The first 200 lines.
Terima kasih sudah datang.
Astaga, Chae Woon.
Kamu datang untuk pulang denganku lagi?
Sif ayah masih lama selesai.
Sebenarnya, bukan begitu.
Rapat darurat diadakan di Vila Samgwang.
Apa ada masalah?
Begini...
Kami harus memberi tahu Ayah karena toh nanti Ayah akan tahu.
Adikku, Hae Deun...
Dia berpacaran dengan Jun A.
Apa?
Bagaimana bisa...
Kami sudah tahu,
tapi mereka tertangkap basah hari ini oleh ibu mereka berdua.
Hae Deun dan Jun A meminta bantuan kami,
jadi, kami menuju ke sana.
Dunia bekerja dengan cara misterius. Mereka berdua masih muda...
Saat itulah kita paling bersemangat.
"Toko Jahit Pakaian Mewah"
Kenapa dia datang ke rumah ibunya hari ini?
Dia bahkan lebih cantik sebagai wanita yang sudah menikah.
Tunggu. Jadi, Chae Woon dan Jae Hee tahu.
Apa hanya kami yang tidak tahu?
Mereka baru tahu.
Lagi pula, aku tidak menduga akan ketahuan secepat ini.
Astaga.
Kalian selalu bersama di kantor dan di rumah,
jadi, tentu saja, kalian akan ketahuan.
Pak Makjang, ini bukan pertanda bagus, bukan?
Benar. Aku juga mencintaimu.
Bagaimanapun, kalian mengejutkan ibu.
Ya, aku tahu
dua orang bisa saling menyukai.
Tapi ini... Aku benar-benar terkejut.
Jun A, Chae Woon bukan hanya adikmu,
tapi kakak Hae Deun juga.
Tanya sembarang orang di jalan. Bagaimana ini bisa masuk akal?
Orang benci dihentikan di jalanan seperti itu.
Sungguh?
Ibu tidak percaya kamu masih bisa bercanda.
Itu Kak Chae Woon!
- Jae Hee, kamu di sini. - Kamu memanggil Chae Woon?
Jae Hee juga?
Aku hanya menelepon Kak Chae Woon.
Dan aku hanya menelepon Jae Hee.
Mereka pasti sudah bertemu.
Jae Hee! Jae...
Kenapa? Ada apa?
Ibu, apa terjadi sesuatu?
- Ya, ada sesuatu. - Ada apa?
- Aku mau menjalani wajib militer. - Apa?
- Jun A! - Maaf.
- Kak Chae Woon. - Jae Hee!
Ibu, halo. Ibu juga.
Jae Hee, maaf kamu dipanggil seperti ini.
Ibu tidak percaya kamu memanggil kakakmu.
Aku merindukannya, itu saja.
Hae Deun,
kamu menelepon kakak agar kakak membelamu, bukan?
Sun Jeong, ini tidak ada kemajuan.
Bagaimana jika kita bicara dengan anak-anak kita terpisah?
Tentu.
Apa Man Jeong dan Hwak Se juga tahu kalian berdua?
Bibi tahu, mungkin Paman Hwak Se juga tahu.
Astaga.
Jadi, semua orang tahu, kecuali ibu.
Awalnya aku juga bingung,
tapi ada kaki depan dan kaki belakang di menu.
Mungkin membingungkan, tapi kamu hanya perlu ingat itu.
- Mengerti? - Tentu.
Tapi kamu tidak tahu betapa tercengangnya aku.
Bagaimana kita bisa bertemu
di restoran tertentu ini, dan di kota ini?
Benar sekali.
Kamu sudah menikah? Kamu punya anak?
Aku belum menikah.
Begitu rupanya.
Kedua orang tuaku sakit,
jadi, aku mengurus mereka sambil bekerja
sampai ke titik ini dalam hidup.
Dahulu kamu sangat baik kepadaku.
Benar! Aku memanjakanmu.
- James. - Ya?
Eun Ji dan aku biasa berenang di sungai
dan juga menangkap ikan.
Ingat saat kita mencuri semangka?
Astaga, itu menyenangkan, bukan?
Ternyata kalian berdua teman masa kecil.
Astaga.
Itu masa-masa yang menyenangkan.
Jadi, kamu tinggal di sekitar sini?
Ya, di Vila Samgwang
yang ada di sana.
Vila Samgwang?
Kenapa? Kamu tahu tempatnya?
Tentu saja tidak.
Hwak Se.
- Ya? - Bisakah kamu membantuku?
Baik, coba kulihat.
- Aku mengerti. - Coba lagi.
Awalnya aku juga bingung.
