The first 181 lines.
Beginilah cerita ini dimulai. Dari gelap-gelapan.
- Panca, ini aku dibawa ke mana, sih? - Sabar.
- Panca, aku menyenggol apa? - Sofa. Itu sofa.
Siap, ya? Kejutan!
Ini di mana?
Ini rumah baru kita.
Benaran? Uang dari mana?
Kamu sudah enggak mayoritas? Kenapa kamu jual?
Ya, kalau aku gak jual, kita gak bisa KPR rumah ini.
Kalau kamu dikeluarkan gimana?
Tenang, aku gak akan bisa dipecat. 'Kan, aku masih pemiliknya. Tenang aja.
Yuk, kita ke atas.
Kamu lebih dulu aja.
- Ya halo, Sat? - Panca!
Ca, ini soal twit lu kemarin yang bikin heboh.
- Itu terlalu heboh menurut gue. - Kenapa?
Ya, investor sudah ambil suara dan semua setuju lu keluar.
Gue sudah coba membela lu.
Gue sudah coba jadi pendukung lu.
Tapi, ya, yang lu lakukan sudah parah, Ca.
Gue juga bingung.
Maksudnya?
dan tukang-tukang harusnya dapat bagian dari pekerjaannya.
Investor gak setuju.
Ya, gue juga, sih.
Lah, terus?
Di dokumen pemegang saham kita ada pasal yang bilang
kalau lu merugikan perusahaan, secara publik atau finansial,
pemegang saham mayoritas bisa ambil alih saham lu.
Ya, maaf, ya, kalau jadi kayak begini.
Ya, gue mengetwit kayak begitu, 'kan, karena memang gue merasa gak adil
untuk para tukang.
Masa gue dikeluarkan dari perusahaan gue sendiri?
Perusahaan yang kita bikin bareng?
Ya, sori, investor lain banyak juga yang berpikir
lu selama ini terlalu idealis.
Maaf, ya, semoga lu mengerti posisi gue juga.
Lagian, 'kan, lu sudah dapat uang juga dari bagian lu. Pasti aman, lah!
Panca, kok, gak naik?
Beginilah cerita ini dimulai.
Dari gelap-gelapan.
Hidup gue yang mendadak gelap maksudnya.
Sebuah pasar yang bisa bantu tukang-tukang mencari pekerjaan.
Dari mulai tukang bangunan sampai ke tukang ledeng.
Inspirasinya dari bapak,
tukang bangunan pekerja keras, tapi susah banget cari pekerjaan.
Meskipun begitu, tapi bapak bisa menyekolahkan gue sampai lulus.
Akhir bahagia, dong? Enggak juga.
Saat gue baru dapat kerja,
bapak dan ibu meninggal berbarengan,
karena kecelakaan.
Tapi untung gue punya Loli, tetangga yang gue kenal dari waktu gue kecil.
Cowok, kok, main boneka?
Hei!
Jangan ganggu Loli!
Oh, lu berani sama kita-kita?
- Aduh! -
Kamu enggak apa-apa, Loli?
Sampai jadi teman hidup gue saat ini.
Berkat bantuan Loli, gue jadi percaya diri untuk bikin bisnis.
Selamat untuk pencapaian kita semua!
Oke, semoga kita makin sukses lagi!
Tapi saat ini semua kerja keras gue hilang.
Terus Satria, 'kan, telepon video aku, aku gak menyangka dia akan bicara begitu.
- Terus bagaimana? - Aku dipecat!
- Kamu dipecat? - Ini semua gara-gara aku.
Kalau aku gak mengetwit, aku pasti masih punya pekerjaan.
- Kita masih punya masa depan! - Ini bukan salah kamu.
Ini salah Satria.
Terus sekarang kita bagaimana?
Kenapa kamu panik? Kalau panik, siapa yang tenangkan aku?
Ya, iya, tapi, 'kan, kamu suami aku. Kamu juga harus tenangkan aku.
Ya, kalau kita berdua panik, siapa yang tenangkan kita berdua?
Ini bagaimana, nih? Masa depan di mana aku harus mencicil rumah ini.
- Kenapa, sih, aku gak berpikir dulu? - Sudah.
Kamu tenang aja.
Aku akan menemani kamu. Kamu masih bisa, lah, kerja.
Kamu masih mau sama aku? Dengan kondisi kacau kayak begini?
Iya.
Sekacau apa pun?
Sekacau apa pun.
Ha…
Angkatan Ketiga Seminar Sukses Bersama 2005!
- Sukses! Sukses! Mantap! Hiya! Hiya! -
- Marlo! - Panca! Gila, segar sekali lu, ya!
Iya, dong. Sebagai alumni seminar bisnis harus kayak begini.
- Lu juga. Ayo. - Ayo.
Ha? Komedi Kacau mau lu jual?
Gue pengin supaya bisnis gue itu keluar
dan berkembang dan lebih baik dari pada biasanya.
Lu bohong, ya?
