Goblin Slayer II (Goblin Slayer 2nd Season)

Goblin Slayer II (Goblin Slayer 2nd Season)

Download Indonesian Subtitle

Release info

GoblinSlayerS2Eps 10
A Commentary by P1rate_K1ng

Tags

other
Published on: 2023-12-09
Downloads: 33
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 178 lines.

Dasar deh. Masku itu jahat.

Dia sendiri pergi ke sana-kemari, tapi aku ndak boleh keluar.

Mau bagaimana lagi? Namanya juga pekerjaan.

Kota Petualang

Tapi kan katanya Batu Api Langit jatuh.

Bukankah Nona dilarang sembarangan membahas itu?

Mas dulunya petualang,

tapi saat aku bilang ingin jadi petualang malah ditentang.

Karena beliau tahu betul baik dan buruknya.

Hei, kalau tidak salah masmu pedagang, 'kan?

Ya, mas sepupuku.

Dia pergi keluar saat gerbang dibuka pagi hari, melakukan jual beli, lalu pulang.

Yang Mulia sudah kembali.

Benarkah?

Selamat datang, mas gantengku!

Dengan begini, dia takkan mengira aku bakal keluar malam ini.

m 0 0 l -2986.5 0 l -2986.5 -13.375 l 0 -13.375 b 3.375 -12.625 5.25 -10.625 5.25 -6.625 b 5.25 -3.375 4 0 0 0

Hunter No Sekai

Now Watching

Goblin Slayer S2

Episode #10

Hunter No Sekai

Now Watching

Facebook:

Uskup Agung!

Selamat datang!

Terima kasih sudah datang jauh-jauh!

Terima kasih.

Setelah mengeluarkan muatan, kita mau ke penginapan mana?

Soal itu...

Silakan menginap di kuil.

Setuju.

Selama bukan penginapan kelas atas, tidak ada bedanya juga.

Aku juga setuju.

Penginapan mana pun pasti sudah penuh jam sekarang.

Pencukur Jembut.

Aku tidak keberatan. Aku tak punya alasan menolak.

Tetapi ada yang ingin kuselidiki dulu.

Adakah tempat arsip?

Biar kuantar sini!

Dengan kewenanganku, arsip di kuil-

Tidak! Lebih baik mbadhog dulu!

Aku tidak keberatan. Aku tak punya alasan menolak.

Kalau begitu setelah kembali saja.

Kita sepakati saja begitu.

Maaf, ada yang ingin kukunjungi.

Bahaya kalau jalan sendiri.

Kalau begitu aku ikut kau.

Berdua pasti aman, 'kan?

Kalau begitu, kita pergi terpisah. Tiga orang dan dua orang.

Bersulang!

Tapi bisa-bisanya Uskup Agung memberi tahu kita kedai ini.

Kudengar dulunya dia petualang.

Wajar saja dia tahu kedai semacam ini.

Jadi, sepertinya kau sedang galau, Pencukur Jembut.

Kau bisa tahu?

Tentu saja.

Kita sudah bersama setahun, lho.

Kalau umur manusia 50 tahun, berarti sudah 1/50-nya.

Itu sudah lama.

Belakangan ini, aku tidak bisa fokus membasmi goblin.

Petualangan di tepi laut dan misi pengawalan.

Yah, tapi ada serangan kejutan juga di tengah jalan.

Nektar!

Menyenangkan.

Namun, tiap kali kita menikmati perjalanan, para goblin sedang berkeliaran.

Maka, bukankah itulah tugasku?

Tugas, ya?

Benar. Aku adalah Goblin Slayer.

Kau tahu bagaimana membuat pedang?

Tidak, aku tidak tahu.

Dipanaskan, ditempa, didinginkan, lalu dipanaskan lagi.

Dipanaskan, ditempa, didinginkan, lalu dipanaskan lagi.

Semua itu harus dilakukan.

Mayoritas orang harus melakukan setidaknya semua proses itu.

Pedang lunak memang fleksibel, tapi lemah untuk diadu.