Benar, tentu saja. Sekarang aku mengerti.
Ya, di sini.
Siapa yang akan percaya mereka hanya berteman?
Mereka pasti sangat saling merindukan.
Lihatlah dia terkekeh.
Sulit dipercaya.
Bibi.
Astaga.
Astaga, kenapa kamu berdiri di sini? Silakan masuk.
Aku hanya berjalan-jalan.
Bibi, setidaknya tinggallah untuk makan daging kaki.
James.
Ada apa?
Man Jeong tadi di sini.
Benarkah? Ke mana dia pergi?
Dia keluar untuk jalan-jalan.
Paman Hwak Se, penting untuk membuat batasan yang jelas
saat hal seperti ini terlibat.
Kamu dan Eun Ji hanya teman masa kecil, bukan?
Tentu saja.
Lantas, saat kamu pulang malam ini,
jelaskan itu kepada Man Jeong agar dia mengerti.
Benar. Tentu.
Kamu memang berpengalaman dalam hal seperti ini.
Kalau saja aku bisa lebih baik dengan hidupku sendiri.
Kamu menyenangkan dan jenaka seperti biasanya.
Jangan menyingkirkan orang yang mengajakmu berkencan
dan jangan mengkhawatirkan pendapat anak-anak.
Aku tidak akan datang ke rumah ini lagi,
jadi, jangan cemaskan aku juga.
Aku penasaran kenapa Jung Hoo mengatakan hal seperti itu.
Mungkinkah dia mengencani seseorang?
Aku harus bertanya saat dia datang ke tokoku besok.
Apa Ibu menentang hubunganku dengan Hae Deun?
Kamu tidak tahu kenapa ibu menentangnya?
Kalian bukan orang asing biasa.
Aku tahu itu, Bu.
Tapi tidak akan ada masalah begitu Chae Woon
secara resmi menjadi putri Ibu di atas kertas.
Ibu bilang akan butuh waktu, bukan?
Meskipun bukan begitu,
tidak ada yang salah dengan hubungan ini.
Kenapa tidak salah?
Ini bukan masalah sederhana.
Status terkini Chae Woon
tidak akan mengubah fakta bahwa dia kakak Hae Deun.
Ya, Ibu benar.
Tapi kami tidak ada hubungan darah.
Kamu bercanda?
Lagi pula, Hae Deun dan aku sudah saling menyukai.
Ibu tidak bisa mendatangi kami dan berkata,
"Berhentilah saling menyukai. Cukup. Hentikan perasaan itu."
Kami tidak bisa diam saja mendengar itu.
Itu mustahil, bukan?
- Jun A. - Ya?
Sejujurnya,
ini mengesalkan.
Kamu kembali dari London, tapi memilih tidak memberi tahu ibu
dan kini kamu mengejutkan ibu dengan kehidupan cintamu.
Ibu, awalnya aku sama terkejutnya,
tapi bagaimana jika kita lihat perkembangannya dahulu?
Lalu apa? Membiarkan mereka menikah juga?
Bagaimana jika hubungan itu berakhir dan mereka putus?
Kami juga sudah memikirkan itu.
Tapi kami tidak bisa langsung menyuruh mereka putus.
Ibu, kami tidak akan pernah putus.
Hei, Hae Deun.
Itu yang semua orang katakan pada awalnya.
Hwak Se dan Man Jeong mengatakan hal yang sama.
Kamu tidak bisa mengencani orang yang kamu sukai begitu saja.
Kamu juga harus memikirkan sekelilingmu.
Kamu sudah dewasa sekarang, Hae Deun.
Ibu.
Ibuku akan pergi.
Benarkah?
Apa dia akan pergi?
Terima kasih sudah membelaku.
Hei, kakak tidak membelamu.
Kakak hanya tidak mau Ibu khawatir.
Kakak akan terus mengawasimu.
Bu Kim, kamu mau pergi sekarang?
Ya. Aku harus pergi.
Jun A, kamu juga ikut?
Ya. Aku akan mengantar Ibu pulang dan tidur di sana malam ini.
Baiklah. Itu ide bagus.
Antar ibumu pulang dengan selamat.
Sampai jumpa, Sun Jeong.
- Ya, Bu Kim. - Sampai jumpa.
Ini saatnya Seo Yeon pulang.
Apa dia sudah pergi?
Haruskah kita membeli daging kaki?
Ayah sangat senang bisa pulang dengan menantuku.
Aku juga, Ayah.
Chae Woon, kamu pasti kedinginan.
- Astaga, tidak. - Ini, pakailah.
Tidak apa-apa, Ayah.
Ini dingin. Silakan pakai ini.
Terima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.