The first 200 lines.
Program berikut menunjukkan peristiwa hidup dan mati 11 September
Dengan adegan penderitaan dan trauma yang intens
Diharapkan kebijakan pemirsa
Saya tak pernah sebangga ini menjadi petugas damkar seperti hari itu.
Perintah kami adalah naik ke Menara Utara untuk pencarian dan penyelamatan.
Jadi, kami akan mengeluarkan orang sebanyak mungkin,
itu yang akan kami lakukan.
Lalu kami tiba di lantai 27
saat kita merasa dan mengalami
sesuatu yang belum pernah dirasakan atau dialami siapa pun.
Kami mendengar suara keras di luar, gedung kami berguncang hebat,
sangat kuat hingga Anda kesulitan berdiri,
seolah Anda berada di kapal di laut.
Menara Selatan runtuh.
Di benak saya, ini bagian paling menakutkan bagi saya.
Saya tahu sebelum hari ini, gedung tinggi tak pernah runtuh setelah kebakaran.
Kini gedung kembaran dari gedung tempat saya berada,
yang terkena serangan setelah gedung saya, runtuh.
Saya menghitung cepat di benak saya dan berpikir,
baiklah, jika yang itu bisa runtuh, yang ini bisa runtuh,
saatnya kami pergi dari sini.
Jadi, kami mulai mundur menuruni tangga B di Menara Utara.
Kami sampai di lantai 20,
lalu ada seorang wanita berdiri di pintu, dia menangis.
Anak buah saya berhenti.
Tommy Falco, salah satu petugas damkar, berbalik dan menatap saya,
dia bilang, "Hei, Kapten, apa yang ingin kau lakukan dengannya?"
Dia benar-benar tidak bisa berjalan lagi,
dia berhasil turun dari lantai 70, kurasa dari lantai 73.
Kami tidak tahu pada saat itu,
dia tinggal satu minggu lagi menuju ulang tahunnya yang ke-60.
Jadi, kami melanjutkan evakuasi bersama Josephine Harris.
Kami membawanya menuruni tangga, perlahan.
Kita berjalan sangat lambat hingga beberapa kali harus meminggir
karena kami menyebabkan kemacetan banyak orang di belakang kami,
jadi, kami biarkan mereka lewat.
Lalu berhasil mencapai lantai sepuluh,
saya berpikir, kami mungkin bisa keluar dari sini.
Lalu Josephine Harris jatuh di lantai empat.
Dia mulai meneriaki kami untuk meninggalkannya.
Runtuhnya Menara Utara dimulai dengan kami masih di dalam.
EPISODE LIMA AKU AKAN MENDATANGIMU, SAUDARAKU
Ayo masuk!
Menjauh dari kaca.
Barangku ada di luar sana.
Barang-barangku ada di luar.
Kau ingin mati? Jangan khawatir.
Seluruh gedung. Perhatikan puing-puingnya turun ke jalan.
Tolong jangan buka pintunya.
Menjauh dari jendela.
-Jangan dibuka. -Astaga, langitnya!
Astaga.
Astaga.
Astaga!
Kau benar, astaga, kau menyelamatkan hidupku!
Kau menyelamatkan hidupku!
Terima kasih!
Terima kasih.
Terima kasih!
Astaga!
Terima kasih.
Kedua menara di World Trade Center telah runtuh
Ratusan warga sipil dan responden pertama terbunuh
Saya ingat melihat ke dalam debu.
Saya ingat berpikir
saya orang terakhir yang tersisa di planet ini.
Saya tak dengar siapa pun.
Saya tak melihat siapa pun.
Saya benar-benar sendirian.
Saya merasa sangat hampa.
Saat saya melihat-lihat, ada mobil yang hancur.
Ada ambulans terbakar.
Saya sungguh berpikir inilah akhirnya.
Ini adalah akhir dunia, ini adalah kiamat.
Jadi, saya ingat mengambil slang yang tergeletak di lantai,
lalu saya memadamkan api di ambulans.
Lalu debunya mulai terangkat.
Saya tak percaya apa yang sebenarnya saya lihat.
Kedua gedung hilang.
Kini hanya ada tumpukan puing dan sampah setinggi tujuh lantai,
serta ada orang di sana.
Saya berpikir tidak mungkin
kami akan menemukan orang-orang yang selamat dari runtuhan ini.
Pemadam kebakaran menyelamatkan Josephine Harris di lantai empat
Saat Menara Utara runtuh di atas mereka
Keselamatan mereka menjadi dikenal sebagai "Keajaiban Tangga B"
Keruntuhan dimulai dari atas ke bawah.
Setiap kali satu lantai menabrak lantai lain,
menghancurkan yang kami sebut mode panekuk,
itu akan menciptakan suara keras, dentuman keras,
jadi, semuanya terus berdentum.
Lalu setiap kali satu lantai menghantam lantai lain
akan ada getaran yang kuat di gedung.
Udara apa pun yang ada di tangga menjadi terkompresi,
serta dipenuhi dengan puing,
jadi, kami dipukuli oleh puing-puing selagi kami berlindung.
Kami hanya menunggu balok besar itu
atau bongkahan beton besar itu untuk mengenai kami.
Lalu keruntuhannya berhenti dan itu tidak datang.
Jadi, saya berteriak dan berkata,
"Siapa yang masih di sini? Siapa yang kudengar? Siapa yang kumiliki?"
