The first 200 lines.
"Episode 105"
Tae Ju.
Kamu di sini.
Bagaimana keadaan Ayah?
Aku membawanya ke rumah sakit dengan selamat.
Jadi, jangan terlalu khawatir.
Kamu bersenang-senang dengan Ibu?
Ya.
Kami bersenang-senang bersama.
Kurasa untuk sementara dia hampir lupa dia sedang sakit.
Dia bersenang-senang.
Aku senang mendengarnya.
Aku senang kamu pergi.
Kamu pasti lelah karena perjalanannya.
Pulang dan beristirahatlah setelah menemui Ayah.
Tae Ju.
Kamu tak perlu berpura-pura baik-baik saja denganku.
Seperti kata Na Hye Mi,
apa Ayah
benar-benar hancur karena aku?
Yang kamu lakukan adalah
demi kebaikan Ayah dan Hansung.
Kamu tidak punya niat lain.
Kamu benar.
Tapi karena kini Ayah terbaring di ranjang,
entah apa aku melakukan hal yang benar
sebagai seorang putra.
Tae Ju.
Ada dua sisi dalam segala hal.
Kamu tahu kata orang soal pedang bermata dua.
Untuk menebas seseorang,
kamu harus siap untuk terluka.
Karena orang itu adalah ayahmu,
kamu harus menjadi lebih dengki.
Karena itulah
kamu sangat menderita sekarang.
Kamu sudah tahu
semua konsekuensinya.
Benar.
Tapi karena kini semua hal benar-benar terjadi,
ini lebih menyakitkan
daripada dugaanku.
Sangat menyakitkan.
Tae Ju.
Apa itu hubungan orang tua dan anak?
Aku tidak pernah membenci siapa pun
melebihi ayahku dalam hidupku.
Bagaimana bisa seseorang sedingin itu?
Bagaimana bisa orang sekejam itu?
Bagaimana orang bisa seserakah itu?
Aku tidak bisa memahaminya dan sangat membencinya.
Tapi setelah pingsan,
dia hanyalah pria tua yang lemah.
Itu membuatku sangat sedih
dan marah.
Aku mengerti, Tae Ju.
Aku paham perasaanmu.
Aku juga sedih melihat ayahmu
terbaring di rumah sakit seperti itu.
Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana.
Mari
biarkan diri kita merasakan rasa sakit untuk saat ini.
Jangan anggap dia pimpinan atau mengkhawatirkan perusahaan.
Sedih saja karena ayahmu sakit.
Biarkan saja untuk saat ini.
Mengerti?
Hei, kamu mau ke mana?
Menurut Kakak ke mana?
Aku akan pergi untuk merawat suamiku yang hampir mati.
Kamu sudah gila? Kamu tidak boleh ke sana.
Mereka sudah tahu banyak kelemahan kita.
Mereka tahu tentang fotomu dengan instruktur golf.
Tae Ju dan In Suk tahu kita menerbitkan artikelnya.
Jadi, kenapa kamu sukarela pergi ke sana?
Kita harus kabur sekarang.
Kenapa aku harus kabur?
Aku masih istri Han Jong Soo dan Tae Ho adalah putranya.
- Hye Mi. - Ayo, Tae Ho.
Tidak, tunggu.
Ayo.
Kamu...
Beraninya kamu datang ke sini.
Kenapa aku tidak boleh kemari? Suamiku yang sakit ada di sini.
Aku di sini untuk menjaganya. Minggir.
Kamu bahkan tidak membawanya ke rumah sakit
saat kondisinya kritis.
Kamu tidak berhak mengatakan kamu di sini untuk merawatnya.
- Kamu bisa membuktikannya? - Apa?
Bisakah kamu membuktikan bahwa aku sengaja
tidak membawanya ke rumah sakit saat kondisinya kritis?
Kamu
benar-benar keterlaluan.
Kamu tidak berhak menghentikanku.
Bukankah kamu sudah lama diusir dari keluarga ini?
Minggir.
Minggir!
Jangan menangis.
Kamu akan mencegah seorang putra menemui ayahnya yang sakit?
Bibi, benarkah Ayah sesakit itu?
Apakah seburuk itu?
Ayo. Jalan!
Sayang!
Sayang, apa yang terjadi?
Kenapa kamu terbaring seperti ini? Dahulu kamu sangat sehat.
Sayang!
