The first 200 lines.
Haengbok-ro adalah jalan raya yang Gyeonghae-do dan Perumahan Dongbang
kerjakan bersama untuk menjawab kebutuhan transportasi
kota baru Hamun.
Ini rute keseluruhannya.
RUTE KONSTRUKSI JALAN HAENGBOK-RO
Ini penampakan Haengbok-ro yang melewati Sodeok-dong.
GYEONGHAE-DO, KIYOUNG-SI, SODEOK-DONG
- Apa? - Apa itu?
Tunggu!
Di situ, Haengbok-ro tidak hanya melewati Sodeok-dong,
tetapi menembus pusat kota!
Apa ini serius?
Kau mencoba membagi lingkungan kami menjadi dua?
Bagaimana bisa merencanakan rute seperti itu?
Keputusan rute dibuat setelah konsultasi dengan pemerintah Gyeonghae-do.
Kami, dari Dongbang, hanya menjalankan bisnis atas nama mereka.
Aku perwakilan divisi konstruksi dari Gyeonghae-do.
Kami memiliki kewajiban memberi tahu warga tentang rute yang ditentukan.
Namun, kami tidak dapat mengubah rute melalui sesi pengarahan ini.
Rute ini hasil putusan para profesional dengan pertimbangan.
Aku…
Choi Han-su, kepala desa Sodeok-dong!
Bagaimana Gyeonghae-do memperlakukan Sodeok-dong selama ini?
Itu… Apa saja?
- Metro jalur sepuluh? - Benar!
Menendang puluhan warga lama Sodeok-dong dan menggali seluruh kota
untuk membangun metro jalur sepuluh!
Lalu, apa yang dilakukan kota Seoul pada Sodeok-dong?
Apa?
- Katakan - Pabrik pembakaran sampah!
Benar, pabrik pembakaran sampah.
Bahkan itu bukan sampah kami!
Mereka membangun pabrik pembakaran sampah masyarakat Seoul di Sodeok-dong!
Meski kami menentang keras,
Seoul atau Gyeonghae-do tidak peduli!
Apa hubungannya dengan itu?
Kita sedang mendiskusikan Haengbok-ro.
Kita sedang membicarakan Sodeok-dong!
Pembangunan metro baru selesai
dan pabrik pembakaran sampah sebelum itu.
Namun, apa lagi sekarang?
Apa namanya?
Haengbok-ro!
Kau minta kami menyerahkan wilayah kami lagi?
Sudah cukup!
Paham?
Masyarakat Sodeok-dong sudah sangat muak!
RUTE KONSTRUKSI JALAN HAENGBOK-RO
KASUS 7 KISAH TENTANG SODEOK-DONG I
Rute dibuat begini seolah-olah menyuruh kami meninggalkan desa.
Bayangkan jika kendaraan melewati Haengbok-ro setiap hari.
Warga yang akan menanggung kebisingan, asap knalpot, dan debu.
Saat kami membahas ini, Gyeonghae-do dan Dongbang mengatakan…
Apa, ya?
- Dinding kedap suara. - Benar.
Ada solusi dengan dinding kedap suara.
Namun, jika dipasang, itu akan seperti…
Apa namanya?
- Dinding kedap suara? - Bukan.
- Hei. - Dinding penahan.
Benar. Sama seperti memakai dinding penahan di apartemen.
Ini membelah kota menjadi dua dan mengisolasi setiap sisi!
Sudahkah membicarakan tentang kompensasi dengan Gyeonghae-do atau Dongbang?
Seperti kompensasi finansial untuk kesulitan yang Anda sebutkan tadi.
Astaga.
Mereka bahkan tak memberikan ganti rugi kepada warga yang meninggalkan desa.
Mungkinkah mereka mau menyantuni warga yang bertahan?
Jadi, mereka tidak membayarkan kompensasi?
Sodeok-dong adalah kawasan sabuk hijau.
Jadi, nilai tanahnya jauh lebih murah.
Makanya, saat metro jalur sepuluh dibangun saat itu,
warga yang direnggut tanahnya kesulitan finansial.
Meski seluruh rumahnya direnggut,
tetapi warga menerima kompensasi tak lebih daripada sepuluh juta won.
Dengan uang yang tak cukup membayar sewa di Seoul,
mau ke mana kami yang sejak lahir tinggal di Sodeok-dong?
Kami telah melakukan semua yang kami bisa.
Membentuk Komite Penanggulangan Penduduk, mengajukan petisi,
membuat ratusan panggilan pengaduan,
bahkan protes di depan kantor provinsi.
Namun, tidak ada yang mempan.
Gyeonghae-do tidak berniat mendengarkan kami!
Kalau begini, yang tersisa hanya…
Apa?
Persidangan.
Benar, persidangan. Ada kata lain…
Tuntutan hukum?
Untuk menuntut pembatalan jalan Haengbok-ro?
Astaga,
benar sekali. Itulah niat kami.
Baik. Kami memahami keinginan kalian.
Namun, karena bukan ahli konstruksi jalan,
kami perlu waktu mencari tahu tentang Haengbok-ro.
Bolehkah kami memeriksa sebelum memutuskan?
Ya, tentu.
Namun, mohon cepat ambil keputusan.
Mereka sudah memulai pembangunan di kota baru Hamun, jadi…
Itu apa, ya?
