Release info

You Are My Destiny EP01 - EP02
A Commentary by JinHan_27

Tags

other
Published on: 2020-11-26
Downloads: 8
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 185 lines.

=Takdir Cinta=

Ini adalah kota modern tingkat pertama dengan jumlah penduduk 24 juta orang.

Ini zaman di mana bisa menggunakan ponsel untuk memesan makanan,

memesan mobil,

membayar,

dan melaporkan pekerjaan.

Ingin menyampaikan pesan, hanya membutuhkan beberapa detik.

Tetapi semakin mudah kita berkomunikasi,

jarak antar manusia,

malah menjadi semakin jauh karena adanya ponsel.

Jadi ada sekelompok orang

yang tetap memilih gaya hidup yang santai,

tidak mengikuti perkembangan zaman.

Maaf.

Permisi.

Maaf.

Tolong bantu saya tekan lantai 18.

Aduh, kantongnya menggores wajah saya.

Maaf, maaf.

Sudah tiba di lantai 18.

Maaf, permisi.

Chen Jiaxin.

Oh, Yuwei.

Ini bakpao gorengmu.

Ini sudah dingin, bagaimana saya memakannya?

Saya tidak mau, kamu makan saja.

Mau makan atau tidak itu urusanmu.

Bayarlah dulu.

Kamu yang menyuruh Jiaxin membawanya.

Kamu tidak makan pun harus tetap bayar.

Jangan selalu memanfaatkan orang lain.

Kalau kamu tidak membayarnya,

saya akan menyebarkan masalah ini di grup WeChat perusahaan,

agar semuanya tahu.

Lagi pula, di perusahaan banyak sekali

orang yang ahli dalam berkomentar.

Ayo pergi.

Sifatmu yang selalu mendahulukan orang lain ini harus diubah.

Pada akhirnya, kamu sendiri yang kesulitan.

Chen Jiaxin,

mana pasta saya?

Maaf, maaf, maaf.

Saya berikan pada dia dulu.

Cepat, saya sudah lapar setengah mati.

Cepat antarkan ke Kantor Keuangan ya.

Baik, baik.

Ini pastamu.

-Cepat pergi fotokopi. -Chen Jiaxin.

Maaf.

Ini adalah jas yang dipakai oleh Pengacara Shen pada hari Jumat di pengadilan.

Cepat kamu bawa untuk dicuci kering.

Saya adalah Asisten Administrasi, Chen Jiaxin.

Departemen HR memberi tahu saya bahwa

yang paling penting bagi seorang Asisten Administrasi adalah

harus cekatan dalam melaksanakan setiap tugas.

Pekerjaan saya mencakup segala hal.

Yang orang lain tidak ingin lakukan,

yang tidak bisa diselesaikan,

yang malas untuk dilakukan,

yang tidak ada waktu untuk dilakukan,

semuanya adalah tugas saya.

Meskipun setiap hari sibuk hingga seperti gasing berputar,

tetapi jika bisa menyelesaikan

setiap tugas yang tertulis di post-it note,

membantu para rekan menyelesaikan masalah,

saya juga merasa sangat puas,

sama seperti bermain game saat berhasil mengalahkan monster untuk naik level.

Lagi pula,

saya juga tidak sepenuhnya tidak mendapat keuntungan.

Chen Jiaxin,

sudah berapa kali saya katakan padamu?

Siapa yang mau melihat post-it notemu itu?

Sebelum pulang kerja,

kamu harus mengubah kontrak kerjanya menjadi tabel dan kirimkan ke saya.

Tetapi terkadang,

saya juga sering merasa bahwa saya seperti post-it note,

disuruh datang dan pergi sesuka hati.

Tidak peduli saat itu seberapa penting,

setelah selesai digunakan,

ini adalah tempat terakhir saya.

Apa yang terjadi?

Kalau tidak nyaman, lakukan saja senyamannya.

Lihatlah, semuanya!

Ini adalah Kantor Pusat kita!

Semuanya jangan sungkan.

Anggap saja tempat ini seperti rumah sendiri.