Sayang!
Sayang!
Sayang!
Sayang!
Kenapa ada banyak pasir?
- Kamu serius? - Ya, itu benar.
Ibu bersenang-senang?
Ya, aku sangat bersenang-senang.
Bukankah sulit berada di mobil untuk waktu yang lama?
Tidak apa-apa.
Aku bersama anak-anak, jadi, tidak sulit sama sekali.
Seharusnya aku ikut. Maafkan aku, Ibu.
Tidak, jangan minta maaf.
Kudengar kamu tidak bisa pergi karena Mi Hye.
Omong-omong,
apa bukunya laris?
Ya, penjualannya sangat baik.
Awalnya berjalan lambat,
tapi orang-orang mulai mendengarnya dan kini penjualannya bagus.
Benarkah? Aku senang sekali mendengarnya.
Ini semua berkat Ibu.
Astaga, aku tidak melakukan apa pun.
Itu karena kamu membimbingnya dengan baik dan memastikan
dia menulis buku bagus.
Ibu harus memanggilku dengan namaku sekarang.
Apa?
Haruskah aku melakukan itu?
Ya.
Kalau begitu, akan kulakukan mulai besok.
Aku tahu tidak terlihat begitu, tapi aku agak pemalu.
Jadi, aku tidak bisa langsung melakukannya.
Omong-omong,
kudengar kamu dan Mi Hye
memutuskan untuk pindah ke sini.
Benar.
Kenapa repot-repot?
Jika karena aku sakit, tidak perlu pindah ke sini.
Aku tidak mau pengantin baru membuang waktu mengurusku.
Astaga, bukan seperti itu.
Ini demi kebaikanku.
Aku selalu merasa gelisah
tentang pernikahan dan meninggalkan Ibu sendirian
saat Ibu sakit.
Jika kami punya rumah sendiri, dia tidak akan memasak untukku.
Ibu tahu bagaimana dia.
Ya, aku selalu mengkhawatirkan itu.
Dia tidak bisa memasak apa pun.
Dia selalu makan mi instan.
Dan setelah makan,
dia hanya meninggalkan sisa makanan di panci
dan bahkan tidak mencuci piring.
Jadi, aku mau tinggal di sini dengan Ibu dan makan masakan rumah Ibu.
Seperti yang Ibu tahu, aku tidak pernah makan dengan benar.
Ya, aku ingat kamu bilang itu.
Woo Jin, kamu pernah bilang
betapa sulitnya hidupmu dahulu.
Karena itulah aku menerimamu pada akhirnya.
Aku tahu.
Dan aku selalu bersyukur.
Ibu setuju menerimaku meski masa laluku kelam.
Terima kasih banyak untuk itu.
Karena itulah aku ingin tetap berada di sisi Ibu.
Astaga, aku wanita yang beruntung.
Aku bisa hidup dengan pria tampan sepertimu.
Astaga, Ibu.
Terima kasih.
Terima kasih banyak.
Terima kasih.
Astaga, dia sangat perhatian.
Woo Jin sungguh luar biasa.
Paman terkejut dia berpikir untuk melakukan hal seperti itu.
Benar, bukan? Dia pria yang baik.
Astaga, paman harus lebih memujinya.
Anak muda bahkan tidak akan melakukan hal seperti itu.
Paman sangat terharu. Sungguh.
Astaga, lihatlah senyum di wajah Kakak.
Kenapa Kakak senang sekali?
Kakak keluar dengan menantu dengan tersenyum lebar.
Setiap kali aku bersama Woo Jin,
waktu berlalu begitu cepat karena aku sangat bersenang-senang.
Aku selalu terkejut melihat betapa rupawannya dia.
Ibu sudah sangat menyukai Woo Jin.
Hei, Mi Hye memberi tahu semuanya pada kami.
Terima kasih.
Kudengar kalian setuju pindah kemari setelah menikah.
Kamu membuat kami tenang.
Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukannya demi kebaikanku.
Tetap saja, kamu sangat perhatian untuk orang seumuranmu.
Kamu berhati besar.
Aku tidak percaya Woo Jin akan menjadi anggota keluarga kita.
Kakak sangat beruntung.
Aku bukan hanya beruntung.
Aku bahkan tidak lapar
setiap kali bersama Woo Jin.
Kemarilah, Da Bin.
No comments yet. Be the first to leave one.