- Sekop? - Ekskavator hidraulika?
Mesin penggali.
Ya.
Tak lama lagi, mesin penggali akan sampai ke desa kami.
Baik. Akan segera kami hubungi.
Astaga.
Terima kasih.
Ya.
Hati-hati di jalan.
Apa pendapat kalian?
Mengapa mereka merencanakan rute begini?
Padahal bisa memutar jalan, alih-alih menembus kota.
Pasti soal biaya.
Panjang jalan yang memotong lebih pendek daripada jalan berputar.
Jika hanya karena biaya, maka kita dapat mengeklaim pelanggaran
Prinsip Proporsional menurut hukum administrasi.
Badan administratif harus memilih
metode yang paling sedikit melanggar hak pihak lain.
Meski ada jalan memutar melalui Gyeonghae-do,
mereka tidak memilihnya dengan alasan biaya.
Dengan begitu,
ini melanggar kerusakan minimal Prinsip Proporsional.
Jika kita menghitung kerusakan warga sebagai biaya sosial,
bukankah itu lebih besar daripada keuntungan pembangunan jalan ini?
Maka, keputusan rute ini memiliki konflik kepentingan.
"Pelanggaran Prinsip Proporsional.
Adanya konflik kepentingan."
Keduanya poin yang bagus.
Namun, pihak yudikatif biasanya enggan menilai hal
yang dilakukan para eksekutif.
Apalagi untuk kasus yang bersifat teknis begini.
Hakim tak banyak tahu soal ini.
Jadi, sulit bagi mereka untuk memutuskan.
Karena alasan perkataanmu tadi,
hampir tidak ada kasus warga telah memenangkan litigasi administratif.
Benar. Aku juga belum pernah mendengarnya.
Mari kunjungi beberapa ahli dan minta pendapat mereka.
Apakah rute yang ini yang terbaik, atau adakah rute alternatif.
Kita perlu mengetahui lebih dahulu
sebelum memutuskan mengambil kasus ini.
Insinyur sipil di Korea sangat sederhana.
Mereka mengabaikan bentuk tanah. Hanya garis lurus dari ujung ke ujung.
Di Eropa,
mereka menganggap indah jalan dari bandara ke ibu kota.
Mereka tak membangunnya lurus begini.
Mereka memanfaatkan lekukan alami tanah
dan membuatnya berkelok-kelok secukupnya.
Membuat orang menikmati jalan dan menciptakan
suasana indah dengan jalan itu sendiri
untuk mempromosikan citra negara.
Ini tak masuk akal.
Dari perspektif teknik sipil, rute ini tidak terlalu buruk.
Aku tahu lingkungan ini.
Aku memberi tugas mahasiswa desain perkotaan dengan ini.
Aku pertama kali mendengar jalan dibangun
di sini pada tahun 2016.
Astaga, sudah enam tahun lalu.
Apa bisa Haengbok-ro dibuat memutari Sodeok-dong,
alih-alih melaluinya?
Jika memutarinya,
harus dibangun di sebelah Jalan Pyeonghwa, jalan layang di bawah Sodeok-dong,
atau tepat di atas sini,
di sebelah metro jalur sepuluh.
Untuk membangunnya di dekat Pyeonghwa-ro, butuh banyak konstruksi terowongan
dan sulit membangun persimpangan.
Lebih baik membangunnya di sebelah metro jalur sepuluh.
Namun, di sini ada sekolah pertahanan militer.
Jadi, akan sulit.
Ada cara lain meski sulit dari jalur mana pun.
Menembus ke bawah tanah.
Ini disebut terowongan bawah tanah.
Bukankah itu akan lebih mahal?
Tidak terlalu.
Di daerah tanah yang mahal, lebih murah membangun jalan di bawah tanah
daripada membangun jalan di atas tanah.
Jika membangun di bawah tanah, tanah di permukaan masih bisa digunakan.
Dilihat dari nilai pemanfaatan lahan,
biaya tambahan mengonversi pembangunan ke bawah tanah juga bisa diimbangi.
Jika perbedaan biayanya tak besar,
mengapa mereka tak mempertimbangkan jalan bawah tanah?
Itu karena…
orang yang membangun jalan dari jurusan teknik sipil.
Teknik sipil berurusan dengan permukaan tanah.
Bawah tanah adalah konsep arsitektur.
Meski sederhana, tetapi itu masih ruang.
Tidak, itu tidak benar.
Kalian harus berpikir secara objektif.
Apakah tanah Sodeok-dong layak untuk dilestarikan
sampai harus dibangun jalan bawah tanah?
Jawabannya tidak.
Sodeok-dong berada di pinggiran Seoul, tetapi juga memiliki tujuan militer.
Sabuk hijau sulit direalisasikan.
Hampir tidak ada kemungkinan menjadi kota baru.
Jadi, maksud kalian,
kami tidak perlu mengajukan gugatan?
Dari yang kami temukan,
sulit untuk membantah ada alternatif
yang pasti dan lebih baik daripada rute yang direncanakan.
Kemudian, peluang memenangkan gugatan sangat rendah.
Litigasi administratif memakan waktu minimal tiga bulan untuk sebuah keputusan.
Paling lama sampai satu setengah tahun.
Kami khawatir banyak waktu dan energi
No comments yet. Be the first to leave one.