The first 200 lines.
"Home for Summer"
"Lee Young Eun, Yoon Sun Woo"
"Kim Sa Kwun, Lee Chae Young"
"Kim San Ho, Na Hye Mi"
"Kim Ye Ryung, Kim Hye Ok, Lee Han Wi"
"Kang Seok Woo, Moon Hee Kyeong"
"Song Min Jae"
"Home for Summer"
Kalau begitu, bersenang-senanglah bersama suamimu.
Baiklah. Sampai jumpa.
- Sayang. - Hai.
- Ayo pergi. - Kamu mau makan apa?
Apa pun yang kamu mau.
Aku bertanya kamu mau makan apa.
Ya, itulah yang kumau.
- Ini hebat. - Begitukah?
- Kita makan apa? - Ayo kita makan sup panas.
- Sup panas sepertinya enak. - Baiklah.
- Kenapa? - Apa?
Bukan apa-apa. Ayo pergi.
- Siapa? - Wang Geum Hui.
Ini tampak seperti takdir.
Aku bertemu dengannya baru-baru ini di pusat perbelanjaan, lalu di sini.
Kenapa tidak mengejarnya jika kamu sedih melihatnya pergi?
Dia hendak makan malam bersama suaminya.
Jadi, Han Jun Ho adalah
suaminya Geum Hui?
Kubilang aku menyukaimu karena itu benar, lalu apa salahnya?
Pernahkah aku mengajakmu berkencan atau memintamu menciumku?
Kamu tergoda?
Kamu selalu seperti ini.
Kamu selalu bertentangan dengan harapanku.
Itulah yang membuatku tertarik kepadamu.
Sayang.
- Ya? - Kenapa diam saja? Supmu.
Benar juga.
Apa yang kamu pikirkan? Kamu dalam masalah?
Tidak, ayo makan. Kelihatannya enak.
Apakah karena Ibu?
Bukan apa-apa.
Benar juga. Aku bertemu dengan teman SMA-ku saat menunggumu.
Benarkah? Kalian berdua dekat?
Kira-kira begitu.
Tapi kalian berpisah begitu saja?
Sudah lama kami tidak berkomunikasi.
Kenapa?
Ceritanya panjang.
Bagaimanapun juga, entah kenapa berakhir seperti itu.
Aku pasti berusaha meluruskan kesalahpahaman jika itu sekarang.
Begitulah manusia menjadi dewasa.
Kalau begitu, kamu juga tumbuh sedikit dewasa?
Apa maksudmu?
Aku menyarankan kita mengunjungi Ibu.
Dia mungkin juga merindukanmu.
Kamu harus menjenguk Yeo Reum lagi, bukan?
Makanlah. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.
Baiklah.
"17 Tahun Lalu"
Apa ini?
Kenapa ini ada padamu?
- Sang Mi. - Jawab pertanyaanku.
Kenapa ini ada padamu?
Aku juga tidak tahu. Aku menemukannya di ranselku.
Kamu pikir aku akan percaya?
Sang Mi.
Kamu tahu apa ini?
Aku memilih ini dengan cermat untuk kuhadiahkan kepada Seon Gyu.
Aku tidak bisa menemukannya di pusat perbelanjaan,
jadi, aku memohon kepada sepupuku di Jepang untuk mengirimkannya!
Lalu kenapa itu ada di ranselku?
Kamu meminta ini kepada Seon Gyu?
- Apa? - Pemutar MP3 milikmu rusak.
Kamu keliru, Sang Mi. Bukan itu yang terjadi.
Lalu kenapa ini ada padamu?
Aku yang memasukkannya ke ransel Geum Hui.
Apa?
Seperti katamu, pemutar MP3 miliknya rusak.
Maafkan aku, Sang Mi.
Sebenarnya, aku menyukai Geum Hui.
Aku ingin menjadi temanmu karena kamu adalah sahabatnya.
Bagaimanapun juga, maafkan aku. Aku minta maaf.
Kenapa kamu melakukan ini?
Sang Mi sangat menyukaimu.
Tapi, Geum Hui, kamu tidak tahu aku menyukaimu?
- Kukira kamu sudah tahu. - Apa katamu?
Ju Sang Mi!
Jadi, Wang Geum Hui,
suamimu adalah Han Jun Ho?
"Baiklah. Kamu bilang..."
Kamu menerima pesan teks.
Aku akan mengeceknya nanti.
- Mau kubacakan? - Tentu.
Dari siapa?
Pesan spam yang menawarkan pinjaman.
Ini Ibu.
Ya, Ibu. Geum Ju belum pulang?
Belum?
Tidak. Aku pasti menelepon Ibu jika dia meneleponku.
Aku? Aku dalam perjalanan pulang setelah makan malam bersama Jun Ho.
Baiklah. Katamu, kamu bersyukur jika wanita sepertiku
meminta hal itu, bukan?
