The first 192 lines.
sudah agak lama kusadari betapa lemahnya diriku
yowai jibun nante tokku ni jikaku shiten da yo
ku tak ingin terlalu akrab dengan seseorang seperti itu
sonna mon ni nareaitakunai ne
walau kuputuskan benang kegalauan dunia yang tak ada baiknya ini
tatoeba zokuseken dame da to nageku doukasen
itu takkan nyalakan api di bawahku
jibun ni hi ga tsukanu you ni
kita berpegangan tangan selama ribuan tahun
iku sennen mo te wo toriatte teitaraku wo
urusan menyedihkan ini terkuak dan kita mendarat di tempat berbeda
sarashiatte zureta chakuchi ten
walau ku harusnya bisa tertawa dan melihatnya
waratte mieta tsumori na no ni
jarak jauhnya tampak begitu jauhnya
toonoku kyori ha So Far
walau bukan karena ku kesepian
sabishii wake ja nai no ni
walau ku terus mengejarnya
oikakeru no ni
bawalah cintaku, terus coba ambil cintaku dan buatku menggila
boku no ai wo kurae Love wo kuratte miro Drive Me Crazy
kau pasti tahu cita-cita seseorang
dareka no risou wo hoshitten darou nee
ku tak ingin lakukan hal seperti biarkan kesensitifan kedewasaanku
kansei no seijuku nante shitaku ha nain da
kau mengerti, 'kan?
wakaru deshou
inilah simpati sederhana, yang lenyap di depan mata
tanjun Sympathy kieta me no mae no
lebih menggelora dari
keshiki ha aseta
warna yang memudar
iro yori koi
ZainuddinAri
mempersembahkan
Kau takkan bisa kalahkanku.
Gelar sebagai Pemain Keenam Bayangan...
Maaf saja, tapi aku belum berniat untuk melepasnya!
Kau timpakan keberadaanmu
padaku?
Aku masih butuhkan kekuatanmu.
Demi kemenangan Rakuzan, aku berharap padamu.
Bolanya menghilang.
Jangan-jangan, yang barusan itu...
Misdirection Overflow?
Tidak, sebenarnya agak berbeda.
Saat ini, perhatian semua orang mudah tertuju pada Mayuzumi.
Itulah yang Akashi manfaatkan, untuk alihkan pandangan Kagami.
Bermain dengan Segenap Tenaga
Quarter 71
Oke!
Nebuya!
Huh, kalau memang bisa hentikanku, maka lakukan saja, Kiyoshi!
Muscle Dribble!
Maju satu lawan satu setelah terima pass dari Akashi dan cetak angka.
Gaya menyerangnya seperti sedang pamer kekuatan saja.
Rakuzan
Seirin
Sial!
Terlebih lagi, cara Akashi yang manfaatkan Mayuzumi...
Tanpa ampun. Hanya itu kata yang tepat.
Tugasnya hanyalah berdiri dalam jarak pandang Kagami.
Kini hatinya pasti remuk karena diperalat seperti itu.
Yang buatnya rela diperlakukan seperti itu,
adalah karena dia kenakan seragam, dan berdiri di tengah lapangan.
Kini hanya rasa tanggung jawabnya sebagai pemain,
yang buatnya tetap bermain meski tanpa emosi.
Bagus!
Rakuzan
Seirin
Selisihnya kembali ke 20 angka, ya?
Tapi, kalau offense Rakuzan tak dihentikan, selisihnya takkan berkurang.
Sial.
Apa yang sebaiknya...
Defense! Defense! Defense!
Saat ini, Rakuzan menyerang dengan one-on-one dari ketiga Raja Tak Bermahkota.
Untuk hentikan serangan mereka,
kalian yang kelas dua harus bisa hentikan mereka! Kumohon!
Kak Tsuchida.
Defense! Defense!
Wah, yang di sana semangat sekali, ya.
Tapi, tetap saja...
Percuma, sih.
Jujur saja, rasanya jadi kurang bersemangat. Kalau lawannya Kagami, baru bakalan asyik.
Boleh kutanyakan satu hal?
Bagaimana pendapatmu soal Mayuzumi?
Tak ada pendapat apa-apa, kok. Soalnya itu cara yang tepat untuk memanfaatkannya.
Memang tak boleh?
Bukannya aku keberatan juga, sih. Hanya saja...
Aku tak ingin kalah darimu.
Oh, begitu, ya.
Sebenarnya tiga jari saja sudah cukup, tapi karena cara bicaranya menyebalkan...