Pedang keras memang tajam, tapi gampang patah.

Pedang bagus itu yang seperti apa?

Jika dipotong, bilahnya patah.

Jika diasah, kita teriris.

Dan akhirnya akan menjadi embun sejarah.

Pedang bagus itu yang seperti apa?

Aku tidak tahu.

Tentu saja kau tidak tahu.

Hiduplah tanpa harus tahu.

Rahasia baja itu dalam dan rumit.

Perapal Mantra bicara seperti biksu.

Kalau menurutmu bagaimana?

Tidak banyak hal yang bisa dilakukan semua orang.

Kita ada hanya untuk hidup dan mati.

Dan ini juga cukup sulit.

Monster di dunia ini pun tak bisa hidup sesuai keinginannya.

Apalagi makhluk yang bisa bicara.

Galau, bingung, jalani saja.

Itulah arti hidup.

Menurutku begitu.

Wah, nektar!

Tenggelamlah yang dalam! Lalu tendang!

Nanti kau bisa mengambang, ulangi terus!

Kalau tidak, kau bisa mati!

Begitu, ya?

Ya begitulah.

Memang begitulah.

Benar begitu.

Maaf terlambat.

Aku masih membasmi goblin.

Aku masih melakukannya sambil ketakutan seperti saat dimarahi kau.

Aku juga bertemu adikmu.

Walau jadi aku yang mengajarinya, tolong jangan marah, ya.

Aku memang belum pandai, tapi aku sudah mengajarkan yang kutahu.

Aku akan datang lagi.

Makam siapa?

Makam teman lamaku...

Begitu, ya.

Orangnya seperti apa?

Dia orang seperti apa, ya?

Aku tidak sempat mengetahuinya.

Adakalanya seperti itu.

Ya.

Sudah tidak ada?

Tidak, ada satu orang.

Menurutku kau tidak perlu terlalu memikirkannya.

Ini bukan salahmu sendiri.

Aku tidak bisa menyalahkan semuanya.

Serius banget.

Yosh!

Kalau begitu ayo bersenang-senang!

Wah!

Ma-Maaf, aku belum terbiasa.

Aku dengar ini pemandian, tapi isinya bukan cuma kamar mandi, ya.

Benar.

Tempat olahraga juga sudah dibuka,

kami juga menawarkan pijat, camilan, dan minuman.

Ah, uangnya...

Semuanya sudah masuk dalam biaya mandi.

Selamat menikmati.

Ya.

Aku diperhatikan?

Prajurit?

Ayo cepat masuk.

Ah, iya.

Di sini.

Kalau tidak dilipat, nanti kusut, lho.

Aman, aman.

Kau masih pakai itu?

Ah, iya.

Karena ini berharga.

Itu kan bukan peralatan legendaris.

Ayo.

Mumpung sudah di sini, ayo saling basuh badan!

Ya!

Padahal tempatnya seluas ini, tapi semuanya hangat, ya.

Di dalam airnya lebih hangat, lho.

Ada pemandian uap juga.

Pemandian uap?

Ya, itu tertulis di panduan ruang ganti.

Wah, aku mau ke sana dulu.

Tunggu!

Hei.

Ada apa?

Kau petualang, 'kan?

Ya.

Sudah kuduga.

Hei, kau kerja apa?

Aku mengabdi pada Ibu Pertiwi.

Priest, ya? Boleh juga.

Anu, kalau sedang mencari teman tim,

sayangnya aku sudah punya teman.

Ah, bukan! Bukan begitu!

Ada apa sebenarnya?

Hei, aku mau tanya sebagai referensi, Kau pakai peralatan apa?

Peringkat apa?

Etto, aku peringkat baja.

Peralatan yang kupakai jubah biarawati, tongkat, dan zirah rantai.

Apakah itu ada kekuatannya atau sudah diberkati?

Tidak, biasa saja.

Cuma tongkat dan zirah rantai biasa.

Ya, terima kasih. Sangat membantu.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left