku mau memesan piza yang sangat rumit,
memakannya sampai habis dengan cepat
sambil bergosip tentang orang-orang.
-Baik. -Terima kasih.
-Siap untuk memesan? -Ya.
Ya. Ini bisa jadi rumit, mungkin kau perlu pulpen.
Juga komputer analog.
-Dasar margherita, basil ekstra. -Ya.
Capers, teri, zaitun hitam, bawang putih, paprika merah,
-paprika hijau, paprika kuning... -Aku akan tulis paprika.
Dan jamur...
Akhirnya, para pemburu temukan tujuh saudara...
Hai, Ibu. Apa semuanya baik?
-Aku tidak tertidur. -Jelas.
-Bagaimana restorannya? -Baik.
Sudah beri tahu kau hamil?
Ya, tapi jika belum? Astaga, Bu.
Benar, jadi, tiba-tiba aku yang jahat.
Ya, benar.
Hormon. Dia tak sadar ucapannya.
Kurasa dia mungkin sadar.
Berita utama, Luke tampak muram saat kembali dari pestanya,
dan Ava tampak kesal.
Bagaimana denganmu? Bagaimana perasaanmu tentang bayinya?
Aku tidak yakin.
Ini antara kita saja,
aku punya empat teman yang punya tiga anak.
-Dua dari mereka tak sampai 60. -Bagus.
Hanya sebuah nasihat.
Tiga adalah angka yang tragis.
Belakangan ini aku merasa aneh. Hanya sangat aneh.
Semuanya terasa konyol. Kau yakin kau hamil?
Ya. Aku koleksi tes kehamilan seperti Pokémon.
Dan yang ini, ini membuatmu merasa
sama anehnya dengan Luke dan Ava atau...
Aku tidak ingat. Semuanya aneh, bukan?
Menumbuhkan manusia dalam dirimu itu terasa gila.
Aku tahu Ava membuatku merasa paling gila saat dia lahir.
Seperti vampir kecil mengisap hidupku melalui payudaraku.
Aku tahu, itu sulit.
Tentu saja, aku tak punya itu, jadi aku tak bisa benar-benar...
Yah...
Apa artinya itu? Aku punya?
Itu terjadi pada pria usia 40-an.
"Lihat ini. Tiba-tiba aku punya payudara."
Persetan kau.
Halo?
Hai, ya, ini ayah Luke.
Paul.
Halo, ibu Leo. Semua baik-baik saja?
Tidak. Aku menuang anggur Shiraz.
Tidak, Luke tampak baik. Kenapa?
Oi, ujung bel!
Ibu Leo bilang kau merokok di gazebo mereka.
-Apa itu gazebo? -Aku tidak tahu.
Kenapa kau merokok?
Tidak, yang lainnya merokok.
Aku ke taman karena aku terkena serangan panik, dan butuh udara.
Tapi aku tak ke gazebo itu, dan aku tak merokok.
-Sungguh? -Sungguh.
Sungguh, apa kau jujur?
Ya.
Baiklah, bagus. Aku percaya padamu.
Terima kasih.
Maaf kau dapat serangan panik, itu pasti sulit.
Memang. Terima kasih.
Apa kubuat kau kalah?
Tak apa. Ini bukan permainan itu.
Yah... matikan saja. Tidurlah.
Aku merasa ragu.
-Keraguan bayi? -Ya.
Maksudku, bukan keraguan kecil, tapi keraguan soal bayinya.
Aku tak yakin jika mau bayi ini.
Baik.
Itu pemikiran yang masuk akal.
Aku hanya... entahlah.
Yah,
jika kau itu pendulum,
dengan "yakin" dan "tak yakin" di kedua sisimu,
di sudut mana kau sekarang?
Maaf. Kau mengukurnya dari sudut mana?
-Tengah. -Ke arah mana pendulumnya bergerak?
Ke kiri dan kanan, bukan? Itu intinya. Kau pendulumnya.
Jika aku bilang 30 derajat, apa itu 30 derajat mengarah sisi
yang aku inginkan, atau ke arah lainnya?
Tidak, itu mengarah... Kau membuat ini rumit dan itu tidak perlu.
Tidak, kaulah. Kau belum jelaskan hal bagian...
-Baik, baiklah. Tak apa-apa. -...yang penting.
Tak apa-apa. Itu bukan masalah. Itu ide buruk. Jangan pikirkan lagi.
Dua puluh derajat.
-Tapi arah mana? -Entahlah.
-Astaga. Itu... -Arah sana. Tidak...
-Arah mana itu? -Entah.
Astaga aku frustasi.
-Hai. -Hai, Ibu.
Kau dulu bayi gemuk yang imut.
Kami dulu memanggilmu Kenny Podgers.
Kau baik-baik saja, Avocado?
Ya.
Aku agak kasar padamu belakangan. Maafkan aku.
Mau lakukan hal yang seru? Kau dan aku?
Seperti apa?
Wah! Ranjang tenda! Aku akan menyukai ini saat seusiamu.
Itu agak menarik debu.
Tidak, ini sangat keren di kamarmu. Aku akan naik.
Bisa tolong jaga?
Begitu anggun.
Naiklah, ini menyenangkan. Ini seperti berkemah, bagus.
Ayo. Hei, jika ada yang menginap, temanmu bisa tidur di bawah.
Atau mereka bisa meringkuk di sini.
No comments yet. Be the first to leave one.