The first 200 lines.
Gadis dan
m 0 0 l 100 0 100 100 0 100
Kucing Miliknya
m 0 0 l 100 0 100 100 0 100
Gadis dan Kucing Miliknya
m 0 0 l 100 0 100 100 0 100
Di suatu tempat yang jauh ...
... yang tak terlihat siapa pun,
Saya mencari gadis itu.
Alasan saya mencari gadis itu ...
... karena gadis itu mencari-cari saya.
Aroma tubuhnya ...
... ada di balik pintu yang berat itu ....
Terima kasih sudah menemaniku selama ini.
Bukan, bukan!
Aku minta maaf, soalnya aku pergi duluan.
Padahal aku yang mengajakmu tinggal di sini ....
Jangan begitu. Aku sudah sangat terbantu bisa tinggal bersamamu di sini.
Sudah satu setengah tahun, ya?
Seperti baru kemarin, ya.
Eh, Daru!
Sudah bangun, ya?
Apa ini? Aku mau dikasih ciuman perpisahan?
Daru ....
Jahat ....
Dia memang tidak terlalu suka sama aku, ya.
Duh, aku sudah harus berangkat.
Salam buat pacarmu, ya.
Sip.
Berjuang, ya.
Tomoka juga.
Semoga umurmu panjang, ya!
Sudah tua, sih.
Dah.
Saya sangat menyanyanginya.
Saya adalah kucing miliknya.
Gadis dan Apertemen Miliknya
Hari terpanas sepanjang musim panas ....
Dia sudah pergi, ya ....
Kita harus mencari tempat lain, ya.
Teman satu atapnya pergi meninggalkannya,
dan kehidupan kami berdua pun akan berlangsung.
Setiap pagi, dia ...
... bangun di waktu yang sama,
dan menyiapkan santapan pagi.
Santapan yang sama,
belaian yang sama darinya.
Di tengah ruangan yang tepat untuknya, dialah yang paling cantik ...
... dan sembari melangkah dia berangkat dengan iringan sinar matahari.
Aku berangkat, ya.
Halo, nak? Ini Ibu.
Iya, aku tahu.
Iya, makannya mau gimana? Semua tempat sama mahalnya.
Tidak pulang.
Janjimu kan satu apartemen berdua,
sekarang malah tinggal sendirian.
Janjimu tidak begitu, 'kan?
Sebentar lagi sudah kelulusan ....
Maaf, ya. Air mandiku sudah siap.
Saya melamar di sini ...
... karena saya suka baca buku sejak saya kecil,
khususnya, saya tertarik untuk membuat buku bergambar.
Sejak kecil saya suka dengan hewan ....
Sejak kecil saya suka rumah,
saya kagum dengan kerja ayah saya di bidang kontraktor bangunan ....
Enggak mungkin keterima.
Setelah dipertimbangkan kembali, kami memutuskan untuk menunda
perekrutan Anda. Kami akan menyimpan lamaran Anda.
Tomoka
Begitu ya. Pilihan pertamamu gagal ya~ Tapi masih ada yang lain kok!!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Begitu ya. Pilihan pertamamu gagal ya~ Tapi masih ada yang lain kok!!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Berjuang!
Aku sudah berjuang, kok.
Entah kenapa, sekarang malah bingung mau berbuat apa ....
Rasa sakit yang ada padanya ...
... mengalir ke tubuh saya.
Saya tidak tahu bagaimana cara meringankan sakit miliknya.
Besoknya ....
Seperti biasanya, dia ...
... dengan cantik dan ramahnya ...
Selamat pagi, Daru.
... dia memberikan senyuman yang paling saya suka.
Kembali, dia melangkah berangkat ...
... dan membuka pintu yang berat itu.
Di balik pintu itu ...
... ada dunia tak sempurna yang juga cukup kejam.
Di dunia kejam itu ...
... dia berjuang untuk menyukainya.
Saya sangat menyukai semangatnya itu.
Indah sekali, ya, Daru?
Saya tidak mengerti apa yang dia katakan.
Tapi di saat begini,
saya yakin kami memikirkan hal yang sama.
Aku jadi ingat waktu pertama kali bertemu denganmu.
Saya bertemu dengannya ...
... di saat fajar yang begitu merah.
Hujannya lebat sekali, ya ....
Ibu pulang.
Lama!
Sedang apa malas-malasan begini, tidak nyalakan lampu pula?
Itu apa?
Lihatlah.
Kucing?
Imut, 'kan?
Ini kucingmu.
Seperti itulah ceritanya, saya menjadi kucing miliknya.
Gadis dan Langit Miliknya
Bu, ikatin rambutku.
Tunggu dulu.
Duh, Daru, jangan tercecer begitu ....
Tahu enggak? Kucing hitam itu bawa sial.
Oh! Sudah telat begini!
Ibu! Rambutku?
Besok saja, ya? Ibu sudah terlambat.
Males sekolah, ah.
Masuk, kamu itu murid baru pindahan.
Kalau tidak giat, nanti kamu tertinggal, lo.
Iya, tahu.
Dia masih muda, rambutnya indah,
meski begitu, dia memiliki lubang besar dalam hatinya.
Saya tidak tahu bagaimana caranya menutup lubang dalam hatinya itu.
Aku berangkat.
Ibuku
Ibuku
Aku pulang.
Ada apa?
Gelas pemberian Ayah ....
Syukurlah. Sepertinya sekarang, dia sudah lebih baik.
Sekarang tempat apa yang kita kunjungi kali ini?
Oh, wangi sekali!
Wow! Coba lihat ini!
Kamu mau pangku juga?
Padahal buka masih beberapa jam lagi,
Tidak usah.
tapi sudah begini panjang antrenya!
Seperti apa rumor yang beredar di prefektur?
Aku ngantuk.
Padahal kukira dia merasa kesepian karena sendirian di rumah ....
Seperti apa, ya?!
Ya, Daru?
Yang mau main ke rumahku, tunjuk jari!
Ikut, ikut!
Aku juga!
Aku sendirian saja.
Kamu juga sendiri, 'kan?
Udara di luar rumah terasa sangat sejuk.
Indahnya.
Saya baru tahu, ini yang ingin dia tunjukkan pada saya.
Tuh, di luar memang lebih enak.
Dah, ya.
Hei, bodoh!
Berisik! Jangan pukul aku!
Eh, kenapa?
Ada sesuatu di situ.
Imutnya!
Masa?
Iya, imut sekali.
Eh, boleh kuelus?
Iya.
Hitam, cantik sekali!
Apa iya?
Iya, kok! Halus sekali!
Kamu murid pindahan, 'kan? Yang dari kelas sebelah.
Iya.
Kamu bisa panggil aku Tomoka.
Hei, kapan-kapan aku boleh main?
Eh?
Enggak boleh?
Enggak, boleh kok!
Bagus, dah!
Maaf, Daru.
Dan juga ....
Saya tidak mengerti apa yang dia katakan.
Tapi saya tahu apa yang dia pikirkan.
No comments yet. Be the first to leave one.