Ternyata semua anak buah saya dari Ladder 6,
Tommy Falco, Sal D'Agostino, Billy Butler, dan Mike Meldrom,
ada Mickey Kross, seorang Letnan di Engine 16.
Mickey Kross Letnan, Pemadam Kebakaran New York
Saya rasa butuh sekitar delapan detik untuk gedung itu runtuh.
Itu suara dan getaran yang luar biasa dan liar.
Dalam beberapa detik itu berakhir dan benar-benar hening.
Tidak ada lagi guncangan, sama sekali tidak ada suara.
Tanpa punya pengalaman mati, Anda tak tahu rasanya,
jadi, saya pikir mungkin saya mati karena tidak bisa merasakan
tubuh saya, saya tak bisa merasakan apa pun.
Setelah beberapa detik, saya mendengar pembicaraan,
jadi, saya berteriak dan kami berkumpul.
Itu di antara lantai tiga,
saya rasa antara lantai tiga dan empat masih utuh.
Kami ada di ruang kosong.
Fakta bahwa Josephine berhenti di sana,
sebenarnya, tidak banyak ruang kosong di gedung itu,
tapi kami menemukan ruang kosong
karena meski Anda berhasil ke lantai dasar, Anda tak selamat.
Jika Anda berhasil ke luar gedung, Anda tak selamat.
Kami mencari jalan keluar.
Beberapa pria punya alat,
mereka memaksakan apa yang tersisa dari pintu tangga,
lalu mereka membukanya dan itu hanya dinding puing-puing.
Kami sadar tidak ada yang bisa kami lakukan.
Kami tak bisa keluar dari sini.
Tidak ada naik, turun, ke samping, tidak mungkin.
Satu-satunya cara kami keluar adalah seseorang datang menjemput kami.
Ada orang di sini sekarang?
Kita berkumpul kembali di Jalan Murray.
Ada yang membawa Al Tori?
Astaga.
Ada kantor besar di atas air, John, di sana.
Tepat setelah runtuh,
secara ajaib kami berkumpul kembali dengan semua orang di perusahaan.
Kami menyadari bahwa kami mungkin adalah
salah satu perusahaan terakhir yang berhasil keluar dari area itu.
-Kau akan mengunggahnya? -Ya.
Ini, ambil kain putih. Kau butuh kain putih?
Sebelum runtuh, kami menuruni tangga B di Menara Utara.
Saya ingat bicara dengan Kapten Jonas, Kapten dari Six Truck.
Saya bilang, "Lalu di mana Six Truck?"
Mereka setidaknya tiga sampai empat lantai di atas kami.
Itu 247, 246.
Di mana mereka?
Aku tidak tahu.
Jadi, kami pikir harus mencoba kembali ke sana dan mencoba menemukan mereka.
Kau tahu di mana dia?
Lalu kami kembali masuk.
Tapi area tempat kami keluar sudah tidak ada lagi.
Aku di saluran satu.
Semuanya hancur total.
Itu merobek sebagian hati saya,
seolah merasa bagian dalam Anda terkoyak.
Lalu Anda merasa tak berdaya
karena Anda tidak tahu harus mulai dari mana.
Siaran langsung, melanjutkan liputan di 1010 Wins,
tragedi mengerikan dari World Trade Center.
Betapa janggalnya melihat dua menara kembar itu,
bagian dari lanskap kita, menghilang.
Tapi sekarang untuk diingat
ada orang-orang di dalam gedung itu dan banyak yang tidak keluar.
Saat Anda mengalami hal seperti ini Anda memikirkan
angka kematian dan korban,
itu sesuatu yang tidak kami ketahui
karena dalam banyak hal, upaya penyelamatan baru saja dimulai.
Reporter 1010 Wins...
Kami merencanakan untuk yang terburuk.
Merencanakan terjebak jangka panjang.
Mungkin beberapa hari, mencoba menghemat baterai radio kami,
baterai senter kami.
Saya tak mau anak buah saya memakai masker udara,
tapi kemudian, kami menerima permintaan bantuan dari Mark Warcola,
Letnan dari Ladder 5 yang kami lihat saat turun,
dia bilang dia berada
di tangga B di lantai 12.
Dia terjebak dan terluka parah.
Sal D'Agostino berbalik dan menatap saya,
dia bilang, "Hei, Kapten, kau dengar itu?"
Saya bilang, "Ya, aku dengar."
Saya mulai menaiki tangga B.
Tangga di sana penuh dengan puing,
itu seperti tangga gedung kosong yang sangat buruk, tapi itu tangga.
Jadi, saya menyusuri pegangan tangga dan bermanuver.
Lalu permintaan bantuan kedua datang
saat saya di lantai lima untuknya.
Sekali lagi, saya mencoba bermanuver.
Saya sampai di tangga tengah antara lantai lima dan enam,
saya tak bisa memindahkan puing lagi, itu terlalu berat.
Dia memberi permintaan bantuan ketiga yang lebih putus asa,
saya menjawab, "Maaf, Mike, aku tak bisa membantumu."
Itu mengerikan.
Dia seseorang yang kami kenal.
Dia meminta bantuan dan kami tak bisa membantunya.
Kami tak bisa mendatanginya.
Lalu kami tak mendengar kabarnya lagi.
Ya, akhirnya saya mengirimkan permintaan bantuan sendiri.
Darurat.
No comments yet. Be the first to leave one.