Maka datanglah ke Kamar 1604 di Hotel Planet sekarang.
Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat serius?
Ini bukan apa-apa.
"Hapus pesan?"
Ini pesan spam lainnya. Aku kesal.
Kukira ada masalah di klinikmu.
Ya. Ibu tadi bilang apa?
Jangan khawatir. Aku yakin dia baik-baik saja.
Baiklah. Sampai jumpa.
Dia juga tidak menelepon Geum Hui?
Anak itu keluyuran ke mana?
Kamu mulai lagi. Belajarlah mengendalikan emosimu.
Aku tidak bisa mengubahnya. Itu sifatku.
Selain itu, dia membuatku kesal pada waktu yang terburuk.
Aku sudah cemas karena ibu mertuanya Geum Hui.
Omong-omong, apakah Geum Hui
- memberi tahu Jun Ho? - Mengenai apa?
Ibu mertuanya, yang membuatmu sangat cemas, muncul.
Aku yakin dia memberi tahu Jun Ho. Tidak ada gunanya bohong soal itu.
Bukankah sebaiknya kita mengundang Jun Ho dan membuatnya merasa tenang?
Jun Ho pasti sulit membicarakan ibunya lebih dahulu.
Bukankah lebih baik kita mengungkitnya lebih dahulu?
Dia harus tahu kita tidak keberatan.
Kamu begitu murah hati.
Karena besok akhir pekan, undang Geum Hui dan Jun Ho kemari.
Siapa yang datang?
Kenapa kalian terkejut sekali?
Hei. Kamu akan terus menyelonong kapan pun kamu mau?
Aku datang hanya untuk mengembalikan piring.
Jika kamu menaruhnya di luar kamarmu,
aku akan membawanya masuk.
Kamarku bukan sel penjara untuk dibawakan nampan keluar masuk.
Omong-omong, siapa yang akan datang?
Putri sulung kami dan suaminya.
Apa pekerjaan menantumu?
Dia seorang dokter.
Astaga. Putraku juga seorang dokter.
Astaga. Ini konyol.
Kenapa dia hidup seperti itu jika putranya memang seorang dokter?
Sungguh? Dia dokter apa?
Dia ahli bedah plastik.
Astaga. Kebetulan sekali.
Menantuku juga ahli bedah plastik.
- Sungguh? - Ya.
Kenapa dia tidak melakukan sesuatu pada wajah ibu mertuanya
- jika dia ahli bedah plastik? - Apa?
Apa katamu?
Astaga. Beraninya dia bicara seperti itu.
Astaga.
Bisa-bisanya kamu tertawa sekarang?
Kamu sudah mengundang Geum Hui?
Karena sudah di sini, kamu ingin bertemu dengan Yeo Reum?
- Sekarang? - Ya.
- Jika kamu menemuinya langsung... - Lain kali saja.
Tapi dia akan segera keluar dari rumah sakit.
Dia pasti menunggumu. Masuklah.
Baiklah.
Siapa itu?
Aku bertanya...
Bukankah ini Kamar 1603?
Bukan.
Maafkan aku.
Sayang.
Sayang.
Sayang, kamu apakan batu pajanganku?
Kamu apakan batu pajanganku?
Ada apa dengan batu pajanganmu? Kamu tidak bisa menemukannya?
Kamu sungguh akan begini?
Apa maksudmu? Kamu pikir aku membuangnya?
- Kamu tidak membuangnya? - Kamu punya buktinya?
Apa? Bukti?
Ya. Bukti.
Aku tidak bisa membuktikan bahwa kamu merusak kukuku.
Jadi, aku berusaha melupakannya.
Itu tidak sama.
Kamu tahu betapa mahalnya benda itu?
Betapa pun berharganya, itu hanya sebuah batu.
Kukuku adalah bagian dari tubuhku.
Kamu merusak bagian dari tubuhku. Kamu tidak tahu?
Astaga. Yang benar saja.
Baiklah.
Terserah saja mau kamu apakan kukumu itu.
Sekarang kembalikan batu pajanganku. Ayolah.
Sudah kubilang aku tidak tahu.
Hei! Heo Gyeong Ae!
Hai. Ini aku.
Apakah kebetulan kamu melihat batu pajanganku
yang ada di ruang kerja?
Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya.
Baiklah. Sampai jumpa. Ya.
- Ada apa? - Bukan apa-apa.
Omong-omong, kamu membuatkan acar mentimun untuk Kak Yong Jin?
Tentu saja.
Aku bahkan menumbuknya dengan batu yang indah.
- Batu yang indah? - Ya.
Batu yang seindah dirimu.
Itu mungkin seindah dirimu, Yong Soon.
Bagaimanapun juga, kerja bagus.
Kurasa bukan ide bagus
No comments yet. Be the first to leave one.