Berikan dia uang.

Semuanya, semuanya.

Semuanya, semuanya.

Sekarang ini adalah waktu kerja kami.

Bisakah kurangi sedikit volume suaranya?

Datanglah secara teratur, oke?

Apa-apaan?

Hah?

Kami semua adalah karyawan lama dari Cheng Jie Group.

Ini adalah rumah kami.

Kalian ini makan nasi, makan mi, bermain kartu,

bahkan membawa selimut juga.

Bagaimana kami bisa bekerja?

Kamu melakukan hal seperti ini.

Dengan begini, baru suasananya seperti rumah.

Kamu sekarang mengganggu kami.

Di kantor tidak boleh seperti ini.

Gawat.

Gawat, gawat.

Bisakah kalian berpikir dengan logika?

Halo.

Pak Yi,

pekerja dari pabrik di Pulau Huaniao datang ke kantor dan membuat keributan,

tidak mau pergi.

Kelihatannya mereka ingin memaksa Anda untuk bernegosiasi dengan mereka.

Begini,

Anda pergi menghindar dulu, biar saya yang menanganinya.

Saya mengerti.

Biarkan saya yang menanganinya.

Hah?

Kenapa ini tidak pantas?

Baik.

Anda yang menanganinya boleh juga, kalau begitu cepat sedikit.

Ini sudah tidak bisa ditahan lagi.

Tempat apa yang paling ingin dikunjungi?

Kantor Pak Yi!

Bawalah kami ke sana.

Benar, kan? Kami sudah memberi tahu kamu, kan?

Hentikan!

Kalau kalian berbicara seperti itu, saya tidak bisa mendengarnya.

Di mana kantor Pak Yi?

Semuanya kembali bekerja.

Tutup pintunya.

Baik, Pak Yi.

Cepat, cepat, cepat.

Katakanlah.

Kalian hanya memiliki waktu tiga menit.

Baik.

Anda menggunakan robot untuk menggantikan kami

dan mengurangi gaji kami,

apa maksudnya?

Lagi pula,

dari mana bisa menemukan karyawan seperti kami

yang tahan banting, tahan dimarahi, dan bertanggung jawab?

-Benar, kan? -Benar!

Cari di mana?

Sebuah lengan mekanik

bisa membuat 30 batang sabun dalam waktu satu menit.

Siapa di antara kalian yang bisa melakukannya?

Tidak masuk akal.

Kepala Pabrik Jia.

Begitu saya mengatakan tentang robot lebih hebat dibandingkan dengan kalian,

kalian langsung terdiam.

Kepercayaan diri kalian

kenapa seperti saham

yang bisa naik turun kapan saja?

Anda jangan berbicara seperti seorang filsuf.

Di dalam hati Anda,

dibandingkan dengan robot,

kami para pekerja yang bisa lelah dan lapar

sudah tidak ada gunanya,

benar tidak?

Kantor Pusat,

sejak awal sudah mengusulkan

rencana transformasi

pada pabrik di Pulau Huaniao.

Di antara kalian, siapa

yang pernah mengusulkan rencana baru pada saya?

Ini bukan kami yang mengusulkan.

Jika diubah menjadi proyek pariwisata,

menurut kalian,

para turis lebih suka mendengar

karyawan lama yang bercerita,

atau robot?

Jika ditambah

kursus mengajar tentang sabun buatan tangan,

menurut kalian, para turis lebih suka jika diajari oleh karyawan lama

atau oleh robot?

Bukankah ini semua adalah kelebihan kalian?

Tetapi kalian

hanya bisa menyalahkan saya membuat kalian kehilangan pekerjaan.

Siapa yang pernah mengusulkan rencana baru pada saya?

Bahkan robot

akan dieliminasi dari generasi ke generasi.

Tetapi kalian malah ingin menggunakan keterampilan yang kalian pelajari saat berumur 17 tahun,

untuk hidup sampai berusia 70 tahun.

Jika saya adalah kalian,

saya tidak akan begitu terburu-buru

untuk bernegosiasi dengan bos,

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left