The first 200 lines.
Sebelumnya di Secrets of Sulphur Springs...
Savannah! Tunggu, kami datang!
Griffin, ayo pergi! Palkanya macet.
Kusadari bahwa salah tak membahas ayahmu.
- Kalian bertemu? - Di Kamp Tremont,
Dia melambaikan tangan dan berkata, "Hai, aku Chris."
Kami berkemah.
Begitu aku terlelap, Savannah menyelinap keluar.
Aku pun ikut dia.
Kami dengar suara. Aku berlari.
Aku tak tahu... hingga keesokan paginya.
Griffin, lihat!
PEMBUKAAN LAGI TREMONT 1962
Itu Savannah?
Tahun 1962. Kita harus kembali.
- Harper, keluargaku akan pindah. - Apa?
- Jika kita temukan Savannah... - Tinggal.
Kita hanya bisa sekali mundur 30 tahun lewat portal.
Mungkin bisa dikendalikan.
Ayo cari tahu.
- Dapat! - Hubungi nomor yang di lantai atas.
Ini Savannah yang mencoba bantu kita temukan dia.
Apa tindakan kita sekarang?
Seharusnya kita dorong.
Tunggu! Cara kita tahu ini tak meleleh di muka kita atau semacam itu?
Karena Savannah yang memandu kita.
Dia ingin diselamatkan, bukan melelehkan wajah.
Ya, benar juga.
Mirip kombinasi kunci yang aneh.
Satu-Sembilan-Sembilan-Nol?
Tunggu, aku paham.
Ini angka Romawi, 1990.
Kita hanya bisa mundur 30 tahun dari masa kita saat ini, benar?
Benar.
Jadi...
mungkin tombol ini beri kita kendali untuk memilih tahun apa saja.
Baik, coba 1962.
Foto Savannah yang kutemukan? Itu tahun fotonya.
Mungkin dia ingin kita ke sana.
Enam dan dua.
Itu 1962.
Tak terjadi apa-apa.
Sayang sekali.
Itu teori yang lumayan.
Jangan meremehkan kekuatan ninja loker.
Siap untuk perjalanan terakhir sebelum kau kembali ke Chicago?
Ayo lakukan.
Modal recehan jadi jutawan! Visi Misi Foya Foya, cuma di RECEH88
ANAK HILANG! Pencarian Savannah
Jika Ayah ingin aku berkata bahwa datang kemari itu salah, baik.
Itu memang salah.
Kami masih bicara ke jasa pindahan, tapi kita ke Chicago
pada akhir pekan. Aku bisa mulai kembali bekerja pada Senin jika boleh.
Ya, itu yang kumau.
Karena itu hal terbaik baik aku dan keluargaku.
Ayah benar.
Ayah selalu benar.
Foto-foto lawas itu akan kembali masuk garasi?
Itu tak perlu.
Jika mau, kita bisa melihatnya bersama.
Sungguh?
Karena aku punya beberapa pertanyaan.
Ya. Silakan.
Aku ingin tahu... tentang ini.
Ya, aku ingat hari itu.
- Itu GTO milik Ayah, benar? - Ya.
Sebelum kau dan saudarimu lahir, mobil kuning itu kesayangan Ayah.
Namun, Ayah berniat menjualnya. Tak pernah bilang alasannya.
Jadi, dia mengendarai itu ketika...
Tak apa.
Kita bisa membahasnya.
Harper bilang Ayah biasa berkendara di sekitar Tremont,
Namun, paginya dia terlibat kecelakaan.
Benar.
- Dengar, Toph... - Bu, tak apa.
Ini pun sulit bagiku,
tapi aku paham maksudmu.
Banyak kejadian buruk di tempat itu.
Jadi, ini tahun 1962.
- Lihat mobil-mobil tua itu. - Ya.
Gaya rambut itu keren.
Pakaiannya juga. Semoga kita tak terlalu menonjol.
Ya, aku juga.
Tempat ini cukup ramai.
Menurutmu Savannah ada di tempat ini?
Entah. Mungkin kita harus bertanya.
- Bisa kubantu, Anak-anak? - Ya. Kami mencari teman kami.
- Temanmu tamu hotel? - Entah. Mungkin.
Sudah kubilang. Urus itu, Greg...
Maaf, tapi kau harus pergi.
- Apa? Kenapa? - Ayo.
Tidak. Savannah mungkin di sana.
Kau tak paham. Ini sangat penting.
- Sekarang, Griffin. - Kami tak boleh masuk?
Bukan. Dia tak boleh masuk.
Apa? Kenapa? Dia lakukan apa?
Bukan karena tindakanku, paham? Ini karena warna kulitku. Ayo pergi.
Tidak.
Tak mungkin. Kau... tak mungkin begini. Dia sahabatku.