Iya, mau gue jual buat bayar hutang.
Harusnya gue gak percaya, sih, sama si George itu.
Siapa George?
Monyetnya tetangga gue.
Tetangga lu punya monyet namanya George?
- Ya begitu, deh. Si Monyet ini, nih… - Eh, omong monyet jangan tunjuk gue.
Jadi, si Monyet ini, itu bisa meramal semua pertandingan UEFA, Bung.
Jadi, tinggal taruh nama-nama negara, nanti dia ambil pisang, tuh.
Itu dari awal sampai akhir menang terus.
Makanya gue pasang besar, tuh, saat final.
Terus akhirnya?
Monyetnya kekenyangan, gak mau ambil pisang, malah tidur.
Monyet, tuh, monyet!
Gue kalah banyak.
Makanya pengin gue jual aja, nih, Komedi Kacau. Lu beli, ya, tolong.
Ya, beli kelab komedi, 'kan, gak segampang itu.
Lagi pula gue juga gak mengerti bisnisnya.
Bung, lu adalah teman gue satu-satunya yang punya uang tunai.
Iya. Lagi pula itu, 'kan, juga uangnya mau gue pakai buat bisnis lain.
Bisnis apa?
Ya ada, lah.
Begini, deh. Kita taruhan aja.
Kalau gue bisa baca pikiran lu, dan benar,
lu bakal pikir-pikir lagi buat beli Komedi Kacau.
Ya, setidaknya datang, lah. Melihat.
Kalau salah, gue gak akan minta apa-apa lagi dari lu.
- Ya sudah, coba. - Oke.
Istri lu gak setuju lu bisnis cupang.
Ih, kok, benar?
Ya?
Ya sudah, kalau cuma mampir, iya. Ya, gue ke sana, ke Komedi Kacau.
Mas.
Di belakang situ kalau misalkan sudah ada tiga orang cewek-cewek,
kasih tahu saya, ya.
Baik, Bu.
Bu, sudah tiga orang, Bu.
Sudah?
Kemarin gue lihat tas kayak begini, tapi warnanya biru.
- Biru? - Biru, May.
- Lucu! - Iya, 'kan?
- Hai, Teman-teman. - Hai.
Aduh, sori, nih, telat. Jadi gak enak, deh.
Tumben telat?
Iya. Gue lagi sibuk banget. Biasa, lah. Lagi banyak kerjaan.
Capai juga, ya, cari uang?
Sekarang lu yang kerja?
Ih, iya. 'Kan, sekarang Panca jadi gelandangan.
Pengangguran!
Ya, sama aja. 'Kan, lama-lama jadi pengangguran.
Itu suami gue, lo.
Ah, maaf.
Sori, ya, Lol. Kemarin kita lihat di berita.
Katanya Panca dipecat? Terus sekarang lu yang jadi tulang punggung keluarga?
Memang kerja apa, sih? Kok, kita baru tahu?
Itu masih dalam proses. Belum bisa dibagikan.
Makanya tadi gue telat datang ke sini soalnya lagi sibuk banget.
Gak mungkin, 'kan, lu pura-pura telat biar dibilang sibuk?
Ya kali, kasihan banget gue.
- Enggak mungkin. - Permisi.
Itu tagihan waktu ibu menunggu di pinggir dari tadi.
Apa mau disatukan dengan meja ini aja?
Jadi, saya ini mau mengucapkan terima kasih buat kalian,
karyawan Komedi Kacau yang setia.
Yang sudah bersama gue semenjak kelab komedi ini berdiri.
Siap, Kang.
Pokoknya selama Komedi Kacau ini berdiri,
kami akan selalu setia berada di samping Kang Marlo.
- Kapan pun, dengan tegar… - Ya, tempat ini mau dijual.
Gue ini kolesterolnya tinggi, tahu enggak, lu?
Mana istriku habis minta kompor baru.
Lah, aku melawak di mana, terus?
Kang, cuma tempat ini yang mau kasih saya kesempatan
untuk jadi komika reguler, lo.
Kang, nanti saya tidur di mana, Kang?
Ya, tenang. Nanti bakal ada calon pembeli.
Dia bakal datang melihat-lihat.
Kalau lancar, ya aman.
Tapi gue butuh bantuan kalian supaya dia terkesan, yah.
Kalau dia enggak jadi beli?
Bakal jadi kasino, Kang?
Saya tidur bareng kartu sama dadu, dong, Kang?
Ada koin juga, kok.
Apa?
Ya latihan kalau nanti harus kerja di kasino, 'kan, bagi-bagi kartu.
Kalau kalian berdua enggak ada yang kerja, uang belanja bagaimana?
Masih ada, sih, dari jual sahamnya di perusahaan.
Duh, Loli, segera, deh. Keburu suami lu jadi koruptor.
Kenapa jadi koruptor?
Ya, bayangkan aja, nih.
Lu gak punya duit, terus Panca jadi ketua RT di lingkungan rumah lu.
No comments yet. Be the first to leave one.