Bersiaplah!
Empat jari!
Lightning Dribble Hayama!
Dengan empat jari juga tak bisa lewat?
Karena lihat keseluruhan gerakanku dengan Eagle Eye, dia jadi bisa ikuti kecepatanku?
Kondisi batin bisa berpengaruh besar pada permainan.
Hanya dengan cara berpikir saja, sikap seseorang bisa berubah!
Meski tak berkutik, yang selama ini dihadapinya adalah monster itu!
Seorang anak muda berkata padaku.
Dibandingkan dengan Akashi, kau masih terlalu mudah.
Pelesetan baru!
Lucu?
Tidak, maaf banget.
Jujur saja, aku meremehkanmu.
Oke.
Bersiaplah. Lima jari!
Tekanan yang luar biasa. Inikah Raja Tak Bermahkota saat serius?
Meski begitu, gawat. Baru kali ini aku merasakannya.
Aku takut.
Aku takut karena merasa tenang saat sedang tersudut begini!
Ini dia!
Terlewati!
Eagle Spear!
Takkan sempat. Kalau hanya sebatas itu.
Eh? Sudah masuk gerakan kedua?
Tak bisa, dribble-nya terlalu cepat!
Izuki.
Maaf.
Jangan dipikirkan. Ayo kita balas mereka!
Tidak, bukan itu maksudku.
Sejujurnya aku merasa senang karena bisa bermain sekuat tenaga melawan orang sehebat itu.
Aku justru bersemangat di saat seperti ini.
Izuki.
Serahkan saja Hayama padaku.
Aku pasti bisa menghadapinya!
Sepertinya, kau sudah tertular penyakitnya Kagami, ya?
Aku tak mau disamakan dengan dia!
Akashi, oper padaku! Jangan berhenti!
Memang itu mauku.
Tapi, jangan sampai lakukan kesalahan bodoh.
Tentu saja! Aku hanya akan hancurkan mereka tanpa ampun!
Muncul lagi!
Hayama tak terhentikan!
Yang barusan itu, dia mengamatinya.
Setelah dilewati, dia tak gunakan Eagle Spear pada lawan, melainkan mengamatinya.
Kak Izuki.
Kuroko.
Tenang saja. Biarkan aku mencobanya sekali lagi.
Berikutnya, akan kuhentikan!
Waduh, waduh.
Sepertinya kau ingin sekali hentikanku, ya?
Tapi, ya. Sayang sekali, karena mau sekeras apa pun kau mencoba,
itu mustahil!
Ini...
Mulai sekarang, pertarungan dimulai! Akan kuhentikan!
Kuroko?
Setelah berkali-kali dilewati, aku jadi sadari sesuatu.
Dribble milik Hayama memang sangat cepat.
Tapi, tangan yang terima bolanya, akan terima tekanan yang sangat besar.
Setelah dia lakukan gerakan memotong, dalam sekejap gerakannya akan jadi kaku.
Sudah kuduga kau akan lakukan hal itu.
Dia menghindar?
Gerakannya terbaca!
Dari situ...
Eagle Spear?
Tak bisa! Sepertinya memang mustahil bagiku.
Padahal itu di titik butanya!
Padahal Izuki sudah baca beberapa langkah,
tapi insting hewan buas dan refleks Hayama lebih unggul!
Hayama yang menang!
Tapi, apa boleh kau berada di situ?
Kini kau sudah masuk ke sarang seekor hewan buas!
Celaka!
Apa?
Kagami menepisnya!
Serangan Rakuzan dihentikan!
Kuroko!
Koga, pass! Ke belakang, sebelah kiri!
Duh, jangan bilang, dong!
Wah, nyaris saja!
Ayo!
Wah, ada Hayama!
Alley-oop, ya?
Cih.
Rakuzan
Seirin
Alley-oop dari Kagami!
Meski selangkah, mereka semakin mengejar!
Bagus!
Bukan hanya defense, tapi offense juga.
Dia baca situasi dengan Eagle Eye,
tapi sampai berapa langkah yang bisa dia baca?
Mau setenang apa pun pikiranku, perbedaan kemampuan di antara kita takkan berubah.
Aku ini memang bukan lawan yang sepadan denganmu.
Tapi, bisa atau tidaknya aku hentikanmu, itu lain cerita.
Aku senang kau tak lebih pintar dariku.
Ha?
Hoi, Kotaro! Throw in!
Lima detik!
No comments yet. Be the first to leave one.