Baguslah, Nak. Pergilah. Ayo.
Itu gila. Kau bisa percaya itu?
Ya! Aku bisa percaya itu, Griffin. Lihat sekelilingmu.
Lihat tahunnya.
Ini situasinya, dan bahkan belum lama.
Aku heran kau bisa setenang ini.
Percayalah, aku tidak tenang.
Kau tak paham tentang ini.
Ya, aku tahu. Maaf. Namun...
- Mau pulang? - Secepatnya,
- tapi tak sampai temui... - Harry? Hermione? Astaga!
- Savannah! - Sedang apa kalian?
Kau di sini! Kalian temukan aku?
Percayalah, itu tak mudah.
Kami tak sempat menjelaskan.
- Kami ingin minta tolong. - Savannah, Sayang.
Kau ingat membawa handuk itu ke mata air?
Ya, baru ingat, tapi kita akan butuh lebih.
Omong-omong, mereka temanku. Harry dan Hermione
dari kemah musim panas lamaku.
Salam kenal.
Boleh aku pergi lebih awal? Ingin kuajak mereka lihat rumah pohon.
Baik, tapi jangan terlalu lama.
Terima kasih, Bu. Ikuti aku.
Bu?
- Kau yakin tempatnya di sini? - Tentu, aku yakin.
Kita buat peta ini bersama, ingat?
Ini gila. Dua belas tempat penampakan dan kini...
Tidak. Tak ada embun beku.
Kau tak berpikir Savannah bersembunyi dari kita, bukan?
Entah. Mungkin.
- Atau jika... - Apa?
Jika dia berhenti menghantui kita dan akhirnya dapat keinginannya?
Apa maksudmu?
Kita akan kembali ke Chicago.
Mungkin dia bahagia mendapatkan kembali tempatnya.
Semoga bukan begitu.
Alasan Savannah tak menyukai kita? Kita penggemar terberatnya.
Setelah pohon itu jatuh ke lubang pada 1960. aku kembali ke Tremont
untuk menuntaskan masalah.
Esok paginya, aku ke luar, orang pertama yang kutemui
wanita ramah bernama Caroline.
- Wanita yang kita temui? - Ibumu? Dia tampak sangat ramah.
Dia yang terbaik. Dia orang paling ramah.
Saat dia dan suaminya, Ray, ayahku,
tahu aku anak asuh, mereka memberiku tempat menginap.
Tahu-tahu, kita jadi keluarga!
- Sungguh? - Ya.
Adopsinya sudah resmi bulan lalu.
Mereka membuatkan aku rumah pohon keren.
Jadi, ini berasal dari sana.
Ya, aku selalu merasa terhubung dengannya.
Aku tahu sebabnya.
Itu bagus, Savannah.
Ya, aku hampir lupa.
- Katamu kau ingin minta tolong? - Ya, benar.
- Jadi... - Hal pertama yang perlu kau tahu...
kami belum sepenuhnya jujur.
Ya. Nama kami bukan Harry dan Hermione.
- Aku Griffin. - Harper.
- Kami dari masa depan. - Aku juga. Ingat?
Ya, tapi melebihi masamu. Tahun 2020.
Tahun 2020? Sungguh?
Aku harus tahu, adakah roket jet? Robot? Mobil terbang?
Ada banyak hal keren.
Ben Campbell adalah ayahku.
- Maaf? - Ben? Temanmu?
Dari kemah?
Dia punya anak?
- Tak mungkin. - Ya.
Ibuku Jessica Carlton.
Jess? Bagaimana mungkin?
Kau sangat keren, namun ibumu tidak.
Untungnya dia makin ramah.
Ben? Bagaimana kabarnya?
Sebenarnya, semenjak kau menghilang,
ayahku merasa sangat bersalah.
Kenapa?
Aku berharap kau bisa menjawab itu.
Bahkan setelah 30 tahun itu masih sebabkan masalah.
Tak hanya padanya, tetapi ibuku juga.
Astaga.
- Aku minta maaf. - Tak apa.
Kau masih bisa menolong.
Tentu! Apa pun
- Maksudku, selama bukan... - Kami perlu kau melewati
lubang bersama kami.
Begini, andai aku bisa, tapi aku tak bisa pergi dari sini.
Maksudku, selamanya.
Aku kini punya keluarga.
Mereka tak akan tahu kau pergi!
Pergi diam-diam malam ini, balik sejam.
- Kami sering begitu. - Tak pernah ketahuan?
Tak pernah.
Baik, hampir tak pernah.
Jika kembali ada masalah, seperti ranting pohon yang patah?
Aku bisa di sana selamanya.
Yah...
Tolong coba mengerti.
Kali pertama di hidupku, ada ayah dan ibu yang menyayangiku.
Jika aku kehilangan itu...
No comments yet. Be the first to leave one.